Monday, February 13, 2012

Membangun kepercayaan dengan obat-obatan tradisional

Ida Ayu Rusmarini

Tidak ada yang meragukan Indonesia adalah sebuah negara kaya akan sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Salah satu manfaat keanekaragaman hayati ini adalah menyediakan berbagai macam jenis tanaman yang bisa dijadikan tanaman obat. Namun karena keterbatasan pemahaman dan keinginan masyarakat sekitar untuk mengenalnya, potensi keanekaragaman hayati ini terabaikan serta tidak dimanfaatkan secara optimal.

Banyaknya tanaman-tanaman liar dan tanaman yang ada disekitar yang bisa dijadikan tanaman obat dan merasa prihatin dengan kemiskinan yang melanda warga di sekitar kampungnya, serta banyak anak-anak yang putus sekolah membuat Ida Ayu Rusmarini (52 tahun) kembali ke kampung halaman dan berbuat sesuatu untuk mereka. Berbekal dengan pengetahuan tentang pertanian dan tanaman-tanaman obat Ida Ayu Rusmarini mengajak mereka yang tinggal di Banjar Tunom, Desa Singakerta, Kecamatan Ubut, Kabupaten Gianyar-Bali mengenali tanaman sekitar dan mengenali khasiatnya.

Lulusan Magister Pertanian Universitas Udayana yang sering dipanggil Ibu Dayu ini sudah lebih dari lima belas tahun mendampingi dan mengajari warga sekitar untuk mengenal tanaman-tanaman langka dan tanaman obat. Ibu Dayu juga mengajarkan cara pijat kesehatan dan massage kepada para ibu-ibu yang kurang mampu dan bebeberapa perempuan yang ditinggal suami. Saat ini hampir semua dampingan Ibu Dayu sudah punya usaha sendiri yaitu spa dan massage, salon, penjualan bibit-bibit tanaman obat dan tanaman langka serta usaha memasak makanan khas bali. "Saya ingin ibu-ibu disini bangkit dari keterpurukannya. Menunjukkan kemampuan mereka untuk menjalani kehidupan dan tidak bergantung kepada orang lain. Sekarang mereka semua sudah mampu menyekolahkan anak-anak mereka. Tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah" ungkap Ibu Dayu ketika saya berkunjung ke rumahnya.

Sekarang masyarakat sudah mulai  mengenal jenis tanaman yang bermanfaat untuk obat. Mereka sudah menanam  tanaman obat, tanaman langka, tanaman upakara dan tanaman lainnya di pekarangan rumah dan di sekolah-sekolah.

Tidak sekedar mengarahkan dan memberi teori, Ibu Dayu membuktikan apa yang sudah diucapkannya. Lahan disekitar rumahnya yang memiliki luas sekitar 1,5 ha sudah ia tanami 384 jenis tanaman langka, tanaman obat dan tanaman upakara. Berbagai jenis tanaman obat seperti kluwek, majegau, buah base-base, daun prasman, bakung putih, kumis kucing dan lain-lain tumbuh liar disamping rumahnya. Ia mengungkap bahwa tanaman-tanaman obat ini tidak perlu diberikan perlakukan khusus. Tanaman obat ini harus tumbuh liar setelah ditanam agar khasiatnya maksimal. Jika dirawat dan diberikan pupuk khasiat tanaman  tersebut akan berkurang.

Ibu Dayu sudah membentuk kelompok yang bernama Putri Toga Lurus Limbung Puri Damai yang anggotanya terdiri dari 45 KK. Selain menanam berbagai tanaman obat, Ibu Dayu juga mengajarkan kelompoknya membuat minyak penyubur rambut, membuat lulur, cara massage, memasak, mengajar tari untuk anak-anak dan lain-lain. Hasilnya, sudah banyak ibu-ibu dampingannya yang membuka usaha sendiri. Halaman rumah penduduk sekitar sudah penuh dengan tanaman-tanaman obat-obatan. Anak-anak disekitarnya pun sudah bisa menari tarian bali. Tanaman obat yang ditanam warga akan ia beli jika dia membutuhkan tanaman-tanaman obat tersebut untuk pengobatan di kiniknya. Ada beberapa warga yang sudah rutin menjual dedaunan yang sudah dipotong-potong ke klinik. Saat ini hampir seluruh Bali sudah ia kunjungi untuk memberikan penyuluhan dan penjelasan mengenai tanaman-tanaman obat tradisional Bali. Bukan hanya menyadarkan warga sekitar Bali, Ibu Dayu juga sudah mengajak sekitar 30 rumah makan dan hotel terkenal di Ubut dan Denpasar untuk menerapkan bio watertreatment dalam mengelola limbah cairnya. Membuat bak-bak penampungan sementara dan ditanami tenaman-tanaman penyerap B3 sebelum disalurkan ke sungai ataupun ke sawah-sawah penduduk.

