Thursday, February 5, 2009

Perjalanan Ke Pulau Timor

"Kalau mau hidup sejahtera dan NTT (Nusa Tenggara Timur) selamat. Jagalah Molo"

Itulah sebuah kata yang diucapkan oleh seorang mama di Pulau Timor yaitu Mama Aleta saat saya berkesempatan untuk mencoba mendokumentasikan perjuangan beliau dan Masyarakat Adat Molo dalam mempertahankan tanah adatnya dari ancaman pertambangan marmer di Molo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Perjalanan saya ke Molo kurang lebih tiga minggu, 21 Agustus 2008 - 6 September 2008.

Perjalanan ke Molo sebenarnya sangat mendadak. Rencana perjalanan saya sebenarnya adalah ke Masyarakat Talang Mamak di Riau. Tapi berhubung ada beberapa masalah teknis, maka rencana berangkat ke Riau diundur. Setelah mengetahui rencana itu diundur, akhirnya saya diminta ke Molo. Persiapan perjalanan kesana hanya dua hari. Tanya sana sini situasi dan kondisinya, beli obat-obatan dan vitamin, siapkan peralatan trus berangkat sudah.

Sebenarnya sewaktu kuliah saya sudah pernah ke NTT, tapi saat itu ke Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Setelah lihat peta dan tahu dimana lokasi tempat saya akan tinggal, baru saya ketahui ternyata Labuan Bajo dan Pulau Komodo sangat jauh dan beda pulau dengan Molo.

Tiga jam perjalanan dan transit selama dua puluh menit di Surabaya saya sudah bisa melihat dari jendela pesawat pulau-pulau yang didominasi warna-wana cokelat. Inilah pemandangan yang akan kita lihat jika kita datang ke Pulau Timor, terutama pada musim-musim kering. Hampir semua rumput-rumput kering dan pepohonan kehilangan daunnya alias berguguran. Mungkin jika orang yang sudah terbiasa matanya melihat kehijauan pepohonan dan dedaunan, menikmati kesejukan dibawah pohon yang rindang serta terbiasa hidup enak, dalam hatinya akan akan bertanya "Bisakah kita hidup di pulau ini?". Sama halnya saya, ketika akan mendarat di Bandara El Tari, Kupang. "Serasa tidak yakin disini ada kehidupan" celoteh saya kepada Melly Nurmawati, seorang teman satu kerja yang berangkat bersama saya yang juga merangkap sebagai leader dilapangan.

"Tapi orang timor bisa hidup tuh disana… dan beranak pinak lagi hehehe…." Mungkin itu jawaban kalian setelah membaca celotehan saya kali ya..

Sesuai pesan yang disampaikan kepada kami bahwa setelah tiba di badara akan langsung dijemput oleh seseorang maka kami pun menunggu jemputan disebuah cafe dekat pintu keluar bandara.
"Tunggu saja disana ya bapak, kami baru jalan ini. Mungkin sekitar dua jam-an lagi sampai sana" suara yang keluar dari handphone saya disaat saya memastikan orang yang akan menjemput kami lewat telpon.
Yahh.. itulah jemputan kami.
Harus menunggu dulu dua jam.
Kebetulan saya membawa sebuah buku dari Bogor, maka saya habiskan dua jam untuk membaca buku. Buku yang saya bawa adalah Buku City of Joy, Negeri Bahagia karangan Dominique Lapierre.
Menceritakan sebuah Kota Calcutta di India. Kalian harus baca buku ini. Kalian akan tahu bagaimana orang India bertahan hidup dengan sumberdaya yang minim dan bertahan dengan ketermisinan yang amat sangat. Seperti salah satu komentar yang ada disampul belakang buku ini yang ditulis oleh New York Post. "Ada pahlawan di setiap senti karya ini……"

