Thursday, April 7, 2011

Hutan Desa Lubuk Beringin: Berpijak dari kearifan lokal

Seminggu yang lalu saya memiliki kesempatan untuk berkunjung ke lokasi hutan desa di Kabupaten Muaro Bungo, Jambi. Awalnya tujuan perjalanan saya ke Jambi adalah untuk mendokumentasikan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang ada di Jambi dan mendokumentasikan beberapa kelompok Suku Bathin IX dan Suku Anak Dalam (SAD) yang sering disebut orang rimba yang tergusur dari kawasan hutan mereka.

Karena jadwal untuk masuk ke kelompok orang rimba masih bentrok dengan kegiatan lembaga pendampingnya, akhirnya saya diajak oleh seorang teman di Jambi untuk melihat lokasi hutan desa. Berhubung saya belum tahu banyak seperti apa pengelolaan hutan desa dan bagaimana mekanisme hak kelolanya, saya memutuskan menerima tawaran tersebut.

Hutan desa adalah hutan negara yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa serta belum dibebani izin/hak. Izin kelola kepada masyarakat merupakan amanat dari ketentuan UU No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan dan Permenhut P.49/2008 Tentang Hutan Desa.

Untuk mendapatkan izin pengelolaan hutan desa, harus melalui beberapa tahapan sampai dengan terbitnya SK Penetapan Areal Hutan Desa. Tahapan pertama dimulai dari permohonan usulan dari masyarakat kepada Menteri Kehutanan melalui Bupati setempat. Kemudian Bupati mewakili pemerintah daerah mengeluarkan surat rekomendasi dan dilanjutkan dengan usulan penetapan areal kerja hutan desa ke Menteri Kehutanan. Menteri Kehutanan atas dasar surat Bupati akan menurunkan tim verifikasi. Setelah dilakukan verifikasi, maka Menhut akan menerbitkan SK Penetapan kawasan hutan sebagai Areal Kerja Hutan Desa berdasarkan luas yang diusulkan dengan jangka waktu hak kelola biasanya selama 35 tahun dan dapat di perpanjang.

Hutan desa yang saya kunjungi di Muaro Bungo adalah Hutan Desa Lubuk Beringin. Hutan desa ini kabarnya merupakan hutan desa pertama yang ada di Indonesia. Sebuah dusun kecil yang berada di kawasan hutan lindung Bukit Panjang Rantau Bayur. Hulu Sungai Buat. Jumlah penduduk di dusun ini sekitar 331 jiwa atau sekitar 86 KK.

Dusun ini perlahan mulai terkenal sejak seorang menteri kehutanan pada tahun 2009 datang langsung ke dusun ini dan memberikan hak kelola kepada masyarakat melalui SK Menteri Kehutanan RI tentang Pencadangan areal Kerja Hutan Desa Dusun Lubuk Beringin dengan luas 2.356 ha.

Disaat berada di dusun ini saya benar-benar merasakan sebuah kedamaian dan keharmonisan masyarakat yang tinggal disebuah kampung dengan kekayaan sumberdaya alamnya. Sumber ekonomi yang cukup. Tidak pernah merasakan kekurangan bahan pangan karena produksi padi yang selalu ada setiap tahunnya. Sumber air yang melimpah dan jernih. Sebuah sungai besar yang jernih dan bersih mengalir disepanjang dusun ini membuat keharmonisan itu semakin nyata.

Setiap pagi masyarakat dusun lubuk beringin berangkat menyadap karet sebagai mata pencaharian mereka. Sebagian keluarga, setelah menyadap karet mereka langsung menuju sawahnya yang sudah mereka tanami padi. Membersihkan tanaman-tanaman padi dari rumput-rumput atau sekedar mengecek aliran air klo-klo ada yang tersumbat untuk menuju sawahnya. Anak-anak muda terkadang secara berkelompok berlari menuju sungai dengan membawa senjata terbuat dari kayu-kayu bekas dan karet ban dalam sepeda motor untuk menembak ikan didalam sungai. Mata tembak terbuat dari jari-jari sepeda atau besi-besi kecil dari payung bekas. Kacamata selamnya pun buatan sendiri.

Hutan desa bagi mereka adalah sumber mata pencaharian dan juga sekaligus penyelamat alam dan lingkungan. Dengan adanya hutan desa mereka bisa sedikit tenang karena kawasan tersebut sudah diberi hak kelolanya oleh pemerintah kepada masyarakat desa. Tidak lagi khawatir pemerintah dalam waktu dekat bisa saja memberikan izin-izin konsesi kepada perusahaan untuk perkebunan kelapa sawit ataupun hutan tanaman industri (HTI).

Beberapa manfaat yang mereka dapatkan dari hutan ini adalah sumber mata air yang melimpah. Di sawah-sawah mereka selalu mengalir air-air jernih. Begitu juga tanaman-tanaman lainnya yang ada diladang-ladang mereka. Air yang mengalir di sungai juga mereka manfaatkan untuk sumber energi listik dengan menggunakan kincir air. Kepala Desa Lubuk Beringin yang sering disebut ‘Rio’ yaitu Hadirin menyampaikan bahwa energi listrik yang ada di desanya dibangun secara swadaya masyarakat dan gotong-royong.

Sebelum adanya hutan desa ini, memang kami sudah lama menjaga hutan yang ada di desa kami. Masyarakat sangat menyadari pentingnya hutan bagi mereka. Dari dulu kami juga sudah ada aturan adat dan juga sekarang juga dituangkan menjadi Peraturan Desa (Perdes). Klo menebang 1 pohon harus menanam 10 pohon. Kami juga akan memberikan sanksi sosial bagi yang melanggar. Misalnya klo dia mengadakan acara pernikahan ataupun syukuran (seperti khitanan) kami tidak akan menghadirinya” ungkap Hadirin. Masyarakat Dusun lubuk Beringin sudah mengetahui aturan-aturan adat dan aturan desa. Mereka tidak mau diasingkan oleh kelompok masyarakat yang lainnya.

Rio juga berharap kedepannya akan semakin banyak masyarakat yang datang berkunjung ke dusun mereka. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Karena sudah banyak yang berkunjung ke dusun Lubuk Beringin. Melihat keramahan masyarakat dan potensi-potensi sumberdaya alam yang mereka miliki. Saat ini mereka sudah melakukan survey dibeberapa tempat untuk lokasi ekowisata. Camping ground, areal tracking, dan pemandian di sungai yang jernih dan bersih sudah disiapkan.

