Tapi ayah akan tetap bercerita. Saat ini, cerita ini adalah kenyataan. Benar-benar terjadi. Ayah tidak tahu jika kamu besar nanti, seumur ayah, apakah cerita ini akan menjadi sebuah dongeng. Atau mungkin tetap akan menjadi sebuah kenyataan.
Limbah B3 pabrik yang dibuang langsung ke Sungai Citarum di daerah Majalaya, Kabupaten Bandung
Disaat usiamu memasuki 8 bulan didalam kandungan. Ayah bersama beberapa teman dari sebuah lembaga peduli lingkungan internasional melihat dan merekam situasi terakhir sebuah sungai yang terbesar dan terpanjang di Jawa Barat. Sungai Citarum namanya. Panjang sungai ini sekitar 300 km. Sungai ini berhulu di lereng Gunung Wayang, di Desa Cibeureum, Kertasari, Bandung. Pada tahun 2007 lalu, sungai ini menjadi salah satu sungai dengan tingkat pencemaran tertinggi di dunia.Kamu pasti akan bertanya, kenapa Sungai Citarum menjadi sungai paling tercemar di dunia. Saat ini dari hulu sampai hilir Sungai Citarum terdapat sekitar 1500 pabrik atau industri. Pabrik ini membuang limbahnya langsung ke Sungai Citarum. Sekitar 2800 ton limbah cair dibuang ke Sungai Citarum. Dan kamu tahu nak, pabrik-pabrik ini sudah membuang limbahnya sejak mereka berdiri di sepanjang Sungai Citarum. Yaitu sejak tahun 1979. Sudah 34 tahun. Sejak ayah belum lahir. Ayah saja baru menyadari hal itu. Ayah saja belum menikmati keindahan Sungai Citarum dan juga bersihnya air Sungai Citarum. Apalagi kamu yang baru akan lahir?
Kamu pasti akan bertanya lagi, kenapa ayah ke Sungai Citarum. Disaat kamu masih usia 8 bulan didalam kandungan ayah berangkat ke Bandung untuk melihat kondisi Sungai Citarum. Karena pada ada tanggal 5 Juni 2013, disaat peringatan hari lingkungan hidup sedunia, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, menyampaikan pidatonya ke publik bahwa air Sungai Citarum bisa langsung diminum pada tahun 2018. Banyak orang yang bertanya apakah mungkin dengan kondisi air yang saat ini tercemar berat bisa diminum pada tahun 2018. Apakah Ahmad Heryawan hanya sesumbar dan hanya menebar janji saja karena baru terpilih kembali menjadi Gubernur Jawa Barat. Banyak orang yang ayah wawancarai untuk minta pendapatnya tentang pidato sang Gubernur tersebut. Semua orang yang ayah wawancarai menyatakan tidak percaya dengan pidato tersebut. Semua orang sudah bosan dengan pidato-pidato politik penjabat publik. Yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia saat ini adalah sebuah langkah aksi nyata. Sebuah terobosan baru seorang pejabat publik dalam memecahkan masalah sosial dan lingkungan yang terjadi diberbagai daerah di Indonesia.
Ayah melihat beberapa titik lokasi pembuangan limbah di Sungai Citarum. Mulai dari Majalaya, Dayeuhkolot, dan Margaasih, Kabupaten Bandung. Limbah, sampah dan sungai yang bau yang ayah temui disana. Di Majayala, persis dipinggir sawah yang para petaninya sedang panen padi yang dia tanam, mengalir dengan seenaknya limbah dari 10 pabrik yang ada disekitar sawah tersebut. Warna airnya berubah-ubah. Saat ayah tiba, airnya berwarna coklat tua. Ketika beberapa jam kemudian airnya berubah menjadi hijau tua. Ayah berjalan menelusuri aliran limbah tersebut. Ternyata berakhir di Sungai Citarum.
Pak Jumar, Warga Margaasih, Kabupaten Bandung, yang rumahnya persis berada di pinggir Sungai Ciliwung, tertawa terbahak-bahak ketika ayah sampaikan pertanyaan apakah dia percaya air Sungai Citarum bisa diminum pada tahun 2018. Dia bahkan berani pasang taruhan sama ayah klo itu bisa terjadi. Mang Enkos, Warga Majalaya, garuk-garuk kepala. “2018 air citarum bisa diminum…..? ahhh belum tentu… belum tentu… belum tentu…” jawabnya. Adapun, Abah Dayat, warga Dayeuhkolot yang sudah 61 tahun tinggal dipinggir Sungai Citarum mengatakan bahwa baru tahun inilah dia jijik melihat air Sungai Citarum. Limbah dan sampah dimana-mana.
Walaupun presiden sudah ganti beberapa kali. Sudah beberapa kali ganti menteri, gubernur, bupati dan walikota, semua seperti tidak bisa berbuat apa-apa untuk Sungai Citarum. 30 tahun lebih dibiarkan saja pabrik-pabrik itu membuang limbah seenaknya ke Sungai Citarum. Tidak peduli bahwa jutaan orang yang ada di Majalaya sampai Karawang masih tergantung terhadap keberadaan air yang ada di Sungai Citarum tersebut. Jutaan orang menggunakan air Sungai Citarum untuk irigasi persawahan. Sumber air minum dari PDAM di Bekasi dan Jakarta dari Sungai Citarum. Bahkan air Sungai Citarum juga untuk energi listrik di Jawa. Pejabat negara ini tidak peduli dengan kerusakan Sungai Citarum. Tapi marah-marah jika air PDAM di rumahnya mati. Memaki-maki jika aliran litrik di rumahnya padam. Menyalahkan orang lain jika rumahnya kebanjiran. Betapa egoisnya hidup mereka di dunia ini nak. Ayah berharap jika kamu besar nanti tidak seperti mereka!.
