Showing posts with label Arga Makmur. Show all posts
Showing posts with label Arga Makmur. Show all posts

Tuesday, June 30, 2009

Indahnya Kampung Halaman

Beberapa minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman saya. Sebuah kota kecil yang memang selalu saya rindukan. Rindu untuk menemui orang tua dan sanak family. Keluarga besar saya semuanya ada disana.

Kota kecil itu adalah Arga Makmur. Dibagian utara Provinsi Bengkulu, sekitar 1 jam perjalanan jika menggunakan kedaraan roda empat ataupun sepeda motor.

Kepulangan saya kali agak sedikit berbeda. Selain momentnya memang sangat spesial yaitu menghadiri pernikahan adik saya yang perempuan. Saya juga membawa sepeda lipat saya kesana. Kebetulan saya membawa kendaraan sendiri dari Bogor bersama kakak saya dan keluarganya.

Niat untuk mengulang dan mengenang masa kecil dulu yaitu bersepeda mengelilingi kota kecil ini memang sudah muncul dari beberapa tahun yang lalu. Tapi memang waktunya belum pas dan kesempatannya belum ada.

Waktu kecil, mungkin saat itu klo tidak salah masih sekolah TK dan sekolah dasar kelas 1 saya suka sekali bersepeda. Saya dibelikan sebuah sepeda oleh orang tua saya. Sepeda berwarna biru tua dengan roda yang terbuat dari karet padu (tidak memakai ban dalam/angin). Rodanya berwarna putih. Gir dan rantai (pedal) sepedanya tidak bisa dihentikan klo sepedanya sedang jalan, karena memang memakai gir mati. Jadi sangat merepotkan jika menuruni turunan. Kaki harus diangkat karena pedalnya terus berputar mengikuti roda. Jika laju sepeda semakin kencang, semakin cepat juga pedal itu berputar.

Diwaktu kecil saya tidak terlalu peduli dan mengamati ada apa saja di sepanjang jalan disaat saya menaiki sepeda itu. Yang ada saya hanya riang gembira menggoes sepedanya dan keliling kota. Pernah beberapa kali saya jatuh dari sepeda. Sampai sekarangpun masih ada bekas luka karena jatuh dari sepeda.

Ketika tubuh saya sudah mulai membesar, saya tidak bisa lagi menaiki sepeda kecil itu. Klo tidak salah ingat sepeda itu diberikan kepada sepupu saya yang lebih kecil. Saya dibelikan sepeda yang ukurannya lebih besar. Sebuah sepeda berwarna merah bermerk “Mustang”. Masa sekolah SMP, saya selalu menggunakan sepeda itu kesekolah. Membuat saya selalu berkeringat setiap harinya.

Keinginan saya untuk merasakan kembali bagaimana rasanya bersepeda di kota kecil kota kelahiran saya ini bisa rasakan beberapa minggu yang lalu. Setelah istirahat satu hari dirumah dan bertemu keluarga, keesokan harinya pada sore hari saya mengambil seli saya dan menggoesnya keliling kota. Jalur yang saya ambil adalah dari rumah yaitu Jalan Padat Karya – Perempatan Fatwati – Kantor Pos Arga Makmur – Telkom – Bundaran – Kemumu. Dari rumah menuju Kemumu kurang lebih menghabiskan waktu satu jam. Tapi pulangnya tidak sampai 7 menit, karena jalannya selalu menurun.

Betapa nikmat dan indahnya bersepeda sore itu. Sore yang cerah dan membuat seluruh tubuh berkeringat. Menikmati kesejukkan udaranya yang masih segar, tidak bising dan damai. Sepanjang jalan orang-orang melihat saya yang bersepeda, membuat saya bertanya-tanya. Apa yang salah? Kok semua pada ngeliatin. Kadang juga membuat saya ke Ge Er-an.

Saya tidak menyangka ternyata bersepeda di Arga Makmur sangat mengasyikkan. Apalagi disaat kita sudah memasuki daerah Tebing Kaning sampai ke Kemumu. Kita bisa menikmati indahnya areal persawahan penduduk dan sejuknya udara Kemumu. Sepanjang jalan diiringi gemerincik suara air irigasi yang ada disepanjang jalan Kemumu. Disaat menuju ke Kemumu di depan kita juga terdapat sebuah hamparan gunung yang sering disebut bukit barisan yang mengelilingi Kota Arga Makmur.

