Wednesday, May 27, 2009

Sendiri Menyelamatkan Penyu di Pulau Terluar

Beberapa minggu yang lalu saya berangkat ke Bagansiapiapi, Riau untuk menemui seseorang yang katanya berhasil menyelamatkan populasi penyu hijau (Chelonia mydas) di sebuah pulau terluar yaitu Pulau Jemur. Pulau yang berada di Selat Malaka, perbatasan antara Malaysia dan Indonesia. Awalnya dari Bogor saya hanya membaca sebuah profil singkat yang saya terima. Saya belum bisa membayangkan seperti apa bentuk orangnya dan bagaimana orangnya.

Setelah tiba di Riau, kami langsung dijemput oleh sebuah mobil yang memang sudah dipesan untuk langsung membawa kami menuju Bagansiapiapi. Perjalanan menuju Bagansiapiapi sekitar 5-6 jam. Cukup melelahkan memang berjam jam berada didalam mobil.

Karena berangkatnya agak telat, kami tiba di Bagansiapiapi pada waktu malam hari yaitu sekitar pukul 20.00 WIB. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi disaat tiba di Bagansiapapi kecuali mencari penginapan, mandi, makan malam dan langsung tidur karena badan lumayan pegel-pegel setelah beberapa jam berada didalam mobil dan subuh-subuh berangkat ke badara dari Bogor.

Setelah jalan-jalan pagi mengelilingi kota bagan dan melihat klenteng tua yang berada ditengah kota bagan, saya dan dua orang teman menemui seseorang yang memang sudah tujuan kami untuk datang ke kota ini. Cerita berikut ini adalah hasil rangkuman dari catatan saya setelah saya memberikan beberapa pertanyan kepada beliau. Semoga bisa menjadi sebuah inspirasi bagi kita semua.

Awalnya Hanya Penasaran Ingin Lihat Induk Penyu


Sopyan Hadi (34), seorang laki-laki kelahiran Riau ini adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Perindustrian dan Perdagangan di Kabupaten Rokan Hilir. Tak disangka pria yang berpenampilan sederhana ini adalah seseorang yang sudah berhasil menyelamatkan populasi penyu hijau di Pulau Jemur. Setelah banyak mendengar cerita dari beliau ini saya langsung geleng-geleng kepala dan takjub terhadap apa yang sudah dilakukannya untuk melakukan penyelamatan penyu hijau di pulau tersebut. Seorang PNS yang dulunya bekerja di BAPEDA ini masih punya kepedulian terhadap kelestarian alam dan satwa yang terancam punah yang ada di Indonesia.

Awalnya saya hanya ingin melihat seperti apa bentuknya induk penyu. Karena dari dulu penyu ini memang sudah menjadi bahan eksploitasi. Pada saat zaman kerajaan dulu, penyu dan telur penyu itu adalah upeti untuk para raja dan pejabatnya. Nah, sampai dengan sekarang penyu dan telur penyu itu masih diambil dan diperjualbelikan oleh orang-orang yang ada disini. Coba bayangkan bagaimana ngga berkurang dan mungkin habis penyu disini. Dari dulu telur dan induknya diambil terus. Siapa yang tidak sedih, jumlah penyu yang ada di Pulau Jemur saat itu sekitar 30 ekor” ceritanya disaat memulai pembicaraan.

Karena rasa penasaran inilah akhirnya Pak Sopyan nekad berangkat sendirian ke Pulau Jemur. Dari Bagan menuju Pulau Jemur dibutuhkan waktu sekitar 7 jam dengan kapal nelayan. Untuk berangkat kesanapun harus melihat kondisi cuaca. Jika kondisi cuaca tidak baik atau angin kencang tidak ada satupun nelayan yang berani menuju kesana. Pulau Jemur sering juga disebut Pulau Arwah karena dulunya gugusan pulau ini adalah tempat pembantaian tahanan disaat perang pasifik. Maka tidak heran di Pulau Jemur ini terdapat bangunan benteng-benteng tua dan sumur-sumur tempat pembuangan mayat. Didalam lautnya juga terdapat kapal-kapal yang tenggelam akibat perang. Kabarnya disekitar pulau ini juga orang-orang yang berperang dulunya membuang senjata.

Sampai dengan saat ini di pulau tersebut tidak ada penduduk yang tinggal. Hanya ada pos navigasi (mercusuar) dan pos TNI Angkatan Laut. Dulu kabarnya memang banyak masyarakat yang tinggal di pulai ini. Tapi sejak ada isu ganyang malaysia dulunya, masyarakat disana dipindahkan dan di gugusan pulau tersebut menjadi kawasan militer dan pos TNI.





Gugusan Pulau Arwah ini terdapat beberapa pulau diantaranya; Pulau Jemur 28,494 ha, Pulau Pertandangan 0, 82 ha, Pulau Sarong Alang 10,365 ha, Pulau Tukong Emas 3,911 ha, Pulau Batu Adang 0,84 ha, Pulau Labuhan Bilik 7,801 ha, Pulau Batu Berlayar 0,238 ha, Pulau Batu Mandi 0,8 ha dan Pulau Tukong 0,30 ha.

Karena untuk melihat induk penyu naik ke darat hanya pada saat malam hari dan ingin bertelur. Saya harus sabar menunggu pada malam hari dan tinggal di pulau ini. Disaat pertama kali melihat induk penyu naik ke darat, saya kaget karena bentuknya besar sekali seperti raksasa. Saya langsung bersorak riang sendiri. Karena penyunya melihat saya, penyunya langsung balik lagi ke laut dan tidak jadi bertelur hahahaha.... Itu pejalaran pertama saya. Klo ada penyu yang mau naik ke darat jangan berisik dan sembunyi”.

Dimulai pada tahun 2002 Sopyan Hadi mulai mencari cara untuk melakukan penangkaran telur-telur penyu yang ada. Tidak mudah bagi Sopyan Hadi untuk bisa dekat dengan para nelayan dan TNI AL dimana mereka adalah bagian dari oknum yang mengambil dan menjual telur penyu dan induk penyu hijau. Berbekal dengan perlengkapan yang ada di pulau tersebut Sopyan Hadi mencoba membuat penangkaran seadaanya. Mulai dari ember-ember bekas, kaleng cat bekas dan barang-barang yang sudah tidak berguna lagi beliau jadikan peralatan untuk penangkaran penyu. “Ketika sudah sampai di pulau, tidak mungkin saya kembali lagi ke Bagansiapiapi untuk menyiapkan peralatan dan segala macamnya, mendingan manfaatkan apa yang ada” ucapnya.