Belajarlah peduli sesama umat manusia dan lingkungan sekitarmu sejak kamu kecil. Saat ini, sudah terlalu banyak warga negara Indonesia yang pintar dan berpendidikan tinggi. Orang-orang pintar dan bangga menyandang banyak gelar ini menduduki berbagai posisi strategis dalam membuat sebuah kebijakan. Tapi sayang, mereka tidak punya hati nurani. Tidak punya ahklak yang baik. Tidak peduli hak orang lain. Tidak pernah diajari bagaimana merangkul dan memberikan hak orang yang lemah agar mereka punya hak hidup yang layak. Tidak mau mengotori tangannya dengan memungut sampah yang ada di depan mukanya. Hal-hal kecil saja mereka tidak mau melakukannya. Apalagi melakukan sesuatu hal yang lebih besar untuk sebuah kebaikan umat. Untuk sebuah kelestarian sungai dan lingkungan. Apalagi klo mengharapkan air Sungai Citarum bisa langsung diminum pada tahun 2018.

Limbah B3 yang dibuang langsung ke Sungai Citarum di daerah Dayeuhkolot. Agar tidak terlihat pipa limbah ini ditaroh didasar Sungai Citarum

Air Sungai Citarum yang sudah berwarna hitam pekat beserta sampah yang berada di daerah Margaasih

Pak Jumar, warga Margaasih, Kabupaten Bandung tidak percaya air Sungai Citarum bisa langsung diminum pada tahun 2018
Jika kamu sudah besar nanti dan sudah bisa akses internet, kamu bisa lihat video tentang Sungai Citarum. Silahkan lihat disini.
(Tulisan ini saya buat untuk menyambut kelahiran anak pertama saya dalam beberapa hari kedepan)
Thursday, March 14, 2013
Menafikan Hutan Kemenyan (Tombak Hamijon)
![]() |
Salah satu warga Desa Pandumaan yaitu
Tohap Pandiangan di pohon kemenyan miliknya |
Suhu pagi itu cukup dingin sehingga membuat saya betah menggunakan jaket yang saya pakai sejak tadi malam. Di tepi jalan desa di dekat pagar salah satu rumah warga yang terbuat dari bambu saya mencoba melihat dan memperhatikan semua aktivitas yang ada di desa ini. Merasakan salah satu bagian dari keharmonisan kehidupan masyarakat ini seperti ada yang hilang.
Beberapa tahun kebelakang, tepatnya tahun 2009, keharmonisan kehidupan masyarakat Desa Pandumaan-Sipituhuta mulai terusik. Sebuah desa yang berada di Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasudutan ini ternyata masuk kedalam sebuah konsesi perusahaan pulp and paper milik perusahaan yang bernama PT Toba Pulp Lestari (sebelumnya bernama PT Inti Indorayon Utama). Tanpa mereka sadari, wilayah yang mereka tempati dan kelola selama 13 generasi ini sudah diberikan izinnya oleh Kementerian Kehutanan untuk sebuah perusahaan yang rakus akan kayu. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No: SK.351/Menhut-II/2004 Tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 493/KPTS-II/1992 Tentang Pemberian Hak Pengusahaan Tanaman Industri Kepada PT Inti Indorayon Utama seluas 269.060 hektar di Provinsi Sumatera Utara. Wilayah Desa Pandumaan-Sipituhuta seluas sekitar 6.000 hektar yang selama ini mereka tempati dan mereka kelola diklaim oleh TPL masuk kedalam konsesi TPL.
Aktivitas dan kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Pandumaan-Sipituhuta mulai terganggu disaat TPL akan melakukan penebangan terhadap hutan kemenyan yang terdapat di wilayah kelola masyarakat selama ini. Aksi protes dan penolakan penebangan hutan terus dilakukan oleh masyarakat. Penolakan ini dilakukan dikarenakan masyarakat akan merasakan langsung dampaknya yaitu akan kehilangan sumber mata pencaharian utama masyarakat. Sebanyak 3.715 jiwa akan kehilangan sumber mata pencaharian dari kemenyan. Selain itu juga mereka akan menerima dampak kerusakan lingkungan, mulai dari longsor, kesulitan akses air bersih dan pencemaran lingkungan.
13 Generasi Mengelola Kemenyan
“Tanaman kemenyan ini ditanam oleh opung-opung kami dulunya. Sudah 13 keturunan kami menjaga dan mengelola pohon kemenyan ini” ungkap Teti Helmi Borutasoit ketika saya menanyakan sejak kapan mereka mengelola tanaman kemenyan yang sekarang sudah menjadi hutan yang rindang, yaitu hutan kemenyan.
