Tuesday, March 17, 2009

Mendadak ka Garut. Kampung Dukuh

Malam itu ketika sedang nyantai menyantap makan malam di kedai telapak saya diajak ngobrol oleh Big Boss. The Big Boss meminta saya untuk menemani dua orang tamu dari Scotland beserta anaknya yang baru berumur satu tahun mengunjungi sebuah kampung di Garut. Disaat saya menanyakan dimana letak posisi tuh kampung, beliau ini tidak ada yang tahu dimana persisnya kampung tersebut berada. Informasi yang saya terima adalah perjalanan dari Garut ke kampung tersebut adalah sekitar lima jam. Semakin bingung dan penasaranlah saya, kampung apa tuh lima jam dari Garut? Garut-Ciamis saja saja tidak sampai lima jam perjalanannya.


Akhirnya kamis sore tanggal 12 Maret 2009 bersama dengan mobil taft hiline long sasis saya meluncur menuju Garut. Berangkat dari Bogor mungkin sekitar pukul delapan malam. Malam itu perjalanan dari pintu tol Bogor sampai dengan pintu tol Cileunyi cukup sepi dan perjalanan berjalan lancar. Kami tiba disana sekitar pukul 23.30 WIB dan langsung menuju sebuah penginapan di daerah cipanas karena perjalanan menuju kampung tersebut baru akan dilanjutkan paginya setelah bertemu dengan teman-teman dari Garut. Perjalanan ka Garut yang mendadak ini membuat jadwal saya yang rencananya ingin jadi pemulung bersama teman-teman yang ada di Bogor untuk membersihkan sungai ciliwung tidak jadi. Kemaren setelah tiba di Bogor dan mendapat cerita bahwa banyak teman-teman yang bergabung menjadi pemulung (sekitar 80 orang) membuat saya iri dan merasa bersalah karena tidak bisa datang :(


Paginya setelah bertemu dengan teman-teman di Universitas Garut, berdiskusi mengenai tujuan kunjungan kami kepada beberapa dosen yang ada di universitas tersebut dan petugas kehutanan (BP DAS) Garut, kami langsung menuju desa yang ingin kami kunjungi. Berdasarkan informasi dari teman-teman di Garut, memang benar bahwa untuk mencapai desa tersebut dibutuhkan waktu sekitar lima jam dari Garut.


Kampung Dukuh

“Selamat datang di komplek kampung adat DUKUH”. Itulah tulisan yang akan kita baca disebuah plang disaat akan memasuki kampung ini. Plang yang posisinya sudah miring dan banyak ditempel stiker-stiker partai dan para calon legislatif.


Perjalanan menuju kampung ini memang cukup jauh. Sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi karena kondisi jalannya yang banyak tikungan dan naik turun menyisiri bukit hingga tembus ke pantai membuat laju kendaraan tidak bisa cepat. Dari Garut kita menuju ke Kecamatan Pamengpeuk trus lanjut menuju Kecamatan Cikelet. Dari Cikelet menuju kampungnya juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Kondisi jalan yang berbatu-batu dan berlobang membuat perjalanan yang jaraknya kurang lebih 7 km ini membutuhkan waktu sekitar satu jam. Mobil-mobil kecil dan rendah tidak akan bisa masuk ke desa ini.


Ketika saya menginap beberapa hari di Kampung Dukuh, saya melihat kampung ini adalah salah satu kampung kecil yang mencoba mempertahankan adat dan budayanya yang masih tersisa ditengah gencarnya pengaruh kehidupan modern dan kemajuan teknologi. Kampung yang masih asri, damai dan tenang. Bangunan rumah yang semuanya sama yaitu terbuat dari bambu (dinding gedeg), kerangka rumah dari kayu dan atapnya terbuat dari ilalang dan dilapisi ijuk rumbia. Tidak ada penerangan dari listrik dikala malam hari. Kebisingan malam hari hanya karena suara jangkrik dan binatang malam, bukan dari riuhnya sinetron-sinetron yang ada di setiap channel televisi.


Kampung Dukuh terletak di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet. Secara adat kampung ini dipimpin oleh Kuncen. Konon dulu kampung ini didirikan oleh Ki Candra Pamulang dari Cidamar, Cidaun, Cianjur Selatan yang kemudian setelah datangnya Syeh Abdul Jalil dari Sumedang, kampung ini diserahkan kepada Syeh Abdul Jalil. Syeh Abdul Jalil dulunya adalah seorang Penghulu Raja di Sumedang dan membuka sebuah pesantren di pinggiran Kota Sumedang. Kuncen yang memimpin sekarang ini adalah generasi yang ke-14 yaitu Ajengen Uluk Lukman Hakim yang lahir pada tanggal 10 September 1957. Kuncen dipangku secara turun temurun berdasarkan keturunan atau hubungan darah.


Kampung Dukuh terbagi menjadi dua. Dukuh Dalam dan Dukuh Luar. Yang memisahkan antar perkampungan ini hanya sebuah pagar bambu saja. Perbedaanya hanya pada aturan dan pola kehidupannya masyarakatnya. Di kampung luar sudah boleh ada listrik, warung, bangunan menggunakan semen dan beratap genteng, dll. Sementara di kampung dalam harus mengikuti aturan adat yang sudah ada. Penuh dengan kesederhanaan dan tradisional sunda.


Kampung Dukuh dalam terdapat 99 jiwa dan 30 KK. Sedangkan Dukuh Luar terdapat sekitar 307 jiwa dan 59 KK. Sebuah kampung yang cukup kecil sebenarnya. Luas kampung tesebut hanya sekitar 1,5 ha. Saya tidak tahu berapa luas lahan garapan dan berapa luas totalnya jika digabungkan dengan luas kampung mereka. Kampung Dukuh juga memliki hutan larangan (15 ha) yang tidak boleh dimasukin oleh siapaun juga kecuali untuk berdoa dan upacara adat. Di hutan larangan ini terdapat beberapa makam para tokoh yaitu Makam Syeh Abdul Jalil, Makam anaknya Syeh Abdul Jalil yaitu Hasan Husein, Makam Kuncen yang pertama dan beberapa makam pembantu syeh serta pembantu kuncen. Disana juga terdapat makam orang-orang dari Kampung Dukuh. Setiap hari sabtu banyak tamu yang datang ke kampung ini untuk berziarah. Mulai yang datang dari Jakarta, Bandung, Garut, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya. Tapi uniknya PNS (Pegawai Negeri Sipil) dilarang masuk dan berziarah ke hutan larangan. Selain itu juga dilarang bagi yang non muslim.