Setelah dengan alat yang sederhana dan uji coba penangkaran secara mandiri berhasil walaupun tidak maksimal. Sopyan Hadi mengajak beberapa nelayan dan anggota TNI AL untuk melihat tukik-tukik yang baru saja menetas. Banyaknya nelayan dan aparat TNI AL yang datang melihat, memegang serta memberi makan tukik-tukik tersebut, timbul rasa kepedulian mereka untuk menyelamatkan keberadaan penyu hijau di pulau tersebut. “Mungkin mereka senang lihat tukik-tukik yang lucu-lucu, memberi makan tukik, sehingga mereka sadar apa yang mereka lakukan selama ini salah. Saya menyadarkan mereka melalui tukik itu. Bahwa telur-telur yang mereka ambil selama ini mengakibatkan tukik tidak bisa menetas dan penyu yang ada akan semakin berkurang. Lama sekali saya menyadarkan mereka. Saya tidak pernah banyak bicara, lakukan aja sendiri penangkaran. Trus ajak nelayan dan TNI ngobrol-ngobrol tentang penyu. Prosesnya lama, bertahun-tahun. Saya klo datang ke pulau itu, yang saya bawa adalah kopi, gula dan rokok untuk kumpul-kumpul dan ngariung” jelas Pak Sopyan kepada saya bagaimana dia melakukan pendekatan dengan nelayan dan aparat TNI AL.

Setelah berhasil dengan penangkaran metode sederhana, Sopyan Hadi terus mencoba beberapa metoda lainnya. Beliau mulai menjalin hubungan dengan Pemda Rokan Hilir, Universitas Riau (UNRI) dan beberapa pihak lainnya untuk membantu proses penangkaran. UNRI memberikan alat batu penangkaran dari fiber glass. Pemda juga membantu beberapa peralatan. Gaung penyelamatan penyu hijau di Pulau Jemur pun semakin meluas. Beberapa tahun yang lalu Gubernur Provinsi Riau dan pejabat-pejabat dari Pemda datang ke pukau tersebut untuk melakukan pelepasan penyu yang sudah ditangkarkan. Upaya penyelamatan penyu di Pulau Jemur sudah sampai ke provinsi. Penyu hijau sekarang juga sudah menjadi icon daerah Bagansiapiapi. “Saya sudah cukup lega sekarang. Sudah ringan. Penyelamatan penyu yang saya lakukan sekarang sudah terdengar dimana-mana. Kerjanya sudah mulai tampak.” Perasaan lega dari Pak Sopyan.

Dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2008 diperkirakan Pak Sopyan Hadi sudah melepaskan sekitar 20.000 ekor tukik ke pantai. Jumlah yang sangat besar dari inisiatif satu orang di sebuah pulau. Namun upaya penangkaran ini agar terus berkelanjutan memang membutuhkan bantuan dari pihak lain. Saat ini Pak Sopyan Hadi dengan segala keterbatasannya mengangkat 2 orang anak remaja yang putus sekolah untuk menjaga dan merawat penangkaran penyu yang ada di pulau tersebut. Pak Sopyan Hadi sampai dengan saat ini terpaksa menyisakan uang pendapatannya untuk dua orang yang diangkatnya untuk ditempatkan di Pulau Jemur. “Klo mau jujur pak ya, sekarang ini saya sudah punya keluarga. Berat saya harus membiayai dua orang itu dan membiayai terus menerus penangkaran penyu yang ada. Bantuan dari Pemda juga tidak rutin. Saya menyiasatinya ya dari tamu-tamu yang mau datang ke Pulau Jemur. Saya bilang klo mau menyisakan uang untuk mereka dan penangkaran ya silahkan. Seharusnya ini menjadi kewajiban pemerintah atau BKSDA. Tapi ya beginilah, sampai sekarang tidak ada pemerintah yang mau turun langsung untuk menyelamatkan penyu itu. Karena saya sudah terlanjur cinta terhadap penyu tersebut, yaa saya aja yang bertindak. Bersedekah untuk alam dan lingkungan. Lakukan semampu saya dan apa yang saya bisa lakukan untuk menyelamatkan penyu yang ada di Pulau Jemur” Keluh beliau.

Apa yang dilakukan Pak Sopyan Hadi memang membuat saya terkagum-kagum. Senang sekali bisa bertemu orang hebat seperti beliau. Tak banyak orang seperti beliau. Seandainya di beberapa pulau di Indonesia ini ada orang seperti beliau mungkin negara kita ini bisa dijadikan negara sejuta penyu. Dimana-mana ada tukik yang lucu. Ada penyu yang lucu.

Mimpi dan harapan saya, semoga saya diberi umur panjang. 30 tahun lagi saya bisa kembali ke Pulau Jemur dan bisa melihat 30 ribu ekor penyu yang saya lepaskan balik ke Pulau Jemur untuk bertelur. Karena penyu hijau baru bisa bertelur sekitar umur 3o an tahun. Penyu akan ingat dimana tempat pertama kali ia dilepaskan. Pasti dia akan kembali...

Semoga mimpi dan harapannya bisa terwujud pak. Semoga nanti saya juga bisa datang ke Pulau Jemur. Amien...

Monday, May 11, 2009

Danau Sentarum dan Perbatasan Serawak

Setelah dua hari berada di Sui Utik (26-28/04) melihat dan mendokumetasikan sidang masyarakat adat dayak Se-Jalai Lintang saya melanjutkan perjalanan ke Lanjak, Badau (Perbatasan Serawak dengan Kalbar) dan Danau Sentarum.

Ketika berada di Sui Utik untuk yang ketiga kalinya, hati saya sangat bahagia karena bisa berkunjung lagi ke kampung yang sangat saya kagumi dan yang selalu saya rindukan. Ternyata orang-orang yang tinggal di rumah panjang (rumah betang) masih ingat akan diriku. Mereka datang menghampiri dan menanyakan kabar. Sudah menikah apa belum dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Ahh.. mungkin hampir dua tahun lebih terakhir saya datang kesini.

Setelah selesai sidang adat, malamnya kami kumpul bersama-sama, maen musik tradisional (alat musiknya nggerumo, gendang, tawak-tawak dan bebendai) sambil menari khas dayak. Mereka berdiri dan maju, trus menari secara bergantian. Kami hanya menonton, sesekali bertepuk tangan sambil menikmati tuak yang dituangkan digelas kami. Betapa indahnya malam itu. Berkumpul diteras rumah panjang yang panjangnya sekitar 180 m dengan penuh canda tawa dan tukar cerita.

Untuk melepas rindu di Sui Utik, saya dan beberapa teman menikmati tuak yang dibuat oleh mereka. Setelah beberapa jam bernyanyi dan menari saya sudah tidak sadar diri. Ketika sadar pada pagi harinya, saya ternyata dengan beberapa teman tertidur di teras tersebut.
Pada tanggal 29 Mei 2009, saya melanjutkan perjalanan ke Lanjak. Sekitar 2 jam dari Sui Utik. Disana saya juga mencoba mendokumentasikan pertemuan tahunan masyarakat sekitar danau sentarum. Pertemuan tahunan ini dilakukan untuk membahas apa dan bagaimana perkembangan masyarakat yang ada di danau sentarum. Tema dari pertemuan tahunan yang ke empat ini adalah
“Menuju Danau Sentarum Impian 2014”.


Antara Mimpi dan Kenyataan

Selama dua hari acara pertemuan tahunan masyarakat danau sentarum, banyak sekali harapan-harapan dan mimpi mereka terhadap keberadaan danau sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu. Mereka berharap potensi-potensi yang ada di danau seperti ikan, madu dan keindahan yang dimiliki oleh danau sentarum bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Bisa menyekolahkan anak-anak mereka dan bisa menikmati potensi yang ada di danau sentarum tanpa merusak ekosistem yang ada di Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS).