Tohap Pandiangan, salah satu pemilik hutan kemenyan di Desa Pandumaan mengatakan bahwa hutan kemenyan seluas 4 hektar yang ia kelola adalah warisan dari orang tuanya. Ketika pohon kemenyan ditanam oleh Opungnya berumur sepuluh tahun, Opungnya meninggal dan pengelolaan pohon kemenyan diteruskan oleh orang tuanya. Sekarang pengelolaannya dikelola oleh Tohap Pandiangan yang menggantikan orang tuanya. “Jumlah pohon kemenyan yang ada disini sekitar 1000 batang. Pohon-pohon kemenyan yang ada disini bukan pohon liar. Ini ditanam oleh Opung saya” ucap Tohap.
Tohap memanen getah kemenyan miliknya satu tahun sekali. Dari seribu batang yang ia kelola bisa menghasilkan 100 kg per tahun. Harga per kilo kemenyan adalah Rp 130.000-140.000. Satu tahun Tohap bisa mendapatkan uang sekitar 14 juta dari penjualan kemenyan yang ada di lahannya. “Tapi enam bulan kemudian kita masih bisa mengambil getah kemenyan dari sisa panen tersebut. Per harinya saya bisa mengumpulkan 1 kg. Harganya klo dari kemenyan sisa-sisa ini 60 ribu per kilo” ungkapnya.
Salah satu pengumpul kemenyan yang ada di Dolok Sanggul, Ibukota Humbang Hasudutan yaitu Khalil Basyah Sihite mengatakan bahwa jumlah kemenyan yang ada sekarang sudah berkurang dan juga kualitas kemenyannya menurun. Para pengumpul kemenyan di Dolok Sanggul juga sudah berkurang. “Saat ini mungkin hanya sekitar 10 orang yang menampung kemanyan. Dulu ada sekitar 20 orang pengumpul besar disini. Mereka semua beralih usaha karena kemenyan sudah tidak ada” ungkap Khalil.
Menurut Khalil pecahan dari Tapanuli Utara merupakah penyuplai terbesar untuk kemenyan. Beberapa kabupaten penyuplai kemenyan adalah Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Samosir dan Kabupaten Humbang Hasudutan. Dolok Sanggul adalah yang terbesar dalam penyuplai kemenyan. 90 persen kemenyan milik Khalil dijual ke Jawa Tengah. Banyaknya kawasan hutan kemenyan yang sudah ditebang dan dikonversi menjadi HTI berdampak kepada jumlah pasokan kemenyan di Dolok Sanggul. “Dulu saya masih bisa mengirim kemenyan sebanyak 7 ton dalam seminggu. Sekarang untuk mengumpulkan 7 ton dalam dua bulan saja sudah sangat sulit” ungkap Khalil. Khalil sangat menyangkan sikap pemerintah yang tidak mendukung pengembangan dan pelestarian kemenyan yang sudah dari dulu dilakukan oleh para nenek moyang mereka. Seharusnya pemerintah menjaga hutan kemenyan yang sudah dilestarikan para leluhur orang batak. Dengan mendukung pelestarian hutan kemenyan sudah dipastikan akan membantu mensejahterakan kehidupan masyarakat yang ada di desa seperti Desa Pandumaan-Sipituhuta.
Tohap Pandiangan menyatakan seharusnya pemerintah bisa mengerti dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Tidak mementingkan sebuah investasi besar yang hanya mementingkan para pemilik modal. Kehadiran TPL di wilayahnya sangat mengancam kehidupan masyarakat Pandumaan-Sipituhuta. “Sampai kapanpun saya harus terus berjuang demi masa depan saya, anak-anak saya dan istri saya. Sampai kapanpun masyarakat Pandumaan-Sipituhuta akan tetap mempertahankan hutan kemenyan. Lebih baik kami mati daripada tanah leluhur kami diambil. Terutama pohon kemenyan ini” tegas Tohap.
Brimob yang Bringas dan Tidak Manusiawi
Tanggal 26 Februari 2013 pukul 2 dini hari adalah hari yang tidak bisa dilupakan oleh Rensus Lumban Gaol. Seorang laki-laki yang cacat ini harus merasakan bringasnya perlakukan aparat Brimob dalam menyisir Desa Pandumaan-Sipituhuta dalam mencari para laki-laki yang dianggap provokator dan merusak aset perusahaan PT Toba Pulp Lestari.
Rangkaian penolakan masyarakat Pandumaan-Sipituhuta terhadap penebangan hutan kemenyan mereka berbuntut penyisiran oleh aparat kepolisian untuk menangkap beberapa warga yang dianggap aktor dalam penolakan dan pengrusakan aset perusahaan. Lebih dari 300 anggota Brimob bersenjata laras panjang dan muka yang ditutupi dengan coretan-coretan loreng dan hitam memaksa masuk setiap rumah di Pandumaan-Sipituhuta. Beberapa pintu rumah hancur dan kamar-kamar berantakan karena dibongkar oleh polisi yang datang.
Rensus yang ketakutan mengajak 6 orang anaknya masuk ke dalam kamar. 30 anggota Brimob mengepung rumahnya saat itu. 10 orang masuk ke dalam ruang tamu dan mendobrak pintu kamar tempat dia bersama anak-anaknya berkumpul. Setelah pintu didobrak, para anggota Brimob ini menarik secara paksa Rensus sambil memukuli wajah, menendang dan menginjak-ijak kakinya yang cacat. Walaupun anak-anaknya berteriak dan menangis perlakuan kasar mereka tetap dilakukan. Ketika diseret ke jalan oleh beberapa aparat Brimob, Rensus mengatakan bahwa dia adalah lelaki cacat. Kaki kanannya tidak sempurna sejak lahir. Mendengar pengakuan Rensus barulah Brimob tersebut melepaskan Rensus.