Ketika saya berbicara dengan Kuncen, beliau sekarang ini berniat untuk menghijaukan kembalil Kampung Dukuh. Mengajak masyarakatnya menanam kembali lahan-lahan yang sudah gersang dan gundul akibat penebangan. Hanya beliau tidak ingin ada bantuan dari pemerintahan atau sebuah perusahaan perkebunan. Karena akan menambah masalah bagi beliau dan terkadang bantuan yang diharapkan tidak efektif.


Klo menurut saya niat Kuncen bukanlah hal yang mustahil bisa terwujud. Karena luas wilayah yang tidak begitu luas dan beliau bisa menggerakkan masyarakatnya. Tinggal bagaimana kita menyampaikan saja ke teman-teman lainnya apakah ada teman kita yang bisa bantu untuk mewujudkan mimpi Kuncen.


Saya membayangkan kampung yang kecil dan penuh kesederhanaan ini bisa rimbun, hijau, banyak pepopohan besar sehingga keasrian, kedamaian, kesejukan yang sudah ada di kampung ini bertambah dan berlipat-lipat. Masyarakatnya bisa menjaga hutannya kembali dan tingkat pendapatan meraka dari sumberdaya alam yang ada semakin baik. Perekonomian mereka semakin baik. Masyarakatnya semakin kompak dan tetap memegang teguh budaya dan adat mereka. Mereka bisa bangga dengan adat dan budaya yang mereka miliki, bukan ikut hanyut dan tenggelam karena derasnya budaya luar yang masuk ke kampung mereka.

Ahh betapa indah dan serasinya suatu kampung jika apa yang saya bayangkan bisa terwujud. Mimpi kuncen bisa terwujud. 10 Pepeling atau Nasehat Adat Sunda Parahiyangan ngolah lahan anu arif dan bijaksana. Lingkungan lestari bisa terwujud.


Berikut 10 Pepeling yang sudah turun temurun yang ada di budaya sunda.

1. Gunung – Kaian : Gunung-gunung ditanamin kayu-kayu atau pohon

2. Gawir – Awian : Sebuah lerengan ditanamin bambu

3. Cinyusu – Rumateun : Mata air untuk dirawat atau dijaga

4. Sempalan – Kebonan : Suatu daerah atau kawasan datar ditanamin untuk kebun

5. Pasir – Talunan : Bukit ditanamin pohon-pohon keras

6. Dataran – Sawahan : Daerah yang datar dijadikan sawah

7. Lebak – Caian : Daearah bawah harus diberi air

8. Legok – Balongan : Kalau lobang dijadikan kolam

9. Situ – pulasaraeun : Danau untuk dipelihara, dijaga dan dikelola

10. Lembur – Uruseun : Kampung untuk dikelola






Tuesday, March 3, 2009

Listrik Tenaga Air

Saya sangat senang sekali dalam melakukan perjalanan beberapa bulan belakangan ini (Desember 2008-Februari 2009). Mulai dari perjalanan ke Desa Sukamulya, Kecamatan Tanjung Raja, Lampung Utara. Ke Desa Pekandangan, Kecamatan Pubian, Lampung Tengah. Dan terakhir beberapa minggu yang lalu berkunjung ke Desa Cibuluh, Kecamatan Cidaun, Cianjur Selatan. Saya senang karena saya bisa melihat langsung bagaimana masyarakat desa bisa berinovasi dan kreatif dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. Hemat dan Efisien.

Salah satu inovasi yang mereka lakukan adalah membuat energy listrik dari tenaga air atau yang lebih dikenal dengan Pembangkit Microhydro. Pembangkit listrik tenaga air ini mudah sekali membuatnya. Hanya membutuhkan aliran air yang stabil dan tidak kering disaat musim kemarau. Biaya yang dibutuhkan juga tidak terlalu mahal. Apalagi jika dibuat secara bersama-sama dan secara swadaya. Masyarakat tidak perlu lagi tergantung dengan Listrik dari PLN yang semakin lama semakin krisis keadaannya dan biaya pasang serta tagihannya juga sangat mahal.

Disini saya tidak mau membicarakan bagaimana cara membuat Listrik Mikrohydro ini. Karena saya tidak paham mengenai mekanisme detail cara membuatnya. Baik itu yang sederhana (terbuat dari kincir kayu) ataupun yang sudah menggunakan mesin turbin yang menghasilkan energy puluhan ribu watt. Jika ada yang beminat mempelajarinya secara detail silahkan berkunjung ke salah satu desa yang saya sebutkan tadi. Disini saya hanya akan menceritakan apa manfaat energy microhydro ini dari sisi ekonomi dan sisi ekologis dari pengalaman saya berkunjung ke tiga desa tersebut. Bagaimana masyarakat di tiga desa tersebut sudah sadar akan pentingnya kelesatarian hutan bagi desa mereka dan secara bersama-sama membangun desa. Sekarang masyarakat di tiga desa tersebut sudah kompak dalam menjaga kelestarian hutannya.

Desa Sukamulya

Saya berkunjung ke desa ini pada bulan Desember tahun lalu. Setelah pulang dari Bengkulu saya dan teman-teman dari Depatemen Kehutanan mampir ke desa ini. Niat kami kesini adalah untuk mendokumentasikan kegiatan Hutan Kemasyarakatan yang dilakukan oleh beberapa kelompok tani di Desa Sukamulya.

Desa Sukamulya cukup jauh lokasinya dari jalan raya (Lintas Sumatera). Untuk menuju kampunnya juga diperlukan mobil yang memiliki double garden. Karena jalan menuju desa masih jalan tanah dan berbatu. Apalagi ketika kami kesana musim hujan. Jalanan penuh lumpur dan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke desa. Ditengah perjalanan mobil kami sempat slip dan tidak bisa melewati tanjakan yang berlumpur. Akhirnya harus menunggu bantuan mobil kampas yang ke empat rodanya sudah dililit rantai untuk menarik mobil-mobil kami. Di tengah malam yang gelap dan hujan kami masih bergelut dengan lumpur.

Keadaan desa Sumbermulya masih cukup asri. Dibelakan desa penuh dengan ladang-ladang kopi dan tanaman keras lainnya. Sesuai dengan ketentuan HKM yaitu menanam tanaman berkayu disela-sela tanaman lainnya, didesa ini sudah cukup banyak pohon-pohon keras yang ditanam. Mulai dari Mahoni, Kemiri, Durian, dan tanaman berkayu lainnya.