"Bapak posisi dimana? saya ada di parkiran motor" sebuah sms masuk ke handphone saya. Saya langsung telpon dan menunjukkan dimana posisi kami. "Selamat sore pak. Saya Nivron. Saya diminta Ma Leta untuk jemput bapak". "Selamat sore. Saya Een dan ini Melly" saya membalas jabat tangan Pak Nivron dan memperkenalkan teman saya. "Bapak pakai apa jemput kita?" tanya saya kepada Pak Niv. "Kita bawa motor pak, satu lagi teman masih di belakang". Saya dan Melly sempat shock dan termangu beberapa detik. "Bapak jemput kita dengan perjalanan hampir tiga jam pakai motor?" Oh my God!. Bayangan saya karena sudah tau kita bawa cukup banyak barang, jadi akan dijemput dengan sebuah mobil. Dan kita bisa tidur selama perjalanan karena dari Bogor berangkat subuh ke Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Tapi nyatanya?? Huuhh…

Karena tidak mungkin menolak jemputan yang sudah ada dan tidak mungkin untuk meminta mereka pulang sendiri tanpa jemputan sementara kita menginap dulu semalam di Kupang atau kita rental mobil saja menuju lokasi perkampungan. Maka sekitar pukul 18.30 waktu Kupang kami pun berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Sebuah tas besar yang berisikan peralatan saya harus berada dan menempel dipunggung saya. Sementara tas pakaian diselipkan antara ujung jok depan motor. Saya berangkat bersama dengan Pak Niv dengan Motor Bebek Yamaha Vega, sementara Melly berdua dengan Pak Hedrik dengan menggunakan sepeda motor Suzuki Smash. Selama perjalanan yang malam itu angin sudah mulai berhembus kencang dan dingin, saya sudah tidak kuat menahan kantuk. Saya tidak bisa menikmati lagi perjalanan yang selalu menanjak dan memutari beberapa bukit karena diantara menahan kantuk dan menahan keseimbangan tas besar yang menempel dipungggung. Mata sudah sempat terpejam beberapa kali.

Sekitar pukul 21.30 kami tiba di SoE. Ibu Kota Kabupaten TTS. Karena sudah tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan ke Molo, yaitu kearah Gunung Mutis dan sekitar 1 jaman lagi waktu perjalanan maka setelah bertemu dengan Mama Aleta kami minta diri untuk istirahat semalam di SoE dan besok pagi dilanjutkan lagi perjalanannya. "Ya sudah, kalian menginap dulu saja di SoE. Kalian pasti sudah sangat capek sekali" ungkap Ma Leta setelah melihat wajah kami yang sudah lemas. Alhamdulilah Maleta (pangilan akrab Mama Aleta) bisa mengerti.

Perjuangan Perempuan Molo

Pada hari Jum'at pagi tanggal 22 Agustus kami berangkat ke Molo, tepatnya ex camp sebuah pertambangan di Desa Nousus. Dari SoE menuju Kapan dan lanjut kearah Gunung Mutis. Daerah ini ternyata suhunya sangat berbeda jauh dengan Kupang. Sangat dingin, berangin dan selalu berkabut. Diperkirakan ketinggiannya sekitar 1200 mdpl. Selama dua hari berada disana, dari pagi hari sampai sekitar jam 3 sore saya tidak bisa ngapa-ngapain. Hanya meringkuk didalam sleeping bag dan duduk baca buku didalam sebuah ruangan yang sedang diperbaiki. Suhu diluar sangat dingin, hujan dan angin berhembus sangat kencang. Beberapa orang lokal mengatakan angin kencang ini bawaan dari Australia karena keberadaan daerah ini tidak jauh dari Australia. Mereka juga bilang kalo bulan Agustus angin sudah mulai berkurang. Bulan Januari-Maret adalah bulan yang dimana anginnya sangat kencang dan bisa merobohkan beberapa rumah disini. Saya tidak bisa bayangkan sekencang apa angin pada bulan-bulan tersebut. Saat ini saja anginnya sudah sangat kencang bagi saya pribadi.