Rensus yang sehari-hari memiliki warung kecil yang menjual beberapa aneka jajanan, kopi dan kue-kue mengatakan bahwa pada malam itu selain melakukan tindak kekerasan terhadap dirinya, aparat Brimob tersebut juga menjarah dagangan miliknya. Beberapa bungkus rokok yang dia jual diambil oleh anggota Brimob. Beberapa masyarakat Pandumaan-Sipituhuta menyatakan rumah mereka dijarah. Ada beberapa warga yang kehilangan emas dan handphone.
Teti Helmi yang suaminya ditangkap aparat pada malam penyisiran tersebut mengatakan semua wanita dan anak-anak pada dini hari itu menangis menyaksikan brutalnya perlakuan aparat Brimob terhadap mereka. “Kami ditodongkan senjata laras panjang dan dipaksa masuk. Mereka memperlakukan kami seperti teroris ataupun penjahat” ungkap Teti. Pada saat suaminya ditangkap Teti memeluk suaminya dan menahan suaminya agar tidak dibawa oleh Brimob. Karena Teti tidak mau melepaskan pelukan terhadap suaminya, salah satu anggota Brimob memukul lengan kirinya dengan popor senjata. Sampai beberapa hari lengannya masih lembam kebiruan. Teti pada malam itu hanya menangis dan mengatakan bahwa suaminya tidak bersalah. Mereka hanya mempertahankan tanah adat yang sudah dijaga secara turun-temurun.
Baik Rensus maupun Teti sampai sekarang masih tidak bisa tidur dengan tenang. Ketika ada suara mobil pada malam hari mereka selalu terjaga khawatir Brimob akan kembali datang dan melakukan kekerasan. “Kami ingin kampung ini damai kembali, bisa mengerjakan kemenyan kami dengan tenang. Bapak-bapak bisa bekerja setiap hari. Tidak dalam ketakutan. Kami ingin damai menjalani kehidupan ini karena kami bukan pencuri, bukan pembunuh. Kami hanya membela kampung ini. Membela tanah kami. Berjuang untuk mendapatkan kembali hutan kemenyan kami” ungkap Teti yang tidak bisa menahan air matanya. Teti berharap kepada semua orang yang mencintai masyarakat Pandumaan-Sipituhuta supaya membela dan membantu mereka.
![]() |
Aksi solidaritas untuk masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta di Kota Medan, Sumatera Utara
|
Wednesday, November 14, 2012
Perjalanan ke Mamuju, Sulawesi Barat
Awal bulan November saya kebetulan diminta
melakukan pembuatan sebuah video dokumenter di Mamuju, Sulawesi Barat. Selama
dua belas hari saya mengunjungi beberapa desa yang ada di Mamuju, Sulawesi
Barat. Banyak orang yang bertanya “Mamaju itu dimana?” disaat saya bilang saya
sedang berada di Mamuju. Saya sendiri pun musti mencari lokasinya di google map
ketika saya diminta berangkat ke Mamuju. Karena ini juga perjalanan pertama
saya ke Mamuju.
Pengalaman penerbangan pertama saya ke Mamuju
juga membuat hati berdebar-debar karena pesawat yang saya tumpangi yaitu rute
Makassar-Mamuju mengalami cuaca buruk. Pesawat ATR 72-500 dengan kapasitas
penumpang 80 orang sudah mencoba melakukan 2 kali upaya pendaratan di Bandar
Udara Tampa Padang, Mamuju tetapi upaya pendaratan selalu batal dan pesawat
dipaksa naik lagi menuju angkasa dengan pemandangan yang gelap karena awan
tebal. Lebih dari satu jam pesawat kami muter-muter diatas wilayah Mamuju
dengan turbulence yang cukup keras mencoba menunggu cuaca membaik. Semua
penumpang saat itu terdiam dan menunduk sambil berdoa. Tapi karena terbatasnya
bahan bakar pesawat akhirnya pesawat kami kembali ke Makassar dan mendarat
dengan selamat di Bandara Hasanuddin. Semua penumpang dinaikkan kedalam bus dan
dibawa ke hotel untuk istirahat. Esok paginya kami kembali diterbangkan dengan
pesawat yang sama.
Disaat mendarat di bandar udara yang ada di
Provinsi Sulawesi Barat ini saya masih belum percaya klo ini adalah salah satu
ibukota provinsi yang ada di Indonesia. Bangunan bandara tempat tunggu
penumpang yang besarnya seperti rumah type 45 dan bagasi yang musti diambil
sendiri di luar bandara. Di bandar udara ini juga belum ada radar dan belum ada
petugas BMKG. Penerbangan ke provinsi ini pun hanya 1 kali satu hari dari
Makassar dengan pesawat kecil.
Selama di Mamuju dan mengelilingi kota
provinsi, saya melihat sepertinya inilah kota provinsi yang terkecil di
Indonesia versi saya. Mamuju yang menjadi provinsi pada tahun 2004 masih dalam
kondisi berantakan. Banyak galian-galian yang belum dirapihkan. Jalan-jalan
kecil dan sempit, tata kota dan bangunan yang masih belum terlihat rapih.