Ketika selesai melakukan interiview dengan Rio, saya diajak mandi di sungai. Kebetulan sudah lama sekali saya tidak mandi di sungai besar yang bersih dan jernih yang berada di hulu daerah aliran sungai. Saya mandi di sungai seperti ini mungkin tahun lalu ketika saya pulang kampung. Sangkin hebohnya dan benar-benar menikmati mandi di air yang jernih, 3 jam berlalu tanpa terasa didalam sungai dengan berenang-renang kecil dan duduk-duduk disekitar sungai. Benar-benar menikmati indahnya sungai yang ada di depan mata. Beberapa hari setelahnya punggung saya kulitnya mengelupas semua karena terbakar oleh sinar matahari. Sampai sekarang masih berbekas.

Sebuah kenikmatan yang jarang saya rasakan dalam banyak perjalanan saya. Menikmati keindahan alam dan kekayaan alam Indonesia. Keharmonisan masyarakat lokal dan masyarakat adat yang tinggal disekitar kawasan hutan. Beberapa tahun ini perjalanan saya banyak mengunjungi daerah-daerah konflik antar masyarakat lokal/adat dengan perusahaan perkebunan dan perusahaan kehutanan, konflik dengan pemerintah lokal, dan kawasan hutan yang sudah hancur berantakan. Melihat puing-puing keharmonisan. Meratap, merekam dan menyaksikan jeritan-jeritan mereka.

Untuk melihat video singkat Hutan Desa Lubuk Beringin silahkan lihat disini

Wednesday, March 2, 2011

Pengelolaan Taman Nasional Berbasis Resort. Benarkah bisa diterapkan?

Taman nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai fungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang dikelola dengan sistem zonasi, yang terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan, dan zona laoin sesuai keperluan (Undang-undang No.5 Tahun 1990). Pembentukan sebuah taman nasional di Indonesia dilatarbelakangi oleh beberapa alasan, diantaranya untuk penyelamatan sebuah kawasan yang didalamnya terdapat flora dan fauna endemik/langka, menyelamatkan budaya dan tentu saja untuk menyelamatkan kawasan hutan tropis yang masih tersisa. Di Indonesia saat ini terdapat 50 buah taman nasional yang tersebar dari pulau sumatera sampai dengan papua.

Resort merupakan jabatan non struktural yang dibentuk dengan keputusan Kepala Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional (Pasal 31 P.03/Menhut-II/2007). Didalam sebuah taman nasional terdapat beberbagai struktur yang diduduki oleh berbagai tingkatan jabatan sampai dengan staf dilapangan. Resort merupakan garda terdepan dalam sebuah pengelolaan taman nasional. Atasan langsung dari resort adalah Kepala Seksi. Orang-orang yang berada di resort harus berhubungan langsung dengan masyarakat, baik itu masyarakat yang tinggal didalam atau disekitar taman nasional, maupun masyarakat yang melakukan kegiatan-kegiatan illegal didalam sebuah kawasan taman nasional, seperti berburu satwa, illegal loging, perambahan dan pencurian tumbuh-tumbuhan langka yang dilindungi.

Melihat pentingnya dan besarnya sebuah tanggung jawab orang di resort, maka sudah seharusnya orang-orang yang berada di garda terdepan ini memiliki kemampuan yang mumpuni. Bisa diandalkan. Mampu menganalisis masalah dengan cepat, bisa berkomunikasi dengan masyarakat dan berbaur dengan masyarakat.

Hampir satu bulan ini saya melihat serta mendokumentasikan sebuah pendidikan dan pelatihan tentang manajemen kolaborasi di taman nasional. Dari sini saya melihat berapa rumit dan kompleksnya sebuah manajemen di taman nasional. Bagaimana sebuah kebijakan seolah-oleh saling menunggu. Kebijakan dalam sebuah taman nasional tergantung oleh Kepala Balai dan seorang Menteri Kehutanan. Seorang Kepala Seksi dan Kepala Resort serta staf-nya tidak bisa berbuat apa-apa jika sang pimpinan tidak memberikan instruksi. Banyak program dan dana yang terkadang tersedot di Jakarta dan ditingkat Balai, sehingga membuat orang-orang tingkat seksi dan resort tidak bisa berbuat banyak dalam hal pengamanan kawasan yang menjadi tanggung jawab mereka. Anggaran tahunan yang cenderung disamaratakan disetiap taman nasional membuat sebuah anggaran tersebut tidak cukup jika operasional di taman nasional tersebut membutuhkan biaya operasional yang besar, misalnya dalam hal transportasi. Wilayah Kalimantan dan Papua, biaya transportasi yang menggunakan boat lebih mahal dibandingkan dengan biaya perjalanan darat.

Itu merupakan salah satu masalah yang ada didalam tubuh organisasi yang mengelola taman nasional. Manajemen yang masih jauh dari kata sempurna dan ideal. Belum lagi permasalahan luasnya kawasan yang mereka kelola. Mengelola ratusan ribu hingga jutaan hektar sebuah kawasan hutan bukan sebuah perkara yang bisa dianggap enteng. Permasalahan menjadi semakin rumit jika didalam taman nasional terdapat kelompok masyarakat yang tinggal dan beranak pinak.

Setiap tahunnya permasalahan atau konflik yang terjadi antara masyarakat dan pengelola taman nasional masih sering terjadi dan terus meningkat. Beberpa konflik yang sering terjadi adalah konflik batas hutan dan taman nasional, kepentingan dalam penggunaan ruang atau penetapan zonasi, pemanfaatan lahan dan akses terhadap pemanfaatan sumberdaya alam di taman nasional.

Dibutuhkan sebuah solusi yang cepat dalam pengelolaan taman nasional. Tingginya konflik di taman nasional dan masih sering terjadinya kegiatan-kegiatan illegal disebuah taman nasional membuat beberapa kalangan tidak mempercayai sistem taman nasional dalam upaya penyelamatan sebuah kawasan hutan. Manajemen kolaborasi dan pelibatan masyarakat didalam dan disekitar taman nasional harus diterapkan. Bagaimana masyarakat bisa hidup selaras dan serasi dengan kawasan hutan. Menikmati tinggal dikawasan hutan dan menjaga tempat tinggalnya dari kerusakan. Resort harus dilibatkan secara penuh dalam sebuah perencanaan, pelaksanaan dan monitoring sebuah kegiatan/program di taman nasional. Beri kepercayaan dan ruang gerak yang bebas untuk resort. Bagi seorang Kepala Seksi dan Kepala Balai, buang jauh-jauh pemikiran tentang resort adalah sekelompok orang bawahan atau anak buah yang bisa selalu diperintah dan harus mengikuti perintah atasan. Jangan pernah beranggapan orang-orang di resort adalah sekelompok anak muda yang baru lulus dan tidak tahu apa-apa. Berbaur dan bergabung dengan bawahan adalah penting. Bagi orang lapangan team work adalah harga mati. Permasalahan utama taman nasional ada dilapangan.