Nyoman Wendri warga Banjar Tunom mengungkapkan bahwa Ibu Dayu adalah orang yang sangat perhatian kepada ibu-ibu sekitar dan kepada anak-anak. Memberikan pendampingan dan pembelajaran kepada warga sekitar secara sukarela. Ibu Dayu juga melatih anak-anak agar pandai menari tarian-tarian Bali. "Dia ingin mengangkat martabat dan derajat perempuan. Tidak pernah pilih-pilih dalam bergaul dan mengajari orang. Kami semua datang dan belajar karena dia berikan ilmunya secara gratis" katanya.

Mendampingi dan mengajari ibu-ibu agar bisa massage dan pijat kesehatan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan dan diterima oleh para suami. Dimata para suami pekerjaan sebagai ahli massage dan pijat adalah pekerjaan yang cenderung dipandang negatif. Cukup lama Ibu Dayu mencoba menjelaskan kepada para suami dari ibu-ibu yang diampinginya bahwa pekerjaan ini adalah murni perkerjaan yang membutuhkan kemampuan dan pekerjaan profesional. "Rumah saya pernah didatangi oleh salah seorang suami dari ibu-ibu yang saya dampingi. Dia marah-marah karena istrinya dikira akan dijadikan PSK karena diajarin pijat. Saya coba jelaskan dan beri pengertian bahwa kemampuan yang dimiliki sang istri nantinya bisa membantu ekonomi keluarga dan bisa membantu menyekolahkan anak-anak mereka. Itu terbukti sekarang. Sekarang sang suami sangat baik kepada kami. Dia bahkan ikut bantu kerjaan-kerjaan suami saya. Anak-anaknya membantu saya di rumah sepulang sekolah. Saya tidak mau mereka bekerja disini tapi tidak sekolah" ungkapnya. Dia juga menambahkan bahwa ada salah satu suami dari perempuan yang dia dampingi kembali lagi setelah sang perempuan tersebut sukses membuka usaha spa dan massage. Sebelumnya sang suami pergi ke Kalimantan dan meninggalkan sang istri.

Ibu Dayu mengungkapkan bahwa dengan peduli dan memperhatikan lingkungan manusia bisa hidup sehat. Jika manusia itu sehat dia akan menjadi cerdas. Penyakit datang dikarenakan lingkungan yang tidak bagus. Lingkungan terkecil sekalipun yaitu lingkungan di rumah tangga harus bagus. Di Bali, budaya menanam memang harus diterapkan. Apalagi di Bali banyak sekali upakara-upakara yang membutuhkan berbagai jenis tanaman. Tanaman yang dijadikan bahan-bahan upakara adalah tanaman-tanaman yang bisa dijadikan tanaman obat-obatan.

Walaupun lahir dari keluarga dokter dan banyak saudara-saudaranya yang menjadi dokter, Ibu Dayu tetap memperkenalkan khasiat obat-obatan tradisional yang berasal dari tanaman-tanaman sekitar dan tanaman langka. Ketika memulai obat-obatan tradisional masih banyak pasiennya yang meraba-raba dan coba-coba khasiat obat-obatan tradisional. Setelah mencoba banyak yang merasakan khasiat dari obat-obatan tradisional tersebut. Dia mengatakan bahwa reaksi obat-obatan tradisional memang lambat karena butuh waktu untuk diserap oleh tubuh. Berbeda dengan obat-obatan kimia yang reaksinya cepat. Tetapi saat ini banyak orang yang resisten dengan obat kimia dan banyak penemuan-penemuan penyakit yang tidak bisa terobati oleh medis. Oleh karena itu mereka cenderung kembali ke alam.

Sekarang sudah banyak yang datang ke klinik Ibu Dayu untuk berobat dengan obat-obatan tradisional atau obat herbal. 40% pasien yang datang ke Ibu Dayu adalah orang-orang asing atau mancanegara. Rata-rata pasien yang datang adalah pasien yang menderita penyakit degeneratif atau penyakit yang mengiringi proses penuaan, seperti penyakit kanker, jantung, diabetes, stroke dan osteoporosis. 78% pasien yang datang adalah penderita kanker. Ibu Dayu tidak pernah mematok harga bagi warga sekitar ketika datang berobat. “Saya adalah seorang dokter alam yang dibayar dengan pisang, ubi dan sayur-sayuran. Karena mereka yang datang berobat adalah orang yang tidak mampu membayar dengan uang. Itu tidak masalah bagi saya. Saya senang bisa membantu mereka. Tapi klo orang-orang luar negeri memang ada harga khusus” ungkapnya.