Perjuangan masyarakat adat Molo dan para mama-mama yang menolak sebuah pertambangan marmer ditanah adatnya beberapa tahun yang lalu mendapat banyak sorotan media, NGO, pemerintah dan lembaga lainnya. Karena perjuangannya itulah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang kantor pusatnya berada di Jakarta, Tebtebba - Indigenous Peoples' International Cantre for Policy Research and Education dari Thailand dan Asia Indigenous Peoples Pact Foundation (AIPP) dari Filipina mengadakan sebuah training untuk para perempuan adat. Peserta training ini selain dihadiri oleh masyarakat di beberapa kampung di Molo juga dihadiri oleh beberapa perempuan adat di Nusantara. Training ini mengangkat tema 'Perempuan Adat dan Pengambilan Keputusan. Persiapan Pengumpulan Data dan Kisah Perempuan Adat tentang Penerapan CEDAW dan Dampak Industri Ekstraktif'. Dalam training ini mereka mencoba memperkuat posisi kaum perempuan dalam sebuah komunitas, pekerjaan ataupun aktivitas lainnya. CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms Against Women) adalah sebuah perjanjian internasional dimana ada beberapa negara termasuk Indonesia yang menandatanganinya. CEDAW dibuat untuk menghapuskan kekerasan dan deskriminasi terhadap perempuan. Ada beberapa pasal yang terdapat didalam perjanjian ini yang mengatur hak-hak kaum perempuan dan harus dihormati dan dihargai.

Selain mendokumentasikan kegiatan training ini. Kami juga mencoba membuat sebuah film tentang perjuangan Mama Aleta dan Komunitas Adatnya. Perjuangan mereka bisa dikatakan berhasil. Dari empat perusahaan tambang yang masuk ke wilayah mereka. Tiga perusahaan berhasil mereka usir dan mereka duduki lokasi pertambangannya. Hanya tinggal satu lagi yang sampai sekarang masih beroperasi, yaitu sebuah perusahaan yang berada di Batu Naitapan.

Mendengar penjelasan dari Mama Aleta membuat saya kagum dengan perjuangan beliau. Maleta memang T.O.P dan memang bukan perempuan biasa. Seorang mama yang bernama lengkap Aleta Ba'un yang lahir pada tanggal 16 Maret 1966 di sebuah kampung yaitu Desa Lelobatan ini menerima nobel prize yaitu salah satu dari 1000 wajah perempuan perdamaian (Women's Nobel Prize for Peace) dan Penghargaan Saparinah Sadli pada Tahun 2007. Nama Aleta Ba'un sudah ada dimana-mana, media lokal, nasional maupun internasional. Beliau adalah anak seorang petani dari masyarakat adat Molo. Beberapa tahun yang lalu beliau menyadarkan dan menggerakkan masyarakatnya untuk menolak pertambangan yang akan menghancurkan kehidupan masyarakat adat yang ada di Molo. Ribuan orang baik kaum perempuan maupun laki-laki ikut turun ke lokasi pertambangan dan menuntut perusahaan tersebut ditutup. Berminggu-minggu dia dan masyarakatnya menginap di hutan dan terus berjuang sampai perusahaan tersebut berhenti beroperasi. Walaupun dalam kondisi hamil tidak mengedorkan niat Mama Aleta untuk terus bergerak dan memberi dukungan kepada masyarakatnya. Bukan hanya menduduki lokasi pertambangan saja. Mereka juga mendatangi Kantor Bupati TTS dan DPRD untuk mendesak pemerintah daerah mencabut izin operasi perusahaan tersebut. Usaha yang dilakukan selama bertahun-tahun memang bukan usaha yang sia-sia. Dari empat perusahaan yang ada masih tersisa satu yang belum berhenti. Tapi secara tegas mereka katakan, masih akan tetap berjuang untuk mengusir perusahaan tersebut.