Namun, dalam beberapa tahun terakhir masyarakat di sekitar danau sentarum mulai resah. Khawatir dan bingung. Puluhan izin pembukaan lahan di sekeliling danau sentarum untuk perkebunan kelapa sawit skala besar sudah berikan oleh Pemerintah Daerah Kapuas Hulu kepada beberapa perusahaan besar. Hasil penilitian CIFOR dan Riak Bumi (2008) memperkirakan sekitar 141.290 hektar kawasan hutan primer dan sekunder telah ditebang dan dialihfungsikan menjadi kebun kelapa sawit. Sayang saya lupa mengcopy peta persebarannya. Klo anda bertanya dimana saja posisi perkebunan tersebut? Jawabannya adalah persis mengelilingi seluruh kawasan TN Danau Sentarum.

Mungkin inilah kenyataan yang akan diterima masyarakat disekitar danau sentarum nantinya. Hilangnya kekayaan alam yang selama ini sudah ada, seperti ratusan jenis ikan, puluhan ton madu setiap tahunnya dan tercemarnya kualitas air danau. Sampai dengan saat ini saya tidak habis pikir apa yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kapuas Hulu. Sudah jelas sekali bahwa masyarakat disekitar danau sentaraum sangat tergantung dengan keberadaan danau sentarum. Potensi disekitar kawasan ini adalah ikan, madu dan keindahan alam danau sentarum. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian nelayan dan bertani. Tapi yang dilakukan adalah memberikan izin untuk membuka perkebunan kelapa sawit.
I don’t know what local goverment think about this. Is crazy option I guess.... Anda tahu? Beberapa tahun yang lalu Pemerintah Kapuas Hulu ini menyatakan diri sebagai Kabupaten Konservasi. See ??

Memang hampir diseluruh propinsi dan kabupaten, pemerintahnya kadang tidak mau berkaca. Berkaca dalam artian kebijakan yang dikeluarkan terkadang tidak sesuai dengan potensi alam yang dimiliki dan apa yang masyarakatnya inginkan. Sering sekali saya menjumpai hal-hal seperti ini disetiap daerah yang saya kunjungi. Untuk di daerah danau sentarum, memang ada beberapa desa saja yang menerima kebijakan pembukaan perkebunan sawit. Hal ini jika ditelusuri, mereka mendukung karena tidak ada pilihan. Mereka ingin mendapatkan uang secara instan, yaitu menjual tanah yang mereka miliki ke perusahaan perkebunan. Serta berharap bisa mendapatkan pekerjaan disana. Alasan klasik memang yaitu karena desakan ekonomi.

Sebenarnya yang saya kwatirkan adalah mereka mendukung bukan sekedar alasan diatas semata. Tapi lebih terhadap iming-iming atau mimpi-mimpi mereka akan sejahteranya hidup mereka jika perkebunan kelapa sawit dibuka disekitar kampung mereka. Seandainya saja mereka bisa mengerti dan tahu bahwa dimana-mana, ya seorang petani itu akan sejahtera bekerja di tanah dan ladang mereka sendiri. Bukan menjadi buruh di perkebunan atau ditanah orang lain.

Sewaktu saya berada disebuah lokasi pembibitan disebuah perkebunan kelapa sawit yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Badau, saya menanyakan beberapa hal kepada seorang ibu yang sedang menanam bibit kelapa sawit dilahan itu.

Saya :
“Maaf ibu, ibu dari mana dan sudah berapa lama bekerja disini?”

Ibu:
“Saya dari Martinus, belum sampai satu bulan saya bekerja disini. Awalnya kami diajak bekerja disini sebagai orang yang mengisi tanah di polibek untuk ditanam bibit. Tapi nyatanya setelah datang kesini kami disuruh menanam bibit kelapa sawit ini. Ini bukan pekerjaan seorang perempuan”

Saya:
“Memangnya bagaimana sistem kerjanya bu, kotrak atau bagaimana?”

Ibu:
“Pokoknya 1 pohonnya seribu dibilangnya. Tau sendirilah beratnya bibit kelapa sawit ini. Kami berkelompok, satu kelompok itu 6 orang. Satu hari kami paling bisa menanam hanya 100-200 pohon. Bayangkanlah 100 ribu dibagi 6, ngga nyampe 10 ribu kami mendapatkan uang perharinya. Kerjanya dari jam 4.30 sampai jam 6 sore”

Saya:
“Ibu bolak-balik kerjanya setiap hari dan apakah makannya dikasih?”

Ibu:
“Nggalah, mana cukup ongkosnya. Kami tidur disini. Makan ya masak sendiri. Kami kesini aja minjem dulu uang tetangga untuk ongkos dan makan selama disini”

Mungkin anda bisa membayangkan dari sepenggal percakapan saya dengan seorang ibu tersebut. Bagaimana kondisi mereka yang bekerja disana. Mendengar pernyataan-pernyataan yang keluar dari sang ibu terkadang membuat saya ingin mendamprat dan mencaci maki habis-habisan pemerintahnya.

Pulau Majang

Setelah melihat dan berkeliling disekitar perbatasan Kalbar dan Serawak. Melihat bagaimana gencarnya ekspansi perkebunan kelapa sawit di perbatasan. Saya dan beberapa teman berangkat menuju Pulau Majang. Sebuah desa yang berada di Danau Sentarum.

Untuk menuju ke Pulau Majang, ada beberapa pilihan jalur yang bisa digunakan. Bisa menggunakan boat melewati danau atau pakai kendaraan bermotor. Kami menuju kesana dengan menggunakan sepeda motor dari Lanjak. Dari Lanjak, pertama kami menuju ke Badau lama perjalanan sekitar dua jam. Dari Badau lanjut ke Empaik lama perjalanan sekitar dua jam. Jalan menuju Desa Empaik adalah jalan tanah dan jika hujan jalannya sangat licin dan berlumpur. Dari Empaik baru kita pakai long boat menuju ke Pulau Majang, lama perjalanan sekitar 20 menit.

Perjalanan saya mengendarai sepeda motor disana sungguh mengasyikan. Dibelakang membonceng teman berseta barang-barang, didepan saya juga ada barang. Sudah tidak peduli lagi debu-debu yang menempel di muka dan terbakarnya kulit selama membawa sepeda motor. Kami menyewa motornya “komeng” disana selama beberapa hari. Untungnya jembatan-jembatan yang kami lewati tidak ambruk gara-gara membawa motor ini hehehe....

Setibanya di Pulau Majang, hati saya berdesir dan kagum. Betapa cantiknya kampung ini. Damai berada ditengah danau. Kampung yang jumlah penduduknya sekitar 900 jiwa ini adalah sebuah kampung tua di danau sentarum. Masyarakatnya percaya sebelum kemerdekaan Indonesia kampung ini sudah ada. Hampir seluruh penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan. Nelayan di danau sentarum, bukan nelayan di laut ya. Tapi lucunya mereka menyebutkan danau ini laut. “
Pak inikan danau, bukan laut” ucapku disaat mereka menyebutkan laut didalam percakapan mereka. Mereka semua tertawa dan bilang “Yaa kami menyebutnya laut...”

