Showing posts with label Jambi. Show all posts
Showing posts with label Jambi. Show all posts

Wednesday, July 13, 2011

Bagaimana Kami Bisa Bertahan

Bagaimana dia mengobati anaknya sakit? tubuhnya panas dan kulitnya mulai menguning?

Apa yang bisa mereka lakukan untuk mencari penghidupan (makan) jika memang harus tinggal ditegakan akasia yang luasnya puluhan ribu hektar ini? Benarkah dia akan memakan seekor katak yang sudah mati dan tubuhnya sudah mulai mengering itu?

Mungkinkah aku akan mengeksplotasi mereka dengan kamera yang aku pegang?

Bismillahirrahmanirrahim…

Hanya satu niatku ya Tuhan, menyampaikan apa yang aku lihat dan aku dengar disini. Bagaimana kejamnya negara ini memberlakukan warganya. Bagaimana busuknya politik negeri ini. Seolah-olah mereka tidak memandang bahwa orang rimba adalah saudaranya. Manusia yang punya hak hidup layak. Butuh hutan untuk untuk bernaung dan mengajarkan anak-anaknya bagaimana nikmatnya hidup harmonis bersama alam. Berburu di lebatnya hutan rimba. Memakan buah di pohon-pohon liar yang tumbuh di alam. Mencari ikan di riak airnya yang tak pernah padam. Seperti jauh dulu yang mereka rasakan…


Kalimat-kalimat seperti inilah yang selalu menyelimuti perasaan saya ketika saya berhasil menemukan mereka. Menemukan salah satu kelompok Orang Rimba (OR) yang bertahan hidup dibawah tegakan akasia (Acacia sp.). Sebuah hutan monokultur atau yang sering disebut dengan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang ditanam untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kertas. Tanaman akasia jenis Acacia auriculiformis dan Acacia mangium-lah yang sekarang menghijaukan daratan Provinsi Jambi.

Berdasarkan RTRWP Provinsi Jambi, luas kawasan hutan di jambi adalah 2,1 juta hektar dari 5 juta hektar luas Provinsi Jambi. Dari 2,1 juta hektar kawasan hutan tersebut terbagi menjadi kawasan konservasi, kawasan lindung, dan kawasan produksi.

Luas kawasan hutan produksi di Jambi adalah sekitar 1,2 juta hektar. 50% atau sekitar 600 ribu hektar kawasan hutan produksi ini sudah diberikan izin oleh pemerintah kita kepada Sinar Mas Group melalui berbagai macam anak perusahaannya. Izin ini diberikan hanya untuk Hutan Tanaman Industri (HTI). Jika izin HTI yang diperoleh ini digabungkan dengan izin-izin untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara, entah berapa luas daratan Jambi yang sudah dikuasai oleh Sinar Mas Group.

Seorang teman di Jambi pernah menunjukkan sebuah peta rencana perluasan HTI milik Sinar Mas Group kepada saya. Mereka menargetkan luas konsesi mereka seluas kurang lebih 1 juta hektar pada tahun 2020. Fantastis bukan?

Orang Rimba adalah salah satu suku asli Jambi yang hidupnya semi nomadic. Hidup berpindah-pindah didalam kawasan hutan. Bertahan hidup dengan berkebun dan berburu. Dari sejak awal hidup di dunia ini, Orang Rimba tinggal didalam kawasan hutan. Mereka sudah menandakan sebuah kawasan hutan yang merupakan wilayah jelajahan mereka. Orang Rimba sangat bergantung dengan kawasan hutan untuk tempat tinggal mereka.

Bagi Orang Rimba, jika ada anak yang lahir, kedua orang tuanya akan menanamkan ari-ari anaknya di pohon tertentu. Pohon itulah nanti yang akan melambangkan kehidupan sang anak tersebut. Pohon yang menjadi saksi pertumbuhan sang anak tersebut harus dijaga agar kehidupan sang anak juga nantinya terjaga dengan baik. Orang Rimba tidak akan meninggalkan kawasan tempat lahir mereka. Sejauh apapun mereka pergi, mereka pasti akan kembali. Selain pohon sebagai lambang kelahiran, yang mengikat mereka dengan kawasan tertentu adalah kuburan tempat keluarga mereka yang dimakamkan.

Saat ini hutan alam di Jambi sudah dalam kategori sangat kritis. Yang tersisa hanya kawasan-kawasan konservasi didalam taman nasional. Itupun tak luput dari pencurian kayu dan perambahan. Hilangnya kawasan hutan jelas menjadi ancaman bagi Orang Rimba. Hutan yang mereka jaga dan menjadi tempat tinggal yang nyaman selama ini sudah berubah menjadi pohon-pohon akasia. Jenis pepohonan yang sama sekali yang tidak bersahabat untuk Orang Rimba. Tidak ada buah-buahan. Tidak ada satwa buruan. Anak-anak sungai yang ada mengering dan juga teracuni oleh ganasnya pupuk-pupuk yang digunakan perusahaan untuk menggenjot pertumbuhan akasia yang mereka tanam.

Serakahnya para pejabat di negara ini dan rakusnya perusahaan terhadap kawasan hutan jelas-jelas menenggelamkan kehidupan Orang Rimba. Membunuh kebudayaan dan kearifan lokal yang sudah lama mereka pegang. Dampak yang paling buruk adalah membunuh sebuah etnis di Jambi. Etnosida.

Mata sayu. Anak-anak yang kelaparan adalah pemandangan pertama yang saya liat ketika saya menjumpai mereka. Biskuit yang sengaja saya bawa untuk mereka habis dalam seketika. Seorang ibu yang dituakan membagikannya kepada anak-anaknya yang duduk dibawah pohon-pohon akasia yang belum terlalu besar. Seorang ibu muda yang sedang menggendong anaknya yang baru berumur 3 bulan bercerita kepada saya bahwa anaknya sudah 2 minggu panas dan selalu menangis. Dengan telapak tangan yang gemetar saya mencoba memegang kepala sang bayi yang tubuhnya mulai berwarna kuning itu. “Oh Tuhan, haruskah Kau biarkan mereka yang tertindas ini” teriakku dalam hati ketika memegang tubuh sang bayi.

Saya tidak berani lama berada disekitar mereka. Selain saya tidak kuat melihat kenyataan ini, saya juga khawatir orang-orang perusahaan akan tahu klo saya masuk kedalam konsesi mereka.

Hanya satu pesan yang saya ingat sampai sekarang dari Ketua Kelompok mereka yaitu Pak Selamat. “Tolong sampaikan kepada orang-orang yang ada di Jakarta. Jangan dibuka lagi hutan kami. Kami tidak punya tempat tinggal lagi jika semua hutan sudah habis. Kami bertahan di kebun akasia ini karena dari dulu ini memang tempat tinggal kami. Hutan kami”







Sunday, April 17, 2011

Bathin IX mencari kemerdekaan (2)

Setelah mengunjungi masyarakat adat Bathin IX yang berada di Desa Singoan, keesokan paginya saya diajak Pak Abunyani mengunjungi Dusun Tanah Menang, Desa Bungku, di Kecamatan Bajubang.

Sebuah dusun kecil yang terletak didalam kawasan pekebunan kelapa sawit milik PT Asiatic Persada (Wilmar Group). Di rumah kecil yang terbuat dari papan saya diterima oleh beberapa warga. Rumah yang berada dipinggir jalan perkebunan kelapa sawit yang berhadapan langsung dengan tanaman-tanaman kelapa sawit milik perusahaan. Jika dimusim hujan jalan-jalan ini berlumpur dan tidak bisa dilalui mobil-mobil kecil yang bukan four-wheel drive.