Beda sekali rasanya bersepeda disaat kecil dan bersepada sekarang ini. Dulu saya tidak peduli dan tidak tahu apa potensi tanah kelahiran saya ini. Saya menganggap biasa-biasa saja semuanya. Tapi sekarang setelah saya banyak berpergian ke berbagai daerah di nusantara ini dan pernah beberapa kali keluar Indonesia, saya bisa merasakan tanah kelahiran saya juga mempunyai potensi dan kota yang sangat cantik. Sayang saya hanya bisa menikmati selama 3 hari bersepeda disana, setiap pagi dan sore harinya.

Namun keindahan ini sepertinya secara perlahan akan sama nasibnya dibeberapa kota lainnya yang ada di Indonesia. Lumbung-lumbung padi atau sawah-sawah produktif secara perlahan akan hilang digantikan oleh bangunan-bangunan perumahan dan pemukiman. Sewaktu saya kecil kawasan kemumu seluruhnya adalah areal persawahan. Hamparan tanaman padi menutupi kawasan ini. Namun sekarang, sudah ada beberapa bangunan rumah dan pemukiman. Persawahan ditimbun oleh tanah-tanah merah. Jika pemerintah daerah tidak sigap menanggapi perubahan ini bukan tidak mungkin lahan-lahan sawah produktif disana akan hilang. Keindahan yang saya rasakan sewaktu kecil sampai dengan saat ini nantinya tidak akan bisa dirasakan lagi oleh saya disaat saya sudah berumur 40-an dan mungkin juga anak cucu saya.

Seharusnya pemerintah daerah mulai peka terhadap perubahan bentang alam yang akan terjadi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Perlu dibuatnya tata kota yang bagus dan terkonsep secara baik. Jangan biarkan kawasan hijau dan lahan-lahan persawahan produktif ini hilang akibat dari bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya pendapatan masyarakat ataupun berubahnya gaya hidup (life style) orang-orang yang ada di Arga Makmur. Jalur Gunung Selan sampai dengan Kemumu sangat bagus sekali jika dibuat jalut hijau dan jalur wisata. Dibuatnya jalur-jalur untuk pejalan kaki ataupun bersepeda bukan tidak mungkin akan membuat daya tarik tersendiri bagi kota ini. Perlu penataan terhadap bangunan-bangunan yang akan menggusur areal persawahan yang ada di Kemumu dan mempercantik tampilan aliran-aliran irigasi yang sudah ada.

Semuanya ini tergantung kepada pemerintahan yang ada. Apakah pemerintah Kota Arga Makmur cukup cerdas berfikir dan bersikap. Mampu melihat peluang dan ancaman yang akan terjadi kedepan. Jika ingin mendapatkan inspirasi... bersepedalah setiap hari...

Friday, January 30, 2009

Lebaran dan Gempa

"Dari Bengkulu ya?? yang kemaren kena gempa itukan? Gimana kabar keluarga disana?". Itulah pertanyaan yang selalu di lontarkan orang-orang disaat aku mengunjungi suatu daerah dan memperkenalkan diriku serta daerah asalku ataupun bertemu dengan teman-teman kerja/kuliah. Bengkulu menjadi terkenal dengan adanya gempa yang merupakan salah satu gempa terbesar di Indonesia ini. Semua orang jadi tahu Bengkulu. Ingat betul disaat aku masuk kuliah dulu, disaat belanja disebuah swalayan seorang ibu bertanya darimana asalku, "saya dari Bengkulu bu". "Bengkulu?. Bengkulu itu di Kalimantan ya?" ibu itu kembali bertanya kepadaku. "Bukan bu, Bengkulu itu disebelahnya Lampung, dekat Palembang" jawabku spontan sekaligus jengkel karena kota kelahiranku ternyata ada juga orang yang ngga tahu dimana lokasinya.

Jika mengingat pertanyaan ibu itu sekarang aku menjadi tersenyum sendiri. Sekarang pertanyaannya pun berbeda. Semua orang tahu Bengkulu. Mungkin ada hikmahnya juga dengan adanya gempa di Bengkulu pikirku dalam hati.