Banyak sekali pekerjaan rumah yang musti dilakukan Pemerintah Daerah Sulbar
untuk membuat provinsi ini lebih enak dilihat dan bisa dinikmati oleh warganya
ataupun pendatang.
Disaat siang hari saya mencoba berjalan kaki
di sekitar hotel tempat saya menginap yaitu Hotel d’Maleo untuk mencari makan
siang. Hotel d’Maleo adalah satu-satunya hotel yang bagus dan nyaman di Mamuju.
Saya sudah mengecek beberapa hotel yang lain. Tarifnya tidak jauh berbeda tapi
kualitas bangunan, luas kamar dan pelayanan memang lebih baik Hotel d’Maleo. Terik
matahari yang panas dan membuat silau mata, tanpa pohon perindang, benar-benar
membuat kota ini tidak bersahabat untuk para pejalan kaki. Disaat siang hari
pun banyak tempat-tempat makan masih tutup. Mereka akan buka pada sore
menjelang magrib sampai dengan malam hari. Satu-satunya tempat jajanan makan
malam ada di pinggir pantai di sebelah pelabuhan dan TPI, tidak begitu jauh
dari Hotel d’Maleo. Para pedagang mendirikan tenda-tenda beratapkan terpal
secara acak di sebuah dataran yang datar di pinggi pantai dengan suara musik
yang keras. Setiap tenda memutar musik dengan keras yang membuat saya bingung,
kita mau dengar musik yang mana karena terlalu banyak musik dengan volume
disetting sekeras-kerasnya. Membuat saya tidak nyaman menikmati makan malam.
Lokasi ini juga jadinya terkesan kumuh. Padahal jika pemerintahnya mau menata
dengan baik para pedagang dan lokasi tempat pengujung duduk dan makan mungkin
tempat ini bisa menjadi tempat favorit para pendatang untuk menikmati ikan
bakar, sate, sop konro ataupun makanan lainnya.
Di Kota Mamuju saya juga belum menemui tempat
yang bisa menjadi tujuan wisata oleh para pendatang. Tidak ada pusat
pembelajaan yang terpusat, tidak ada tempat hiburan, museum, ataupun taman
kota. Jalanan yang sempit, bangunan yang tidak teratur antara pusat
perkantoran, rumah penduduk dan ruko membuat Kota Mamuju tidak sedap untuk
dipandang. Disaat tiba di Mamuju pun saya tidak tertarik untuk jalan-jalan
keliling kota. Keluar hotel hanya untuk kebutuhan makan siang ataupun makan
malam. Saya mencoba mencari tahu sebenarnya Provinsi ini, kota ini arah
pembangunannya seperti apa. Tapi informasi ini belum saya dapatkan. Padahal di
beberapa titik, Mamuju memiliki laut yang masih jerih, tenang dan masih jauh
dari pusat keramaian. Saya mengunjungi beberapa nelayan yang memiliki keramba
dan jaring tancap di Desa Tadui dan Ampalas. Tidak jauh dari kota juga terdapat
ekosistem mangrove yang punya potensi untuk dikembangkan menjadi tempat wisata
edukasi. Mungkin karena baru menjadi Kota Provinsi jadi masih sibuk bangun SDM
dan bangun kantor baru. Semoga saja pemerintahnya punya komitmen yang tinggi
untuk pembangunan daerah dan mensejahterakan rakyatnya. Punya perencanaan yang
matang dan berkelanjutan dalam membangun daerah. Bukan menjadi sarana untuk
perebutan kekuasaan dan jabatan.
Tuesday, November 13, 2012
Ubikayu: Pangan alternatif yang selalu di anggap murahan
Mungkin tidak sedikit orang yang menganggap
ubikayu adalah makanan yang murahan, kuno dan dikonotasikan makanan untuk orang
kampung dan orang miskin. Pola pikir seperti inilah yang sedang dilawan oleh
Kelompok Tani Wonosari di Desa Bunde, Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju.
Pardio (57 tahun) adalah ketua Kelompok Tani
Wonosari dan memiliki 28 orang anggota. Pardio yang biasa dipanggil Pakde ini
bersama dengan istrinya Suwarti (53 tahun) sudah membuktikan bahwa ubikayu bisa
diolah menjadi berbagai jenis makanan. Bahkan banyak tamu yang tidak tahu bahwa
berbagai menu makanan dan kue-kue yang disajikan di rumahnya ataupun di
berbagai acara resmi pemerintahan seratus persen bahan bakunya dari ubikayu. Kue-kue
yang disajikan banyak macam, rasa yang enak dan rasa ubikayunya seperti sudah
tidak ada.
Sebelumnya Pardio dan warga Desa Bunde hanya
tahu klo ubikayu hanya bisa dimasak dengan cara di goreng ataupun direbus.
Kadang, mereka pun malu menyajikan ubikayu yang direbus dan digoreng tersebut
sebagai sajian untuk tamu.