“Seksi dan Resort adalah ujung tombak didalam sebuah taman nasional. Biarkan mereka membuat program dan mengelola program tersebut. Baik program dari anggaran pemerintah maupun sumber dana yang lainnya. Karena mereka yang tahu situasi dan kondisi dilapangan. Kenapa disebuah taman nasional dibentuk seksi dan resort? Karena kepala balai tidak akan sanggup mengurusi semuanya. Seksi dan resort merupakan perpanjangan tangan kepala balai. Ngapain kepala balai megang semua kegiatan atau proyek?. Kepala balai cukup mengevaluasi saja pekerjaan-pekerjaan mereka” ungkap Waldemar Hasiholan yang pernah menjadi Kepala Balai Taman Nasional dibeberapa taman nasional ketika kami melakukan praktek lapangan bersama di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. “Di Kementerian Kehutanan ini aneh, semua pegawainya numpuk di Jakarta. Semua berlomba-lomba ingin pindah ke Manggala. Wong permasalahannya ada dilapangan kok. Ngga bisa menyelesaikan masalah hanya melalui telpon dan email. Hadapi langsung dilapangan. Sudah tinggal di Jakarta, semua proyek juga mereka pegang, bagaimana urusan bisa selesai?” lanjutnya. Menurut Waldemar, semua program atau proyek harus langsung diberikan kepada kepala seksi dan resort biar semua orang mau kerja dilapangan. Orang-orang yang duduk di Jakarta tidak perlu diberikan proyek atau kegiatan yang berhubungan dengan urusan teknis pengelolaan sebuah taman nasional. Waldemar juga menyayangkan kurangnya waktu seorang kepala balai untuk turun ke lapangan dan berbaur dengan bawahan. “Kepala Balai Taman Nasional itu 3-4 kali dalam sebulan pasti dipanggil ke Jakarta. Itu resmi panggilan dinas. Belum lagi jatah libur bertemu dengan keluarga setiap bulannya. Klo rumahnya di Jakarta, sudah pasti dia pulang ke Jakarta. Jadi kapan dia bisa ke lapangan bertemu masyarakat dan berbaur dengan anak buahnya?”.

Saut Manalu, seorang Kepala Seksi Taman Nasional Tanjung Puting menyampaikan didalam sebuah pertemuan tingkat kepala seksi di Sukabumi bahwa permasalahan utama didalam taman nasional adalah dimanajemen taman nasional. “Taman Nasional itu rusak ya karena kita orang balai. Manajemen kita ngga bagus. Bukan karena masyarakat. Jangan kita selalu mengkambinghitamkan masyarakat” ungkapnya pada saat itu.












Selama proses pendidikan dan pelatihan ini banyak pengalaman dan pengetahuan yang mereka dapatkan. Sharing informasi antar taman nasional menjadi perlu untuk mendapatkan metode yang pas dalam pengelolaan taman nasional berdasarkan karakteristik wilayah dan masyarakatnya. Dalam Diklat ini juga dibuat sebuah rencana aksi untuk mencoba menerapkan pembelajaran-pembelajaran yang didapat selama pendidikan.

Semoga ada perubahan kebijakan yang mendasar dalam pengelolaan sebuah taman nasional. Keberadaan taman nasional yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia ini bisa menjadi kebanggaan rakyatnya, tidak lagi menjadi sumber masalah bagi masyarakat. Transparansi dan kebijakan yang dibuat oleh seorang Kepala Kalai maupun Menteri Kehutanan memang berdasarkan kebutuhan masyarakat luas bukan pesanan sekelompok orang ataupun oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Saya ingin memotret wajah-wajah masyarakat adat dan masyarakat lokal yang tinggal didalam kawasan taman nasional maupun disekitar taman nasional tersenyum sumeringah karena bangga dan bahagia tinggal di taman nasional.

Friday, February 18, 2011

Ketidakberadayaan Putra Daerah

Setelah turun dari bus yang membawa saya dari sebuah kota di Jawa Barat, saya mencari angkutan umum menuju sebuah terminal dan mencari angkutan umum lainnya yang bisa mengantarkan saya ke kota kelahiran saya. Tempat dimana orang tua saya tinggal. Ramai. Ramai karena para calo sibuk menanyai kemana tujuan sang penumpang. Ramai karena semua kaca depan dan belakang mobil-mobil angkutan umum itu ditempel dengan dua nama orang yang berukuran besar dan mencolok. Penasaran dan heran, nama siapa ini. Orang mana dia. Akhirnya saya menanyakan kepada seseorang yang duduk disebelah saya “nama siapa yang ada di kaca-kaca mobil itu?”. “Itu nama calon bupati dan wakil bupati yang sekarang. Sekarang kan sedang ada pemilihan bupati dan wakil bupati” jawabnya enteng. Saya baru menyadari klo saya sudah tiga tahun meninggalkan kota ini. Tahun ini memang sudah waktunya pemilihan pemimpin daerah.

Saya sudah duduk disebelah kiri mobil. Dipinggir pintu. Membuka kaca mobil agar bisa menghirup udara diluar. Mobil yang di kaca depan dan belakangnya tertuliskan nama calon bupati dan wakil bupati itu sudah siap berangkat. Dibelakang sopirnya ada tiga baris bangku. Seharusnya satu baris diisi tiga orang penumpang. Karena mengejar setoran maka tak sungkan sang calo dan pemilik mobil memaksakan untuk diisi empat orang penumpang. Untuk bernafas saja cukup sulit, apalagi kita berharap bisa menggerakan kaki atau duduk bersandar. Lama perjalanan jika kondisi jalan bagus sekitar satu jam. Tapi akan berbeda jika kondisi jalan berlubang dan bergelombang karena banyak kendaraan besar truk-truk batu bara yang lewat.

Setibanya dirumah saya langsung linglung dan bingung. Rumah tua yang dulu kecil dan berwarna kusam sudah tidak ada. Sekarang sudah berubah menjadi sebuah rumah yang lebih bagus dan berwarna cerah. “Kenapa kau bingung?” tanya emak kepada saya. “Iya, setelah kamu dan kakakmu lulus kuliah, bapak meminjam bank untuk terakhir kalinya sebelum pensiun untuk membangun rumah”. Mata saya terpejam mendengar ucapan polos itu. Seakan berdosa karena selama ini saya seolah menghambat mereka membangun sebuah rumah yang layak untuk mereka tempati dengan nyaman untuk tempat tinggal. Tetangga kiri dan kanan yang baru datang membangun rumah lebih bagus dan warnanyapun lebih cerah. Ya, disaat saya dan kakak saya kuliah semua pendapatan orangtua saya harus disisihkan untuk biaya kami kuliah di Bogor. Bukan hanya pendapatan, tapi juga harus meminjam bank dengan menggadaikan surat-surat berharga untuk membiaya kami berdua masuk kuliah dan membayar uang semester.