Kutar. Seorang laki-laki berperawakan tegap dan bersuara lantang, adalah pria yang saya temui di dusun ini. Kami berkunjung ketika dia sedang memperbaiki rumah kecilnya. Laki-laki yang sekarang ditunjuk menjadi ketua RT di lingkungannya ini banyak menjelaskan bagaimana konflik antara masyarakatnya dengan perusahaan perkebebunan kelapa sawit yang saat ini berada di wilayah mereka.

Berdasarkan beberapa sumber informasi dan penjelasan dari Kutar, tidak terlalu jauh dari wilayahnya terdapat 2 dusun lagi yang kawasannya diklaim oleh perusahaan sebagai wilayah perkebunan. Dua dusun tersebut adalah Dusun Pinang Tinggi dan Dusun Padang Salak. Luas lahan yang diklaim oleh perusahaan yang termasuk didalam HGU perusahaan di 3 dusun ini adalah 3.614 ha.

Di wilayah Dusun Padang Salak terdapat beberapa anak sungai yaitu Sungai Suban, Sungai Cermin, Sungai Padang Salak, Sungai laman Minang, Sungai Suban Ayomati, Sungai bayan Temen, Sungai Durian makan Mangku, Sungai Lubuk Burung, dan Sungai Ulu Suban Ayomati.

Di wilayah Dusun Pinang Tinggi terdapat beberapa sungai seperti Sungai Tunggul Udang, Sungai Durian Dibalai, Sungai Empang Rambai, Sungai Nuaran Banyak, Sungai Pematang Tapus, Sungai Nyalim, Sungai Jalan Kudo, Sungai Durian Diguguk, Sungai Patah Bubung, Sungai Durian Diriring, Sungai Bayan Kralis, Sungai Durian pangulatan, Sungai Durian nenek Perda, Sungai Durian Tunggul Meranti, Sungai Mantilingan, Sungai lais, Sungai Sangkrubung, Sungai Durian Jerjak Ui, Sungai Tunggul Meranti, dan Sungai Tunggul Enaw.

Sementara Dusun Tanah Menang terdapat beberapa sungai yaitu Sungai Limus, Sungai Dahan Petaling, Sungai Langgar Tuan, Sungai Pagar, Sungai Klutum, Sungai Lesung Tigo, Sungai Lamban Bemban, Sungai Tertap, Sungai Nyalim, Sungai Temidai, Sungai Sialang Meranti, Sungai Dahan Setungau, Sungai Ulu Kelabau, Sungai Marung Tengah, SungaiBindu, Sungai Nuaran Banyak, Sungai Semio, Sungai Klabau, dan Sungai Arang paro.

Keberadaan anak-anak sungai inilah yang menjadi batas-batas wilayah dan sumbermata pencaharian masyarakat. Beberapa anak sungai ini sekarang kondisinya sudah berubah karena ditanami kelapa sawit dan ada yang ditimbun oleh perusahaan untuk areal perkebunan. Sungai yang tersisa juga rusak oleh limbah-limbah pabrik penggilingan kelapa sawit. Masyarakat suku Bathin IX masih bisa mengingatnya dengan baik keberadaan sungai-sungai yang ada di wilayahnya.

Tahun 1987 adalah awal dari semua permasalahan. Sebuah HGU seluas 20.000 ha diterbitkan oleh BPN Kabupaten Batanghari untuk PT Bangun Desa Utama (PT BDU) untuk dibangun perkebunan kelapa sawit dan cokelat. Dua tahun setelah penerbitan HGU terjadi penggusuran masyarakat di 3 dusun, yaitu Dusun Tanah Menang, Dusun Pinang Tinggi dan Dusun Padang Salak. Penggusuran yang dilakukan perusahaan bersama aparat kepolisian dan tentara membuat masyarakat di 3 dusun berpencar. Beberapa masyarakat memilih meninggalkan rumahnya karena takut dengan intimidasi yang dilakukan pada saat proses penggusuran.

Pada tahun 2001-2002 setelah pergantian manajemen perusahaan, kembali terjadi penggusurun lahan warga. Tanaman cokelat yang sudah ditanam oleh perusahaan diganti menjadi kelapa sawit. Perusahaan mengklaim bahwa lahan yang ditempati masyarakat berada di kawasan HGU perusahaan. Tanaman-tanaman keras masyarakat seperti durian, digusur dan dibersihkan. Makam-makam masyarakat pun ikut tergusur.

Dampak dari penggusuran paksa yang menggunakan aparat militer dan kepolisian yang menggunakan kekerasan dan intimidasi pada saat itu bukan saja berdampak pada hilangnya tanah dan tanaman masyarakat, tetapi juga dampak psikologis terhadap beberapa orang dewasa dan anak-anak. Jay (24 tahun) yang dulu sewaktu penggusuran masih anak-anak, sampai dengan sekarang masih trauma melihat orang-orang yang berpakaian militer.

Kutar juga menceritakan pada saat itu dia juga pernah diusir dari rumahnya. Diseret ke mobil polisi dan dibawa ke kantor polisi karena dianggap melawan. Merasa tidak bersalah dan harus mempertahankan hak atas tanahnya, Kutar tidak gentar menghadapi para anggota kepolisian. “Pada tahun 86-87 tentara langsung masuk rumah. Menodong senjata dan mengusir kami. Andalan perusahaan itu adalah Kapolres Batang Hari dan Kapolsek Bajubang. Yang saya tanyakan sekarang, mereka ini polisi perusahaan atau masyarakat?” ucap Kutar.

Hanya Kutar dan beberapa rekannya yang masih bertahan di tanah mereka. Walaupun sering menerima intimidasi dan ancaman mereka tidak akan menyerahkan tanah yang sudah dimiliki dari nenek moyang mereka. Karena takut dengan ancaman-ancaman yang diberikan perusahaan, beberapa masyarakat di Dusun Padang Salak dan Dusun Pinang Tinggi sudah meninggalkan tanah mereka. Untuk menghilangkan bukti-bukti bahwa lahan tersebut adalah milik masyarakat Suku Bathin IX, perusahaan membunuh semua tanaman-tanaman keras milik masyarakat dengan cara diracun. Cara-cara inilah yang membuat Kutar dan masyarakat yang masih bertahan di Dusun Tanah Menang berang. “Negara ini kalau tidak salah berlaku undang-undang dan pancasila. Kalau tidak berlaku lagi undang-undang dan hukum ini, mungkin seperti inilah pak. Apakah bapak mau, klo istri bapak adalah istri kami? Harta bapak, harta kami?. Kami mengambil buah sawit satu biji ditangkap, karena dianggap pencuri. Perusahaan mengambil tanah kami tidak ditangkap” jawab Kutar ketika diintrogasi oleh polisi dan dituduh mengambil tanah perusahaan yang masuk kedalam wilayah HGU perusahaan.