Sebelumnya seluruh masyarakat desa ini membuat ladang secara sembunyi-sembunyi diareal hutan lindung. Tapi sekarang setelah mendapat izin kelola selama 35 tahun dari Departemen Kehutanan, masyarakat desa sudah nyaman dan tidak takut lagi membuat ladang disana. Mereka juga sudah sadar, agar tetap diizinkan untuk bercocok tanam diladang mereka harus menjaga kondisi hutannya untuk tetap baik dan menanam tanaman berkayu disela-sela tanaman mereka.

Karena kondisi air sungainya cukup baik dan didesa ini tidak masuk listrik dari PLN. Masyarakat desa berinisiatif membuat kincir-kincir yang menghasilkan energy listrik untuk satu rumah. Karena sudah ada yang berhasil menghasilkan listrik dari aliran air sungai, beberapa masyarakat desa Sukamulya secara swadaya membeli mesin turbin yang cukup besar yaitu sekitar 5000 watt. Satu turbin 5000 watt bisa menerangi 10-15 rumah. Dan beberapa rumah juga bisa menonton televisi. Listrik selalu menyala selama 24 jam. Terkadang siang haripun dibiarkan menyala. Selagi air sungai ini tidak kering dan mesinnya tidak rusak, listrik akan selalu menyala.

Sekarang mereka sudah tidak perlu menunggu lagi kehadiran listrik masuk desa dari PLN. Sudah hampir lima tahun PLN yang lalu PLN berjanji untuk menerangi desa mereka. Tapi janji itu tidak pernah ditepati. Sekarang mereka sudah tidak peduli lagi dengan janji-janji PLN.

Karena merasakan langsung manfaat air sungai di desa mereka. Beberapa masyarakat di Desa Sukamulya sudah mulai menjaga agar debit air sungai tetap stabil. Tokoh-tokoh masyarakat dan ketua kelompok tani sudah mengajak anggotanya untuk memperhatikan kondisi hutan dan lingkungan desa. Mereka tidak ingin energy listrik dari pembangkit microhydro ini hilang ataupun rusak. Mereka juga tidak ingin izin kelola yang diberikan oleh pemerintah kepada warga dicabut karena tidak bisa mengelola lahan dan menjaga hutannya.

Desa Pekandangan

Ketika sampai disebuah desa yang lokasinya lumayan jauh dari Kota Metro ini, pemandangan dan hawa yang dirasakan sangat berbeda. Serasa berada di daerah Jawa Barat (di seputaran Halimun), bukan di Lampung. Lampung yang terkesan gersang dan panas. Tapi di desa ini, sangat sejuk, sawah menghampar disekeliling desa. Sumber air melimpah dan mengalir jernih.

Desa Pekandangan berada di hulu sungai, yaitu Way Seputih dan Way Sekampung. Masyarakat Desa Pekandangan hampir seluruhnya adalah para migran dari suku sunda dan jawa. Dulunya masyarakat ini adalah pekerja di sebuah perusahaan kayu. Namun sekarang perusahaan tersebut telah lama berhenti beroperasi.

Uniknya setelah mereka melakukan penebangan dan merambah hutan, sekarang mereka malah berbalik untuk menjaga hutannya. Kondisi kampong sudah hijau dan asri kembali.

Karena sumber airnya melipah dan belum ada akses listrik yang masuk ke kampung mereka, akhirnya mereka mempunyai inisiatif membangun listrik bertenaga air. Dimualai dari sebuah kincir sederhana yang terbuat dari kayu, akhirnya mereka membuat kincir yang permanent dari besi dan plat. Sungguh menarik dan membuat saya kagum atas inisiatif-inisiatif mereka. Kampung mereka tidak gelap lagi disaat malam tiba. Mereka bisa menikmati siaran televisi dan anak-anak belajar tidak lagi dengan sebuah lampu templok ataupun lilin.

Melalui organisasi masyarakat desa, mereka kini bersemangat untuk menjaga keadaan hutan yang ada dikampung mereka. Menjaga sumber air yang ada. Untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat desa, kini mereka mencoba meningkatkan pembudidayaan tanaman sengon (albasia) yang ada diladang-ladang masing-masing individu.

Desa Cibuluh, Gunung Simpang

Kampung yang lokasinya berada di Cianjur Selatan ini memang sedikit tersembunyi. Saya sendiri baru tahu ternyata di Jawa Barat masih ada sebuah desa yang sangat sulit dijangkau oleh kendaraan. Untuk menuju desa ini dibutuhkan kendaraan double gardan. Jalan yang barbatu dan sempit membuat sulit kendaraan menuju desa. Apalagi disaat saya dan teman-teman dari samdhana institute ingin melakukan kunjungan kesana, selama perjalanan dihari itu selalu hujan. Banyak tanah-tanah longsor disepanjang jalan.

Perjalanan menuju Desa Cibuluh sangat berkesan bagi saya. Baru pertama ini selama di Jawa Barat saya membawa mobil yang kondisi jalannya sedemikian rupa. Berbatu, tikungan yang sangat tajam dan disertai tanjakan-tanjakan yang membuat hati deg-degkan. Selama perjalanan juga banyak turunan yang curam dan kiri kanan jalan jurang. Tambah seru lagi karena perjalanan menuju desa tersebut malam hari. Kami tiba di Desa Cibuluh pada pukul dua dini hari.

Di desa ini saya kembali melihat pembangkit tenaga listrik dari air. Namun beberbeda dengan dua desa yang saya kunjungi seblumnya, di Desa Cibuluh ini mesin pembangkitnya sudah cukup besar yaitu berkapasitas 18000 watt, yang bisa menerangi sekitar 80 rumah dan sarana public seperti masjid dan balai desa. Dengan adanya bantuan hibah dari lembaga donor yang ada di Jakarta sekarang ini pembangkit listrik yang ada di Desa Cibulu sudah dikelola secara swadaya oleh masyarakat desa.