Mama Aleta adalah salah satu perempuan Indonesia yang rela mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarganya demi keadilan, perbaikan kondisi masyarakat adatnya dan lingkungannya. Berbagai ancaman dan intimidasi terhadap dirinya dan keluarganya dalam beberapa tahun terakhir ini sering ia dapatkan. Rumah yang beberapa kali dilempari batu dan beberapa kaca pecah. Beberapa kali Mama Aleta dan suaminya mendapat ancaman akan dibunuh. Suaminya Godlif Sanam yang seorang guru di Kapan meminta Mama Aleta untuk menghentikan aktivitasnya. Tapi berkat pengertian yang diberikan oleh Mama Aleta, beliaupun mendukung perjuangan Mama Aleta dan masyarakat adatnya. Pesan Pak Godlif Sanam hanya satu, yaitu saling percaya dan ingat keluarga. Pada tahun 2006 disaat mau pulang ke SoE Mama Aleta sempat dihadang oleh preman-preman bayaran sekitar 20 orang yang memakai topeng. Saat itu Mama Aleta sempat mendapatkan beberapa kali pukulan dan tendangan oleh preman-preman tersebut. "Para preman itu juga sempat mengeluarkan golok dan menebaskannya ke kaki saya disaat saya jatuh. Tapi mungkin karena pertolongan Tuhan dan mereka buru-buru bagian tumpulnya yang mengenai kaki saya. Setelah menebas mereka lari" cerita Mama Aleta kepada kami.

Karena merasa hidupnya sangat terancam, para keluarga dan sahabat mengevakuasi Mama Aleta. Selama tiga bulan Mama Aleta hidup di beberapa tempat seperti di Kupang, SoE dan akhirnya berpindah-pindah dari kampung ke kampung dibawah naungan tokoh-tokoh adat yang ada. Saat evakuasi perjuangan Mama Aleta tidak berhenti disitu. Proses evakuasi dia manfaatkan untuk konsilidasi dan mencari dukungan orang yang lebih banyak lagi. Untuk bertemu dengan suami dan anak-anaknya Mama Alete terpaksa datang sembunyi-sembunyi dan janjian ketemu disuatu tempat.

Sampai dengan saat ini perjuangan Mama Aleta dan Masyarakat Adat Molo tidak pernah luntur. Mama Aleta dan masyarakatnya akan tetap berjuang jika ada perusahaan yang sementara ini berhenti beroperasi akan masuk kembali ke wilayahnya. Perjuangan untuk menutup pertambangan yang masih beroperasi di Naitapan yaitu PT Sumber Alam Marmer juga menjadi salah satu agendanya.

Perjuangan kaum perempuan di Molo bukan hanya tumbuh jiwa Maleta saja, tetapi juga ada di mama-mama yang lainnya di beberapa desa di Molo Utara. Seperti Mama Ety yang berasal dari Desa Kuannoel. Seorang mama yang kalo bercerita penuh dengan ekspresi ini juga menceritakan bahwa ia dan keluarganya sempat dimusuhi oleh saudara-saudaranya yang ada di kampung karena dia menolak pertambangan yang ada di Desa Kuannoel. Dibeberapa desa memang ada beberapa orang pro dengan pertambangan, terutama mereka yang menikmati hasil dari pertambangan dan mereka yang terkena iming-imingan dari perusahaan. Sambil menangis Mama Ety menceritakan bagaimana dia sangat sedih sekali melihat perpecahan ikatan kekeluargaan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun hanya karena sebuah perusahaan tambang. Mama Ety juga sangat sedih sekali karena seoarang tantenya yaitu Mama Marselina Lake yang juga ikut berjuang saat menduduki lokasi pertambangan meninggal dunia karena terlalu banyak menghirup debu-debu dari bor-bor yang beroperasi disaat mencoba menghentikan dan merebut bor dari tangan pekerja. Setelah sakit selama satu minggu akhirnya nyawa Mama Marselina tidak bisa diselamatkan lagi.