Pada malam harinya disaat sedang berkumpul bersama dengan adik-adik saya. Saya bertanya kepada sang bapak “sedang ada pemilihan bupati ya pak?”. “Iya, sedang ramai dibicarakan sekarang”. “Orang mana saja calonnya dan darimana mereka” saya lanjut bertanya. “Sekarang putra daerah yang kita jagokan”. “Dia orang kita, dari suku kita. Rejang” si emak menimpali. “Semoga nanti disaat dia terpilih lebih memperhatikan orang-orang kita. Baru sekali ini orang kita, putra daerah bisa jadi bupati. Bapak ingin lihat seperti apa kepemimpinannya” bapak melanjutkan.

Malam itu selain bercerita tentang harapan orang tua terhadap calon bupati yang dijagokan juga bercerita tentang Calon Gubernur yang akan maju juga putra daerah. Masih muda dan katanya pengusaha. Mereka berharap ada perubahan-perubahan yang dilakukan oleh putra daerah di era otonomi daerah ini. Saya yang mendengarkan hanya menganggukan kepala yang berarti mengiyakan dan berharap hal yang sama. Mungkin harapan yang sama seperti yang ada dihati masyarakat diseluruh daerah dimana sedang ada pilkada.

Beberapa minggu yang lalu.
Setelah mengikuti beberapa prosesi acara pernikahan saya di dua tempat, yaitu di kota kelahiran istri saya di Sumsel dan di kota kelahiran saya sendiri. Malam terakhir sebelum keesokan harinya kami harus pulang ke Bogor, saya dan istri saya berkumpul dengan orang tua saya di rumah. Malam itu, emak menyampaikan keinginan sang adik perempuan saya klo dia ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Beberapa tahun ini dia hanya sebagai pegawai honorer. Meminta emak untuk menjual tanah yang dimiliki untuk membayar orang-orang yang bisa membantu proses penerimaan pegawai negeri. Jumlah yang dibutuhkan jika orang tersebut lulusan sarjana adalah kurang lebih Rp 150 juta. Emak meminta pendapat saya pada malam itu.

Saya selama ini hanya mendengar kasus-kasus penyuapan dalam proses penerimaan PNS yang dilakukan oleh beberapa orang dibeberapa daerah. Selama ini saya hanya tersenyum jika mendengar cerita teman-teman mengenai diterimanya seseorang menjadi PNS karena membayar para makelar dan pejabat-pejabat daerah.

Sekarang, saya dihadapkan langsung dengan kasus seperti ini. Ahhh.. apa yang saya khawatirkan selama ini terjadi juga. Saat itu saya bingung menjawabnya. Takut menyinggung perasaan sang orang tua dan adik saya. Saya takut dianggap orang yang sombong. Malam itu saya hanya menyampaikan, klo saya secara pribadi dan dari hati yang paling dalam saya tidak setuju dengan mekanisme seperti itu. Saya tidak rela tabungan yang disimpan sejak lama dan susah payah harus diberikan kepada para makelar dan pejabat-pejabat itu. Lebih baik uang yang senilai ratusan juta itu dinikmati sendiri. Membangun rumah yang besar atau membuka kebun yang luas. Toh sang suami juga sudah berstatus kerja sebagai pegawai negeri.

Saya hanya memberi beberapa perumpamaan kepada orang tua saya. Berapa pendapatan PNS perbulan. Butuh berapa tahun harus mengembalikan uang sebesar itu jika sudah menjadi PNS? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun?. Klo membangung rumah, sudah nyaman sekali untuk menjadi tempat tinggal selama puluhan tahun. Klo membuat kebun, sepuluh tahun mungkin sudah menikmati hasil-hasil kebun. Apalagi jika dengan kondisi harga komoditi karet saat ini sangat tinggi. Klo sekedar untuk makan sekeluarga saya pikir pendapatan suaminya sudah lebih dari cukup.

Latah menjadi PNS

Disetiap daerah. Disetiap tahunnya masyarakat seakan selalu latah untuk menjadi pegawai negeri sipil. Hal ini menurut saya sudah menjadi seperti sebuah kompetisi tahunan. Saya menjadi curiga sebuah kabupaten baru bermunculan beberapa tahun ini hanya untuk membuat peserta kompetisi ini semakin banyak. Bukan karena untuk pemerataan pembangunan, apalagi untuk mensejahterakan rakyatnya.

Emakku, adikku, dan teman-temanku semuanya. Bukan maksud saya menyalahkan kalian. Bukan maksud saya untuk memojokkan posisi kalian. Tidak sama sekali. Kalian hanya korban. Yang saya salahkan dan sesalkan adalah sistem ini. Bagaimana, dan sejak kapan sistem ini dilahirkan. Sistem yang sangat bobrok yang ada di pemerintah daerah. Yang saya salahkan adalah rakusnya para pejabat daerah dan makelar CPNS ini. Pejabat daerah bukannya memikirkan rakyatnya. Memikirkan sumber-sumber pendapatan tambahan rakyatnya, alternatif pendapatan dan kestabilan sumber pendapatan tersebut. Mereka masih menjabat dengan gaya-gaya lama. Pemikiran sempit dan memanfaatkan posisi dengan ilmu terapan “aji mumpung”. Mumpung menjadi pejabat, mumpung memiliki kesempatan dan mumpung masih banyak yang latah untuk menjadi pegawai negeri.

Masih teringat lima yang tahun yang lalu. Melihat istri saya mencari pekerjaan disaat dia lulus dari kuliahnya. Waktu itu kami belum menikah. Pada malam hari, ketika orang-orang ditempat saya bekerja sudah pulang kami mencetak beberapa surat lamaran kerja dan curiculum vitae. Keesokan harinya kami kirim ke beberapa lembaga, perusahaan dan institusi. Disaat harus mengikuti berbagai macam ujian tertulis dan interview di Jakarta, saya harus menemaninya ke Jakarta. Biaya yang kami keluarkan saat itu hanya ongkos kereta, ojeg dan makan siang di warteg. Tidak ada biaya selain itu. Alhamdulillah sudah sejak mengikuti berbagai macam ujian pada saat itu dia diterima dan sudah berkerja disalah satu bank swasta secara permanen. Alhamdulillah juga, teman-teman kuliah saya masih bisa lulus murni di beberapa kementerian dan di Pemda di Kabupaten tempat mereka tinggal.