Kutar menjelaskan, klo memang perusahaan itu merasa membeli tanah-tanah mereka, ia ingin mengetahui kepada siapa perusahaan itu membeli. Karena mereka merasa tidak pernah merasa menjual atau menyerahkan tanah yang sudah ditempati oleh mereka selama beberapa generasi kepada perusahaan untuk perkebunan kelapa sawit. Masyarakat yang dulu hidup harmonis dengan alam, berladang, berkebun karet dan berburu ini sekarang seperti orang tersesat. Berjalan tak tentu arah. “Sebelum tahun 1986 buah-buahan melimpah disini, sampai tidak habis kami memakannya. Kami berikan buah-buahan itu kepada masyarakat luar (orang-orang trasnmigrasi) karena saking banyaknya. Tanaman jerenang banyak di hutan. Sekarang susah. Perusahaan pernah bilang ke kami, katanya makin ramai makin aman. Tentram. Tapi kenyataannya makin susah hidup kami. Inilah resiko kami bermain dengan orang pintar” keluh Kutar.

Tak mampu beli durian

Tadi ada keluarga yang memberi uang sebesar Rp 50.000. Ketika saya pegang uang itu, cucu saya ingin sekali makan buah durian. Terpaksalah saya membeli durian yang harganya sekarang masih Rp 30.000/buah. Sekarang pak, kami tidak bisa lagi menikmati buah durian.” Ucap Harun C kepada saya ketika kami mengunjungi beberapa orang Bathin IX di Desa Nyogan. Harun C dulunya berasal dari Dusun Padang Salak, Desa Bungku. Dia dan sekeluarga terpaksa meninggalkan rumah dan tanahnya karena takut akan intimidasi para perusahaan dan militer. Tanah Harun C yang ditinggalkan di Dusun Padang Salak kurang lebih 200 X 900 depo. 1 depo sama dengan 1,5 meter.

Usup Bengking sekarang tinggal di Dusun Segandik, Desa Nyogan. Sama dengan Harun C, Usup juga meninggalkan rumah dan tanahnya yang berada di Dusun Pinang Tinggi. Dia dan beberapa rekan-rekannya sekarang tinggal di rumah yang sangat sederhana atas batuan Dinas Sosial sewaktu gencarnya konflik dan penggusuran tanah dan ladang mereka. Di Desa Nyogan sekitar 75% adalah masyarakat Suku Bathin IX. Sebanyak 60 orang mempunyai hak atas tanah di perkebunan PT Asiatic Persada. Mata pencaharian mereka saat ini sudah tidak menentu. Ada yang mencari ikan, berkebun dan buruh perkebunan.

Harapan kami, kami ingin tanah kami kembali. Tidak ada negosiasi lain. Saya ini sudah tua, umur kami sudah tidak lama lagi. Sudah puluhan tahun kami hidup mengungsi seperti ini. Anak cucu saya tidak punya tanah, tidak punya kebun. Mau bertani tidak bisa. Bagaimana mereka mau menjalani kehidupan ini?” ungkap Harun C.

Tidak mau sekolah gara-gara sandal jepit

Derita dan kesedihan bukan hanya dirasakan oleh satu generasi. Tapi mungkin akan berlanjut ke generasi berikutnya. Para orang tua mungkin merasakan sakit dan pedih karena tergusurnya tanah mereka. Sulitnya sumber mata pencaharian untuk penghidupan. Kemiskinan ini juga berdampak pada anak-anak mereka. Karena berasal dari keluarga yang tidak mampu, anak-anak Suku Bathin IX terpaksa sekolah dengan menggunakan baju sekolah seadanya dan menggunakan sandal jepit.

Supri salah satu anak Suku Bathin IX yang tinggal di Dusun Tanah Menang yang bersekolah di salah satu sekolah dasar yang ada di Pasar Kecamatan Bajubang. Pada tahun 2003 Supri duduk di bangku kelas 2. Masih ingat betul diingatan Supri pada saat itu dia dimarahin oleh seorang guru ketika ia dan seorang temannya yang juga berasal dari Suku Bathin IX berangkat sekolah menggunakan sadal jepit. Saat itu sang guru menanyakan kepada mereka kenapa mereka sekolah menggunakan sandal. Supri hanya bisa menjawab bahwa orang tuanya tidak mampu membeli sepatu. Supri juga sudah menejelaskan klo tanah mereka sudah habis diambil oleh perusahaan kelapa sawit. Orang tuanya tidak ada uang untuk membelikan sepatu untuk ke sekolah. Setelah menjawab pertanyaan sang guru, guru tersebut meminta Supri dan temannya untuk menggantungkan sandal mereka di leher dan berjemur di halaman sekolah. Setelah kejadian tersebut mereka tidak mau lagi ke sekolah karena malu dengan murid-murid lain yang mayoritas adalah orang-orang transmigrasi.

Kutar menyampaikan bahwa tanah yang dibangun untuk sekolah dahulunya adalah tanah wakaf dari orang tuanya. Sekolah yang dibangun oleh PT Asiatic Persada awalnya adalah untuk anak-anak Suku Anak Dalam (SAD) bersekolah. Memperoleh pendidikan. Mengerti baca tulis.

Sampai dengan sekarang saya masih ingat nama dan wajah seorang guru yang menghukum saya disaat sekolah ketikasaya memakai sandal jepit” ungkap Supri. Tak urung Supri yang sekarang mulai tumbuh dewasa menyimpan dendam kepada sang guru.

Saat ini jumlah anak-anak usia sekolah di Dusun Tanah Menang sekitar 200 anak. Yang bisa mengenyam sekolah seekitar 20 orang.

Saya yang beberapa hari tinggal bersama orang-orang Suku Bathin IX menjadi tahu kenapa Pak Abunyani dan bersama dengan rekan-rekannya dari Suku Bathin IX berusaha membangun kekuatan untuk berjuang mencari sebuah kemerdekaan. Merdeka seutuhnya. Merdeka diatas tanah mereka sendiri. Selama 24 tahun mereka harus hidup berjuang mempertahankan tanah warisan dari para leluhur mereka. Seperti pepatah lama orang-orang Suku Bathin IX “Biarlah orang mendapat asal kito tidak kehilangan”.

TAMAT

Wednesday, April 13, 2011

Bathin IX Mencari Kemerdekaan (1)

Murid sekolah dasar. Atupun mungkin murid sekolah dari taman kanak-kanak sudah tahu negara ini merdeka dari tahun 45. Semua rakyat Indonesia pun tahu itu. Tapi seperti apakah hakekat sebuah kemerdekaan? Benarkah bagi orang-orang yang ada di negeri ini merasakan merdeka? Mungkin belum semua lapisan masyarakat yang ada di negeri ini merasakan merdeka seutuhnya.

Apa saya tulis berikut ini adalah, penglihatan saya dan pendengaran saya mengenai masyarakat yang belum merdeka seutuhnya. Memang kita sudah merdeka dari jajahan negara asing yang frontal. Tapi merdeka dari penindasan, pembodohan dan pemiskinan? Saya berani mengatakan mereka belum merdeka!

Berbekal tulisan dari Irma Tambunan mengenai Suku Bathin IX di Jambi pada harian KOMPAS di kolom SOSOK sebulan yang lalu, saya nekad mencari informasi sebanyak-banyak mengenai suku ini dan juga mengenai sosok yang ditulis oleh Irma. Semua kontak yang ada di Jambi saya hubungi untuk melacak siapa orang yang ada dimaksud didalam harian KOMPAS. Benarkan Suku Bathin IX ini ada di Jambi dan kondisinya ‘tenggelam’.

Informasi awal yang ingin saya dapatkan akhirnya terkumpul. Melalui media komunikasi telpon saya berhasil mengumpulkan beberapa informasi awal tersebut.