Di Desa Tunua juga terdapat para pejuang perempuan. Diantaranya adalah Mama Omi. Wanita muda yang baru berumur 29 tahun ini dengan gigih berjuang untuk menolak pertambangan marmer yang ada di Naitapan. "Di Tunua banyak juga orang yang pro terhadap marmer. Dengan berbagai macam janji perusahaan mengambil hati masyarakat" ungkap Mama Omi. Sebelum memulai operasi di Desa Tunua, Kecamatan Molo utara, kabutapen TTS, perusahaan sempat menjanjikan pembangunan jalan aspal sepanjang 5 km, pembangunan gereja 2 buah, pembangunan gedung Sekolah Dasar 2 buah, rumah masyarakat 150 KK. Tapi sampai saat ini tidak ada yang direalisasikan padahal gunung batu yang ada di Naitapan sudah terpotong-potong dan erosi sudah melanda desa. "Banyak sumber-sumber air disini kering dan hilang walaupun belum masuk musim kering atau kemarau. Salah satu sungai yang hulunya di batu yang ditambang itu sekarang sudah tercemar dan membuat gatal-gatal" keluh Mama Omi.

Batu-batu yang ada di Molo ibarat tulang bagi masyarakat Molo. Air adalah darah. Tanah adalah Daging. Hutan adalah rambut. Tidak bisa dipisahkan. Jika salah satu hilang maka kehidupan tidak akan ada. "Kami yang ada di dataran Molo, kami menganggap bumi, batu, kayu dan air itu adalah merupakan ibu yang menyusui" tegas Om Heis yaitu salah satu tokoh adat dari Desa Ojoabaki. Oleh karena itulah masyarakat Molo berjuang mati-matian mempertahankan Batu yang ada di Molo. Dulunya nenek moyang mereka juga tinggal di gua-gua yang ada dibatu tersebut dan masih ada sisa-sisa peninggalan nenek moyang mereka. Di setiap gua-gua yang ada merupakan salah satu tempat tinggal sebuah marga yang ada di Molo. Seperti yang ada di Batu Nausus, ada beberapa gua yang dimiliki oleh Kafetoran Netpalak yaitu Marga Tefui' Sembanu, Seko Ba'un, Toto Tanesif dan Nani Lasak. Jika batu-batu itu ditambang dan dihancurkan bukan hanya kehidupan mereka yang terganggu tetapi juga identitas masyarakat adat Molo akan ikut musnah. "Kami tolak pertambangan yang ada di Molo, karena inilah tempat ritus kami, tempat tinggal kami yang pertama. Istana daripada marga kami yang tidak boleh diganggu oleh siapapun!" tegas Om Heis lagi.

Melihat dan mendengar cerita dari kaum perempuan yang ada di Pulau Timor ini membuat saya kembali bingung kepada Pemerintah Indonesiah ini. Rakyatnya mati-matian berjuang mempertahankan kesejahteraan alam dan manusianya, mempertahankan identitas dan budayanya. Tapi Pemerintah kita yang tercinta ini malah dengan entengnya dan menjual memberikan izin untuk dihancurkan sumber-sumber kehidupan mereka. Identitas diri mereka. Capek deh!!










Participatory Video Training for Human Rigts Based Approaches

Beberapa minggu yang lalu saya diudang untuk menjadi peserta training "Participatory Video Training for Human Rigts Based Approaches" di Kaliandra dan di Porong, Sidoarjo. Mungkin karena kita pernah membuat film tentang Lumpur Lapindo tahun lalu maka kita diundang untuk bergabung dalam training ini. Terima kasih kepada UNDP, SGP The GEF Small Grants Programme (http://www.sgp-indonesia.org), insight ( http://www.insightshare.org/), Urban Poor Linkage dan Yayasan Kaliandra (http://www.kaliandrasejati.org/).