Ida Ayu Rusmarini yang disaat masih muda sebagai seorang penari Bali ini sudah banyak memprakarsai kegiatan-kegiatan yang membantu kelestarian lingkungan, khususnya tanaman obat dan pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan dan anak-anak. Perempuan yang selalu semangat dan selalu tampil ramah ini telah melestarikan kembali terapi dan pengobatan tradisional Bali. Saat ini Ida Ayu Rusmarini menjadi salah satu nominator Kehati Award 2011. (EN)

Ibu Dayu sedang memberikan pelatihan pijat kesehatan kepada anggota kelompoknya
Ibu Dayu sedang mengajarkan tarian bali kepada anak-anak di sekitar rumahnya
bu Dayu menjelaskan beberapa tanaman yang ditanam untuk menyarap limbah B3 di bak-bak penampungan limbah di salah satu restoran di Ubut
Salah satu perempuan dampinngan Ibu Dayu telah sukses mendirikan usaha pembibitan


Wednesday, February 8, 2012

Di Pulau Adonara Menyelamatkan Sumber Pangan Lokal


Banyak yang mengenal Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah sebuah propinsi yang terkenal dengan tingginya angka kelaparan dan gizi buruk. Berita-berita tentang kasus ini sering kita dengar di berbagai media nasional. NTT juga dikenal sebuah kawasan yang kering dan memiliki curah hujan yang rendah.

Cerita berbeda akan kita dapatkan di sebuah pulau kecil di Flores Timur. Disaat pangan lokal mulai hilang. Di Pulau Adonara, seorang perempuan dayak kenayan bernama Maria Lorreta (43 tahun) yang tinggal di Dusun Waiotan, Desa Pajiniang mencoba menyelamatkan sumber-sumber pangan lokal. Berbagai jenis bibit sorgum lokal, padi hitam, jewawut, jelai, padi merah, jagung merah, jagung ungu, jagung pulut, wijen hitam, wijen coklat,dll ditanam di kebunnya. Semua tanaman lokal ini memiliki kandungan nutrisi dan bernilai ekonomi cukup tinggi, dimana produksinya semakin berkurang di indonesia, termasuk di NTT yang merupakan salah satu daerah penghasil utama pangan tersebut.

Dengan luas areal sekitar 30 hektar peninggalan keluarga suami yang tanamannya didominasi oleh tanaman kelapa dan kacang mete, Maria Lorreta bersama suami Jeremias D Letor (42 tahun) mencoba menyelamatkan sumber-sumber pangan lokal. Mulai tinggal di Flores Timur pada tahun 1999 dan memutuskan fokus bertani pada tahun 2005. Mereka menebang tanaman kelapa dan mete untuk digantikan dengan tanaman-tanaman sumber pangan lokal. Pada saat itu para keluarga suami dan warga sekitar tidak percaya mereka menebang kelapa dan kacang mete yang merupakan tanaman primadona bagi masyarakat Flores Timur.

Memulai dengan tanaman padi merah dan pepaya, sekarang kurang lebih seluas 3 hektar kebunnya sudah ditanami tanaman pangan lokal. Tanaman-tanaman ini ditanam bukan untuk dikomersialkan atau dijual disaat sudah panen, tetapi hanya untuk pembibitan dan sisanya dikonsumsi sendiri. Langkanya untuk memperoleh berbagai jenis bibit tanaman ini membuat Maria Lorreta ingin menyelamatkan berbagai jenis tanaman pangan khas Flores. “Saya jatuh cinta dengan sorgum atau watablolong gara-gara saya pernah disuguhi sepiring sorgum kukus ditaburi kelapa parut. Saya mencobanya dan ternyata enak sekali”. Saat itulah saya menanyakan bagaimana caranya bisa mendapatkan bibit sorgum. Ternyata bibit sorgum di Flores sudah langka dan sulit untuk didapatkan.

Maria Lorreta yang tinggal dirumah yang sangat sederhana ini mengajak masyarakat sekitar untuk ikut menanam sorgum. Lulusan fakultas hukum ini memberikan bibit gratis hasil kebunnya kepada petani agar ikut menanam tanaman-tanaman lokal. “Latar belakang saya membangun kebun bibit ini karena saya melihat akses petani untuk mendapatkan bibit susah, akses petani untuk ke pasar susah, dan keprihatinan saya terhadap benih-benih lokal yang semakin hilang. Daratan Flores 70% adalah lahan kering, tidak bisa mengandalkan beras daerah Flores” ungkap Maria Lorreta.

Tidak hanya mengembangkan tanaman pangan lokal sendiri di kebunnya. Maria Lorreta membentuk kelompok tani yang bernama Cinta Alam Pertanian juga mengajak petani-petani yang tersebar di Flores untuk kembali menanam tanaman pangan lokal. Kini Maria Lorreta sudah mendampingi 7 kelompok petani yang terdapat di Bab. Flores Timur, Ende, Manggarai Barat dan Nagekeo. Total luas lahan petani yang didampingi Maria Lorreta sudah mencapai kuarang lebih 11 ha. Penyadaran secara umum mengenai pelestarian pangan lokal alternatif terus dilakukan oleh Maria Lorreta.