Tanggal 8 Oktober 2007 aku pulang ke Bengkulu. Setiap tahunnya, suasana lebaran akan lebih meriah jika dirayakan di kampung bersama keluarga. Selain pulang merayakan lebaran aku juga ingin melihat secara langsung kondisi Bengkulu pasca gempa tanggal 12 Septemer 2007. Dikarenakan pesawatku delay hampir satu jam, saat tiba di Bengkulu aku sudah ketinggalan mobil yang menuju Arga makmur, 74 Km sebelah utara Kota Bengkulu. Pesawatku baru take off kurang lebih pukul 16.00 WIB. Saat tiba di terminal sungai hitam, jam yang melekat ditanganku sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Walhasil, setelah buka puasa aku duduk termenung sendiri memikirkan bagaimana caranya aku sampai dirumah. Untungnya malam itu ada sepupuku yang mau menjemputku diterminal.

Kerusakan ternyata di luar dugaanku...

Setelah istirahat selama satu hari dirumah, hari rabu tanggal 10 Oktober 2007 dengan sepeda motor kepunyaan bapakku aku langsung menuju Lais, yang katanya merupakan daerah yang menjadi pusat gempa di Bengkulu. Rute yang aku ambil dari perjalanan ini adalah Arga Makmur-Lais-Kota Agung-Bengkulu.

Setelah mendapat informasi dari beberapa teman, sanak saudara dimana saja lokasi yang terparah akibat gempa, aku langsung menuju lokasi-lokasi yang disebutkan. Pertama sekali yang aku lakukan adalah mengelilingi Kota Arga Makmur. Di Arga Makmur aku melihat beberapa bangunan yang hancur/rusak parah dan rumah-rumah yang retak-retak. Salah satu bangunan baru yang rusak parah adalah dealer YAMAHA yang baru ditempatin sekitar dua bulan sebelum gempa.

Sekitar lima menit perjalanan menggunakan sepeda motor, aku tiba di Desa Taba Baru. Yang menarik sekaligus membingungkan orang-orang disana adalah tanah longsor. Tanah longsor yang terjadi didesa ini bukan longsor seperti biasanya, tetapi tanah yang longsor tersebut bisa bergerak alias bergeser sejauh kurang lebih 200 meter menjauhi tebing yang longsor tersebut. Lahan pertanian penduduk yang ditanami cokelat dan kopi serta lahan persawahan yang berada disekitar tanah longsor rata tertimbun tanah. Diperkirakan kedalaman tanah yang menutupi lahan pertanian masyarakat sekitar 1-2 meter. Karena lokasi longsor ini sangat dekat dengan jalan raya, banyak masyarakat yang berhenti dari kendaraannya untuk melihat kejadian ini. Luasnya tanah menutupi lahan masyarakat dan sangat rata seolah-olah habis di buldoser menjadi tontonan yang menarik bagi mereka. Dilokasi tanah longsor ini terdapat dua buah rumah hancur total dan salah satunya ikut jatuh bersama tanah yang longsor. Untungnya saat terjadi longsor, penghuni rumah sudah mengosongkan rumah sehingga tidak terjadi korban jiwa.

Disaat sedang asyik memotret tanah-tanah yang longsor, seorang laki-laki paruh baya menghampiriku. "Klo ndak turun kebawah, mari aku antarkan. Tapi kito harus mutari tebing ini" (klo mau turun kebawah, mari saya antarkan. Tapi kita harus memutari tebing ini) sapanya. Karena aku juga ingin melihat dari bawah tanah longsor ini, akhirnya aku menyetujui ajakkannya. Sambil ngobrol, kami memutari tebing yang longsor. Ternyata laki-laki ini adalah pemilik rumah yang hancur akibat gempa dan tanah longsor yang barusan aku ambil fotonya.

Ketika sudah sampai dibawah, dekat lahan persawahan masyarakat. Aku memperhatikan kondisi tanah disekitarku. "Gila... tanah bisa bergeser seluas dan sepanjang ini. Sekuat apa goncangan dan goyangnya saat terjadi gempa itu ya. Kok bisa begini" gumamku dalam hati. Saat aku tanyakan menurut bapak kenapa bisa tanah sampai seperti ini, beliau hanya geleng kepala. "Idak ado yang tau knapo sampai cak ini, waktu tu hari dah mulai kelam. Dan kito idak ado yang berani nengok. Kito cuma nangis negok rumah hancur samo suaro gemuruh tanah yang longsor tu" (Ngga ada yang tau kenapa sampai seperti ini, saat itu hari sudah mulai gelap. Dan kita tidak ada yang berani melihat. Kita hanya menangis melihat rumah hancur dan suara gemuruh tanah yang longsor) jawabnya singkat.