Training yang diadakan selama sepuluh hari ini mencoba untuk share sesama peserta tarining tentang pengetahuan dan pengalaman selama membuat video-video dokumenter. Dari pengalaman-pengalaman itu ditambahkan mengenai perngertian Human Rights Base atau Hak-Hak Dasar Manusia. Walaupun saya masih belum paham sekali mengenai HAM ini tapi saya coba share kepada semuanya apa saja yang dilakukan selama training. Jika masih ada yang kurang jelas, dipersilahkan menghubungi panitianya :)

Sebenarnya jika kita sudah terbiasa membuat sebuah film dokumenter, training ini akan menjadi hal yang biasa saja. Tidak ada yang baru. Yang membedakannya adalah hanya cara membuat filmnya saja. Jika selama ini hanya kita-kita saja yang membuat sebuah film dokumenter, dalam training Partisipatory Video (PV) ini kita mengajarkan kepada komunitas-komunitas tertentu untuk membuat film tentang kehidupan mereka sendiri, atau tentang keinginan-keinginan mereka sendiri. Selama training banyak hal yang dibahas, mulai dari pengenalan tentang HAM, pengenalan kamera, pengenalan film, menemukan cerita dan interview, audiens, partisipatory analysis, practise analysis sampe shooting ke lapangan.

Disini saya akan share apa saja yang saya catat selama masa training disana. Tentu hanya point-pointnya saja. Semoga bermanfaat nantinya. Detail tentang PV ini bisa didownload di websitenya insight.

Pengenalan kamera dan cara menggunakannya
Jika kita ingin mengenalkan sebuah kamera kepada masyarakat lokal atau sebuah komunitas. Kita bisa mengenalkannya lewat sebuah permainan. Permainannya adalah merekam interview. Dalam permainan ini, kita ajarkan terlebih dahulu kepada salah satu komunitas bagaimana menggunakan kamera yang kita bawa, setelah itu coba lakukan interview kepada salah satu komunitas. Setelah kita memberitahu cara menggunakan kamera dan cara interview, orang yang kita ajarkan wajib memberitahukan kepada teman-temannya secara bergiliran. Setelah semuanya tahu dan mengerti, kita tanyangkan hasil-hasil interview tersebut melalui screen atau tv. Jika masyarakat lokal yang belum pernah mengenal kamera, ini akan menjadi hal yang sangat menyenangkan.

Permainan yang lainnya adalah, kita minta kepada beberapa orang komunitas untuk berbaris dan berdiri didepan kamera dan tidak berpindah-pindah tempat. Setelah itu kita rekam beberapa detik dan matikan (record off). Minta perserta untuk berkurang satu persatu saat tombol record off. Saat diputar atau discreening ini akan menimbulkan gambar seolah-olah perserta tersebut hilang satu persatu.

Partisipatory Video cenderung ke proses bukan kualitas gambar
PV tidak membutuhkan kualitas gambar yang bagus, tetapi bagaimana suara masyarakat lokal bisa diangkat atau diekspose. Jika menggunakan kamera profesional akan terlalu rumit dan banyak tombol-tombol kamera yang membingungkan. Karena dalam PV mulai dari proses pengambilan gambar, membangun cerita itu semuanya akan dilakukan oleh komunitas tersebut. Kita hanya sebagai pendamping dan fasilitator.

Kesalahan adalah baik untuk seorang filmaker
Kesalahan bisa memacu komunitas untuk bertanya. Misalnya, mengapa tidak ada suaranya gambar yang kita ambil, mengapa gambarnya gelap (siluet), atau apapun yang menurut kita itu salah. Ini penting untuk perkenalan awal kamera dan bagaimana menggunakannya.

Belajar dari banyak pengalaman
Para komunitas akan semakin banyak pengalamannya disaat mereka sudah mengenal kamera dan menggunakannya. Jika gambar yang diambil goyang, mereka sudah tahu harus menggunakan tripot. Jika tidak ada suaranya hasil-hasil interview, mereka akan mengecek sound disaat akan memulai interview dan lain sebagainya.

Jangan men-fastfoward saat screening
Jika kita melakukan screening terhadap komunitas, jangan sekali-kali kita men-fastfoward gambar-gambar atau hasil-hasil wawancara yang sudah kita ambil terhadap komunitas tersebut. Ini akan memberikan kesan bahwa gambar mereka dianggap tidak penting dan diabaikan.