Seluruh rumah-rumah yang ada di Desa Pulau Majang adalah rumah panggung. Jalan-jalan yang ada disepanjang kampung inipun diatas air. Semuanya terbuat dari kayu. Saya sangat senang berada di kampung ini karena tidak perlu lagi menggunakan sandal kemana-mana. Jalannya bersih karena berada diatas, seperti melewati jembatan-jembatan kayu.

Beberapa sungai yang ada di hulu semuanya bermuara di Pulau Majang. Jadi disaat musim kemarau, danau ini kering dan yang tersisa hanya hamparan tanah yang kering yang luas dan aliran anak-anak sungai saja. Tapi sudah dua tahun ini air di danau ini tidak pernah kering.

Diberikannya izin kepada beberapa perusahaan kelapa sawit disekitar kawasan danau sentarum tentu saja membuat masyarakat di Pulau Majang cemas dan khawatir. Mereka khawatir dengan jarak antara danau dan perkebunan yang sangat dekat (sekitar 3-5 km), akan mempengaruhi kualitas air danau dan juga kualitas air sungai jika musim kering. Keberadaan beberapa jenis ikan diperkirakan akan berkurang dan mungkin juga punah. Hasil penelitian CIFOR dan Riak Bumi (2008) memprediksikan minimal 49,92% jenis ikan akan punah dari TNDS karena pencemaran dan perubahan fungsi hidrologi. Industri arwana senilai Rp 70-140 milyar per tahun terancam keracunan pestisida dan penurunan kualitas air. Sekitar 93,68% masyarakat yang penghidupannya dari perikanan di TNDS dengan nilai Rp 34,7 milyar per tahun akan kehilangan mata pencaharian.

Selain ikan, masyarakat Pulau Majang juga cemas akan dicabutnya sertifikat organik (BioCert) yang telah diterima oleh petani madu di danau sentarum. Sertifikat ini diberikan kepada APDS-Asosiasi Madu Hutan Indonesia, karena memanen madu secara organik, lestari, pemulihan habitat lebah dan melakukan pengolahan hutan. Dampak dari dicabutnya sertifikat ini adalah hilangnya para pembeli tetap madu danau sentarum dengan harga tinggi. Tahun lalu total madu danau sentarum yang dipanen dan terjual sebanyak kurang lebih 17 ton dengan harga Rp 45.000/kg ditingkat asosiasi.

Mau bercerita kepada siapa lagi kami bang. Mau mengeluh dan protes kepada siapa lagi kami ini. Pemerintah tidak pernah mau mendengar kekhawatiran kami” cetus Pak Aswan, Kepala Desa Pulau majang kepadaku disaat kami berkunjung kerumahnya. “Keuntungannya bagi kami yang dipulau ini, didanau ini, pastinya tidak ada. Tapi dampaknya kecil atau besar pasti ada jika perkebunan sawit dibuka disekeliling danau sentarum” lanjutnya.

Aahh... saya yang hanya bisa mendengar dan mencoba mendokumentasikan keadaan danau sentarum dan masyarakatnya hanya bisa tersenyum miris. Untuk kesekian kalinya saya melihat masyarakat di negara tercinta ini seperti putus asa dan tidak ada harapan hidup tenang dan damai bersama kekayaan alam yang mereka miliki. Selalu saja terusik. Keputusan dan kebijakan pemerintah daerah terkadang terlalu cepat, terlalu memaksakan kehendak dan bertentangan dengan keinginan masyarakatnya.

Kami bercerita tentang Pulau Majang ini sudah sangat sering. Bahkan beberapa puluh tahun yang lalu. Jadi kami ini seolah-olah meratap saja. Tidak ada perubahan. Jangan-jangan kalian nanti datang lagi, cerita yang sama yang akan kami ceritakan. Tidak ada perubahan” ucap Pak Aswan lagi kepada ku.

Tak ada kata yang bisa saya ucapkan lagi kepada Pak Aswan disaat beliau menyampaikan kata-kata itu. Dalam hati saya hanya berharap dan berdoa. Semoga negara kita yang kaya akan sumberdaya alam ini, kaya budaya dan masyarakat yang berbagai macam suku bisa hidup damai dan sejahtera. Dipimpin oleh pemimpin yang cerdas dan punya ahlak. Anak-anak bisa tersenyum riang menatap masa depannya. Amien....


Sumber foto : Rizaldi Siagian, Greenpeace/Edy Purnomo, Riak Bumi/Jem Sammi

Tuesday, April 14, 2009

Libur Pemilu

Perjalanan saya kali ini adalah perjalanan untuk menikmati liburan, yaitu libur pemilu untuk legeslatif dan libur paskah. Lumayan bisa libur kerja selama empat hari. Mulai dari tanggal 9-12 April 2009. Karena dari dulu saya tidak tertarik dengan kampanye parpol dan pemilihan untuk legeslatif, ya saya memilih abstein dan menikmati liburannya saja :)

Perjalanan untuk berlibur memang sangat berbeda rasanya dengan perjalanan yang memang sudah menjadi kewajiban alias memang sudah kerjaan sehari-hari.

Saya dan my special one Sucie Ramadhanny (Uchie) menikmati liburan ini untuk mengunjungi kedua orang tuanya di Kuala Tungkal, Jambi. Sudah setahun lebih kedua orang tuanya dipindahtugaskan kesana. Karena Uchie belum pernah datang ke Jambi, maka kami merencanakan liburan kesana mumpung orang tuanya masih tinggal disana dan sebelum dipindahkan lagi ke daerah lain.

Perjalanan ke Jambi sebenarnya tidak direncanakan jauh-jauh hari karena Uchie memang masih belum pasti apakah tempat dia bekerja akan libur pada tanggal tersebut atau tetap masuk kerja. Beberapa hari sebelum berangkat baru bisa dipastikan kalo kantornya ternyata juga libur. Terpaksa saya buru-buru menelpon seseorang teman untuk memesankan tiket kami berdua pulang pergi ke Jambi. Thanks ya Funny for the ticket...


Kuala Tungkal

Saya memang sudah pernah ke Jambi sebelumnya yaitu tahun 2008. Tapi memang perjalanan saya waktu itu hanya sebatas Jambi, Sorolangun dan Muaro Bungo. Saya belum pernah ke Kuala Tungkal. Karena belum pernah ke Kuala Tungkal, saya sangat setuju jika liburan pemilu ini dihabiskan disana.

Setibanya di Bandara Sultan Thaha, Jambi kami berdua ternyata sudah dijemput oleh kedua orang tuanya Uchie. Kedua orang tuanya sudah tiba lebih dulu di bandara bersama dengan Ida, anak tetangga di Kuala Tungkal yang diajak ke Jambi. Ida masih sekolah kelas lima SD. Dari wajahnya yang selalu senyum dan ramah ini kelihatan klo dia anak yang rajin dan pintar.