Gabriel Demon (57 tahun) Ketua Gabungan Kelompok Tani Madabaipito yang tinggal di Desa Watowiti Kecamatan Ile Mandiri menyatakan bahwa petani di Flores Timur dulunya tanaman pangan lokal tetap berkesenambungan sejak dari zaman nenek moyang. Saat itu mereka tidak pernah merasakan kelaparan atau kekurangan sumber makanan seperti yang sering diberitakan. Tapi mulai tahun 70 an disaat masuknya tanaman-tanaman padi dan jagung yang penuh rekayasa genetika yang mempersingkat umur tanam disaat panen mudah diserang hama bubuk. “Klo dulu tanaman pangan lokal tidak. Didalam satu kebun kami tanam 5 macam jenis tanaman pangan lokal. Yang pertama padi jagung, kedua sorgum, ketiga jewawut yang kami tanam di sekeliling kebun. Dan terakhir kami tanam dela atau delay. Kami panen dan makannya bertahap. Pertama kami makan jewawut, yang kedua jagung, yang ketiga padi, yang keempat sorgum dan yang kelima dela. Ada lima sumber pangan didalam satu lahan tersebut. Jadi kami tidak pernah kelaparan” katanya.

Maria Lorreta yang saat ini masuk salah satu nominasi pemenang Kehati Award 2011 sangat berharap jika gizi dan nutrisi bayi dan anak-anak NTT bisa dipenuhi dengan pangan olahan lokal. Masyarakat NTT juga bisa memanfaatkan hasil olahan dari pangan lokal sebagai pangan alternatif untuk kue-kue anak sekolah dan juga cemilan yang dijual. Tidak lagi mengkonsumsi jajanan yang tidak bergizi dan terkadang mengandung bahan-bahan kimia yang membahayakan kesehatan sang anak.

Maria Lorreta telah memberikan kontribusi nyata dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati, khususnya spesies tanaman serelia, padi hitam dan padi merah yang jumlahnya semakin menurun di Indonesia, termasuk di NTT. Maria Lorreta juga sudah melakukan sebuah terobosan penting dalam menjaga ketahanan pangan di pulau-pulau kecil di NTT. (EN)
Tanaman sorgum lokal
Tanaman wijen lokal, jagung pulut dan padi hitam

Tanaman jagung lokal

Bibit sorgum, jagung lokal, jagung pulut, dan delay

Sajian nasi campur sorgum, ikan bakar, cumi goreng, sayur singkong dan sayur rumput laut

Pemandangan di depan rumah Maria Lorreta. Air tawar yang keluar deras dari bebatuan ketika air laut sedang surut





Wednesday, December 14, 2011

Menyelamatkan Hutan Terakhir di Riau

Tak ada yang menyangkal bahwa Provinsi Riau adalah salah satu provinsi terkaya di negara ini. Didalam tanah dan diatas tanahnya terhampar kekayaan alam yang tak terhitung nilainya. Minyak bumi, batubara, timah dan berbagai bahan tambang lainnya terpendam didalam tanah Riau. Sementara diatasnya membentang hutan rawa gambut dengan segala potensi kayu yang sangat banyak dan berbagai biodiversity lainnya.

Semua mata pelaku industri melirik Riau. Tak sedikit pelaku industri kelas dunia hijrah ke Riau untuk mengeruk semua kekayaan yang ada di provinsi kaya ini. Pipa-pipa besar mengurai disepanjang jalan utama Kota Siak, Bengkalis, Dumai, dan Rokan Hilir. Di Kota Palalawan dan Indragiri Hilir setiap saat truk-truk raksasa mengangkut kayu alam. Mulai dari yang kecil sampai yang berdiameter diatas 60 sentimeter berlalu lalang disepanjang jalan selama 24 jam. Hampir diseluruh kabupaten yang ada di Riau juga membentang luas perkebunan kelapa sawit.

Kawasan hutan yang luas di Riau bagaikan ATM bagi banyak kalangan. Pejabat, aparat, pebisnis dan pembalak seakan berlomba-lomba ingin memasukkan kartu ATM-nya dan mengambil seluruh uang yang ada didalam mesin ATM tersebut. Buruknya sistem pengelolaan kawasan hutan di Riau. Korupsi dan serakahnya para pengusaha membuat kawasan hutan di Riau hilang tak berbekas.

Tingkat deforestasi atau kerusakan hutan di Riau adalah yang tertinggi di Indonesia. Sekitar 160 ribu ha per tahun hutan di Riau hilang. Kini hutan alam yang tersisa di Riau tinggal 1,2 juta hektar. Pada tahun 1982 kawasan hutan alam di Riau seluas 6,4 juta hektar.

Keberadaan dua perusahaan raksasa kertas Asia Tenggara adalah penyebab tingginya laju deforestasi dan kerusakan hutan alam di Riau. Dua pertiga hutan di Riau dikuasai oleh Asia Pulp & Paper (APP) dari Sinar Mas Group yang bermarkas di Shanghai, China, dan Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) dari Royal Golden Eagle Group, yang bermarkas di Singapura.