Dari pengalaman ini saya melihat, seseorang bekerja seharusnya bekerja memang karena spirit-nya untuk bekerja. Bukan hanya untuk membuang waktu luang lalu mendapatkan penghasilan perbulan. Inilah perbedaan yang saya rasakan dengan para orang-orang yang latah menjadi PNS. Bekerja hanya untuk membuang kebuntuan dalam pikirannya. Orang tua yang bosan sekaligus frustasi melihat anaknya menganggur. Walaupun harus membuang uang sedemikian besar nominalnya. Tidak menyadari lagi klo yang dilakukan pada dasarnya adalah salah. Mendukung meningkatnya kasus-kasus penyuapan setiap tahunnya. Membiarkan para pejabat daerah dan makelar PNS melakukan perbuatan yang melanggar konstitusi.

Walaupun selalu muncul pemberitaan bahwa Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi akan menyelidiki dan menindak para pejabat daerah yang terlibat dengan percaloan CPNS di berbagai daerah, kasus ini masih saja terjadi. Beberapa minggu yang lalu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menargetkan akan mengkaji praktik suap yang terjadi dalam penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di sejumlah kementerian dan institusi pemerintah Pusat dan Daerah. Tetapi klo melihat kondisi negara yang penuh dengan sandiwara ini saya menjadi pesimis kasus-kasus ini bisa berhenti.

Sewaktu saya masih mahasiswa, saya percaya bahwa untuk mendapatkan pekerjaan tergantung dari diri kita sendiri. Bagaimana kita pandai membangun komunkasi yang baik dengan orang lain. Mempunyai kemampuang berpikir dan kemampuan diri (keahlian). Tidak ada sama sekali niat yang saya tanam didalam hati, klo nanti setelah lulus kuliah saya harus menyiapkan uang agar saya bisa diterima disebuah lembaga, sebuah perusahaan ataupun institusi pemerintah. Walaupun sudah beberapa kali orang tua saya meminta saya pulang untuk menjadi PNS setelah saya lulus kuliah pada waktu itu.

Bagi saya, bekerja adalah urusan hati nurani. Bekerja adalah sebuah kebanggaan. Hidup harus dijalani seimbang dan percaya manusia dilahirkan memang sudah dibuatkan jalannya oleh sang penciptanya.

Thursday, December 30, 2010

Soe Hok Gie; dalam sebuah surat

Karena tulisan ini sangat menarik bagi saya. Bisa menjadi bahan renungan saya kita sebelum tidur dimalam hari. Mengingat kembali apa yang sudah saya lakukan untuk keluarga, kerabat, dan orang lain yang tersebar diseluruh nusantara ini.

Terima kasih kepada yang menulis. Mohon maaf saya copy dan saya taroh disini.
Gie.. memang sebuah nama yang besar..

Semoga saya masih bisa melangkah didunia ini dengan sebuah idialisme yang saya miliki. Melangkahkan kaki di negara yang memang sudah hancur. Kacau. Kejam. Ibarat sebuah kendaraan, negara ini sudah tidak tahu lagi mau pergi kemana. Mau diarahkan kemana. Semua dijalankan oleh sopirnya semau-maunya sendiri. Sesuka-suka sopirnya. Tidak peduli penumpangnya resah karena tidak sesuai dengan tujuan yang dia inginkan.

Selamat tahun baru 2011.
Semoga kita bisa berbuat dan bersikap sesuai dengan idealisme kita. Tidak dibuat-buat. Tidak mengada-ada. Jujur dan punya integritas.

Bogor, 30 Desember 2010
Een Irawan Putra
----------------

Soe Hok Gie ; dalam sebuah surat


Oleh: Pers Mahasiswa Indonesia


Dhan, apa kabar Indonesia kini? Ramai kukira, kudengar sedang ramai bicara
kerbau. Kenapa memangnya? Sudah lama saya tidak mendengar tanah kelahiran saya. Ah ya, kemarin saya bertemu dengan Gus Dur, orang baik, ia menyenangkan, aku dan Ahmad Wahib ketawa terpingkal dibuatnya. Ah jika aku bertemu dengannya sejak lama mungkin aku tobat jadi atheis. Hehehehe tapi aku tau kau takan percaya. Gus ini anak kyai rupanya, banyak ia bercerita tentang islam dan yang bukan islam. Rupa-rupanya ia tahu aku gak percaya tuhan barangkali. Aku sebenarnya iri melihat dia. Dia telah tenang dalam Tuhannya. Dia sudah bersatu dengan Tuhannya. Katanya ia pernah jadi presiden, 2 tahun lantas ia bosan lalu diberhentikan. Oleh DPR katanya, yang ia tuduh mirip Taman Kanak-Kanak. Aku dan Wahib sekali lagi keras tertawa.

Siapa presiden kita kali ini Dhan? Militer lagi ataukah sudah teknokrat? Aku
ingin suatu saat Indonesia dipimpin oleh Filsuf atau Budayawan. Biar ia bijak, atau setidaknya ia mungkin bisa berpikir secara lebih baik, bukan lagi tentang untung rugi, tapi baik buruk. Jangan lagi presiden dari golongan kyai atau pastur, mereka suruh perbaiki umat saja, jangan ikut berpolitik. Dulu ada Buya H.A.M.K.A, orang hebat dan baik ia Dhan. Berani ia kritik Soekarno, kudengar ia
sahabat Hatta.

Dhani masihkah kau suka membaca? Aku ada buku bagus, buku lama tapi semoga kau
suka. Dr. Zhivago judulnya, Pasternak yang menulis. Boris Pasternak, ah si manusia itu yang sampai akhir hayatnya menolak berkompromi dengan sesama manusia, sampai saat ini tak sempat aku menulis tentangnya Dhan. Kapan-kapan kau tulis tentangnya, nanti kubaca. Jangan pacaran terus, ya aku tahu, kau sedang dekat dengan seorang gadis padang. Kawanmu Rasul bercerita, ia tiba lebih dahulu sebelum Gus Dur. Aktifis ia Dhan? Katanya dari LPM Keadilan. UII Jogja, anak sebaik dan secemerlang itu. Sayang sekali, kenapa pemuda hebat selalu cepat kesini. Sedangkan para pemabuk dan penggila pesta selalu berhayat panjang. Tapi yah, beruntunglah mereka yang mati muda, dan yang tak pernah dilahirkan.