Cagar Alam Gunung Simpang merupakan kawasan hutan konservasi yang berbatasa langsung dengan Desa Cibuluh. Masyarakat yang ada di desa ini mulai dari yang tua sampai dengan yang muda sudah secara bersama-sama menjaga kondisi hutannya. Disaat saya berkunjung kesana, anak-anak sekolah madrasah yang ada di Desa Cibuluh sedang melakukan penanaman di kawasan hutan desa. Mereka ingin hutan yang ada di desa mereka tetap hijau dan bertambah rimbun. Sebuah lembaga desa yaitu Raksa Bumi menambah semangat dan keyakinan masyarakat untuk menjaga hutan yang ada di desa mereka.

Dengan melihat ketiga desa ini yang sudah memiliki pembangkit listrik tenaga air membuat saya bertambah yakin air adalah sebuah sumberdaya alam yang sangat penting bagi manusia dan tidak akan bisa dipisahkan dari kehidupan manusia di bumi ini. Masyarakat desa seharusnya tidak perlu menggantungkan hidupnya kepada PLN untuk mendapatkan listrik. Ada sebuah solusi yang lebih tepat, efisien, dan ramah lingkunga. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro solusinya.

Thursday, February 5, 2009

SIAPA YANG SALAH

Cerita berikut ini adalah sebuah cerita seorang petani sawit yang saya temui beberapa bulan yang lalu (Desember 2008) yang tinggal di perbatasan Pusat Latihan Gajah (PLG), Seblat, Bengkulu Utara. Saya menginap di pondok beliau selama lima hari. Disebuah podok yang sangat sederhana yang terbuat dari papan-papan bekas dan bambu. Berdirinya pondok inipun sudah tidak lurus lagi alias hampir roboh karena dimakan usia.

Saya mengunjungi keluarga petani sawit ini karena berdasarkan informasi yang saya dapat, hanya beliau inilah yang sampai sekarang masih bertahan di jalan koridor yang membelah kawasan PLG Seblat, Bengkulu Utara. Sebuah jalan yang dibuat oleh perusahaan kelapa sawit (PT Alno) pada tahun 2004 dengan MoU antara PT Alno dan BKSDA Bengkulu yang juga mendapat persetujuan dari pejabat di Manggala Wanabakti.

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di posting sebelumnya tentang status PLG Seblat, yaitu Hutan Produksi dengan fungsi khusus yang secara prinsip pengelolaannya dibawah Dinas Kehutanan. BKSDA Bengkulu sebenarnya tidak punya wewenang dalam pembuatan dan persetujuan MoU yang telah dibuat.

Beberapa bulan sebelum saya datang, disepanjang jalan ini ramai sekali masyarakat yang masuk untuk merambah dan membuat ladang di kawasan PLG Seblat. Sebagian tanaman sawit yang mereka tanam sudah membuahkan hasil. Namun, tak berapa lama setelah itu para perambah ini meninggalkan ladang mereka karena adanya operasi penangkapan oleh Polda Bengkulu terhadap beberapa perambah yang diduga memperjualbelikan tanah kawasan. Hampir seluruh tanaman sawit dan tanaman lainnya yang ada disepanjang jalan poros inipun sudah habis dimakan dan dinjak-injak gajah liar.

Nah, dari latar belakang beberapa permasalahan yang terjadi di PLG Seblat ini. Saya mencoba mencari informasi kenapa masyarakat tersebut merambah dan membuka lahan di kawasan PLG Seblat dan mengapa mereka cenderung ingin menanam kelapa sawit di ladang mereka. Informasi ini kami coba gali untuk melanjutkan sebuah film dokumenter yang pernah kami buat mengenai ancaman satwa Gajah Sumatera yang terdapat di Bengkulu.

Dari cerita yang saya buat ini silahkan menilai sendiri sebenarnya siapa yang salah. Masyarakat (perambah), Dinas Kehutanan, BKSDA Bengkulu, Pemerintah Daerah, Gajah, atau mungkin Tuhan yang salah??!!

Lahmudin. Itulah namanya. Umur beliau sudah 65 tahun. Tinggal disebuah pondok bersama seorang istrinya Jarinah (50 th). Disaat pertama kali saya datang menemui mereka, mereka merasa takut dan bertanya-tanya. Khawatir mereka akan diusir dari ladang mereka yang sudah mereka tempati dari beberapa tahun yang lalu. Mereka menduga saya dari petugas kehutanan.

Setelah beberapa hari tinggal bersama mereka, Pak Lahmudin baru mau bercerita secara terbuka dan tidak takut lagi terhadap saya. Beliau menceritakan bagaimana kehidupan kerluarganya, latar belakang mereka membuat ladang disini, ketakutan mereka dan harapan mereka terhadap ladang yang sudah mereka buat selama ini.

Pada tahun 2000 karena diajak oleh beberapa teman dan keluarga yang ada di kampung (Dusun Pulau) untuk membuat ladang dihutan, akhirnya Pak Lahmudin ikut membuat ladang. Dulu orang-orang kampung ini membuat ladang jauh dari kampung yaitu disekitar areal PT Maju. Mereka menanam tanaman kopi di ladang mereka. Karena sudah ada akses jalan didaerah PLG Seblat, maka beberapa orang kampung inipun bergerak menuju kawasan PLG Seblat untuk membuat ladang disepanjang jalan poros PT Alno. Sebuah jalan yang memotong kawasan PLG Seblat untuk pengangkutan hasil kelapa sawit ke pabrik. Konon disepanjang jalan ini masih berhutan dan semak belukar yang tidak ada penghuninya. Entah karena mereka tidak tahu kawasan ini adalah kawasan PLG Seblat atau pemerintah daerah serta petugas kehutanan tidak memberi tahu mengenai status kawasan, akhirnya mereka menebang, membersihkan lahan dan menanam disana.

Luas lahan yang digarap oleh Pak Lahmudin dan istrinya sekitar 2,5 ha. Beberapa areal sudah ditanam kelapa sawit, dan sebagiannya lagi ditanam tanaman muda, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Seperti para petani lainnya yang ada di Bengkulu. Pada awal membuka lahan, setelah dibersihkan dan dibakar. Mereka akan menugal padi (menanam padi darat). Humus tanah setelah pembakaran sangat baik untuk tanaman padi. Setelah panen padi barulah mereka menanam tanaman keras.

Saya sempat iseng menanyakan kepada Pak Lahmudin. "Mengapa bapak menanam sawit? Apakah tidak ada tanaman lain selain sawit?". "Pada saat saya membuka ladang ini, perkebunan Alno baru buka. Mereka banyak sekali menanam kelapa sawit. Ketika saya duduk di depan pondok saya, saya melihat aktivitas mereka. Lalu lalang membawa bibit-bibit kelapa sawit. Dari sana saya jadi berfikir. Nanti ketika mereka memanen hasil tanaman sawitnya, saya akan menjadi penonton saja kalo saya tidak ikut menanam sawit. Saya juga harus menanam sawit." Jawab beliau terhadap pertanyaan saya.