Melihat berlimpahnya tanaman ubikayu di Desa
Bunde dan di desa sekitarnya, salah satu perusahaan minyak dan gas lepas pantai
yaitu Statoil Indonesia Karama yang sedang melakukan survey dan eksplorasi seismik
melakukan program community development (CSR) dengan memberikan berbagai
pelatihan, pendampingan dan peralatan untuk mengolah ubikayu. Harapannya
kedepan masyarakat bisa mengolah sumberdaya lokal menjadi efektif, berguna dan
bisa menambah pendapatan rumah tangga.
![]() |
| Suwarti (53) istri Pardio yang sedang menyajikan berbagai jenis makanan dari ubikayu dan tepung dari ubikayu |
Sejak pelatihan yang dilakukan pada bulan
Agustus 2012, Pardio dan anggota kelompok taninya sudah bisa membuat berbagai
macam jenis makanan dari ubikayu. Mulai dari kue tradisional seperti; jepa,
tiwul, nasi ubi. Kue basah; brownies, bolu, donat, bakpau serta berbagai jenis
kue kering atau jajanan yang dibuat dari tepung ubikayu. Hasil olahan Kelompok
Tani Wonosari sekarang sudah sering mendapat pesanan berbagai acara resmi
pemerintah daerah.
Pardio yang juga mantan Kepala Desa Bunde
selama 22 tahun ini menyampaikan bahwa keinginannya saat ini adalah mengajarkan
kepada warga sekitar rumahnya untuk bisa mengolah ubikayu menjadi tepung,
sehingga bisa mengolah tepung tersebut menjadi berbagai macam jenis makanan.
Akhirnya warga sudah tidak perlu lagi ketergantungan tepung terigu impor.
“Selama inikan kita tidak pernah diajarkan dan didorong mandiri mengolah
sumberdaya lokal yang ada di desa. Selalu dipengaruhi oleh produk luar dan
cenderung tidak bergizi. Sekarang warga disini sudah tahu bagaimana mengolah
ubikayu menjadi berbagai jenis kue-kue. Bahkan bisa menjadi pengganti beras.
Ubikayu sudah tidak dianggap kuno lagi” ujarnya.
Makanan-makanan olahan dari ubikayu Kelompok
Tani Wonosari juga sudah ikut dalam berbagai pameran. Terakhir ini makanan
olahan dari ubikayu mereka ikut dalam pameran Hari Ulang Tahun Sulawesi Barat
yang dilaksanakan di halaman kantor Gubernur Sulawesi Barat dan pameran Hari
Pangan Sedunia yang dilangsungkan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. “Harapan
saya, upaya yang kami lakukan bisa diikuti oleh kemauan politik Pemerintah
Daerah untuk mendukung pengembangan pangan alternatif selain beras dan
pemanfaatan sumberdaya lokal. Saya ingin anak-anak kita terbiasa mengkonsumsi
ubikayu. Tidak lagi gengsi mengkonsumsi ubikayu dan jajanan yang tidak sehat
dan tidak bergizi bisa dikurangi” ucap Pardio.
Pangan Alternatif dan Kedaulatan Pangan
Apa yang sudah dilakukan Pardio bersama
kelompok taninya merupakan upaya sederhana dari masyarakat yang berada di desa
untuk mengembangkan pangan alternatif dan mengembangkan sumberdaya lokal.
Kedaulatan pangan bisa dimulai dari cara sederhana dan dimulai dari level desa.
Kendala-kendala dalam mengembangkan tanaman
padi di suatu daerah untuk sumber pangan karena pengaruh perubahan iklim,
topografi, sumber air dan mahalnya biaya perawatan tanaman padi bisa diganti
dengan sumber pangan alternatif seperti ubikayu. Tanaman ubikayu cenderung
lebih mudah tumbuh dan tidak rentan terhadap hama seperti yang sering terjadi
pada tanaman padi. Ubikayu yang digolongkan sebagai bahan pangan sumber
karbohidrat dalam setiap per 100 gram mengandung energi 154 kalori, karbohidrat
36,80 gram, protein 1 gram dan lemak 0,30 gram. Ubikayu juga mempunyai
keunggulan berdasarkan aspek ketersediaan dan nutrisi. Keunggulan ini sangat
memungkinkan untuk menjadi faktor pendorong program diversifikasi pangan dengan
ubikayu sebagai kalori alternatif utama.
Indonesia memiliki berbagai macam jenis
pangan alternatif selain beras yang bisa dikembangkan. Ubikayu, ubijalar,
jagung, sagu, kedelai, sorgum, pisang dan talas. Sayang semua sumber pangan
lokal ini belum ada yang dikembangkan secara maksimal. Pemerintah masih belum
berani menutup kran impor dan memberdayakan masyarakat lokal untuk sebuah
kedaulatan pangan dan pengembangan pangan alternatif.
![]() |
| Kue Bolu yang bahan bakunya dari ubikayu |
![]() |
| Kue kering dari ubikayu |
![]() |
| Kue lapis dari ubikayu |
![]() |
| Rengginang dari ubikayu |
![]() |
| Tepung buatan Kelompok Tani Wonosari, bahan baku untuk membuat berbagai macam makanan |
Monday, February 13, 2012
Membangun kepercayaan dengan obat-obatan tradisional
![]() |
| Ida Ayu Rusmarini |
Tidak ada yang meragukan Indonesia adalah sebuah negara kaya akan
sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Salah satu manfaat
keanekaragaman hayati ini adalah menyediakan berbagai macam jenis tanaman yang
bisa dijadikan tanaman obat. Namun karena keterbatasan pemahaman dan keinginan
masyarakat sekitar untuk mengenalnya, potensi keanekaragaman hayati ini
terabaikan serta tidak dimanfaatkan secara optimal.