14 Maret 2011 saya langsung terbang ke Jambi. Setelah empat hari mengunjungi beberapa teman di Jambi saya langsung memutuskan untuk tinggal dirumah Pak Abunyani di Desa Kilangan, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari. Sosok yang ada dituliskan di harian KOMPAS tersebut. Di rumahnya yang sederhana saya mendapatkan banyak informasi mengenai Suku Bathin IX. Saya juga menjadi mengerti kenapa beliau bersikukuh untuk mengangkat kasus-kasus yang terjadi di komunitasnya. Karena saya tidak puas hanya mendengar cerita dari beliau. Saya minta beliau mengantarkan saya ke lokasi-lokasi konflik tersebut. Lokasi dimana masih ada masyarakat adat suku Bathin IX yang tetap mempertahankan tanah ulayatnya walaupun harus menghadapi berbagai macam kecaman dan intimidasi.

Berdasarkan cerita sejarah, Suku Bathin IX adalah komunitas pertama penghuni Jambi dan memiliki sebagian hutan adat di Jambi. Komunitas adat ini awalnya menempati sepanjang sembilan anak sungai yaitu Sungai Semak (saat ini leih dikenal dengan Sungai Bulian), Sungai Bahar, Sungai Singoan, Sungai Jebak, Sungai Jangga, Sungai Telisak, Sungai Sekamis, Sungai Semusir, dan Sungai Burung Hantu. Semua sungai ini bermuara ke Sungai Batang Hari. Sejak lama pemerintah menggabungkan Komunitas Suku Bathin IX ini dengan Orang Rimba menjadi satu istilah yaitu Suku Anak Dalam (SAD). Pemerintan menganggap mereka sama, padahal mereka berbeda komunitas dan beda adat istiadat.

Esok paginya sekitar jam delapan pagi Pak Abunyani mengajak saya ke Sialang Pugug, Desa Singoan. Disana saya bertemu dengan beberapa masyarakat Bathin IX yang konflik dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Induk Kebun Unggul (PT IKU). Pada tahun 1995 tanah masyarakat dijadikan perkebunan kelapa sawit dimana sebelumnya dijanjikan akan bagi hasil jika nanti perkebunan tersebut menghasilkan. Pola kemitraan ini dulunya dipimpin oleh seorang cukong yaitu Tanoto Ayong-sebagai bapak angkat. Mereka bekerjasama dengan KUD Sinar tani. Kemitraan Masyarakat dan KUD ini dilakukan melalui pola Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA) dengan cara pembagian 70% untuk petani dan 30% untuk perusahaan yaitu PT IKU. Direktur Utama PT IKU adalah Tanoto Ayong.

Sejak ditandatangani kesepakatan pola kemitraan dengan PT IKU, sekitar 2300 ha hutan adat milik masyarakat Suku Bathin IX dibabat habis oleh perusahaan. Kawasan hutan yang tergabung didalam 4 desa yaitu Desa Olak, Aro, Ma Singoan dan Desa Sungai Baung. Kayu-kayu yang sudah ditebang tersebut dikuasai oleh perusahaan PT IKU. Berdasarkan surat kesepakatan dan perjanjian dengan PT IKU, perusahaan akan membiayai kebutuhan hidup masyarakat yang tanahnya sudah dikonversi untuk perkebunan kelapa sawit selama 48 bulan (sampai perkebunan kelapa sawit tersebut menghasilkan buah). Tentu saja dengan harapan besar pola kemitraan ini, mereka rela melepaskan tanah-tanah mereka untuk ditanami kelapa sawit, agar bisa meningkatkan pendapatan dan taraf hidup mereka.

Tapi janji, harapan besar dan mimpi indah itu tiba-tiba menjadi hilang dan menjadi sebuah mimpi buruk bagi mereka. Menjadi sumber malapetaka dan bencana. Pemiskinan secara terang-terang yang direstui oleh pemerintah. Setelah hutan habis ditebang dan kayu-kayunya sudah diangkut oleh perusahaan, lahan yang ditanami kelapa sawit hanya 663 ha. Biaya hidup yang dijanjikan selama 48 bulan hanya terlaksana beberapa bulan saja. Bibit kelapa sawit yang ditanami oleh perusahaan PT IKU dilahan tersebut juga tidak dapat dipertanggung jawabkan kualitasnya. Belakangan diketahui bahwa Tanoto Ayong sengaja mentelantarkan perkebunan sawit yang sudah disepakati karena sudah mendapat keuntungan dari hasil penjualan kayu-kayu disaat melakukan land clearing.

Tanoto Ayong selaku Direktur Utama PT IKU dikabarkan menghilang dari Jambi. Diketahui juga Tanoto Ayong terlibat banyak kasus di Jambi. Sampai dengan sekarang tidak peduli dengan nasib masyarakat yang ada di Desa Singoan.

Saat ini posisi masyarakat menjadi terjepit dan tidak ada pilihan yang menguntungkan. Dilanggarkan semua perjanjian dan kesepakatan yang dibuat berarti sama saja membunuh sumber matapencaharian dan harapan. Karena himpitan ekonomi dan untuk memenuhi kebutuhan hidup, pada bulan Desember tahun 2007 masyarakat Suku Bathin IX didamping pengacaranya yaitu Mangara Siagian, SH dan kawan-kawan mencoba menghubungi beberapa aparat pemerintah diantaranya Kaporles Batanghari dan Kasat Brimobda Jambi untuk meminta izin untuk melakukan pemanenan kelapa sawit yang sudah ditanam. Hasil pertemuan itu disepakati boleh dilakukan pemanen secara bersama dan didampingi oleh aparat keamanan dari Brimob dan pihak tim pengacara.

Pada tanggal 20 Januari 2008 proses pemanenan bersama dilakukan. Proses pemanenan ini dilakukan oleh masyarakat didamping Brimob dan tim pengacara. Tapi apa yang terjadi? Ketika proses pemanenan dilakukan, sekelompok aparat dari Polres Batang Hari datang ke lokasi kebun. Proses panen dihentikan dan mereka yang lagi panen buah sawit langsung dibawa ke Polres Batang Hari dan ditahan. Mereka didakwa melakukan pencurian buah sawit milik perusahaan. Polres Batang Hari juga menangkap pengacara Mangara Siagian, SH dengan tuduhan sebagai otak pelaku pencurian buah sawit. Dari 60 orang yang melakukan panen bersama, sebanyak 16 orang masyarakat yang melakukan panen tersebut ditahan selama 7 bulan kurungan.

Mungkin inilah nasib rakyat yang belum merdeka seutuhnya. Nasib orang kecil, lemah dan tidak mempunyai sebuah kekuatan untuk meruntuhkan sebuah tembok yang ada didepannya ketika tembok tersebut menghalangi jalan mereka.

Tanah ulayat yang sudah terlanjur mereka sepakati untuk menjadi perkebunan kelapa sawit membawa derita. Ketika memanen tanaman yang ada ditanah sendiripun menjadi masalah. “Sebelum ada perusahaan masuk, kami ini aman. Buahan-buahan, tumbuh-tumbuhan banyak. Durian, cempedak, semua ada. Sekarang ini klo tidak beli buah-buahan diluar, kami tidak akan pernah bisa mencicipi rasa buah-buahan tersebut. Sejak perusahaan masuk, kami kesusahan sekali. Tanah kami digarap oleh perusahaan sawit, ternyata hasilnya tidak diberikan kepada kami. Jika kami olah tanah yang belum tertanam kelapa sawit, polisi datang dan dipenjara. Sedangkan kami merasa tanah ini adalah warisan dari nenek-nenek kami”. Keluh Pak Zainudin yang saat ini menjadi Ketua RT di Dusun Sialang Pugug.