Masih kau jadi anggota Tegalboto? Nama yang aneh brick field? Hahaha jangan
marah Dhan, apapun namanya jika ia berguna tak apalah. What is a name kata Shakespeare. Sebagai wartawan kau musti tau tugas pers. Jangan kau ikuti kata presiden Soekarno dulu saat ia buka jurusan jurnalistik di pada masaku. Ia bilang tugas pers adalah menggambarkan cita-cita muluk kepada rakyat supaya nafsu yang baik dari rakyat berkobar kembali. Seolah hendak dikatakan presiden, tugas pers ialah meninabobokan rakyat. Bukan inilah tugas pers melainkan menggambarkan kebenaran pada pembaca. kalau pemberitaan itu merugikan kelompok tertentu maka berita itu harus disiarkan. Kita sering dininabobokan bahwa produksi padi naik, produksi kain maju, gerombolan dikalahkan dan seterusnya
beginilah kemerdekaan pers di indonesia potonglah kaki tangan seseorang lalu masukan ditempat 2x3 meter dan berilah kebebasan padanya. inilah kebebabasan pers di indonesia.

Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini.
Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian.

Saya bukan Ubermensh Dhan, kadang saya lelah bergulat dengan pemikiran saya
sendiri. Memikirkan tentang rakyat, bangsa dan kemanusiaan. Tapi apapun yang terjadi saya menolak untuk berkompromi dengan penindasan. Lebih baik mati diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Dan sekarang makin saya geli melihat kawan-kawanmu, generasi mahasiswa kala ini sedang galau. Sibuk mencari eksistensinya sendiri. Kulihat kau pun demikian, lebih sering update status Facebook daripada ibadahmu. Generasi Facebook, menyedihkan dan jika kau kemudian ikut arus di dalamnya. Dan kupikir kamu akan terjebak dalam identitasnya.

Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan
yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun. Kau tak percaya? Lihat saja demonstrasi mahasiswa saat ini, norak, kampungan! Dulu aku benci sekali dengan mahasiswa oportunis yang sok-sokan menjadi bagian dari sebuah sistem parlemen. Sistem itu busuk Dhan, tapi melihat mahasiswa demonstrasi dengan membawa batu, parang, kayu dan bensin. Mereka mau menjalankan demokrasi atau sekedar sok jagoan?

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan,
tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi. Busuk bukan? Ya, yah aku ingat kau dulu pernah bercerita tentang kawan-kawan ekstramu yang kau bilang busuk itu. Tapi kita harus adil Dhan, Seorang intelektual harus adil sejak dalam pikiran dan perbuatan. Pram bilang begitu, oh ya dia titip salam. Lama ia tak baca lagi tulisanmu, mandul kau katanya? Ayo menulis Dhan, ajak teman-temanmu sekalian. Jangan mau jadi renik dalam sejarah yang hanya numpang kuliah tanpa bisa memberi jejak dalam sejarah.

Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak
ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?. Karena kau tau Dhan? Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis. Aku muak dengan FPI Dhan, memangnya agamamu memerintahkan umatnya membawa parang kemana-mana lalu menghancurkan tempat yang dituduh maksiat? Beruntunglah aku yang tak beragama ini jika demikian. Agama harusnya membawa kedamaian Dhan, jika pun Tuhan memang ada tak mungkin ia menyuruh umatnya membacok sesamanya hanya karena berebut lahan parkir atau karena tak dapat jatah uang keamanan.

Sudahkah kau lulus Dhan? Jangan lulus dulu, tuntaskan dulu tanggung jawabmu
sebagai intelektuil, bukan aku menyuruhmu malas. Tapi sesuaikan dengan tanggung jawabmu sebagai Agent of enlighment. Bidang seorang sarjana adalah berpikir dan mencipta yang baru. Mereka harus bisa bebas disegala arus-arus masyarakat yang kacau, seharusnya mereka bisa berpikir tenang karena predikat kesarjanannya. Lalu hiduplah dengan keyakinan teguh. Karena kau tau, saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin. Karena saya tak mau diam melihat penindasan. Dan saya lebih tak suka melihat orang-orang munafik Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.

Kau tentu ingat puisiku Dhan, Puisi yang kubuat saat sedang galau. Yah pasti kau
lupa, tak suka aku dengan tabiatmu ini. Baiklah kutulis ulang untukmu Dhan.

Saya mimpi tentang sebuah dunia,
Di mana ulama - buruh dan pemuda, Bangkit dan berkata - Stop semua kemunafikan, Stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Dan para politisi di PBB, Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras, Buat anak-anak yang lapar di tiga benua,Dan lupa akan diplomasi. Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, Agama apa pun, ras apa pun, dan bangsa apa pun, Dan melupakan perang dan kebencian, Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik. Tuhan – Saya mimpi tentang dunia tadi, Yang tak pernah akan datang.

Hadapilah cita-cita ini Dhan, karena buat apa menghindar? Cepat atau lambat,
suka atau tidak, perubahan hanya soal waktu. Semua boleh berubah, semua boleh baru, tapi satu yang harus dipegang; kepercayaan. Karena kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras ... diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil ... orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur. Bergeraklah Dhan, tubuhmu terlalu gemuk, terlalu banyak makan junkfood. Jangan kau bilang peduli rakyat, jika makanmu masih seperti priyayi. Bergeraklah Dhan, ayo didik masyarakatmu dengan kata-kata dan buku. Karena kau tahu, percuma hidup jika kau tak dapat berkarya.

Suatu gerakan hanya mungkin berhasil bila dasar-dasar dari gerakan tersebut
mempunyai akar-akarnya di bumi tempat ia tumbuh. Ide yang jatuh dari langit tidak mungkin subur tumbuhnya, hanya ide yang berakar ke bumi yang mungkin tumbuh dengan baik. Berakar menghujam seperti beringin. Maka jika kau lihat mengapa Orde Baru kuat mengakar, ya mungkin karena lambang partainya adalah beringin. Akan lain cerita jika lambangnya adalah pohon toge.

Kalau kau tak sanggup menjadi beringin yang tegak dipuncak bukit, Jadilah saja
belukar. Tapi belukar terbaik yang tumbuh ditepi danau. Kalau kau tak sanggupmenjadi belukar, jadilah saja rumput. Tapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Tidak semua jadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya. Karena bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Tetapi jadilah saja dirimu, sebaik-baiknya dirimu sendiri.