"Dulu saya tidak tahu berapa harga buah sawit perkilonya. Yang penting saya ikut menanam saja. Pertama kali panen harganya perkilo klo tidak salah seratus rupiah. Terus naik menjadi 200, naik lagi 300, tahun berikutnya naik 400 rupiah. Baru tahun 2008 ini saya bisa menikmati harganya per kilo sampai 1.400 rupiah" lajutnya.

Disaat melihat aktivitas sehari-hari yang dilakukan Pak Lahmudin, saya menjadi tahu dan bisa merasakan betapa berat menjalani kehidupan disini. Hanya berdua ditempat yang sepi. Disaat malam tiba, daerah ini sangat gelap karena tidak ada penerangan dari lampu-lumpu listrik. Tetanggapun sudah tidak ada karena semua teman-temannya balik ke kampung pasca operasi penangkapan para perambah. Banyak satwa-satwa liar yang ada didalam kawasan, termasuk mamalia terbesar di Indonesia yaitu satwa gajah.

Pernah ditengah malam sekitar jam 10 malam terdengar suara teriakan gajah liar. Nyaring dan membuat hati kecut. Posisinya tidak jauh dari pondok Pak Lahmudin. Dengan sigap Pak Lahmudin bangun mengambil senter dan membawa kentongan lalu berjalan menuju ke ladang sawitnya. Saya yang saat itu penasaran bagaimana caranya mengusir gajah malam-malam, akhirnya ikut beliau. Malam itu sangat-sangat gelap. Tidak ada cahaya apapun ditengah-tengah ladang sawit kecuali cahaya senter kita berdua. Saya berfikir didalam hati, bagaimana caranya mengusir gajah malam-malam gelap gulita begini yang klo mereka berkelompok sangat banyak jumlahnya. Tubuh gajah sangat besar. Klo tiba-tiba ada dibelakang kita dan mereka menubruk atau menginjak kita?. Wassalam sudah. "Gila ini perjuangannya membuat ladang disini. Udah sepi, banyak gajah liar, gelap pula" gumamku didalam hati.

Malam itu Pak Lahmudin memukul-mukul kentongan dan berteriak untuk mengusir gajah agar tidak mendekati ladangnya. Kami berdiri diatas sebuah punggungan di ladang tersebut. Saya sempat kaget dan merinding ketika berjalan menuju punggungan, ada seekor musang yang cukup besar melompat didepan saya. Saya langsung mengarahkan cahaya senter kearah musang tersebut dan akhirnya bisa bernafas lega. Untung musang yang melompat didepan. Klo seandainya harimau sumatera yang datang? Mungkin saya bisa langsung pingsang ditempat.

"Klo gajah ini berkelompok saya masih bisa mengusirnya, karena mereka bersuara. Tapi klo dia datang sendiri, habis sudah tanaman sawit saya. Karena dia datangnya diam dan tidak ada suara" ucapnya kepada saya ditengah malam itu. Saya merasa prihatin sekali dengan beliau. Dimana umur beliau yang sudah tua ini seharusnya sudah bisa duduk santai dirumah, menggendong cucu yang manis dan lucu serta menikmati hari-hari tuanya. Bukan di tengah-tengah ladang sawit yang gelap dan penuh dengan resiko.

WILAYAH ABU-ABU

Mungkin inilah yang disebut dengan wilayah abu-abu. Sebuah lahan atau kawasan yang tidak jelas statusnya. Banyak informasi yang tidak jelas yang diterima oleh Pak Lahmudin dan beberapa masyarakat kampung sekitar mengenai status kawasan yang mereka tempati. Pihak PT Alno mengklaim lahan tersebut adalah lahan perkebunan milik mereka. Sementara pihak PLG sendiri mengklaim lahan tersebut adalah kawasan PLG Seblat. Lahan yang ditempati Pak Lahmudin dan beberapa orang disana posisinya berada di antara Perkebunan Alno dan Kawasan PLG Seblat. Dampak yang jelas terjadi dari ketidakjelasan itu adalah perambahan, jual beli tanah, keributan dan beberapa masyarakat yang dirugikan. Mungkin juga pemerintah daerah yang dirugikan karena harus mengeluarkan anggaran untuk menyelesaikan konflik yang terjadi disana.

Kenapa bisa tidak jelas statusnya?
Sepulang dari lapangan saya mencari tahu apa penyebabnya. Saya menemui beberapa orang di Bengkulu dan bertanya mengenai sejarah lahan tersebut. Dari jawaban yang didapat, ada beberapa informasi mengatakan bahwa wilayah itu memang sengaja dibuat samar-samar. Dulu saat dilakukan pengukuran oleh klo tidak salah Dinas Kimpraswil, ada beberapa oknum yang sengaja membuat wilayah itu menjadi abu-abu atau tidak masuk dalam tata batas. Kemungkinan oknum tersebut ingin mendapatkan lahan tersebut untuk kepentingan pribadi. Ini sebenarnya yang harus dicek dan ditelusuri kebenarnya. Dicari solusi yang terbaik untuk menyelesaikan masalah yang berlarut-larut ini.

Bagi Pak Lahmudin lahan itu adalah harta satu-satunya yang ia miliki. Beberapa lahan yang ia miliki didekat kampunya sudah ia berikan kepada anak-anaknya yang sudah berkeluarga. Walau bagaimanapun beliau akan tetap bertahan karena ditempat inilah beliau bisa bertahan hidup dihari tuanya. Besar sekali harapannya terhadap hasil sawit yang ia tanam beberapa tahun yang lalu. Terlebih lagi ketika ditahun 2008 harga tandan sawit per kilo-nya melambung tinggi. Niat untuk menjalankan rukun islam yang kelimapun yaitu naik haji, seakan bisa diwujudkan. Namun, mejelang akhir tahun 2008 harapan itu seakan sirna. Krisis global yang menimpa hampir diseluruh negara didunia ini juga berdampak buruk terhadap seluruh petani sawit yang ada di pelosok-pelosok negeri. Harga sawit terjun bebas seolah tak peduli dengan jeritan para petani. Mereka yang pada tahun itu bermimpi menjadi kaya dan sudah mengkonversi seluruh lahan yang mereka miliki menjadi kebun sawit, hidup seperti tidak punya harapan. Lahan-lahan produktif sudah terlanjur ditanami tanaman kelapa sawit. Bahkan sawah-sawah yang selalu menghasilkan beras beratus-ratus kilo setiap tahunnya diganti dengan tanaman kelapa sawit.