Walaupun banyak kalangan yang mempertanyakan izin-izin konsesi yang dikeluarkan kepada APP dan APRIL karena sebagian besar konsesi mereka dikawasan gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter, kedua perusahaan ini masih dengan sangat leluasa menumbangkan pohon-pohon yang selama ini menyelamatkan kawasan gambut dari kebakaran. Berdasarkan Kepres No 32 Tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan Peraturan Pemerintah No 47 tahun 1997, bahwa area gambut yang memiliki kedalaman lebih dari 3 meter harus diperuntukkan bagi daerah lindung.

Kawasan Gambut Terluas di Sumatera

Semenajung Kampar adalah salah satu dari 4 blok hutan rawa gambut yang ada di Riau yang masih tersisa. Luas kawasan gambut Semenanjung Kampar diperkirakan sekitar 700.000 hektar. Semenanjung Kampar merupakan hamparan hutan rawa gambut yang terluas di Sumatera yang memiliki kedalaman mencapai 15 meter. Di lahan gambut ini mengandung lebih dari 2 milyar ton karbon. Berbagai kekayaan flora dan fauna serta tipologi lahan yang unik menjadikan Semenanjung Kampar menjadi penting untuk iklim dunia.

Namun saat ini, kawasan Semenanjung Kampar dalam kondisi kritis. Konversi besar-besaran dan alih fungsi lahan membuat kawasan gambut ini berubah wajah. Kering dan rentan kebakaran. Kanal-kanal raksasa merobek kawasan gambut yang selama ini indah membentang.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan, SK 327/Menhut-II/2009 tanggal 12 Juni 2009, Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) memperoleh hak konsesi HTI seluas 350.165 hektar di Kabupaten Siak, Pelalawan, Kampar, Kuantan Sengingi dan Bengkalis. Pada November 2009, akibat banyaknya aksi protes para pemerhati lingkungan mengenai pembukaan hutan di Semenanjung Kampar, Menteri Kehutanan sempat mencabut sementara izin pengelolaan hutan gambut RAPP di Semenanjung Kampar. Namun pada bulan April 2010 RAPP diizinkan beroperasi kembali di Semenanjung Kampar. Pada tahun 2006 tercatat bahwa APP dan APRIL beserta mitranya telah mengusai tanah di Riau seluas 1,8 juta hektar atau 21% dari total luas daratan Provinsi Riau (8,6 juta hektar).

Kedua industri pulp and paper ini sampai dengan sekarang masih berlomba-lomba meningkatkan kapasitas industri mereka. Kapasitas Group Sinar Mas (PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk dan PT Lontar papyrus) berdasarkan data Kementerian Perindustrian adalah sebesar 2,68 juta ton per tahun atau 42% dari total kapasitas nasional. PT RAPP memiliki kapasitas produksi 2,21 juta ton per tahun atau 35% dari total kapasitas nasional. Terdapat 80 produsen pulp dan kertas di Indonesia dengan kapasitas produksi 6,29 juta ton per tahun. Kebutuhan kertas dunia pada tahun 2011 ditaksir mencapai 350 juta ton dan pulp 200 juta ton.

Berharap dari Hutan Desa

Minimnya akses masyarakat disekitar kawasan hutan terhadap hutan mereka dan tidak berpihaknya pemerintah kepada masyarakat sudah terbukti akan memunculkan sebuah konflik kehutanan. Kemiskinan, intimidasi dan korban jiwa akibat konflik kehutanan sudah sangat sering terjadi diberbagai wilayah di Indonesia. Masyarakat adat ataupun masyarakat lokal yang berada disekitar kawasan hutan merasa punya hak terhadap kawasan hutan mereka. Konsesi yang sudah diberikan pemerintah kepada perusahaan menjadi alat pembenaran untuk mengusir dan menggusur tanah rakyat.

Melihat kondisi hutan Semenanjung Kampar yang secara perlahan-lahan dihancurkan oleh perusahaan untuk dijadikan HTI, masyarakat Desa Segamai, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Palalawan berusaha menyelamatkan hutan yang tersisa. Sebuah kawasan hutan ex HPH yang dulunya milik PT Agam Sempurna seluas 2.000 hektar mereka usulkan untuk menjadi Hutan Desa.

Hutan Desa adalah hutan negara yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa serta belum dibebani izin/hak. Saat ini masyarakat Desa Segamai masih menunggu SK Penetapan Areal hutan Desa dari Menteri Kehutanan. Masyarakat desa diberi hak kelola selama 35 tahun dan hak kelola tersebut dapat diperpanjang.

Walaupun akses menuju hutan desa ini jauh dari kampung, masyarakat Desa Segamai tetap berusaha menyelamatkan hutan terakhir yang ada di wilayah desa mereka. Dibutuhkan waktu sekitar 2 jam dengan menggunakan pompong (perahu dengan mesin tempel) untuk mencapai lokasi calon hutan desa tersebut. Posisi calon hutan desa ini berada ditengah-tengah konsesi HTI Group Sinar Mas dan RAPP.