Dhan, aku mau kau dan generasimu mengerti. Bahwa pendidikan adalah satu-satunya
alat menuju kondisi yang lebih baik. Ayo bangkit Dhan, jangan malas, jangan hanya bisa nonton sinetron. Tak malu kau pada kami? Aku dah Ahmad Wahib, Munir, kau tau Munir kan? Orang cemerlang itu, yang selalu datang dengan sepeda motor tuanya? Ia hebat karena mau belajar, sekolah dan membaca, pejuang ia Dhan. Tak mau kau seperti ia? Bukan sebagai superhero macam Superman, itu Cuma dagelan. Jadilah hebat karena kau peduli dan jujur. Atau seperti Marsinah, ya Marsinah wanita besi itu datang dengan berbagai persoalannya, tapi ia lega Dhan, selama hidup ia sudah jujur, jujur untuk melawan kesewenangan, ayo lah Dhan. Tak perlu dengan agitasi turun ke Jalan, bisa kau bikin macam Si Rendra, berpuisi. Jangan diam Dhan, diam hanya macam orang kejam. Karena diam dan kasihan adalah laknat kutukan pada hati manusia. Ingatlah Dhan, apatisme lahir karena dua hal, kau terlalu bodoh untuk berpikir atau terlalu egois untuk perduli.

Sahabatmu, Gie.

N.B : aku baca tulisanmu, jelek! Macam tukang kutip saja, perbaiki Dhan. Kutunggu kau untuk jadi Martir.

*Ditulis ulang untuk mengenang Soe Hok Gie, ditulis dengan campuran berbagai
kutipan catatannya.

Friday, December 3, 2010

Antara Lubuk Besar dan Cancun

Dalam beberapa tahun terakhir saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi beberapa kawasan hutan adat yang masih terjaga dengan baik dan dikelola secara lestari oleh masyarakat adat yang memiliki kawasan hutan tersebut. Beberapa diantaranya yang sudah saya kunjungi adalah Sei Utik, di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat; Dusun Pendaun, di Ketapang, Kalimantan Barat; dan Ngata Toro, Melawi di Sulawesi Tengah. Pada tanggal 15-20 November 2010 saya memiliki kesempatan untuk melihat satu lagi kawasan hutan adat, yaitu di Dusun Lubuk Besar, Sei Sintang Kecamatan Kayan Hilir, Sintang, Kalimantan Barat.

Untuk menuju lokasi Lubuk Besar dibutuhkan jarak tempuh sekitar 14 jam dari Kota Pontianak menggunakan jalur darat. Dari Kota Sintang, ada dua jalur darat untuk menuju Dusun Lubuk Besar. Pertama, dari Kota Sintang langsung menuju Desa Merampit. Dari Desa Merampit kita harus menggunakan mobil four wheel drive menuju Desa Sungai Buaya. Kedua, Melewati jalan perusahaan loging milik PT. KRBB dan perkebunan kelapa sawit. Dari jalur Bukit Kelam jalan terus ke arah Simpang Silat-Simpang Nanga Ngeri. Setelah itu baru masuk ke Dusun Lubuk Besar. Kendaraan yang dibutuhkan juga kendaraan four wheel drive atau menggunakan sepeda motor. Tapi jalur ini lebih jauh dari jalur yang pertama.

Dusun Lubuk Besar merupakan salah satu dusun yang terdapat di Desa Sei Sintang. Sebelumnya Desa Sei Sintang ini masih menyatu dengan Desa Sungai Buaya. Masyarakat di Desa Sei Sintang adalah Masyarakat Dayak Inggar Silat, berjumlah kurang lebih 150 KK dengan mata percaharian petani, yaitu petani karet dan petani ladang. Kawasan hutan adat yang mereka miliki adalah bernama Bukit Ibun. Kawasan Bukit Ibun memiliki permasalah yang sama dengan permasalahan yang ada di kawasan hutan adat lainnya di Indonesia yang pernah saya kunjungi. Ancaman adanya rencana masuknya perkebunan kelapa sawit skala besar dan juga izin-izin konsesi HPH membuat masyarakat menjadi khawatir hutan mereka tidak bisa bertahan lama keberadaannya.

Masyarakat Dayak Inggar Silat setiap tahunnya mengadakan ritual adat di kawasan Bukit Imbun yaitu dalam bahasa lokalnya disebut Nampuk Bukit Imbun. Ritual adat ini dilakukan pada saat menjelang panen atau pada saat padi mulai menguning. Masyarakat Dayak Inggar Silat mendaki bukit untuk menyampaikan niat dan doa atas hasil pertanian yang sudah didapat. Ritual Nampuk Bukit Imbun bukan hanya dilaksanakan pada saat padi mulai menguning saja, tapi ritual juga dilakukan pada saat ingin menyampaikan doa atau sering juga disebut berniat. Ritual ini kabarnya sudah dilakukan semenjak pertama kali manusia di Lubuk Besar tinggal disana.

Perjalanan ke hutan Bukit Imbun dari Dusun Lubuk Besar dibutuhkan waktu sekitar 4 jam dengan berjalan kaki. Selama perjalanan kita akan melewati beberapa ladang masyarakat dan menyeberangi sungai inggar beserta anak-anak sungai. Perjalanan menjadi lambat karena hampir sepanjang perjalanan selalu menanjak dan banyak menyeberangi sungai. Karena banyak sekali menyeberangi sungai akhirnya saya sampai menghitung berapa kali menyeberangi sungai selama perjalanan. Sungai yang harus diseberangi sebanyak 11 kali. 5 kali menyebrangi sungai inggar dan 6 kali anak sungai yang bermuara ke sungai inggar.

Setelah melewati ladang masyarakat, kita akan melewati beberapa tembawang atau bekas kampung. Beberapa tembawang yang akan dilewati adalah Tembawang Radin dan tembawang Niur. Tembawang ini ditandai dengan adanya tanaman-tanaman keras seperti durian, kelapa, duku dan tanaman buah-buahan lainnya. Didalam hutan Bukit Imbun kita bisa melihat beberapa pohon kelas satu sampai dengan kelas dua. Beberapa diantaranya; Belian atau Ulin, Meranti, Benua, Keladan, Mungkuyung dan Gaharu. Diameter pohon yang kita jumpai juga beragam, mulai dari 50 cm sampai dengan 2 meter. Dengan tinggi bebas cabang bisa mencapai 20-30 meter. Sore itu saya meminta orang-orang kampung yang menemani saya untuk memeluk sebuah pohon yang ada disana. Dibutuhkan 6 orang untuk dapat memeluk satu pohon tersebut. Masyarakat Dayak Inggar tidak pernah menebang pohon yang ada di hutan mereka kecuali hanya untuk ramuan rumah dan untuk kepentingan umum seperti pembangunan gereja, jembatan dan sekolah.