Perjalanan dari Jambi ke Kuala Tungkal membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Kuala Tungkal yang termasuk kedalam Kabupaten Tanjung Jabung Barat ini adalah sebuah kota yang berada di sebelah utara Jambi. Kota Kuala Tungkal berbatasan langsung dengan pantai. Kota kecil ini daratannya didominasi oleh rawa-rawa. Jadi tidak heran jika tiba di Kuala Tungkal, rumah-rumah penduduknya berada diatas rawa. Dan tidak heran juga jika berada disana kita mencium bau khas daerah yang berawa dan dekat dengan pantai.

Perjalanan menuju Kuala Tungkal menjadi lama karena kondisi jalan yang kecil dan banyak bagian-bagian jalan yang berlubang. Ketika akan memasuki kotanya, pas di gerbang selamat datang kita disuguhi kondisi jalan yang berlubang, lumpur dan becek kurang lebih sepanjang 50 meter. Benar-benar sambutan yang membuat kita yang pertama kali mengunjungi kota ini menjadi pesimis akan kota tersebut.

Kuala Tungkal adalah sebuah kota yang kecil dan unik. Unik karena hampir semuanya rawa dan kotanya hanya terpusat di satu tempat. Karena bentuk kotanya yang kotak-kotak maka tidak heran banyak sekali perempatan jalan dan gang-gang (mereka menyebutnya lorong) kecil di tengah kota ini. Bangunan yang dominan di Kota Kuala Tungkal adalah ruko-ruko untuk sarang burung walet. Jika kita perhatikan, bangunan rumah disini sepertinya sangat sederhana. Tapi jangan salah, membangun rumah disini tidaklah gampang. Membutuhkan banyak kayu untuk mendirikan rumah diatas rawa. Jika ingin menimbun semua rawa ini, dibutuhkan biaya yang sangat besar.

Selama empat hari tiga malam disana saya cukup puas mengelilingi kota Kuala Tungkal. Pagi harinya sekiar jam setengah enam saya bersama dengan Uchie dan bapak jalan kaki mengelilingi kota. Pada pagi hari, suasana kota sudah ramai dengan orang-orang yang berjualan dan suara burung walet yang berterbangan. Ruko-ruko oleh para pemiliknya hanya ditempati di lantai bawah saja, sisanya yaitu lantai 2,3 dan ke-4 dibuat untuk sarang burung walet. Banyak juga bangunan ruko disini posisinya miring. Mungkin teras atau bangunan dasar ruko tidak kuat menahan bangunan yang bertingkat. Saya terkadang bertanya-tanya dalam hati, apakah orang ini tidak takut dengan kondisi bangunan yang miring seperti itu. Bagaimana jika nanti terjadi gempa seperti yang di Bengkulu, apakah bangunan ini cukup kuat menahan guncangan??

Jenis transportasi publik di kota ini adalah becak sepeda. Karena daerahnya dominan rata dan tidak ada tanjakan serta jarak kemana-mana tidak terlalu jauh. Jenis kendaraan roda empat sangat sedikit di kota ini. Lebih banyak sepeda dan motor. Pengemudi motor disini jarang sekali yang memakai helm pengaman. Bagi kita yang membawa kendaraan roda empat (mobil), memasuki kota ini kita tidak bisa menggunakan kecepatan tinggi dikarenakan sangat ramai sepeda dan motor yang lalu lalang. Juga kondisi jalannya yang kecil.

Disini kami juga melihat pelabuhan Kuala Tungkal dan Tungkal Ancol Beach. Ternyata di Tungkal juga ada Ancol. Entah mengapa pemerintah atau masyarakatnya menamakan Ancol Beach. Apa karena nge-fans sama keindahan Ancol atau berharap kondisi pantai di Tungkal bisa seperti Ancol. Perlu diketahui, pantai di sekitar pelabuhan Kuala Tungkal selalu berwarna keruh (coklat) dan tidak berpasir alias berlumpur. Apalagi disaat saya mengunjungi pelabuhan ini, kondisi awan mendung dan hitam. Jadi kesan yang saya dapatkan di pelabuhan ini adalah suram hehehe.... Foto yang saya dapatkan seperti foto pantai kematian. Seram :p

Ketika masuk ke Ancol Beach saya melihat beberapa anak muda sedang berkumpul dan main beberapa permainan. Ada yang main engkrang, bakia dan dagongan. Saya tertarik melihat mereka bermain dagongan. Permainan tradisional yang sangat sederhana. Alat permainannya hanya sebuah batang bambu yang ukurannya cukup besar (kira-kira sebesar kaki). Cara bermainnya, terdapat dua kelompok yang memegangi kedua ujung bambu. Setelah dikasih aba-aba, mereka saling dorong. Mana kelompok yang tidak kuat menahan dan mundur, kelompok itulah yang kalah. Permainan yang seru dan kocak. Anak-anak mudanya bermain dengan penuh canda dan ceria. Permainan ini baru sekali ini saya temui. Mungkin permainan khas Kuala Tungkal ??

Pada malam kedua, kami diajak oleh Bapak dan Ibu mencoba mencicipi makanan
sea food yang ada di Kuala Tungkal. Beliau mengajak kami makan di RM Sea Food “Nikmat”. Di rumah makan ini kami menikamati kerang, kepiting, cumi besar dan ikan goreng. Semua ikan, kepiting, cumi dan kerangnya masih segar dan baru. Selama ini saya yang tidak pernah mau makan kerang karena tahu bagaimana kondisi kerang yang ada di Jakarta dan Muara Angke. Disini setelah dipastikan segar, maka saya mencicipi masakan kerangnya. Ternyata enak dan nikmat sekali. Hhhmmm jadi kangen makan kerang disana lagi.



Sehari sebelum kami pulang, kami dikunjungi oleh teman lama yaitu Agus Findriawan. Teman kuliah di IPB sewaktu tingkat satu dan teman seangkatan di Lawalata IPB (Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam IPB). Beliau ini hanya satu tahun di IPB. Pada tahun kedua beliau memilih pindah jurusan dan pindah ke Unija, Jambi. Agus yang bulan depan pindah kerja ke Jakarta ini banyak bercerita tentang Kuala Tungkal dan Jambi. Membuat kami ingin kembali mengelilingi Kuala Tungkal. Bersama dengan beliau kami muter-muter di pasar BJ, sebuah pasar yang menjual barang-barang
second dari Singapura dan Batam. Sampai sekarang saya tidak tahu kenapa disebut pasar BJ dan barang BJ. Tapi yang jelas dipasar ini banyak sekali barang-barang yang masih bagus yang dijual dengan harga murah. Mulai dari barang-barang elektronic (TV, kipas angin, vakumcleaner, lemari es), sofa, spring bed, pakaian, tas, boneka, alat fitnes, karpet/ambal, meja makan dan meja karja, sepeda dll. “Cocok nih En klo penganten baru belanja disini. Modal 10 juta saja rumahnya sudah bisa penuh dengan perabotan rumah tangga” ucap Agus kepada saya. “Hahaha... Iya nih, klo kesini lagi musti bawa truck” sayapun menimpalinya dengan tertawa.