Banyaknya tanaman-tanaman liar dan tanaman yang ada disekitar yang
bisa dijadikan tanaman obat dan merasa prihatin dengan kemiskinan yang melanda
warga di sekitar kampungnya, serta banyak anak-anak yang putus sekolah membuat
Ida Ayu Rusmarini (52 tahun) kembali ke kampung halaman dan berbuat sesuatu
untuk mereka. Berbekal dengan pengetahuan tentang pertanian dan tanaman-tanaman
obat Ida Ayu Rusmarini mengajak mereka yang tinggal di Banjar Tunom, Desa
Singakerta, Kecamatan Ubut, Kabupaten Gianyar-Bali mengenali tanaman sekitar
dan mengenali khasiatnya.
Lulusan Magister Pertanian Universitas Udayana yang sering dipanggil
Ibu Dayu ini sudah lebih dari lima belas tahun mendampingi dan mengajari warga
sekitar untuk mengenal tanaman-tanaman langka dan tanaman obat. Ibu Dayu juga
mengajarkan cara pijat kesehatan dan massage kepada para ibu-ibu yang kurang
mampu dan bebeberapa perempuan yang ditinggal suami. Saat ini hampir semua
dampingan Ibu Dayu sudah punya usaha sendiri yaitu spa dan massage, salon,
penjualan bibit-bibit tanaman obat dan tanaman langka serta usaha memasak
makanan khas bali. "Saya ingin ibu-ibu disini bangkit dari
keterpurukannya. Menunjukkan kemampuan mereka untuk menjalani kehidupan dan
tidak bergantung kepada orang lain. Sekarang mereka semua sudah mampu
menyekolahkan anak-anak mereka. Tidak ada lagi anak-anak yang putus
sekolah" ungkap Ibu Dayu ketika saya berkunjung ke rumahnya.
Sekarang masyarakat sudah mulai
mengenal jenis tanaman yang bermanfaat untuk obat. Mereka sudah
menanam tanaman obat, tanaman langka,
tanaman upakara dan tanaman lainnya di pekarangan rumah dan di sekolah-sekolah.
Tidak sekedar mengarahkan dan memberi teori, Ibu Dayu membuktikan
apa yang sudah diucapkannya. Lahan disekitar rumahnya yang memiliki luas sekitar
1,5 ha sudah ia tanami 384 jenis tanaman langka, tanaman obat dan tanaman
upakara. Berbagai jenis tanaman obat seperti kluwek, majegau, buah base-base,
daun prasman, bakung putih, kumis kucing dan lain-lain tumbuh liar disamping
rumahnya. Ia mengungkap bahwa tanaman-tanaman obat ini tidak perlu diberikan
perlakukan khusus. Tanaman obat ini harus tumbuh liar setelah ditanam agar
khasiatnya maksimal. Jika dirawat dan diberikan pupuk khasiat tanaman tersebut akan berkurang.
Ibu Dayu sudah membentuk kelompok yang bernama Putri Toga Lurus
Limbung Puri Damai yang anggotanya terdiri dari 45 KK. Selain menanam berbagai
tanaman obat, Ibu Dayu juga mengajarkan kelompoknya membuat minyak penyubur
rambut, membuat lulur, cara massage, memasak, mengajar tari untuk anak-anak dan
lain-lain. Hasilnya, sudah banyak ibu-ibu dampingannya yang membuka usaha
sendiri. Halaman rumah penduduk sekitar sudah penuh dengan tanaman-tanaman
obat-obatan. Anak-anak disekitarnya pun sudah bisa menari tarian bali. Tanaman
obat yang ditanam warga akan ia beli jika dia membutuhkan tanaman-tanaman obat
tersebut untuk pengobatan di kiniknya. Ada beberapa warga yang sudah rutin
menjual dedaunan yang sudah dipotong-potong ke klinik. Saat ini hampir seluruh
Bali sudah ia kunjungi untuk memberikan penyuluhan dan penjelasan mengenai
tanaman-tanaman obat tradisional Bali. Bukan hanya menyadarkan warga sekitar
Bali, Ibu Dayu juga sudah mengajak sekitar 30 rumah makan dan hotel terkenal di
Ubut dan Denpasar untuk menerapkan bio
watertreatment dalam mengelola limbah cairnya. Membuat bak-bak penampungan
sementara dan ditanami tenaman-tanaman penyerap B3 sebelum disalurkan ke sungai
ataupun ke sawah-sawah penduduk.
Nyoman Wendri warga Banjar Tunom mengungkapkan bahwa Ibu Dayu adalah
orang yang sangat perhatian kepada ibu-ibu sekitar dan kepada anak-anak.
Memberikan pendampingan dan pembelajaran kepada warga sekitar secara sukarela.
Ibu Dayu juga melatih anak-anak agar pandai menari tarian-tarian Bali.
"Dia ingin mengangkat martabat dan derajat perempuan. Tidak pernah
pilih-pilih dalam bergaul dan mengajari orang. Kami semua datang dan belajar
karena dia berikan ilmunya secara gratis" katanya.