Niat awalnya saya ingin masuk kedalam hutan adat mereka dan ingin mendokumentasikan bagaimana kondisi hutan adat mereka saat ini. Selain itu juga saya ingin melihat tutupan hutan Bukit Imbun dari ketinggian (dari puncak Bukit Imbun). Namun ketika sudah sampai dipertengahan bukit, kami harus menginap karena sore itu sudah mulai gelap. Pagi harinya niat untuk melihat tutupan hutan dari puncak Bukit Imbun tidak tercapai karena pada pagi harinya saya terserang gejala malaria. Dari pagi sampai dengan sore hari sakit di kepala saya sangat hebat. Badan saya meriang dan air liur di lidah mulai terasa pahit. Padahal untuk mencapai pucak hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 90 menit berjalan kaki dan menanjak.

Sudah pukul empat sore saat itu. Dari pagi sakit kepala saya belum juga hilang. Panas ditubuh saya juga masih belum turun. Sementara cuaca saat itu dari pagi hari sampai dengan sore hari hujan terus menerus. Mengingat waktu saya sangat terbatas dan lusanya saya harus sudah ada di Pontianak, maka sore itu saya memaksakan diri untuk turun ke kampung. Perjalanan terasa sangat berat. Dengan kaki yang sudah mulai gemetar karena tidak sanggup menopang tubuh saya menuruni bukit. Saya harus mampu tiba di kampung dan istirahat satu malam disana. Perjalanan turun ke kampung yang normalnya hanya 3 jam, saat itu saya tempuh sekitar 4 jam.

Karena tidak sampai ke puncak Bukit Imbun dan melihat langusng seperti apa kondisi diatas sana dimana tempat diadakannya ritual adat. Maka saya mencoba menggali informasi dengan mewawancara beberapa orang kampung untuk mendapatkan penjelasan seperti apa kondisi di Puncak Bukit Imbun. Berdasarkan informasi yang saya dapat, diatas sana kita bisa melihat empat buah tempat yang unik dan menarik untuk melihat tutupan hutan adat Lubuk Besar. Diantaranya adalah:

1. Batu Sandang Beliung; Tempat ini adalah sebuah batu tempat masyarakat adat Inggar Silat melakukan ritual. Tempat memberikan sesajian berupa uang logam setelah mengajukan permintaan.

2. Lubang Angin; Posisi lubang angin ini dekat dengan batu sandang beliung. Dinamakan lubang angin karena ada sebuah lubang di tanah yang berdiameter kurang lebih 70 cm yang selalu mengeluarkan angin. Angin yang dikeluarkan dari lubang ini cukup kuat. Terbukti dengan jika daun-daun dijatuhkan kearah lobang angin tersebut, daun-daun tersebut akan berterbangan. Angin yang keluar dari lubang tanah tersebut juga tidak pernah hilang atau berhenti.

3. Semantau; Arti semantau adalah melihat atau memantau. Posisinya kurang lebih 300 meter dari batu sandang beliung. Setelah melakukan ritual biasanya orang-orang akan duduk di semantau. Di semantau kita bisa melihat bentangan hutan adat bukit imbun dan juga perkampungan yang ada dibawahnya. Orang-orang yang duduk disini biasanya akan betah duduk berjam-jam lamanya karena menyajikan pemandangan yang sangat indah.

4. Lebung Bandung; adalah sebuah danau kecil yang pasang surut. Jika musim hujan danau ini bisa mencapai 20 menter dengan kedalaman 1,5 meter. Selain itu juga di kawasan bukit imbun terdapat puluhan air terjun.



Tidak jauh dari Bukit Imbun juga terdapat Bukit Nagam. Bukit Imbun dan Bukit Nagam memiliki puncak yang berbeda. Bukit Nagam menjadi terkenal karena pada zaman penjajahan Belanda bukit ini menjadi tempat persembunyian pahlawan dari Kabupaten Sintang yaitu Apang Semangai. Apang Semangai pada saat itu banyak membunuh orang-orang Belanda. Karena itulah para penjajah Belanda berusaha menangkap Apang Semangai. Masyarakat Lubuk Besar pada saat itu selalu mengantar makanan untuk Apang Semangai di Bukit Nagam. Persembunyian Apang Semangai di Bukit Nagam tidak berlangsung lama, yaitu sekitar 2 bulan. Pada saat itu Belanda mengancam akan membawa istri beserta anaknya ke Nanga Pino jika tidak segera keluar dari persembunyiannya.

Hutan adat Bukit Imbun bagi masyarkat Lubuk Besar masih menyimpan sebuah misteri. Dipercaya oleh masyarakat bahwa Bukit Imbun berkeramat. Pada tahun 2007 masyarakat Dayak Inggar Silat melakuka sebuah sumpah pocong di puncak Bukit Imbun. Sumpah ini dilakukan karena perusahaan PT. KRBB (PT. Karya Rekanan Bina Bersama) yang dimiliki oleh AM. Nasir (sekarang menjabat Bupati Kapuas Hulu) tetap ingin membabat hutan di kawasan Bukit Imbun. Sumpah masyarakat Dayak Inggar Silat saat itu adalah ”Siapa yang menghabiskan rimba bukit imbun, minta dia dihabiskan oleh penunggu bukit imbun”. Tidak lama setelah dilakukan sumpah itu 7 orang pekerja PT KRBB meninggal dunia termasuk orang kampung yang berkhianat kepada masyarakat Dayak Inggar Silat.

Ketika saya melihat dan mendengar cerita-cerita masyarakat kampung ini mengenai hutan adat Bukit Imbun saya merasa bersyukur. Diberi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah masyarakat adat menjaga hutan adatnya. Bagaimana sebuah kawasan hutan itu dihormati keberadaannya. Sebuah cerita yang berbeda yang saya dapatkan ketika saya berada di Bogor ataupun berada dibeberapa kota lainnya. Dimana Pemerintah Indonesia, perusahaan, NGO dan lembaga lainnya selalu mengklaim bisa menjaga hutan. Saat ini juga sedang hangat lobby-lobby politik dan hiruk pikuk Konferensi Para Pihat (COP) ke-16 di Cancun, Meksiko. Membicarakan sebuah dampak perubahan iklim dan mencoba mencari kesepakatan bersama untuk sebuah solusinya. Semua berusaha bicara. Semua melakukan interupsi dan menentang setiap solusi yang tawarkan. Tapi tidak ada sebuah tindakan nyata seperti masyararakat di kampung yang keberadaannya sangat jauh dari kota Pontianak ataupun dari Jakarta. Kenapa orang-orang Indonesia ini musti pergi jauh ke Meksiko jika ingin mencari sebuah solusi dalam upaya penyelamatan hutan? Disini, mereka sudah terbukti puluhan tahun atau mungkin juga sudah ratusan tahun menjaga hutan secara baik. Mereka menjaga dan melindungi hutan tidak perlu dengan iming-imingan sebuah konpensasi.