Karena dari beberapa tahun yang lalu saya ingin sekali beli sepeda. Dan tabungan saya masih belum mencukupi untuk beli sepeda. Saat muter-muter di pasar BJ saya melihat tumpukan sepeda bekas. Saya pun iseng masuk dan tanya-tanya kepada sang penjual. Ternyata disini semuanya adalah sepeda-sepeda bekas dari Singapura. Berbagai macam jenis sepeda dijual disini. Mata sayapun tertuju pada sebuah tumpukan sepeda lipat yang ada dipojok toko. Sang penjual hanya mau melepas sepeda ini dengan harga 500 ribu rupiah. Semula harga sepeda ini 800 ribu rupiah. Di Bogor kisaran harga sepeda lipat ini barunya antara 2-3 juta rupiah. Akhirnya saya mengiyakan dan membeli sepeda ini.
Finally I have a bicyle. Walaupun bekas dan musti bawa dari Jambi. Walaupun pada awalnya saya ingin beli mountain bike bukan lipat bike hehehe...

Mengunjungi kota-kota kecil dan
stay beberapa hari di kota yang kita kunjungi ternyata sangat menyenangkan. Menikmati keunikan-keunikan yang ada di kota tersebut. Menikmati makanan-makanan atau masakan khas dan alami. Tak terasa liburan empat hari disana sudah habis dan musti balik lagi ke Bogor untuk kembali ke rutinitas sehari-hari. Suasana hati sudah lebih fresh dan pikiran yang sudah kembali fresh.

Terima kasih banyak Bapak dan Ibu. Terima kasih Agus. Semoga kedepan kita diberikan rezeki dan kesempatan untuk mengujungi kota-kota lainnya yang ada di nusantara ini. Amien.


Foto-foto lainnya bisa liat disini

Tuesday, March 17, 2009

Mendadak ka Garut. Kampung Dukuh

Malam itu ketika sedang nyantai menyantap makan malam di kedai telapak saya diajak ngobrol oleh Big Boss. The Big Boss meminta saya untuk menemani dua orang tamu dari Scotland beserta anaknya yang baru berumur satu tahun mengunjungi sebuah kampung di Garut. Disaat saya menanyakan dimana letak posisi tuh kampung, beliau ini tidak ada yang tahu dimana persisnya kampung tersebut berada. Informasi yang saya terima adalah perjalanan dari Garut ke kampung tersebut adalah sekitar lima jam. Semakin bingung dan penasaranlah saya, kampung apa tuh lima jam dari Garut? Garut-Ciamis saja saja tidak sampai lima jam perjalanannya.


Akhirnya kamis sore tanggal 12 Maret 2009 bersama dengan mobil taft hiline long sasis saya meluncur menuju Garut. Berangkat dari Bogor mungkin sekitar pukul delapan malam. Malam itu perjalanan dari pintu tol Bogor sampai dengan pintu tol Cileunyi cukup sepi dan perjalanan berjalan lancar. Kami tiba disana sekitar pukul 23.30 WIB dan langsung menuju sebuah penginapan di daerah cipanas karena perjalanan menuju kampung tersebut baru akan dilanjutkan paginya setelah bertemu dengan teman-teman dari Garut. Perjalanan ka Garut yang mendadak ini membuat jadwal saya yang rencananya ingin jadi pemulung bersama teman-teman yang ada di Bogor untuk membersihkan sungai ciliwung tidak jadi. Kemaren setelah tiba di Bogor dan mendapat cerita bahwa banyak teman-teman yang bergabung menjadi pemulung (sekitar 80 orang) membuat saya iri dan merasa bersalah karena tidak bisa datang :(


Paginya setelah bertemu dengan teman-teman di Universitas Garut, berdiskusi mengenai tujuan kunjungan kami kepada beberapa dosen yang ada di universitas tersebut dan petugas kehutanan (BP DAS) Garut, kami langsung menuju desa yang ingin kami kunjungi. Berdasarkan informasi dari teman-teman di Garut, memang benar bahwa untuk mencapai desa tersebut dibutuhkan waktu sekitar lima jam dari Garut.


Kampung Dukuh

“Selamat datang di komplek kampung adat DUKUH”. Itulah tulisan yang akan kita baca disebuah plang disaat akan memasuki kampung ini. Plang yang posisinya sudah miring dan banyak ditempel stiker-stiker partai dan para calon legislatif.


Perjalanan menuju kampung ini memang cukup jauh. Sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi karena kondisi jalannya yang banyak tikungan dan naik turun menyisiri bukit hingga tembus ke pantai membuat laju kendaraan tidak bisa cepat. Dari Garut kita menuju ke Kecamatan Pamengpeuk trus lanjut menuju Kecamatan Cikelet. Dari Cikelet menuju kampungnya juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Kondisi jalan yang berbatu-batu dan berlobang membuat perjalanan yang jaraknya kurang lebih 7 km ini membutuhkan waktu sekitar satu jam. Mobil-mobil kecil dan rendah tidak akan bisa masuk ke desa ini.


Ketika saya menginap beberapa hari di Kampung Dukuh, saya melihat kampung ini adalah salah satu kampung kecil yang mencoba mempertahankan adat dan budayanya yang masih tersisa ditengah gencarnya pengaruh kehidupan modern dan kemajuan teknologi. Kampung yang masih asri, damai dan tenang. Bangunan rumah yang semuanya sama yaitu terbuat dari bambu (dinding gedeg), kerangka rumah dari kayu dan atapnya terbuat dari ilalang dan dilapisi ijuk rumbia. Tidak ada penerangan dari listrik dikala malam hari. Kebisingan malam hari hanya karena suara jangkrik dan binatang malam, bukan dari riuhnya sinetron-sinetron yang ada di setiap channel televisi.


Kampung Dukuh terletak di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet. Secara adat kampung ini dipimpin oleh Kuncen. Konon dulu kampung ini didirikan oleh Ki Candra Pamulang dari Cidamar, Cidaun, Cianjur Selatan yang kemudian setelah datangnya Syeh Abdul Jalil dari Sumedang, kampung ini diserahkan kepada Syeh Abdul Jalil. Syeh Abdul Jalil dulunya adalah seorang Penghulu Raja di Sumedang dan membuka sebuah pesantren di pinggiran Kota Sumedang. Kuncen yang memimpin sekarang ini adalah generasi yang ke-14 yaitu Ajengen Uluk Lukman Hakim yang lahir pada tanggal 10 September 1957. Kuncen dipangku secara turun temurun berdasarkan keturunan atau hubungan darah.


Kampung Dukuh terbagi menjadi dua. Dukuh Dalam dan Dukuh Luar. Yang memisahkan antar perkampungan ini hanya sebuah pagar bambu saja. Perbedaanya hanya pada aturan dan pola kehidupannya masyarakatnya. Di kampung luar sudah boleh ada listrik, warung, bangunan menggunakan semen dan beratap genteng, dll. Sementara di kampung dalam harus mengikuti aturan adat yang sudah ada. Penuh dengan kesederhanaan dan tradisional sunda.