Human Rights
Banyak info-info tentang HAM yang bisa didownload di website. Begitu juga dengan kesepakatan-kesepakatan atau perjanjian-perjanjian negara dan PBB mengenai Hak Asasi Manusia. Beberapa point penting dalam mebuat film adalah yang pertama Consent yaitu mengetahui secara sadar, film itu buat apa, cerita tentang apa dan sadar dampak film tersbut nantinya. Yang kedua adalah kesepakatan, yaitu kesepakatan mengenai hasil film, kesepakatan pembuatan film dan sepakat film itu mau diapain. Kalau dalam konteks tentang kesepakatan dunia tentang masyarakat adat, Masyarakat adat berhak untuk mengetahui sebuah rencana apapun terhadap kampungnya dan berhak mengeluarkan pendapat dan harus dihormati.

Perbedaan hadiah dan hak
Ini adalah sebuah permainan dimana ada dua buah gambar yaitu gambar seorang teman memberikan hadiah kepada temannya dan seorang boss memberikan gaji kepada anak buahnya. Permainan ini adalah untuk membedakan mana yang sebuah hak dan mana yang kewajiban. Apa perbedaan dari keempat orang tersebut dan bagaimana rasanya.

Perbedaan kebutuhan dan hak
Ini adalah sebuah permainan menebak mana yang bisa disebut sebuah kebutuhan dan mana hak. Ada dua buah gambar, satunya sebuah gambar orang yang berada disebuah pulau yang banyak terdapat makanan dan orang tersebut tidak bisa kemana-mana. Satu lagi gambar orang yang sama, tapi ada satu orang lagi yang memiliki makanan yang berlimpah sementara orang yang satu lagi tidak memiliki makanan. Disini kita diharapkan bisa membedakan mana kebutuhan dan mana hak yang harus diterima. Orang yang tidak memiliki makanan jelas berhak untuk mendapatkan makanan karena orang yang satunya memiliki makanan yang berlimpah.

Sungai kehidupan
Salah satu permainan untuk mengenal kamera dan icebreaking adalah meminta kepada komunitas untuk mencatat tangga kejadian yang menurut mereka penting sekali. Setelah mereka mencatat tanggal tersebut urutkan berdasarkan angka terkecil dan tahun. Lalu gunakan dadu atau putaran angka untuk menunjuk tanggal mana yang harus ditanya oleh orang yang menulisnya berdasarkan angka yang didapat dengan menghitung dari angka paling atas. Setelah didapat angkanya, lakukan interview terhadap orang yang menulis tanggal tersebut dan setelah selesai semua dilakukan screening bersama.


Sebuah diagram Partisipatory Video

PV adalah :

  • Ide, proses pembuatan, keinginan untuk membuat film dari sebuah komunitas
  • Diutamakan proses pembuatan dan melibatkan semua, bukan hanya sebuah produk
  • Bagaimana seorang filmaker membuat film bersama masyarakat
  • Pengambilan keputusan, tentang dampak bagi masyarakat dilakukan secara sadar
  • Dilihat dari bagaimana filmaker mendekati dan menyikapi film yang dibuat
  • Akan lebih baik hasil-hasil interview lepas dan apa adanya dan proses pembuatan film lebih ke kiri atas (proses dan kepada pemerintah). Akan tetapi tidak selalu tepat jika film digunakan sistem PV
Tujuan PV adalah sama-sama belajar dalam pembuatan film yang lebih bagus dan meperbanyak jaringan yang dibangun selama proses pembuatan film.

Dari materi-materi tersebut yang disampaikan selama tiga hari dan juga praktek-prakteknya setelah mendapatkan materi. Keesokan harinya kita langsung turun kelapangan yang sebenarnya untuk menerapkan apa saja yang sudah didapatkan. Siang harinya kami langsung ke lokasi pengungsian korban lumpur lapindo di Pasar Baru Porong. Disini kami mengajak beberapa warga pengungsi yang ada di Pasar Porong, Desa Besuki dan Desa Permisan untuk merekam keinginan dan tuntutan mereka. Membuat film tentang kehidupan mereka sendiri. Kami menginap di lokasi pengungsian selama tiga hari.