Zainudin juga menjelaskan bahwa pada bulan September tahun 2010, ketika mereka mengolah tanah mereka. Semua orang yang mengolah tanah mereka dikirimin surat dari Polres Batang Hari. Mereka dianggap melakukan perkara tindak pidana penggelapan hak atas barang tidak bergerak (Pasal 385 KHUP). Surat resmi yang dipojok kiri atas tertulis dengan huruf kapital “DEMI KEADILAN” terebut ditandatangani oleh Kasat Reskrim selaku penyidik, yaitu Prasetiyo Adhi Wibowo, SIK. “Katanya klo 3 kali dipanggil kami tidak hadir, kami dianggap menentang hukum. Hukum apa yang saya tentang?” lanjut Zainudin.

(Bersambung)

Thursday, April 7, 2011

Hutan Desa Lubuk Beringin: Berpijak dari kearifan lokal

Seminggu yang lalu saya memiliki kesempatan untuk berkunjung ke lokasi hutan desa di Kabupaten Muaro Bungo, Jambi. Awalnya tujuan perjalanan saya ke Jambi adalah untuk mendokumentasikan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang ada di Jambi dan mendokumentasikan beberapa kelompok Suku Bathin IX dan Suku Anak Dalam (SAD) yang sering disebut orang rimba yang tergusur dari kawasan hutan mereka.

Karena jadwal untuk masuk ke kelompok orang rimba masih bentrok dengan kegiatan lembaga pendampingnya, akhirnya saya diajak oleh seorang teman di Jambi untuk melihat lokasi hutan desa. Berhubung saya belum tahu banyak seperti apa pengelolaan hutan desa dan bagaimana mekanisme hak kelolanya, saya memutuskan menerima tawaran tersebut.

Hutan desa adalah hutan negara yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa serta belum dibebani izin/hak. Izin kelola kepada masyarakat merupakan amanat dari ketentuan UU No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan dan Permenhut P.49/2008 Tentang Hutan Desa.

Untuk mendapatkan izin pengelolaan hutan desa, harus melalui beberapa tahapan sampai dengan terbitnya SK Penetapan Areal Hutan Desa. Tahapan pertama dimulai dari permohonan usulan dari masyarakat kepada Menteri Kehutanan melalui Bupati setempat. Kemudian Bupati mewakili pemerintah daerah mengeluarkan surat rekomendasi dan dilanjutkan dengan usulan penetapan areal kerja hutan desa ke Menteri Kehutanan. Menteri Kehutanan atas dasar surat Bupati akan menurunkan tim verifikasi. Setelah dilakukan verifikasi, maka Menhut akan menerbitkan SK Penetapan kawasan hutan sebagai Areal Kerja Hutan Desa berdasarkan luas yang diusulkan dengan jangka waktu hak kelola biasanya selama 35 tahun dan dapat di perpanjang.

Hutan desa yang saya kunjungi di Muaro Bungo adalah Hutan Desa Lubuk Beringin. Hutan desa ini kabarnya merupakan hutan desa pertama yang ada di Indonesia. Sebuah dusun kecil yang berada di kawasan hutan lindung Bukit Panjang Rantau Bayur. Hulu Sungai Buat. Jumlah penduduk di dusun ini sekitar 331 jiwa atau sekitar 86 KK.

Dusun ini perlahan mulai terkenal sejak seorang menteri kehutanan pada tahun 2009 datang langsung ke dusun ini dan memberikan hak kelola kepada masyarakat melalui SK Menteri Kehutanan RI tentang Pencadangan areal Kerja Hutan Desa Dusun Lubuk Beringin dengan luas 2.356 ha.

Disaat berada di dusun ini saya benar-benar merasakan sebuah kedamaian dan keharmonisan masyarakat yang tinggal disebuah kampung dengan kekayaan sumberdaya alamnya. Sumber ekonomi yang cukup. Tidak pernah merasakan kekurangan bahan pangan karena produksi padi yang selalu ada setiap tahunnya. Sumber air yang melimpah dan jernih. Sebuah sungai besar yang jernih dan bersih mengalir disepanjang dusun ini membuat keharmonisan itu semakin nyata.

Setiap pagi masyarakat dusun lubuk beringin berangkat menyadap karet sebagai mata pencaharian mereka. Sebagian keluarga, setelah menyadap karet mereka langsung menuju sawahnya yang sudah mereka tanami padi. Membersihkan tanaman-tanaman padi dari rumput-rumput atau sekedar mengecek aliran air klo-klo ada yang tersumbat untuk menuju sawahnya. Anak-anak muda terkadang secara berkelompok berlari menuju sungai dengan membawa senjata terbuat dari kayu-kayu bekas dan karet ban dalam sepeda motor untuk menembak ikan didalam sungai. Mata tembak terbuat dari jari-jari sepeda atau besi-besi kecil dari payung bekas. Kacamata selamnya pun buatan sendiri.

Hutan desa bagi mereka adalah sumber mata pencaharian dan juga sekaligus penyelamat alam dan lingkungan. Dengan adanya hutan desa mereka bisa sedikit tenang karena kawasan tersebut sudah diberi hak kelolanya oleh pemerintah kepada masyarakat desa. Tidak lagi khawatir pemerintah dalam waktu dekat bisa saja memberikan izin-izin konsesi kepada perusahaan untuk perkebunan kelapa sawit ataupun hutan tanaman industri (HTI).

Beberapa manfaat yang mereka dapatkan dari hutan ini adalah sumber mata air yang melimpah. Di sawah-sawah mereka selalu mengalir air-air jernih. Begitu juga tanaman-tanaman lainnya yang ada diladang-ladang mereka. Air yang mengalir di sungai juga mereka manfaatkan untuk sumber energi listik dengan menggunakan kincir air. Kepala Desa Lubuk Beringin yang sering disebut ‘Rio’ yaitu Hadirin menyampaikan bahwa energi listrik yang ada di desanya dibangun secara swadaya masyarakat dan gotong-royong.

Sebelum adanya hutan desa ini, memang kami sudah lama menjaga hutan yang ada di desa kami. Masyarakat sangat menyadari pentingnya hutan bagi mereka. Dari dulu kami juga sudah ada aturan adat dan juga sekarang juga dituangkan menjadi Peraturan Desa (Perdes). Klo menebang 1 pohon harus menanam 10 pohon. Kami juga akan memberikan sanksi sosial bagi yang melanggar. Misalnya klo dia mengadakan acara pernikahan ataupun syukuran (seperti khitanan) kami tidak akan menghadirinya” ungkap Hadirin. Masyarakat Dusun lubuk Beringin sudah mengetahui aturan-aturan adat dan aturan desa. Mereka tidak mau diasingkan oleh kelompok masyarakat yang lainnya.

Rio juga berharap kedepannya akan semakin banyak masyarakat yang datang berkunjung ke dusun mereka. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Karena sudah banyak yang berkunjung ke dusun Lubuk Beringin. Melihat keramahan masyarakat dan potensi-potensi sumberdaya alam yang mereka miliki. Saat ini mereka sudah melakukan survey dibeberapa tempat untuk lokasi ekowisata. Camping ground, areal tracking, dan pemandian di sungai yang jernih dan bersih sudah disiapkan.