Mendampingi dan mengajari ibu-ibu agar bisa massage dan pijat
kesehatan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan dan diterima oleh para
suami. Dimata para suami pekerjaan sebagai ahli massage dan pijat adalah
pekerjaan yang cenderung dipandang negatif. Cukup lama Ibu Dayu mencoba
menjelaskan kepada para suami dari ibu-ibu yang diampinginya bahwa pekerjaan
ini adalah murni perkerjaan yang membutuhkan kemampuan dan pekerjaan
profesional. "Rumah saya pernah didatangi oleh salah seorang suami dari
ibu-ibu yang saya dampingi. Dia marah-marah karena istrinya dikira akan
dijadikan PSK karena diajarin pijat. Saya coba jelaskan dan beri pengertian
bahwa kemampuan yang dimiliki sang istri nantinya bisa membantu ekonomi
keluarga dan bisa membantu menyekolahkan anak-anak mereka. Itu terbukti
sekarang. Sekarang sang suami sangat baik kepada kami. Dia bahkan ikut bantu
kerjaan-kerjaan suami saya. Anak-anaknya membantu saya di rumah sepulang
sekolah. Saya tidak mau mereka bekerja disini tapi tidak sekolah"
ungkapnya. Dia juga menambahkan bahwa ada salah satu suami dari perempuan yang
dia dampingi kembali lagi setelah sang perempuan tersebut sukses membuka usaha
spa dan massage. Sebelumnya sang suami pergi ke Kalimantan dan meninggalkan
sang istri.
Ibu Dayu mengungkapkan bahwa dengan peduli dan memperhatikan
lingkungan manusia bisa hidup sehat. Jika manusia itu sehat dia akan menjadi
cerdas. Penyakit datang dikarenakan lingkungan yang tidak bagus. Lingkungan
terkecil sekalipun yaitu lingkungan di rumah tangga harus bagus. Di Bali,
budaya menanam memang harus diterapkan. Apalagi di Bali banyak sekali
upakara-upakara yang membutuhkan berbagai jenis tanaman. Tanaman yang dijadikan
bahan-bahan upakara adalah tanaman-tanaman yang bisa dijadikan tanaman
obat-obatan.
Walaupun lahir dari keluarga dokter dan banyak saudara-saudaranya
yang menjadi dokter, Ibu Dayu tetap memperkenalkan khasiat obat-obatan
tradisional yang berasal dari tanaman-tanaman sekitar dan tanaman langka.
Ketika memulai obat-obatan tradisional masih banyak pasiennya yang meraba-raba
dan coba-coba khasiat obat-obatan tradisional. Setelah mencoba banyak yang
merasakan khasiat dari obat-obatan tradisional tersebut. Dia mengatakan bahwa
reaksi obat-obatan tradisional memang lambat karena butuh waktu untuk diserap
oleh tubuh. Berbeda dengan obat-obatan kimia yang reaksinya cepat. Tetapi saat
ini banyak orang yang resisten dengan obat kimia dan banyak penemuan-penemuan
penyakit yang tidak bisa terobati oleh medis. Oleh karena itu mereka cenderung
kembali ke alam.
Sekarang sudah banyak yang datang ke klinik Ibu Dayu untuk berobat
dengan obat-obatan tradisional atau obat herbal. 40% pasien yang datang ke Ibu
Dayu adalah orang-orang asing atau mancanegara. Rata-rata pasien yang datang
adalah pasien yang menderita penyakit degeneratif atau penyakit yang mengiringi
proses penuaan, seperti penyakit kanker, jantung, diabetes, stroke dan
osteoporosis. 78% pasien yang datang adalah penderita kanker. Ibu Dayu tidak
pernah mematok harga bagi warga sekitar ketika datang berobat. “Saya adalah
seorang dokter alam yang dibayar dengan pisang, ubi dan sayur-sayuran. Karena
mereka yang datang berobat adalah orang yang tidak mampu membayar dengan uang.
Itu tidak masalah bagi saya. Saya senang bisa membantu mereka. Tapi klo
orang-orang luar negeri memang ada harga khusus” ungkapnya.
Ida Ayu Rusmarini yang disaat masih muda sebagai seorang penari Bali ini sudah banyak memprakarsai kegiatan-kegiatan yang
membantu kelestarian lingkungan, khususnya tanaman obat dan pemberdayaan
masyarakat khususnya perempuan dan anak-anak. Perempuan yang selalu semangat
dan selalu tampil ramah ini telah melestarikan kembali terapi dan pengobatan
tradisional Bali. Saat ini Ida Ayu Rusmarini menjadi salah satu nominator Kehati
Award 2011. (EN)
![]() |
| Ibu Dayu sedang memberikan pelatihan pijat kesehatan kepada anggota kelompoknya |
![]() |
| Ibu Dayu sedang mengajarkan tarian bali kepada anak-anak di sekitar rumahnya |
![]() |
| bu Dayu menjelaskan beberapa tanaman yang ditanam untuk menyarap limbah B3 di bak-bak penampungan limbah di salah satu restoran di Ubut |
![]() |
| Salah satu perempuan dampinngan Ibu Dayu telah sukses mendirikan usaha pembibitan |
Subscribe to:
Posts (Atom)