Kampung Dukuh dalam terdapat 99 jiwa dan 30 KK. Sedangkan Dukuh Luar terdapat sekitar 307 jiwa dan 59 KK. Sebuah kampung yang cukup kecil sebenarnya. Luas kampung tesebut hanya sekitar 1,5 ha. Saya tidak tahu berapa luas lahan garapan dan berapa luas totalnya jika digabungkan dengan luas kampung mereka. Kampung Dukuh juga memliki hutan larangan (15 ha) yang tidak boleh dimasukin oleh siapaun juga kecuali untuk berdoa dan upacara adat. Di hutan larangan ini terdapat beberapa makam para tokoh yaitu Makam Syeh Abdul Jalil, Makam anaknya Syeh Abdul Jalil yaitu Hasan Husein, Makam Kuncen yang pertama dan beberapa makam pembantu syeh serta pembantu kuncen. Disana juga terdapat makam orang-orang dari Kampung Dukuh. Setiap hari sabtu banyak tamu yang datang ke kampung ini untuk berziarah. Mulai yang datang dari Jakarta, Bandung, Garut, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya. Tapi uniknya PNS (Pegawai Negeri Sipil) dilarang masuk dan berziarah ke hutan larangan. Selain itu juga dilarang bagi yang non muslim.


Ketika saya berbicara dengan Kuncen, beliau sekarang ini berniat untuk menghijaukan kembalil Kampung Dukuh. Mengajak masyarakatnya menanam kembali lahan-lahan yang sudah gersang dan gundul akibat penebangan. Hanya beliau tidak ingin ada bantuan dari pemerintahan atau sebuah perusahaan perkebunan. Karena akan menambah masalah bagi beliau dan terkadang bantuan yang diharapkan tidak efektif.


Klo menurut saya niat Kuncen bukanlah hal yang mustahil bisa terwujud. Karena luas wilayah yang tidak begitu luas dan beliau bisa menggerakkan masyarakatnya. Tinggal bagaimana kita menyampaikan saja ke teman-teman lainnya apakah ada teman kita yang bisa bantu untuk mewujudkan mimpi Kuncen.


Saya membayangkan kampung yang kecil dan penuh kesederhanaan ini bisa rimbun, hijau, banyak pepopohan besar sehingga keasrian, kedamaian, kesejukan yang sudah ada di kampung ini bertambah dan berlipat-lipat. Masyarakatnya bisa menjaga hutannya kembali dan tingkat pendapatan meraka dari sumberdaya alam yang ada semakin baik. Perekonomian mereka semakin baik. Masyarakatnya semakin kompak dan tetap memegang teguh budaya dan adat mereka. Mereka bisa bangga dengan adat dan budaya yang mereka miliki, bukan ikut hanyut dan tenggelam karena derasnya budaya luar yang masuk ke kampung mereka.

Ahh betapa indah dan serasinya suatu kampung jika apa yang saya bayangkan bisa terwujud. Mimpi kuncen bisa terwujud. 10 Pepeling atau Nasehat Adat Sunda Parahiyangan ngolah lahan anu arif dan bijaksana. Lingkungan lestari bisa terwujud.


Berikut 10 Pepeling yang sudah turun temurun yang ada di budaya sunda.

1. Gunung – Kaian : Gunung-gunung ditanamin kayu-kayu atau pohon

2. Gawir – Awian : Sebuah lerengan ditanamin bambu

3. Cinyusu – Rumateun : Mata air untuk dirawat atau dijaga

4. Sempalan – Kebonan : Suatu daerah atau kawasan datar ditanamin untuk kebun

5. Pasir – Talunan : Bukit ditanamin pohon-pohon keras

6. Dataran – Sawahan : Daerah yang datar dijadikan sawah

7. Lebak – Caian : Daearah bawah harus diberi air

8. Legok – Balongan : Kalau lobang dijadikan kolam

9. Situ – pulasaraeun : Danau untuk dipelihara, dijaga dan dikelola

10. Lembur – Uruseun : Kampung untuk dikelola






Tuesday, March 3, 2009

Listrik Tenaga Air

Saya sangat senang sekali dalam melakukan perjalanan beberapa bulan belakangan ini (Desember 2008-Februari 2009). Mulai dari perjalanan ke Desa Sukamulya, Kecamatan Tanjung Raja, Lampung Utara. Ke Desa Pekandangan, Kecamatan Pubian, Lampung Tengah. Dan terakhir beberapa minggu yang lalu berkunjung ke Desa Cibuluh, Kecamatan Cidaun, Cianjur Selatan. Saya senang karena saya bisa melihat langsung bagaimana masyarakat desa bisa berinovasi dan kreatif dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. Hemat dan Efisien.

Salah satu inovasi yang mereka lakukan adalah membuat energy listrik dari tenaga air atau yang lebih dikenal dengan Pembangkit Microhydro. Pembangkit listrik tenaga air ini mudah sekali membuatnya. Hanya membutuhkan aliran air yang stabil dan tidak kering disaat musim kemarau. Biaya yang dibutuhkan juga tidak terlalu mahal. Apalagi jika dibuat secara bersama-sama dan secara swadaya. Masyarakat tidak perlu lagi tergantung dengan Listrik dari PLN yang semakin lama semakin krisis keadaannya dan biaya pasang serta tagihannya juga sangat mahal.

Disini saya tidak mau membicarakan bagaimana cara membuat Listrik Mikrohydro ini. Karena saya tidak paham mengenai mekanisme detail cara membuatnya. Baik itu yang sederhana (terbuat dari kincir kayu) ataupun yang sudah menggunakan mesin turbin yang menghasilkan energy puluhan ribu watt. Jika ada yang beminat mempelajarinya secara detail silahkan berkunjung ke salah satu desa yang saya sebutkan tadi. Disini saya hanya akan menceritakan apa manfaat energy microhydro ini dari sisi ekonomi dan sisi ekologis dari pengalaman saya berkunjung ke tiga desa tersebut. Bagaimana masyarakat di tiga desa tersebut sudah sadar akan pentingnya kelesatarian hutan bagi desa mereka dan secara bersama-sama membangun desa. Sekarang masyarakat di tiga desa tersebut sudah kompak dalam menjaga kelestarian hutannya.

Desa Sukamulya

Saya berkunjung ke desa ini pada bulan Desember tahun lalu. Setelah pulang dari Bengkulu saya dan teman-teman dari Depatemen Kehutanan mampir ke desa ini. Niat kami kesini adalah untuk mendokumentasikan kegiatan Hutan Kemasyarakatan yang dilakukan oleh beberapa kelompok tani di Desa Sukamulya.

Desa Sukamulya cukup jauh lokasinya dari jalan raya (Lintas Sumatera). Untuk menuju kampunnya juga diperlukan mobil yang memiliki double garden. Karena jalan menuju desa masih jalan tanah dan berbatu. Apalagi ketika kami kesana musim hujan. Jalanan penuh lumpur dan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke desa. Ditengah perjalanan mobil kami sempat slip dan tidak bisa melewati tanjakan yang berlumpur. Akhirnya harus menunggu bantuan mobil kampas yang ke empat rodanya sudah dililit rantai untuk menarik mobil-mobil kami. Di tengah malam yang gelap dan hujan kami masih bergelut dengan lumpur.

Keadaan desa Sumbermulya masih cukup asri. Dibelakan desa penuh dengan ladang-ladang kopi dan tanaman keras lainnya. Sesuai dengan ketentuan HKM yaitu menanam tanaman berkayu disela-sela tanaman lainnya, didesa ini sudah cukup banyak pohon-pohon keras yang ditanam. Mulai dari Mahoni, Kemiri, Durian, dan tanaman berkayu lainnya.

