Friday, January 30, 2009

The Blue Mountain

Dari tanggal 11 s.d 24 Desember 2006 kemaren kebetulan saya mempunyai kesempatan untuk datang dan mendokumentasikan kegiatan NTFP (Non Timber Forest Product) yang dilakukan oleh sebuah NGO di Kotagiri bersama masyarakat Tamil Nadu, India Selatan. Sangat menarik mempelajari aktivitas masyarakat yang memanfaatkan hutan dengan tetap memperhatikan kelestarian dan kesinambungan untuk masa depan anak cucu mereka.


Republik India merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia, dengan populasi lebih dari satu milyar jiwa, dan adalah negara terbesar ketujuh berdasarkan ukuran wilayah geografis. Jumlah penduduk India tumbuh pesat sejak pertengahan 1980-an.

Setelah tiba di Bandara Chennai, Madras pukul 21.00 kami sempat stress karena bagasi yang kami tunggu-tunggu tidak muncul. Lama saya duduk di troli menanti tiga buah tas yang kami masukkan ke bagasi pesawat. Ternyata memang tas kami tidak ada. Setelah kami konfirmasi dengan pegawai penerbangannya yaitu Malaysia Airlines, ternyata barang-barang kami masih di Kuala Lumpur dan akan sampai besok malamnya dijadwal penerbangan yang sama.

Kesan pertama tiba di India adalah stress. Selain rencana yang dibuat saat masih di Indonesia berubah total, urusan dibandara karena untuk meyakinkan barang kami sampai besok malam sangat ribet. Suasana sudah semakin malam dan kami belum mendapatkan penginapan. Urusan claim bagasi baru beres sekitar pukul 00.30 waktu Chennai. Untungnya sempet tanya-tanya dimana penginapan yang deket. Dan dapatlah tempat sebuah penginapan yang bernama "Mount Herra". Karena sudah capek sekali plus strees barang masih tinggal di KL saya ambil keputusan untuk tidur. Belum lagi tidur, kejengkelanku bertambah, saat masuk kamar mandi mau buang air kecil dibelakang pintu toiletnya ada CD alias Celena Dalam yang ngegantung. Aduhh... apalagi ini teriakku dalam hati :(

Malam tanggal 12 Desember 2006 kami nongkrong di Bandara Chennai untuk mengambil barang-barang yang tertinggal. Untungnya barang-barang kami sampai. Sebelumnya saya sempat cemas klo tetap ngga ada. Akhirnya besok pagi kami bisa melanjutkan penerbangan ke Coimbatore.

Hari Rabu tanggal 13 Desember 2006 pukul 11.00 waktu Chennai kami melanjutkan penerbangan ke Coimbatore. Penerbangan Chennai-Coimbatore membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Setibanya di Coimbatore kami sudah dijemput oleh Taksi yang memang sudah dipesen oleh seorang teman di Kotagiri. Bersama mobil "Ambassador" nya kami melanjutkan perjalanan ke Kotagiri. Saya suka dengan mobil taksi ini, dengan model mobil sedan lama/klasik seperti mobil tahun 70an tapi keluaran tahun 2005. Anehnya hampir semua jenis mobil yang ada disana berbahan bakar solar.

Dari Coimbatore menuju Kotagiri membutuhkan waktu hampir tiga jam. Kotagiri merupakan daerah dataran tinggi (mendekati 2000 mdpl), jadi perjalanan selama tiga jam adalah selalu menanjak dan berkelok-kelok. Pemandangannya sangat indah, karena kita mengelilingi perkebunan teh. Pemandangannya hampir sama dengan pemandangan di Puncak, Jawa Barat. Tapi Kotagiri ini daerahnya berbatu-batu cadas dan sangat curam. Jalur ini juga ramai dilalui karena jalur ini juga dipakai untuk para wisatawan yang akan berkunjung ke Ooty, tempat wisata terkenal di India Selatan.

Sore hari sekitar pukul empat sore kami tiba di Kotagiri, dan langsung bertemu dengan temen-temen Keystone (sebuah NGO disana). Lokasi kantor mereka sangat indah sekali. Diatas bukit dan ditengah-tengah perkebunan teh. Bangunan yang berwarna orange yang terdiri dari empat bangunan terpisah ini sangat asri sekali. Merokok, menikmati teh hangat dan sambil memandangi kota kecil dari atas perkebunan teh, wah.. ngga kebayang betapa nikmatnya.