Ketika selesai melakukan interiview dengan Rio, saya diajak mandi di sungai. Kebetulan sudah lama sekali saya tidak mandi di sungai besar yang bersih dan jernih yang berada di hulu daerah aliran sungai. Saya mandi di sungai seperti ini mungkin tahun lalu ketika saya pulang kampung. Sangkin hebohnya dan benar-benar menikmati mandi di air yang jernih, 3 jam berlalu tanpa terasa didalam sungai dengan berenang-renang kecil dan duduk-duduk disekitar sungai. Benar-benar menikmati indahnya sungai yang ada di depan mata. Beberapa hari setelahnya punggung saya kulitnya mengelupas semua karena terbakar oleh sinar matahari. Sampai sekarang masih berbekas.

Sebuah kenikmatan yang jarang saya rasakan dalam banyak perjalanan saya. Menikmati keindahan alam dan kekayaan alam Indonesia. Keharmonisan masyarakat lokal dan masyarakat adat yang tinggal disekitar kawasan hutan. Beberapa tahun ini perjalanan saya banyak mengunjungi daerah-daerah konflik antar masyarakat lokal/adat dengan perusahaan perkebunan dan perusahaan kehutanan, konflik dengan pemerintah lokal, dan kawasan hutan yang sudah hancur berantakan. Melihat puing-puing keharmonisan. Meratap, merekam dan menyaksikan jeritan-jeritan mereka.

Untuk melihat video singkat Hutan Desa Lubuk Beringin silahkan lihat disini

Tuesday, April 14, 2009

Libur Pemilu

Perjalanan saya kali ini adalah perjalanan untuk menikmati liburan, yaitu libur pemilu untuk legeslatif dan libur paskah. Lumayan bisa libur kerja selama empat hari. Mulai dari tanggal 9-12 April 2009. Karena dari dulu saya tidak tertarik dengan kampanye parpol dan pemilihan untuk legeslatif, ya saya memilih abstein dan menikmati liburannya saja :)

Perjalanan untuk berlibur memang sangat berbeda rasanya dengan perjalanan yang memang sudah menjadi kewajiban alias memang sudah kerjaan sehari-hari.

Saya dan my special one Sucie Ramadhanny (Uchie) menikmati liburan ini untuk mengunjungi kedua orang tuanya di Kuala Tungkal, Jambi. Sudah setahun lebih kedua orang tuanya dipindahtugaskan kesana. Karena Uchie belum pernah datang ke Jambi, maka kami merencanakan liburan kesana mumpung orang tuanya masih tinggal disana dan sebelum dipindahkan lagi ke daerah lain.

Perjalanan ke Jambi sebenarnya tidak direncanakan jauh-jauh hari karena Uchie memang masih belum pasti apakah tempat dia bekerja akan libur pada tanggal tersebut atau tetap masuk kerja. Beberapa hari sebelum berangkat baru bisa dipastikan kalo kantornya ternyata juga libur. Terpaksa saya buru-buru menelpon seseorang teman untuk memesankan tiket kami berdua pulang pergi ke Jambi. Thanks ya Funny for the ticket...


Kuala Tungkal

Saya memang sudah pernah ke Jambi sebelumnya yaitu tahun 2008. Tapi memang perjalanan saya waktu itu hanya sebatas Jambi, Sorolangun dan Muaro Bungo. Saya belum pernah ke Kuala Tungkal. Karena belum pernah ke Kuala Tungkal, saya sangat setuju jika liburan pemilu ini dihabiskan disana.

Setibanya di Bandara Sultan Thaha, Jambi kami berdua ternyata sudah dijemput oleh kedua orang tuanya Uchie. Kedua orang tuanya sudah tiba lebih dulu di bandara bersama dengan Ida, anak tetangga di Kuala Tungkal yang diajak ke Jambi. Ida masih sekolah kelas lima SD. Dari wajahnya yang selalu senyum dan ramah ini kelihatan klo dia anak yang rajin dan pintar.

Perjalanan dari Jambi ke Kuala Tungkal membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Kuala Tungkal yang termasuk kedalam Kabupaten Tanjung Jabung Barat ini adalah sebuah kota yang berada di sebelah utara Jambi. Kota Kuala Tungkal berbatasan langsung dengan pantai. Kota kecil ini daratannya didominasi oleh rawa-rawa. Jadi tidak heran jika tiba di Kuala Tungkal, rumah-rumah penduduknya berada diatas rawa. Dan tidak heran juga jika berada disana kita mencium bau khas daerah yang berawa dan dekat dengan pantai.

Perjalanan menuju Kuala Tungkal menjadi lama karena kondisi jalan yang kecil dan banyak bagian-bagian jalan yang berlubang. Ketika akan memasuki kotanya, pas di gerbang selamat datang kita disuguhi kondisi jalan yang berlubang, lumpur dan becek kurang lebih sepanjang 50 meter. Benar-benar sambutan yang membuat kita yang pertama kali mengunjungi kota ini menjadi pesimis akan kota tersebut.

Kuala Tungkal adalah sebuah kota yang kecil dan unik. Unik karena hampir semuanya rawa dan kotanya hanya terpusat di satu tempat. Karena bentuk kotanya yang kotak-kotak maka tidak heran banyak sekali perempatan jalan dan gang-gang (mereka menyebutnya lorong) kecil di tengah kota ini. Bangunan yang dominan di Kota Kuala Tungkal adalah ruko-ruko untuk sarang burung walet. Jika kita perhatikan, bangunan rumah disini sepertinya sangat sederhana. Tapi jangan salah, membangun rumah disini tidaklah gampang. Membutuhkan banyak kayu untuk mendirikan rumah diatas rawa. Jika ingin menimbun semua rawa ini, dibutuhkan biaya yang sangat besar.

Selama empat hari tiga malam disana saya cukup puas mengelilingi kota Kuala Tungkal. Pagi harinya sekiar jam setengah enam saya bersama dengan Uchie dan bapak jalan kaki mengelilingi kota. Pada pagi hari, suasana kota sudah ramai dengan orang-orang yang berjualan dan suara burung walet yang berterbangan. Ruko-ruko oleh para pemiliknya hanya ditempati di lantai bawah saja, sisanya yaitu lantai 2,3 dan ke-4 dibuat untuk sarang burung walet. Banyak juga bangunan ruko disini posisinya miring. Mungkin teras atau bangunan dasar ruko tidak kuat menahan bangunan yang bertingkat. Saya terkadang bertanya-tanya dalam hati, apakah orang ini tidak takut dengan kondisi bangunan yang miring seperti itu. Bagaimana jika nanti terjadi gempa seperti yang di Bengkulu, apakah bangunan ini cukup kuat menahan guncangan??

Jenis transportasi publik di kota ini adalah becak sepeda. Karena daerahnya dominan rata dan tidak ada tanjakan serta jarak kemana-mana tidak terlalu jauh. Jenis kendaraan roda empat sangat sedikit di kota ini. Lebih banyak sepeda dan motor. Pengemudi motor disini jarang sekali yang memakai helm pengaman. Bagi kita yang membawa kendaraan roda empat (mobil), memasuki kota ini kita tidak bisa menggunakan kecepatan tinggi dikarenakan sangat ramai sepeda dan motor yang lalu lalang. Juga kondisi jalannya yang kecil.