Sama dengan halnya Pak Lahmudin. Kecewa teramat sangat dengan turunnya harga tandan sawit. Ketidakjelasan status lahan. Harga kelapa sawit yang yang tidak menentu, membuat Pak Lahmudin terkadang termenung kosong memikirkan bagaimana harus menghabisi hari-hari tuanya.

"Klo hama gajah, walaupun malam, siang, masih bisa saya menghadapinya. Tapi klo hama PLG (petugas PLG, Polhut-red) yang datang, tidak bisa saya mengatasinya. Itulah hama yang paling sulit diatasi". Saya akan pergi dari sini jika jalan ini ditutup. Pemerintah atau PLG harus adil. Jangan hanya perusahaan saja yang boleh mengakses jalan ini, sementara kita rakyat kecil di usir" keluh beliau kepada saya disaat saya mewawancarainya.

The Problems is Simple. Kerjasama.

Judul diatas merupakan salah satu kesimpulan saya ketika mencoba mewawancarai beberapa pihak yang berhubungan dengan upaya penyelamatan DAS Air Bengkulu. Baik NGO, Pejabat Kota/Kepala Dinas dan Masyarakat yang berada di hulu dan hilir DAS Air Bengkulu.

Yup, sudah dua minggu ini saya dan beberapa teman di NGO Lokal di Bengkulu yaitu Ulayat, mencoba menggali dan mendokumentasikan perkembangan upaya penyelamatan DAS Air Bengkulu.

DAS Air Bengkulu adalah salah satu DAS (Daerah Aliran Sungai) yang terdapat di Provinsi Bengkulu. DAS yang memiliki luas areal sekitar 51.500 ha sampai saat ini banyak sekali dimanfaatkan oleh masyarakat Bengkulu dari hulu sungai hingga hilir atau muara sungai. Namun sangat disayangkan, banyaknya orang yang masih ketergantungan dengan aliran sungai ini tidak diikuti dengan banyaknya orang yang sadar untuk menjaga keberadaan dan kelestarian air yang ada di sungai tersebut.

Ada tiga sub-DAS yang mengalir ke DAS Air Bengkulu, yaitu Sub-DAS Susup seluas 9.890 ha, Sub-DAS Rindu Hati 19.207 ha dan Sub-DAS Air Bengkulu Hilir seluas 22.402 ha.

Seminggu yang lalu saya sempat mencoba menyusuri keberadaan DAS Air Bengkulu ini dari hulu hingga hilir. Salah satu hulu DAS Air Bengkulu yang berada di sebuah desa kecil yang agak menjorok kedalam yang terdapat di Kecamatan Taba Penanjung, Bengkulu Tengah (Beberapa bulan yang lalu masih tergabung didalam Kabupaten Bengkulu Utara) yaitu Desa Rindu Hati. Nama desa yang sangat gampang diingat.

Di desa ini saya bisa menikmati jernihnya air sungai yang mengalir dengan tenang. Seakan air ini sangat senang berada di desa tersebut. Pagi yang cerah saat itu. Suara burung yang ribut membuat suasana pagi ini serasa lengkap. Masyarakat desa sudah mulai satu persatu berangkat ke ladang dan ke sawah yang berada tak jauh dari desa. Menyebrangi sungai yang ada dibelakang desa. Berjalan kaki tanpa alas kaki mengikuti jalan setapak yang berada disepanjang sungai. Terlihat sekali mereka hidup sangat harmonis dengan air sungai yang ada disana.

Di Desa Rindu Hati yang mayoritas penduduknya adalah Suku Rejang ini terdapat 6 anak sungai dan mungkin puluhan atau ratusan mata air. Anak-anak sungai yang ada ini akhir menyatu ke sungai besar yang ada di hulu kampung, yaitu Sungai Bengkulu.
Konon katanya di Desa Rindu Hati ini adalah keturunan para raja dari Raja Sungai Serut. Awal dari semua ini karena Putri Dayang Perindu melarikan diri dari Muara Bengkulu ke Hulu Sungai (yang berada di Desa Rindu Hati saat ini). Sang Putri melarikan diri karena tidak mau dijodohkan dengan para raja yang berasal dari Aceh. Setelah melarikan diri, sang kakak dan beberapa orang kerajaan menyusul keberadaan putri ke hulu sungai. Sebelum menyusul sang putri, sang putri sempat memberikan pesan yaitu “jika ingin menyusulnya, bawalah satu ekor ayam dan satu ekor burung terkukur. Jika ayam dan burung tersebut berbunyi, berhentilah disitu dan buatlah desa. Saya akan tinggal disitu”. Ayam dan burung tersebut berbunyi ketika mereka sampai dilokasi Desa Rindu Hati sekarang. Disitulah mereka membuat desa. Dan Itulah awal mula Desa Rindu Hati.

Berada didesa Rindu Hati memang sangat menyenangkan. Selain suasana kampung yang masih asli juga terdapat sawah yang menghijau dengan dilatar belakangi oleh bukit-bukit. Desa ini memang berada di lembah didataran tinggi Bengkulu.
Selama dua malam berada di Desa Rindu Hati membuat saya sedikit paham dan mengetahui permasalahan apa saja yang terjadi di desa ini mengenai upaya untuk penyelamatan hulu sungai. Pertama, sulitnya mengotrol masyarakat pendatang yang berada dihulu untuk tidak merusak keberadaan hutan disepadan sungai dan dihulu. Kedua, pendapatan masyarakat yang hanya mengenal sistem pertanian yang terkadang kurang paham dengan masalah ekologis yang akan ditimbulkan jika membuka sebuah chatment area atau daerah tangkapan air. Tiga, tidak adanya peranan pemerintah untuk mengajak dan mengatur pola perkebunan masyarakat serta mengajak untuk peduli terhadap pentingnya kawasan hulu sungai.