NTFP: Dependence of Indigenous Communities
Saya tidak menyangka sama sekali klo kegiatan NTFP mereka bersama masyarakat lokal sangat besar.
Dengan sistem ini mereka mengatakan bahwa konservasi, sustainablelity dan kebutuhan masyarakat dapat tercapai. Bersama-sama masyarakat lokal mereka menjaga hutan mereka secara baik. Memanfaatkan hasil-hasil hutan non kayu secara efektif.

Ada beberapa hasil hutan yang dapat mereka ambil dan dijadikan sebuah product sehingga dapat menambah kebutuhan ekonomi mereka. Product-product yang mereka bikin antara lain; madu, sarang madu untuk dibuat lilin, candy dari buah amla, pelembab bibir, eclyptus, sabun, dll. Difasilitasi oleh Keystone, dengan memberikan pengetahuan cara pembuatannya, pengolahan sampai kepemberian peralatan untuk mempermudah pembuatan sebuah product. Kegiatan NTFP ini dapat berjalan dengan baik.
Keystone merupakan center untuk semua hasil-hasil produk yang dibikin oleh masyarakat lokal. Untuk packing yang baik dan pemasaran produk dilakukan oleh Keystone.

Dengan icon "Last Forest" produk-produk ini dijual kepada masyarakat luas. Untuk mempermudah dalam hal pemasaran, mereka mendirikan tiga buah Green Shop (toko) di tiga lokasi yang berbeda yaitu di Kotagiri, Conoor dan Ooty. Madu merupakan produk yang sangat laris dan sangat besar omzetnya. Dan yang manarik lagi, mereka mendirikan sebuah museum madu di Ooty. Di museum ini kita bisa mendapatkan informasi lengkap tentang madu, jenis madu lebah dan koleksi yang berhubungan dengan madu. Termasuk juga madu yang ada di Indonesia. Sangking akrabnya dengan lebah madu, mungkin anda tidak percaya bahwa setelah beberapa minggu mereka meresmikan museum madu tersebut, segerombolan madu datang dan bersarang di museum madu tersebut. Saya sendiri tidak percaya dengan kejadian itu. Very nice...

Mr. Leo adalah salah satu staff Keystone yang merupakan salah seorang pakar madu. Beliau sudah berpuluh tahun bermain dengan madu lebah. Beliau juga sudah banyak memberikan training-training tentang pengolahan, pengembangbiakan dan pemasaran madu. Bukan hanya di india, tetapi juga dibeberapa negara. Mr. Leo juga bercerita bahwa dia pernah beberapa kali datang ke Indonesia untuk memberikan training kepada masyarakat lokal untuk pemanfaatan dan pemanenan madu yang baik.

Nilgiris, The Blue Montain

Nilgiris adalah dataran tinggi di Tamil Nadu. Daerah ini juga sering disebut The Blue Mountain. Ketika saya menanyakan mengapa disebut blue mountain, mereka mengatakan di bukit-bukit ini ada satu jenis bunga yaitu "blue flower" yang mekarnya dua belas tahun sekali. Beberapa orang yang saya tanyakan "meng-iya-kan bahwa memang benar dua belas tahun sekali mekar itu bunga. Dan saya adalah termasuk orang yang beruntung bisa melihat dan memotret mekarnya "blue flower" ini. Sebenarnya bentuk bunganya biasa saja, kecil dan berwarna biru keunguan. Cuma yang membuat bunga ini indah, mekar dalam jumlah yang banyak dan hampir menutupi sebagian pegunungan yang berbatu.

Melihat aktivitas dan ketekunan mereka memanfaatkan alam yang ada menimbulkan sebuah pertanyaan didalam hati "kapan ya Indonesia yang kaya akan biodiversity dan kandungan alamnya ini bisa dimanfaatkannya secara baik dan bijaksana. Kenapa orang-orang yang disekitar hutan dan masyarakat lokal di nusantara ini tetap saja miskin dan kekurangan makanan. Sungguh ironis memang"

Pemandangan di Nilgiris ini sangatlah indah. Suasana yang sejuk dan damai. Jauh sekali perbedaannya ketika kita berada di kotanya Chennai maupun Coimbatore.
Tapi yang jelas hanya satu, sama seperti yang dikatakan oleh seorang teman "Klo kamu sudah pulang dari sana, kamu akan bersyukur tinggal di Indonesia". Dan itu benar.

No comments:

Post a Comment