Disini kami juga melihat pelabuhan Kuala Tungkal dan Tungkal Ancol Beach. Ternyata di Tungkal juga ada Ancol. Entah mengapa pemerintah atau masyarakatnya menamakan Ancol Beach. Apa karena nge-fans sama keindahan Ancol atau berharap kondisi pantai di Tungkal bisa seperti Ancol. Perlu diketahui, pantai di sekitar pelabuhan Kuala Tungkal selalu berwarna keruh (coklat) dan tidak berpasir alias berlumpur. Apalagi disaat saya mengunjungi pelabuhan ini, kondisi awan mendung dan hitam. Jadi kesan yang saya dapatkan di pelabuhan ini adalah suram hehehe.... Foto yang saya dapatkan seperti foto pantai kematian. Seram :p

Ketika masuk ke Ancol Beach saya melihat beberapa anak muda sedang berkumpul dan main beberapa permainan. Ada yang main engkrang, bakia dan dagongan. Saya tertarik melihat mereka bermain dagongan. Permainan tradisional yang sangat sederhana. Alat permainannya hanya sebuah batang bambu yang ukurannya cukup besar (kira-kira sebesar kaki). Cara bermainnya, terdapat dua kelompok yang memegangi kedua ujung bambu. Setelah dikasih aba-aba, mereka saling dorong. Mana kelompok yang tidak kuat menahan dan mundur, kelompok itulah yang kalah. Permainan yang seru dan kocak. Anak-anak mudanya bermain dengan penuh canda dan ceria. Permainan ini baru sekali ini saya temui. Mungkin permainan khas Kuala Tungkal ??

Pada malam kedua, kami diajak oleh Bapak dan Ibu mencoba mencicipi makanan
sea food yang ada di Kuala Tungkal. Beliau mengajak kami makan di RM Sea Food “Nikmat”. Di rumah makan ini kami menikamati kerang, kepiting, cumi besar dan ikan goreng. Semua ikan, kepiting, cumi dan kerangnya masih segar dan baru. Selama ini saya yang tidak pernah mau makan kerang karena tahu bagaimana kondisi kerang yang ada di Jakarta dan Muara Angke. Disini setelah dipastikan segar, maka saya mencicipi masakan kerangnya. Ternyata enak dan nikmat sekali. Hhhmmm jadi kangen makan kerang disana lagi.



Sehari sebelum kami pulang, kami dikunjungi oleh teman lama yaitu Agus Findriawan. Teman kuliah di IPB sewaktu tingkat satu dan teman seangkatan di Lawalata IPB (Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam IPB). Beliau ini hanya satu tahun di IPB. Pada tahun kedua beliau memilih pindah jurusan dan pindah ke Unija, Jambi. Agus yang bulan depan pindah kerja ke Jakarta ini banyak bercerita tentang Kuala Tungkal dan Jambi. Membuat kami ingin kembali mengelilingi Kuala Tungkal. Bersama dengan beliau kami muter-muter di pasar BJ, sebuah pasar yang menjual barang-barang
second dari Singapura dan Batam. Sampai sekarang saya tidak tahu kenapa disebut pasar BJ dan barang BJ. Tapi yang jelas dipasar ini banyak sekali barang-barang yang masih bagus yang dijual dengan harga murah. Mulai dari barang-barang elektronic (TV, kipas angin, vakumcleaner, lemari es), sofa, spring bed, pakaian, tas, boneka, alat fitnes, karpet/ambal, meja makan dan meja karja, sepeda dll. “Cocok nih En klo penganten baru belanja disini. Modal 10 juta saja rumahnya sudah bisa penuh dengan perabotan rumah tangga” ucap Agus kepada saya. “Hahaha... Iya nih, klo kesini lagi musti bawa truck” sayapun menimpalinya dengan tertawa.

Karena dari beberapa tahun yang lalu saya ingin sekali beli sepeda. Dan tabungan saya masih belum mencukupi untuk beli sepeda. Saat muter-muter di pasar BJ saya melihat tumpukan sepeda bekas. Saya pun iseng masuk dan tanya-tanya kepada sang penjual. Ternyata disini semuanya adalah sepeda-sepeda bekas dari Singapura. Berbagai macam jenis sepeda dijual disini. Mata sayapun tertuju pada sebuah tumpukan sepeda lipat yang ada dipojok toko. Sang penjual hanya mau melepas sepeda ini dengan harga 500 ribu rupiah. Semula harga sepeda ini 800 ribu rupiah. Di Bogor kisaran harga sepeda lipat ini barunya antara 2-3 juta rupiah. Akhirnya saya mengiyakan dan membeli sepeda ini.
Finally I have a bicyle. Walaupun bekas dan musti bawa dari Jambi. Walaupun pada awalnya saya ingin beli mountain bike bukan lipat bike hehehe...

Mengunjungi kota-kota kecil dan
stay beberapa hari di kota yang kita kunjungi ternyata sangat menyenangkan. Menikmati keunikan-keunikan yang ada di kota tersebut. Menikmati makanan-makanan atau masakan khas dan alami. Tak terasa liburan empat hari disana sudah habis dan musti balik lagi ke Bogor untuk kembali ke rutinitas sehari-hari. Suasana hati sudah lebih fresh dan pikiran yang sudah kembali fresh.

Terima kasih banyak Bapak dan Ibu. Terima kasih Agus. Semoga kedepan kita diberikan rezeki dan kesempatan untuk mengujungi kota-kota lainnya yang ada di nusantara ini. Amien.


Foto-foto lainnya bisa liat disini

Friday, January 30, 2009

Suku Anak Dalam Yang Semakin Terpinggirkan

"Tidak mungkin manusia bisa merubah ataupun merobohkan pohon-pohon yang besar disini. Bagaimana caranya mereka bisa merobohkan pohon-pohon yang besar dan menghabiskan hutan yang selebat ini". Itulah yang diucapkan oleh Temenggung Nggrip sekitar dua puluh tahun yang lalu kepada kelompoknya disaat mendengar kabar dari masyarakat luar bahwa hutan mereka akan dijadikan areal transmigrasi dan perkebunan skala besar. Temenggung yakin klo hutan mereka yang teramat luas ini tidak akan pernah habis. Pohon-pohon yang besar, tajuk pohon yang rindang dan tinggi serta banyaknya hewan buruan yang bisa dimakan tidak akan hilang.

Tetapi. Kenyataannya benar-benar diluar dugaan Pak Temenggung disaat satu tahun berikutnya kembali lagi ke lokasi yang sama. Tidak ada lagi hutan yang lebat nan rindang. Tidak ada lagi tajuk-tajuk pohon yang berdiri dengan sombong. Semua sudah hancur. Semua sudah tumbang. Suara mesin Chainsaw tak ada henti-hentinya menjerit. Alat berat mondar-mandir memindahkan log ukuran besar kedalam truck logging dan diangkut keluar lokasi penebangan.

Itulah sekilas cerita Pak Temenggung kepadaku tentang awal mulanya hutan mereka perlahan-lahan mulai hilang. Dimana, saat itu mereka belum tahu klo ada Chainsaw yang bisa menumbangkan semua jenis pohon yang sebesar apapun itu. Disaat belum tahu klo ada Buldozer dan mesin kepiting yang mampu mengangkut kayu gelondongan tanpa henti dan tak mengenal lelah.

"Kami semua menangis dan sangat terpukul disaat menyaksikan hutan-hutan kami yang dibabat habis" ungkap Pak Temenggung disaat aku masih terharu dan bengong mendengar cerita-cerita beliau.