Eddy Silatonga, salah satu tokoh pemuda Desa Segamai menyatakan bahwa masyarakat Desa Segamai selama ini tidak pernah tahu mengenai hutan semenanjung kampar. Ketika beberapa lembaga swadaya masyarakat masuk ke Desa Segamai, barulah mereka mengetahui apa itu hutan semenajung kampar dan mengapa semenanjng kampar penting untuk diselamatkan. Dia juga menyatakan selama ini masyarakat Desa Segamai tidak pernah masuk kedalam kawasan hutan calon hutan desa tersebut. Baik itu untuk mengambil kayunya ataupun mengolah hasil non kayu. Selama ini masyarakatnya hanya bertani disekitar kampung. Berbagai macam tanaman seperti kelapa, nanas, karet dan kelapa sawit adalah sumber ekonomi mereka. Kebutuhan kayu untuk rumah mereka masih menambil di kawasan hutan di sekitar kampung. Jarak yang jauh dan harus melewati konsesi perusahaan juga merupakan salah satu alasan kenapa mereka tidak pernah ke lokasi hutan calon hutan desa tersebut. “Kami mengajukan skema hutan desa itu semata-mata hanya ingin menyelamatkan hutan terakhir yang ada di semenanjung kampar. Daripada nanti diambil perusahaan lagi dan ditanami akasia, lebih baik kami jadikan saja hutan desa. Siapa tahu nanti generasi kami berikutnya membutuhkan kayu. Dan juga mereka masih bisa mengenal jenis-jenis kayu yang ada di desa ini” ungkapnya.

Masyarakat Desa Segamai yang berjumlah 268 KK ini mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Kelapa merupakan tanaman andalan masyarakat Desa Segamai. Hampir diseluruh kampung mereka ditumbuhi oleh tanaman kelapa. “Kelapa disini kami jual 700 rupiah per buah. Sekali panen dalam satu pohon bisa mencapai 20 buah. Kami panen kelapa setiap tiga bulan sekali. Rata-rata setiap KK memiliki 200-300 pohon kelapa. Klo sudah masuk musim tanam jagung, kami akan menanam jagung. Desa Segamai juga salah satu desa penghasil jagung terbesar di Riau” ucap Eddy bangga.

Walaupun keberpihakan kepada masyarakat masih kecil terhadap sebuah kawasan hutan dan juga skema ini masih jauh dari ideal, skema hutan desa saat ini adalah salah satu cara masyarakat untuk merebut hak kelola sebuah kawasan hutan secara legal. Masyarakat harus berlomba-lomba dengan perusahaan-perusahaan rakus untuk mendapatkan hak kelola. Masyarakat juga harus bisa menunjukkan bahwa mereka mampu mengelola kawasan hutan mereka secara baik.

Skema hutan desa satu-satunya harapan bagi masyarakat yang tinggal disepanjang semenanjung kampar. Zainuri Hasyim dari Yayasan Mitra Insani yang selama ini mendampingi beberapa desa yang ada di semenanjung kampar menyatakan bahwa dengan diberikannya hak kelola kepada masyarakat desa di semenanjung kampar berarti pemerintah bisa menunjukkan keberpihakannya kepada masyarakat. “kami seperti berlomba-lomba dengan perusahaan untuk mendapatkan hak kelola kawasan hutan yang ada di semenanjung kampar ini” ungkap Zain. Walaupun salah satu mantan Bupati Palalawan pernah menolak surat permohonan rekomendasi hutan desa di Teluk Binjai dengan alasan masyarakat belum bisa mengelola hutan dan kawasan yang diusulkan masyarakat Desa Teluk Binjai telah diusulkan oleh RAPP, Zainuri bersama-sama masyarakat desa yang ada di semenanjung kampar akan tetap berjuang untuk menyelamatkan hutan terakhir.

Masyarakat Desa Segamai diatas pompong menyebrangi sungai kampar menuju lokasi hutan desa















(Diolah dari berbagai sumber setelah berkunjung ke Desa Segamai)

Wednesday, November 30, 2011

Jangan Hancurkan Hutan Papua

“Kami yang di kampung ini sangat butuh hutan. Hutan adalah sumber penghidupan kami. Perusahaan ataupun pemerintah tidak boleh tebang pohon-pohon yang ada dikampung ini”. Itulah salah satu kalimat yang disampaikan Alfred Kladit, salah satu tokoh masyarakat Kampung Sira, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan.

Kampung Sira adalah salah satu kampung yang terdapat di Distrik Saifi. Seluruh masyarakat yang ada di Kampung Sira adalah warga suku knasaimos. Sebelumnya kampung ini masih tergabung didalam Distrik Seremuk. Jumlah penduduk dikampung ini hanya 178 jiwa dengan total kepala keluarga sebanyak 38 KK.