Hampir satu jam aku dilokasi longsor. Setelah selesai mengambil beberapa gambar. Aku mohon pamit untuk melanjutkan perjalananku berikutnya yaitu desa-desa yang berada di pantai lais. Dari Desa Taba Baru sampai Lais aku melihat banyak terdapat rumah yang hancur dan retak-retak pasca gempa. Dan juga didepan rumah masing-masing masih terdapat tenda-tenda darurat.

Setibanya di Lais, aku terus melanjutkan perjalanan menuju Desa Kota Agung. Yang memang menurut banyak beberapa data, desa ini merupakan desa yang terparah akibat gempa untuk wilayah Kabupaten Bengkulu Utara. Disini, aku menyaksikan sendiri bahwa hampir seluruh rumah yang ada didesa ini hancur dan rata dengan tanah. Terlebih lagi jika anda melewati Dusun Penyangkak. Sekitar 70 rumah di dusun ini hancur total. Tetapi sekarang sudah berdiri rumah-rumah darurat yang berdindingkan triplek bantuan dari Dompet Duafa.

Sepanjang jalan aku benar-benar meringis melihat rumah-rumah yang hancur. Pecahan-pecahan dinding yang terbuat dari batu bata merah berserakan disepanjang jalan. Sekolah, masjid, jalan. Semua hancur. Dan yang membuat aku lebih terhenyak lagi, disaat aku menanyakan kepada seorang ibu yang bersama suaminya sedang duduk diam didalam tenda. "Bagaimana bu keadaannya, sehat ajakan. Sudah memulai aktivitas rutin kembali? Sudah mulai berkebun lagi?" tanyaku saat itu. "Oii nak... cigai gen na semangat lak kerjo yo. Umeak bi ajua kute. La mae kebun raso ne malas nien. Ite yo awei coa nam kerjo jano-jano igai" (Oii nak, sudah tidak ada semangat lagi untuk bekerja. Rumah sudah hancur semua. Berkebun rasanya malas sekali. Kita ini sepertinya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi). Jawab sang ibu yang menggunakan bahasa rejang. Aku melihat sendiri raut wajah sang ibu sepertinya benar-benar bersedih akan hancurnya rumah mereka.

Hari itu aku bisa merasakan bagaimana dasyatnya gempa yang berkekuatan 7,9 SR. Gempa yang membuat rumah-rumah mereka hancur. Gempa yang membuat masyarakat trauma dan shock. Bagaimana gempa menggoncang Kota Bengkulu. Apalagi ditambah dengan cerita-cerita ngeri dari teman dan sanak saudara. "Waii..En, kito ko seraso di ayak-ayak disini ni. Tanah begoyang-begoyang... Kito tegak bae, bisa jatuh. Rumah ko berderik-derik seraso ndak roboh. Pokoknyo ambo trauma, klo begoyang dikit langsung lari keluar. (Waii.. En, kita ini serasa di ayak-ayak disini. Tanah bergoyang-goyang... Kita berdiri saja, bisa jatuh. Rumah ini mengeluarkan bunyi yang berderik-derik serasa mau roboh. Yang jelas saya trauma, klo ada goncangan sedikit saja langsung lari keluar)". Cerita sepupuku saat aku datang kerumahnya. Lain lagi cerita teman sepermainanku. "Waktu itu ambo di pasar En, lagi belanjo. Orang-orang berlarian ke jalan. Banyak orang-orang yang bawak motor tu jatuh... Ambo bingung, ndak balik ke rumah takut masih goyang." (Waktu itu saya masih berada di pasar En, belanja. Orang-orang berlarian ke jalan. Banyak orang-orang yang membawa motor jatuh... Saya bingung, mau pulang ke rumah takut masih bergoyang). "Untung la gempa ni idak malam hari. Klo malam kayak tahun 2000 kemaren. Mati galo orang Bengkulu ko". (Untunglah gempa ini tidak terjadi dimalam hari. Klo malam seperti gempa di tahun 2000. Mati semua orang Bengkulu ini). Ucap seorang bapak ketika aku berada di Dusun Penyangkak.