Kondisi hulu sungai sangat berbeda dengan kondisi di hilir. Setelah dari hulu saya mencoba mengikuti aliran sungai ini sampai ke hilir, yaitu muara didekat lokasi pantai panjang. Setelah keluar dari Desa Rindu Hati dan di Pasar Taba Penanjung, air sungai ini masih cukup bersih. Tapi kondisi air sangat berbeda setelah berada di sebuah desa, klo tidak salah Desa Kancing. Warna air sudah berwarna cokelat dan butek. Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang menyebabkan kondisi air ini keruh. Apakah benar karena ulah beberapa pertambangan batu bara yang ada di Taba Penanjung, limbah beberapa pabrik karet, atau karena limbah rumah tangga yang berada disepanjang sungai.

Yang membuat saya cukup prihatin adalah, air sungai yang butek ini adalah sumber air yang diambil oleh PDAM Bengkulu untuk dialirkan kepada konsumen sebagai sumber air bersih bagi warga kota Bengkulu. Sekitar 30% penduduk Kota Bengkulu menggunakan sumber air yaitu air PDAM. Dulunya mungkin air ini masih jernih dan bersih, itu mangkanya sumber air diambil dari sini. Belanda membangun sumber air disitu sekitar tahun 1928. PDAM hanya mewarisi dan melanjutkan usaha untuk penyaluran sumber air bersih.

Banyaknya pencemaran yang terjadi disepanjang aliran sungai ini membuat kondisi air PDAM saat ini sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi. Hal inilah yang membuat PDAM membutuhkan biaya produksi yang lebih untuk membersihkan dan menetralkan air yang mereka ambil dari Sungai Air Bengkulu. Inipun kualitas airnya masih belum bagus. Biaya produksi permeter kubiknya dikabarkan sudah jauh diatas biaya jual. PDAM yang seharusnya bisa menjadi salah satu pendapatan daerah sekarang justru tidak berarti apa-apa bagi Pemerintah Provinsi Bengkulu. Sungguh ironis.

Aliran sungai Air Bengkulu sebenarnya tidak terlalu panjang dan peluang untuk melakukan penyelamatan keberadaan sungai ini sangat besar. Hanya dibutuhkan sebuah niat saja. Niat untuk mau bersama-sama menyelamatkan keberadaan DAS Air Bengkulu. Ulayat tidak akan mampu melakukannya sendiri. PDAM tidak akan mampu melakukannya sendiri. Apalagi Bapedal dan dinas-dinas yang ada di provinsi Bengkulu (Pemerintah Bengkulu Kota dan Kabupaten), tidak akan ada harapan mengharapkan merekamelakukan itu.

Sekarang limbah pabrik, limbah pertambangan dan limbah lainnya sudah semakin banyak yang masuk kedalam aliran sungai. Air sungai semakin lama semakin tercemar. Konsumen PDAM semakin gundah dan resah akan kondisi air yang mereka terima.
Saya tidak tahu kejadian seperti apa yang bisa membuat aparat Pemerintah Bengkulu ini bisa ngeh dan sadar betapa pentingnya sumber air baku bagi masyarakatnya. Mayarakat Bengkulu ini bisa sadar pentinganya air bagi kehidupan. Mungkin perlu ada kejadian dimana masyarakatnya terserang berbagai penyakit diare dan penyakit lainnya karena kekurangan sumber air bersih dan dilanda banjir atau kekeringan yang sangat hebat. Atau nunggu Gubernur dan Wakil Gubernurnya serta pejabat-pejabat itu sakit diare dulu. Mungkin ngga sih??

Padahal semua tahu mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Mengapa kita harus ada shock terapy dulu baru sadar ya?. Musti ada bencana dulu baru ada tindakan.
Lets do Now!!!. Lakukanlah sekarang sebelum terlambat.

Masyarakat Desa Rindu Hati sebenarnya hampir sama dengan masyarakat desa dibanyak tempat di nusantara ini. Jika ada niat baik dari kita untuk memberitahukan peranan penting dalam upaya penyelamatan lingkungan dan adanya peranan aktif dan dukungan dari pemerintah lokal tentu akan membuat masyarakat tersebut senang dan tentu akan membuat usaha untuk menyelamatkan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat akan berjalan baik. Perlu kerjama antara hulu dan hilir DAS Air Bengkulu.

Inilah yang menjadi salah satu permasalahan utama betapa sulitnya upaya untuk penyelamatan lingkungan dinegara kita tercinta ini. Tidak adanya kerjasama!!. Semua berjalan sendiri. Sibuk dengan kerjaan masing-masing. Padahal pengetahuan dan kemampuan disetiap orang, disetiap lembaga dan disetiap instansi adalah terbatas. Semua masih sibuk dengan egonya masing-masing. Termasuk kita.

Bersepeda di Pantai Panjang. Segar dan Sehat

Sebenarnya niat untuk bisa bersepeda di pantai panjang sudah lama sekali terpendam dihati. Beberapa tahun yang lalu saya sempat mengutarakan niat saya kepada seorang teman. “Wah seandainya saya punya sepeda disini, pasti enak sekali bersepeda di pantai panjang ini” uangkap saya saat itu ketika melewati pantai panjang dikala saya pulang ke Bengkulu.

Niat untuk bersepeda saya sempat utarakan lagi kepada teman-teman Ulayat (sebuah NGO di Kota Bengkulu). Salah orang mendengarkan niat saya adalah Bang Dikson Aritonang. Seorang bapak yang saat ini sangat bahagia sekali karena anak perempuan yang ke-tiga-nya baru saja lahir. Karena mendengar niat saya yang kuat sekali untuk bersepeda di pantai panjang. Apalagi diikutsertakan tentang sakit radang paru (Bronchoneumonia) yang saya derita dan katanya udara pantai pada pagi hari sangat baik untuk penderita radang paru. Maka, karena tidak tega melihat keadaan saya yang niatnya tidak pernah tercapai, esok paginya beliau membawakan sepeda yang ada dirumahnya untuk saya bisa bersepeda di pantai panjang. Terima kasih banyak Bapak Dikson. Akhirnya saya bisa menikmati indahnya bersepeda pagi-pagi di Kota Bengkulu.

Dua hari kemaren. Pagi-pagi setelah sholat subuh saya menggoes sepeda dari kantor Ulayat (Kenanga) menuju Persimpangan Skip – Jalan Suprapto – Kampung Bali – Bank Indonesia – Tugu – Veteran – Pantai Panjang – Pantai Panjang Ujung (Bundaran) – Muter balik lagi – Menyusuri pantai melewati jalan yang baru dibuat sampai ke Tapak Padri – Bank Indonesia – Jalan Suprapto – Simpang Skip – Kembali ke Ulayat.