Tak bisa dipungkiri lagi, disaat sesama warga merekam suara mereka air mata tak dapat ditahan lagi oleh para pengungsi. Mereka menangis sejadi-jadinya karena nasib mereka yang lebih dari dua tahun ditelantarkan oleh Lapindo dan pemerintah. Rumah mereka sudah terendam oleh lumpur. Keluarga yang cerai berai. Sistem sosial yang berantakan. Kesenjangan ekonomi dan budaya. Sampai saat ini di Pasar Porong masih terdapat kurang lebih 500 KK para pengungsi. Jika setiap KK saja dirata-ratain memiliki 4 jiwa, berapa ribu orang pengungsi yang masih ada di Pasar Porong. Di Desa Besuki, para pengsungsi mebangun tempat tinggal darurat diatas Jalan Tol yang belum tenggelam. Dan yang lebih memprihatinkan adalah di masyarakat Besuki saat ini suaranya pecah dan tidak bisa bersatu lagi. Warga yang rumahnya sudah tenggelam suara dan tuntutan mereka berbeda dengan yang rumahnya belum tenggelam. Beberapa warga menyebutkan ada unsur kesengajaan dari pihak Lapindo untuk memecah belahkan persatuan sesama korban Lapindo agar mereka tidak bisa bersatu dalam menuntut haknya.

Mungkin jika anda berada disekitar mereka dan menginap dilokasi pengungsian anda bisa merasakan dan menyadari betapa kejam dan jahatnya sebuah konspirasi para pemegang kekuasaan dan para elit-elit politik negeri ini. Membiarkan puluhan ribu saudaranya sendiri. Rakyatnya sendiri terlunta-lunta, diabaikan selama bertahun-tahun di lokasi pengungsian. Tidak adanya jaminan kesehatan. Tidak adanya jaminan pendidikan bagi anak-anak yang ada dilokasi pengungsian dan tidak ada jaminan mereka akan mendapatkan tempat tinggal yang layak seperti rumah mereka dulu sewaktu tidak ada lumpur lapindo. Sakit dan menyesakkan dada memang menjadi orang yang tidak didengarkan jeritan suaranya.

Bagaimana dengan pemerintah kita?? sampai sekarang tidak jelas apa yang akan dilakukan pemerintah kita ini terhadap korban lapindo. Beberapa bulan yang lalu Pengadilan di Jakarta memenangkan Lapindo atas gugutan para korban lumpur. Lumpur Lapindo dianggap oleh pemerintah sebagai bencana alam bukan kesalahan para pekerja Lapindo Brantas Inc. Sekarang di Jatim lagi sibuk dengan kampanye-kampanye Calon Gubernur Jatim. Besok tanggal 23 Juli akan diadakan Pilkada Jatim. Saat ditanya oleh beberapa ormas dan LSM mengenai kontrak politik jika menjadi gubernur apakan sanggup dan mampu membela para korban lumpur lapindo?? Tidak ada satupun dari beberapa calon tersebut yang berani menjawab secara pasti. Semua hanya bisa menebar janji-janji saat kampanye dan pasang iklan di tivi-tivi. Saya secara pribadi sangat jijik dan muak melihat kampanye-kampanye dan janji-janji mereka!!!

Sementara Salah satu menteri kita yang mempunyai dagu panjang dan berkacamata ini lebih senang mengeluarkan uang miliaran rupiah untuk menikahkan anaknya daripada diberikan kepada para pengungsi korban lumpur lapindo. Sampe sekarang saya tidak habis pikir kok bisa orang seperti ini bisa diangkat menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat ???

Yahh.. akhir kata... beginilah kondisi negara kita yang tercinta ini.