Gempa Penutup

Sehari sebelum menjelang lebaran Bengkulu kembali di goncang gempa. Saat itu aku sedang berada dirumah teman dan sedang ngobrol-ngobrol. Disaat sedang asyik bercerita, ternyata rumah bergoyang. "Ahh.. ternyata aku merasakan juga gempanya" ucapku dalam hati. "Gempo....gempo..." teriak orang-orang diluar. Banyak orang berada diluar rumah. "Semoga la ini gempa penutup kareno menjelang akhir puaso. Pertamo gempo kan pas ndak puaso" (Semoga ini gempa penutup karena menjelang akhir puasa. Pertama gempa kan ketika mau puasa) ucap seorang ibu-ibu yang berada diluar.

Ingin melihat Tsunami...

Rabu tanggal 17 Oktober 2007 aku bersama bapakku, adik ku yang bungsu bersama seorang temannya menyusuri daerah pesisir pantai yang menuju Putri Hijau. Karena suasananya masih lebaran, dan teman-temanku masih pada mau lebaran. Akhirnya aku mengajak mereka saja untuk menemaniku. Anggap saja wisata gempa ucapku disaat mengajak mereka. Dengan mobil Daihatsu Feroza sekitar jam 8.00 WIB kami berangkat.

Desa yang pertama yang ingin aku tuju adalah Desa Serangai. Dari banyak informasi yang aku terima, desa ini terkena dampak tsunami akibat gempa. Sepanjang perjalanan menuju Desa Serangai masiha banyak aku melihat bagunan-bangunan yang hancur. Beberapa orang sudah mulai memperbaiki rumahnya yang rusak. Mengumpulkan puing-puing rumah yang hancur. Diperjalanan juga aku banyak menemui jalan-jalan raya yang terbelah. Ngga tau terbelah karena gempa atau karena penyebab lain.

Disaat mau memasuki pemukiman masyarakat di Desa Seranagi, pemandangan menjadi lain. Dipinggir-pinggir jalan banyak kayu-kayu, sampah berserakan seperti habis terkena banjir. "Sepertinya benar, ini terkena dampak tsunami" gumamku dalam hati. Dikiri jalan aku memperhatikan beberapa keluarga sedang membuat pondok untuk menggantikan tendanya yang terlalu kecil. Disebelah keluarga itu ada keluarga yang lain sedang mengumpulkan kayu-kayu dari rumahnya yang hancur karena diterjang ombak. Jarak antara rumah penduduk disini dengan pantai memang sangat dekat. Mungkin antara 20-30 meter saja.

Aku mendekati dan bergabung dengan keluarga yang sedang membangun sebuah pondok. "Berapo rumah yang hancur karno tsunami ini?" (Berapa rumah yang hancur karena tsunami ini) tanyaku kepada mereka. "Banyak, sepanjang ini sampe jembatan itu, yang disebelah kiri jalan. Hancur galo. Ado rumah yang hanyut sampe di seberang jalan ini" (Banyak, sepanjang ini sampai dengan jembatan itu, yang disebelah kiri jalan. Hancur semua. Ada rumah yang hanyut sampai di seberang jalan ini) jawabnya sambil menunjukkan lokasi rumah yang hanyut. Ketika aku berada disana, beberapa masyarakat mulai mengangkut puing-puing rumahnya untuk pindah. Mereka mulai membangun rumah kembali di lokasi yang tidak terlalu jauh dari lokasi semula yaitu diseberang jembatan Serangai.

Setelai selesai mengambil beberapa gambar di Desa Serangai aku kembali melanjutkan perjalanan ke Ketahun dan Putri Hijau. Tujuan terakhirku. Selama perjalanan sambil nyetir mobil aku berpikir. "Dari beberapa hari yang lalu aku telah banyak menyaksikan dampak-dampak gempa yang katanya salah satu gempa terbesar di Indonesia ini. Semuanya hancur dan porak-poranda. Bumi ini serasa diacak-acak. Bagaiamana klo gempa sebesar ini menimpa Jakarta ya?? mungkin rata dengan tanah semua gedung-gedung pencakar langit itu. Beruntunlah engkau orang-orang Jakarta yang belum merasakan dasyatnya gempa seperti di Bengkulu. Semua kembali kepada kehendak-Nya"......