Pertama sekali melewati Jalan Suprapto dan melihat masih sepinya jalan-jalan kota. Saya tersenyum, betapa indah dan betapa segarnya Kota Bengkulu ini pada pagi hari. Pagi ini hanya ada beberapa orang yang lalu lalang untuk berbelanja di pasar tradisional. Ternyata setelah saya menoleh ke kanan, terdapat sebuah pasar yang sangat ramai orang berjualan dan pembeli yang sibuk memilih barang-barang yang akan mereka beli.

Saya terus menggoeskan sepeda saya menuju pantai panjang. Udara pantai panjang pada pagi hari tidak bisa saya ungkapkan disini bagaimana rasanya. Yang jelas saya hanya kembali tersenyum dan mengucapkan Asma Allah. Betapa agung dan betapa indahnya ciptaan Allah SWT. Manusia seharusnya bisa menikmati kenikmatan yang ada dimuka bumi ini. Bukan malah menghancurkannya dan membinasakannya. Keindahan dan kenikmatan yang saya dapat bersepeda pagi itu membuat saya tambah jatuh cinta terhadap tanah kelahiran saya ini dan saya ingin bisa menikmati udara pagi ini sepanjang hari. Bisa bersepeda di pantai panjang ini setiap pagi.

Sudah banyak memang perubahan yang ada di pantai panjang. Mulai dari perubahan yang baik sampai ke perubahan yang jelek. Perubahan yang baiknya adalah telah dibangunnya beberapa jogging track yang menyusuri pantai dan jalan yang sudah lebar. Perubahan jeleknya adalah, karena sudah ramai orang yang datang ke pantai panjang dan tapak padri maka sudah hukum alam bahwa manusia akan mencari sumber rezeki dan pendapatan seseorang di tempat keramaian. Tapi yang menjadi masalah adalah Pemerintah Bengkulu tidak memperhatikan cara-cara orang untuk mendapatkan sumber rezeki tersebut akan membuat pemandangan yang indah menjadi tidak indah. Suasana yang nyaman menjadi tidak nyaman. Moral dan norma masyarakat yang sudah lama baik menjadi tidak baik. Pantai panjang sekarang jika saya melihat banyaknya bangunan-bangunan untuk mereka berjualan yang terbuat dari bambu dan beratapkan terpal disepanjang pantai panjang dan tapak padri adalah tak ubahnya bangunan-bangunan kumuh yang ada disepanjang rel kereta api Bogor – Jakarta.

Saya sangat menyayangkan niat pemerintah daerah yang masih setengah-setengah dalam upaya melakukan pengembangan tempat-tempat wisata yang ada di Bengkulu. Sangat kelihatan sekali jika Pemerintah Kota Bengkulu belum siap benar menghadapi banyaknya pengunjung dan masyarakat yang datang ke tempat-tempat wisata yang ada di Bengkulu. Saya heran mengapa pemerintah tidak membangun secara seragam tempat-tempat mereka yang ingin berjualan. Agar lebih berestetika dan lebih beradap. Agar keindahan yang ada tidak terganggu. Kenyamanan yang ada tidak hilang. Moral dan norma yang baik tetap terjaga.

Pantai panjang sekarang ini, disaat malam hari suasana pantai panjang tidak ubahnya menjadi tempat-tempat orang yang ingin melakukan maksiat. Didukung tempat-tempat yang gelap dan banyaknya bangunan-bangunan kumuh yang dibuat remang-remang. Saya heran, kenapa Pemerintah Kota Bengkulu ini tidak mau memberi penerangan yang layak dan membuat rasa aman bagi orang yang datang ke pantai panjang yang ada di Bengkulu. Atau memang orang-orang Pemerintahan Kota Bengkulu juga menikmati suasana yang sudah ada selama ini. Ikut menikamti suasana mesum pada malam hari yang ada di Pantai Panjang?? Mungkin perlu dicari tahu.

Halah…. terlalu panjang dan terlalu banyak komentar saya terhadap jeleknya pembangunan pantai pajang ini. Mungkin karena saya sangat kecewa pantai panjang yang selama indah dan masih alami, keadaannya sekarang menjadi begini. Tidak jelas mau dibawa kemana pembangunannya. Konsep seperti apa yang diinginkan Pemerintah Bengkulu.

Disaat menyusuri pantai, saya bisa menikmati ombak yang tanpa hentinya bergoyang seolah ingin menunjukkan betapa indah dirinya dan manusia selayaknya bisa menikmati dirinya.Setiba di kampung nelayan, saya bisa melihat nelayan yang bergotong royong menggiring perahu nelayan yang baru tiba dari melaut ke bibir pantai. Bahu membahu mengangkat hasil tangkapannya. Ada beberapa nelayan yang sedang asyik membetulkan jaring-jaring ikan yang mungkin sempat putus ketika menangkap ikan tadi malam.

Setelah melewati kampung nelayan saya memasuki wilayah Benteng Malborough. Sebuah benteng peninggalan Inggris yang dibangun pada tahun 1713-1719 dibawah pimpinan Joseph Callet. Konon katanya benteng ini adalah benteng terkuat di daerah timur setelah Benteng St. George di Madras, India. Saya mengelilingi benteng ini sambil menuju ke Bank Indonesia dan Jalan Suprapto. Besiap-siap untuk kembali pulang.

Setibanya di Jalan Suprapto, beberapa toko sudah mulai buka. Saya menghentikan laju sepeda saya disebuah toko yang menjual roti dan kue-kue jajanan. Sambil meminum susu kotak saya duduk tempat parkiran sambil makan roti dan melihat orang-orang yang sudah mulai berangkat kerja. Mereka sudah berpenampilan rapi dan wangi. Ada yang berjalan kaki, naik angkot, pakai sepeda motor, naik mobil pribadi dan ada juga yang dengan gagahnya membawa mobil-mobil mewah yang berplat merah. Berkacamata hitam dengan sebatang rokok ditangan serta dentuman musik yang keras yang keluar dari mobilnya.

Betapa nikmat dan sehatnya klo saya bisa menikmati susana pagi hari selalu seperti ini. Saya selalu ingin bersepeda seperti ini. Dua jam bersepeda membuat badan ini segar dan sehat. Tapi sayang sampai sekarang saya belum mampu juga untuk beli sepeda :)

Foto diunduh disini