Diwilayah ini masih menghampar luas hutan tropis dengan tajuk yang rapat. Pohon merbau (Instia bijuga), matoa, eboni, lenggua dan damar merah sangat mudah untuk ditemui. Semua jenis-jenis kayu keras ini memang sangat menggiurkan jika dilihat oleh para mafia hutan ataupun pengusaha kayu.
“Pohon merbau ini usianya mungkin sudah ratusan tahun. Diameter pohon mungkin sudah mencapai 1 meter. Tinggi bebas cabang sekitar 25 meter. Tingginya keselurahan mungkin sekitar 50 meter. Ada banyak disini kayu yang besar-besar seperti ini”. Ucap Alfred sambil menunjuk salah satu pohon yang ada dibelakangnya. Saat itu saya seharian masuk didalam hutan adat mereka untuk melihat dan mendokumentasikan kondisi hutan adatnya.

Di Kampung Sira dan Kampung Manggroholo merupakan sebuah kampung yang masih mempertahankan hutan-hutan adat mereka. Hutan adat ini berada dibawah marga atau sering disebut hutan marga. Di kampung ini terdapat beberapa marga, diantaranya adalah marga kladit, seremere, sesa, serefle, wagarefe, sagisolo dan kolinggia.

Sudah dipastikan kawasan hutan kampung ini dan beberapa kampung lainnya akan selalu menjadi incaran para pelaku industri yang ingin mengambil kayunya. Aktivitas illegal loging memang sempat menghancurkan sebuah kawasan hutan yang ada di Kampung Melaswat. Para cukong kayu memanfaatkan hutan adat mereka dengan menerapkan sistem Koperasi Masyarakat (Kopermas) untuk menebang pohon-pohon yang ada dikawasan hutan tersebut. Namun sejak dilakukan operasi hutan lestari pada tahun 2005, aktivitas illegal loging ini berhenti.

Beberapa tahun yang lalu, untuk menuju kampung ini jalur pertama yang harus dilalui adalah jalur darat dari Sorong-Teminabuan dengan waktu tempuh kurang lebih 7 jam. Dari Teminabuan dilanjutkan dengan speedboat menuju distrik Seremuk selama kurang lebih 4 jam. Dari Distrik Seremuk berjalan kaki selama kurang lebih 3 jam menuju Kampung Manggorholo. Saat ini untuk menuju Kampung Manggoroholo dan Sira sudah bisa ditembus dengan kendaraan four wheel drive dari Sorong. Jarak tempuh Sorong-Manggoroholo jika kondisi jalan kering (tidak berlumpur) kurang lebih sekitar 5 jam.

Di sini kita bisa melihat bagaimana sebuah kearifan masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan hasil hutan. Sehari-harinya masyarakat mengkonsumsi sagu dan talas sebagai sumber pangan utama. Untuk memenuhi kebutuhan protein dan nabati, mereka akan berburu satwa yang ada didalam hutan dan mencari ikan. Pohon-pohon sagu yang masih tersebar diseputaran kampung merupakan aset yang sangat berharga bagi masyarkat Kampung Sira dan Kampung Manggoroholo. Mereka tidak bisa dilepaskan dari pohon sagu.

Dengan segala keterbatasan akses, baik itu akses pendidikan, transportasi dan kesehatan mereka mencoba bertahan. Mensyukuri kekayaan alam yang mereka miliki, walau terkadang ada rasa ketidakadilan yang diberikan oleh pemerintah kepada orang-orang papua.

Kampung Manggroholo dengan tutupan hutan yang masih rapat dan dikelilingi pohon sagu

Pohon merbau dengan akar banir yang lebar dan diameter pohon mencapai 1 meter lebih
Pohon merbau yang memiliki diameter kurang lebih 80 cm

Berburu adalah salah satu kegiatan yang dilakukan masyarakat di Kampung Sira
Sagu merupakan sumber makanan utama masyarakat di Kampung Sira dan Manggroholo
Membuat anyaman dari kulit pohon dan daun pandan adalah salah satu kearifan masyarakat dalam memanfaatkan hasil hutan
Anak-anak di Kampung Sira dan Manggroholo sekolah dengan segala keterbatasan
Anak-anak di Kampung Sira yang akan berangkat sekolah
Banyak anak-anak di Kampung Sira dan Manggoroholo yang menderita penyakit kulit


Teks dan Foto
Een Irawan Putra


Beberapa foto lainnya bisa lihat disini: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150424794289570.380750.593394569&type=1

Sunday, November 13, 2011

Reihan dan Mulhayati: Dengan Keteguhan Berdagang Sale

Sale atau pisang olahan pada umumnya dikenal sebagai makanan cemilan khas Jawa Barat. Jika kita berkunjung ke Bandung atau Ciamis, biasanya selalu membawa pisang sale sebagai oleh-oleh untuk kerabat dan keluarga.


Tapi siapa menyangka jika disebuah desa di Kabupaten Lombok Utara juga terdapat jenis makan ini. Diolah dengan acara sederhana. Tanpa banyak campuran rasa seperti yang ada di Jawa Barat.