Mendengar cerita dan pengalaman dari Pak Temenggung membuatku merinding sekaligus terharu plus sedih. Aku bisa membayangkan mereka yang masih lugu dan tidak pernah mendapatkan berbagai informasi dari luar, dibodohi, ditindas dan dianggap manusia dari planet lain yang tidak layak untuk dipikirkan nasibnya.
Manusia-manusia pintar yang dari kota, berduit dan punya jabatan dengan tenangnya membabat hutan-hutan mereka. Menindas kehidupan mereka. Memandang jijik anak-anak rimba. Aku terkadang ngga habis pikir, kenapa mereka diperlakukan seperti itu. Apa salah Suku Anak Dalam??

Perkebunan Sawit Skala Besar Membuat Mereka Lapar

Hampir seperti di daerah-daerah lainnya di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua. Konversi lahan dan hutan menjadi tanaman kelapa sawit dalam skala besar sekarang ini memang sedang menjadi tren. Tidak peduli apakah itu menguntungkan bagi masyarakat lokal atau tidak. Mengganggu serta merusak tatanan ekologi kawasan disekitarnya, yang penting perkebunan kelapa sawit skala besar dan mimpi untuk menjadi produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia harus terwujud. Serakah memang.

Aku bingung, mereka tahu atau tidak ya bagaimana masyarakat lokal termiskinkan dengan adanya perkebunan kelapa sawit ini. Seperti yang terjadi di Jambi. Suku Anak Dalam yang hidupnya selama ini berburu dan berpindah-pindah harus merubah pola hidup dan kebiasaan mereka dikarenakan hutan mereka sudah mulai berkurang dan bahkan sudah tidak ada lagi. Dan dampak yang paling buruk adalah mereka harus mencuri ke perkampungan orang-orang transmigrasi karena lapar dan tidak tahu harus makan apa. Mencuri buah-buah sawit yang sudah dipanen, mencuri tanaman di ladang-ladang orang kampung. Pekerjaan yang dulu memang ngga pernah mereka lakukan. Boro-boro mencuri, keluar dari hutan aja jarang. Kebayangkan perubahannya.

Pada tanggal 2 November 2007 aku mengunjungi Orang Rimba di Desa Lantak Seribu (Nauran Duren) Kec. Penenang Kab. Merangin. Di lokasi ini kami menemui kelompok orang rimba yang jumlahnya 14 KK dan hanya menempati areal 9 ha. Hutan mereka sudah habis. Kawasan mereka sudah dikelilingi perkebunan sawit. Lahan yang hanya 9 ha tersebut hanya ditanami tanaman karet dan buah-buahan. Tidak bisa berharapa banyak memang dari apa yang mereka tanam. Perkebunan sawit yang mengelilingi lahan mereka adalah PT Krisna Duta Agro Indo (Grup Sinar Mas), yang luas areal untuk kebun intinya kurang lebih 900 ha dan tanaman plasma kurang lebih 20.000 ha. Disitu, aku melihat raut sedih dan seolah-olah adanya keputusasaan seorang manusia. Duduk termenung memperhatikan anak-anaknya bermain dengan pikiran yang jauh mengambang memikirkan esok harus makan apa...

Mereka menyadari, bagaiamanapun mereka harus bisa bertahan hidup dan harus melawan arus perubahan hidup yang mengalir begitu deras. Kemiskinan, Kesehatan yang tidak terjamin dan rawan akan berbagai penyakit akan selalu membayangi mereka. Pedulikah mereka? Pedulikah kita? Apa yang bisa kita perbuat??

Struktur Kepemimpinan Suku Anak Dalam

Di Suku Anak Dalam memang dari turun temurun sudah terbentuk para pemangku jabatan di komunitasnya dengan tugas-tugas yang dibuat berdasarkan kesepakatan. Jabatan-jabatan itu adalah;

  • Tengganas : Jabatan tertinggi di komunitas. Tidak bisa kemana-mana. Klo ada sesuatu urusan kita harus datang ke Tengganas
  • Temenggung : Bisa dipanggil, klo ada sesuatu yang kurang jelas bisa menanyakan ke Tengganas
  • Depati : Sama dengan Temenggung
  • Mangku : Untuk memimpin seluruh rakyat atau kelompok dan yang memberikan aturan
  • Menti : Wakil Mangku, yang membantu mangku dan orang kepercayaan Mangku
  • Anak Dalam : Bisa jadi orang kepercayaan Mangku dan mengkaji kesalahan rakyat

Rotan. Satu-satunya harapan.....

Suatu pagi yang cerah dan cukup dingin. Aku duduk disebuah bangku yang terbuat dari ptongan-potongan papan dengan mengarah ke tajuk-tajuk hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas. Angin pagi yang menerpa wajahku membuatku serasa ingin kembali lagi kedalam sleeping bag yang aku bawa dari Bogor.

Pagi ini aku menyaksikan orang-orang rimba ramai-ramai mengangkut hasil rotan yang meraka ambil beberapa hari yang lalu didalam kawasan hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD). Kabarnya hari ini rotan-rotan tersebut akan dibeli oleh oleh pengumpul dan akan diangkut dengan mobil. Mereka mengakut rotan-rotan ini dari kemarin sore. Ditanah yang datar didepanku ratusan batang rotan jenis tebu-tebu dan manau sudah terkumpul berdasarkan pemiliknya. Orang tua, dewasa, anak-anak, laki-laki dan perempuan, semua bekerja mengangkut rotan. Maklum, hanya rotanlah yang sampai sekarang ini hasil bumi yang bisa mereka andalkan untuk menghasilkan uang dan diberi izin untuk mengambil didalam kawasan taman nasional dengan catatan ikut menjaga kelestarian taman nasional dan menjaga kawasan dari kegiatan illegal logging yang dilakukan pihak lain dan oknum-oknum tertentu. Mereka bekerja dengan penuh semangat dan kompak. Puluhan orang berjalan beriringan mengikuti jalan setapak yang ada dengan beberapa potong rotan dipundaknya. Terlihat juga seorang perempuan yang bertelanjang dada, hanya dibaluti kain mengangkut rotan sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Mungkin umurnya kurang dari satu tahun.

Setelah beberapa kali bolak-balik mangankut rotan, mereka beristirahat. Seorang ibu muda membawakan nasi yang masih berada didalam periuknya. Terlihat olehku mereka hanya makan nasi tanpa lauk. Mereka dengan tenang makan bersama-sama dengan keluarganya. Entah... mereka mengeluh atau tidak dengan kehidupan yang mereka alami. Aku hanya memperhatikan mereka dengan tersenyum.

Sambil mendengarkan lagu Low Man's Lyric dari Metallica yang keluar dari iPod yang berada disampingku, aku terus memperhatikan kegiatan-kegiatan mereka dan mencoba mempelajari filosofi hidup mereka. Aku membayangkan, gimana jika aku diposisi seperti mereka. Sanggupkah aku menjalaninya??

Teringat yang diucapkan oleh Pak Temenggung Nggrip kepada ku "Kami harapkan hutan ini jangan diganggu lagi. Biarlah anak-anak kami maju. Tapi hutan jangan diganggu. Klo bisa hutan dan adat tetap ada, walaupun anak-anak kami pemikirannya sudah maju"

"Kami senang banyak orang atau tamu yang datang, memperjuangkan rimba kami, adat kami. Bukan untuk memperkaya diri mereka pribadi. Banyak teman banyak rezeki"
. Semoga impian Pak Temenggung bisa terwujud. Tapi yang jelas, aku ngga mungkin kaya dengan kunjungan-kunjunganku kesetiap daerah. Yang ada aku selalu meringis ...
Dan sedih....