Sebelumnya seluruh masyarakat desa ini membuat ladang secara sembunyi-sembunyi diareal hutan lindung. Tapi sekarang setelah mendapat izin kelola selama 35 tahun dari Departemen Kehutanan, masyarakat desa sudah nyaman dan tidak takut lagi membuat ladang disana. Mereka juga sudah sadar, agar tetap diizinkan untuk bercocok tanam diladang mereka harus menjaga kondisi hutannya untuk tetap baik dan menanam tanaman berkayu disela-sela tanaman mereka.

Karena kondisi air sungainya cukup baik dan didesa ini tidak masuk listrik dari PLN. Masyarakat desa berinisiatif membuat kincir-kincir yang menghasilkan energy listrik untuk satu rumah. Karena sudah ada yang berhasil menghasilkan listrik dari aliran air sungai, beberapa masyarakat desa Sukamulya secara swadaya membeli mesin turbin yang cukup besar yaitu sekitar 5000 watt. Satu turbin 5000 watt bisa menerangi 10-15 rumah. Dan beberapa rumah juga bisa menonton televisi. Listrik selalu menyala selama 24 jam. Terkadang siang haripun dibiarkan menyala. Selagi air sungai ini tidak kering dan mesinnya tidak rusak, listrik akan selalu menyala.

Sekarang mereka sudah tidak perlu menunggu lagi kehadiran listrik masuk desa dari PLN. Sudah hampir lima tahun PLN yang lalu PLN berjanji untuk menerangi desa mereka. Tapi janji itu tidak pernah ditepati. Sekarang mereka sudah tidak peduli lagi dengan janji-janji PLN.

Karena merasakan langsung manfaat air sungai di desa mereka. Beberapa masyarakat di Desa Sukamulya sudah mulai menjaga agar debit air sungai tetap stabil. Tokoh-tokoh masyarakat dan ketua kelompok tani sudah mengajak anggotanya untuk memperhatikan kondisi hutan dan lingkungan desa. Mereka tidak ingin energy listrik dari pembangkit microhydro ini hilang ataupun rusak. Mereka juga tidak ingin izin kelola yang diberikan oleh pemerintah kepada warga dicabut karena tidak bisa mengelola lahan dan menjaga hutannya.

Desa Pekandangan

Ketika sampai disebuah desa yang lokasinya lumayan jauh dari Kota Metro ini, pemandangan dan hawa yang dirasakan sangat berbeda. Serasa berada di daerah Jawa Barat (di seputaran Halimun), bukan di Lampung. Lampung yang terkesan gersang dan panas. Tapi di desa ini, sangat sejuk, sawah menghampar disekeliling desa. Sumber air melimpah dan mengalir jernih.

Desa Pekandangan berada di hulu sungai, yaitu Way Seputih dan Way Sekampung. Masyarakat Desa Pekandangan hampir seluruhnya adalah para migran dari suku sunda dan jawa. Dulunya masyarakat ini adalah pekerja di sebuah perusahaan kayu. Namun sekarang perusahaan tersebut telah lama berhenti beroperasi.

Uniknya setelah mereka melakukan penebangan dan merambah hutan, sekarang mereka malah berbalik untuk menjaga hutannya. Kondisi kampong sudah hijau dan asri kembali.

Karena sumber airnya melipah dan belum ada akses listrik yang masuk ke kampung mereka, akhirnya mereka mempunyai inisiatif membangun listrik bertenaga air. Dimualai dari sebuah kincir sederhana yang terbuat dari kayu, akhirnya mereka membuat kincir yang permanent dari besi dan plat. Sungguh menarik dan membuat saya kagum atas inisiatif-inisiatif mereka. Kampung mereka tidak gelap lagi disaat malam tiba. Mereka bisa menikmati siaran televisi dan anak-anak belajar tidak lagi dengan sebuah lampu templok ataupun lilin.

Melalui organisasi masyarakat desa, mereka kini bersemangat untuk menjaga keadaan hutan yang ada dikampung mereka. Menjaga sumber air yang ada. Untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat desa, kini mereka mencoba meningkatkan pembudidayaan tanaman sengon (albasia) yang ada diladang-ladang masing-masing individu.

Desa Cibuluh, Gunung Simpang

Kampung yang lokasinya berada di Cianjur Selatan ini memang sedikit tersembunyi. Saya sendiri baru tahu ternyata di Jawa Barat masih ada sebuah desa yang sangat sulit dijangkau oleh kendaraan. Untuk menuju desa ini dibutuhkan kendaraan double gardan. Jalan yang barbatu dan sempit membuat sulit kendaraan menuju desa. Apalagi disaat saya dan teman-teman dari samdhana institute ingin melakukan kunjungan kesana, selama perjalanan dihari itu selalu hujan. Banyak tanah-tanah longsor disepanjang jalan.

Perjalanan menuju Desa Cibuluh sangat berkesan bagi saya. Baru pertama ini selama di Jawa Barat saya membawa mobil yang kondisi jalannya sedemikian rupa. Berbatu, tikungan yang sangat tajam dan disertai tanjakan-tanjakan yang membuat hati deg-degkan. Selama perjalanan juga banyak turunan yang curam dan kiri kanan jalan jurang. Tambah seru lagi karena perjalanan menuju desa tersebut malam hari. Kami tiba di Desa Cibuluh pada pukul dua dini hari.

Di desa ini saya kembali melihat pembangkit tenaga listrik dari air. Namun beberbeda dengan dua desa yang saya kunjungi seblumnya, di Desa Cibuluh ini mesin pembangkitnya sudah cukup besar yaitu berkapasitas 18000 watt, yang bisa menerangi sekitar 80 rumah dan sarana public seperti masjid dan balai desa. Dengan adanya bantuan hibah dari lembaga donor yang ada di Jakarta sekarang ini pembangkit listrik yang ada di Desa Cibulu sudah dikelola secara swadaya oleh masyarakat desa.

Cagar Alam Gunung Simpang merupakan kawasan hutan konservasi yang berbatasa langsung dengan Desa Cibuluh. Masyarakat yang ada di desa ini mulai dari yang tua sampai dengan yang muda sudah secara bersama-sama menjaga kondisi hutannya. Disaat saya berkunjung kesana, anak-anak sekolah madrasah yang ada di Desa Cibuluh sedang melakukan penanaman di kawasan hutan desa. Mereka ingin hutan yang ada di desa mereka tetap hijau dan bertambah rimbun. Sebuah lembaga desa yaitu Raksa Bumi menambah semangat dan keyakinan masyarakat untuk menjaga hutan yang ada di desa mereka.

Dengan melihat ketiga desa ini yang sudah memiliki pembangkit listrik tenaga air membuat saya bertambah yakin air adalah sebuah sumberdaya alam yang sangat penting bagi manusia dan tidak akan bisa dipisahkan dari kehidupan manusia di bumi ini. Masyarakat desa seharusnya tidak perlu menggantungkan hidupnya kepada PLN untuk mendapatkan listrik. Ada sebuah solusi yang lebih tepat, efisien, dan ramah lingkunga. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro solusinya.