Di Desa Santong, Kecamatan Kayangan, Ibu Reihan (55 tahun) dan anak perempuannya Mulhayati (35 tahun) adalah salah satu pioner pembuat cemilan pisang sale. Melimpahnya buah pisang di desa ini memang salah satu usaha yang pas untuk mengolah buah pisang tersebut menjadi makanan siap saji dan bernilai ekonomis. 


Ibu Reihan mulai belajar membuat pisang sale pada tahun 1997 dengan adanya pelatihan dari Dinas Sosial. Saat itu dibentuk kelompok yang beranggotakan 12 orang untuk diajarkan membuat pisang sale. Namun setelah beberapa tahun berjalan hanya Ibu Reihan yang bertahan sampai dengan sekarang.


Yang menarik dari sosok Ibu Reihan dan Mulhayati adalah sebuah keteguhan dan pola pikir yang sederhana dalam membuat sebuah pisang sale. Walaupun teman-temannya sudah tidak ada yang mau lagi membuat pisang sale pada saat itu, mereka tetap bertahan. Keteguhan hati mereka dalam membuat pisang sale saat ini sudah membuahkan hasil. Banyak orang yang memesan pisang sale buatan Ibu Reihan. Tidak hanya orang-orang dari Mataram yang memesan salenya, tapi juga beberapa tamu dari Jepang, Australia dan Jerman.


Ketika orang sudah ramai memesan pisang sale Ibu Reihan, banyak tetangga mereka yang mulai ikut membuat pisang sale. Banyaknya saingan yang membuat pisang sale di desanya membuat Ibu Reihan dan Mulhayati tidak khawatir. Mereka percaya bahwa rezeki itu sudah ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Pisang sale yang diberi label “Nasel” tetap laris dan banyak yang memesan. Para pembeli senang dengan pisang sale buatan Ibu Reihan karena gurih dan manis. Apalagi jika dimakan dalam kondisi yang masih hangat setelah digoreng.


“Biasanya jika tamu yang baru pertama kali membeli, kami minta mereka untuk mencobanya terlebih dahulu. Jika enak silahkan dibeli. Kami tidak mau memaksa mereka untuk membeli keripik pisang sale buatan kami ini” ungkap Mulhayati ketika saya berkunjung ke rumahnya untuk melihat proses pembuatan pisang sale mereka.


Ingin yang alami dan menerima cemoohan orang lain 


Dalam membuat pisang sale, Ibu Reihan dan Mulhayati tidak pernah berpikir berdagang dengan tujuan utama mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Sale yang mereka buat selalu dipertahankan proses pembuatan yang alami dan rasa salenya.


Proses pengeringan pisang yang telah diiris dikeringkan dengan bantuan sinar matahari. Ketika hari diperkirakan akan panas atau terik, mereka akan buru-buru untuk mengiris pisang dan menjemurnya. Mereka percaya bahwa matahari adalah alat pengering yang sangat baik. Disaat musim penghujan mereka memang tidak bisa berbuat banyak, terkadang mereka sama sekali tidak memproduksi pisang sale selama beberapa hari. Pada saat proses penggorengan pisang sale, Ibu Reihan dan Mulhayati menggunakan kayu bakar. Mereka tidak mau menggunakan kompor minyak tanah ataupun gas karena mereka mengganggap panas dari kayu api dengan kompor berbeda. “Kami lebih mempertahankan rasa. Kami tidak mau sale kami dikembalikan oleh pembeli karena rasanya tidak enak” ucap Mulhayati. Dia menceritakan bahwa ada sale yang buatan orang lain pernah dikembalikan oleh pembelinya karena rasanya tidak enak. Mereka melakukan pengeringan dengan menggunakan oven.


Harga pisang sale buatan Ibu Reihan dan Mulhayati bisa dikatakan sangat murah. Hanya 25 ribu per kilo. Banyak para pembeli yang menyampaikan bahwa harga ini terlalu murah. Tapi mereka tidak mau menaikkan harga pisang salenya. Bagi mereka harga ini terjangkau bagi para pembeli di desa. Mereka tidak mempermasalahkan dengan para pembeli yang menjual kembali salenya dengan harga yang lebih tinggi. Karena mereka percaya bahwa rezeki sepenuhnya sudah diatur oleh Tuhan. Mulhayati mengatakan itu hak mereka jika mereka menaikkan harga ketika mereka menjual kembali pisang sale yang mereka bikin. Bagi mereka keuntungan dari harga itu sudah cukup untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari.


Mulai banyaknya para pembuat sale di desanya di Lombok Utara, membuat persaingan dalam membuka sebuah usaha. Tak jarang persaingan secara tidak sehat dilakukan oleh para pembuat sale yang lain. Banyak orang-orang menyampaikan kepada Ibu Reihan bahwa dalam membuat sale seharusnya memakai telur ayam, margarin dan memakai tepung buatan sebuah pabrik ternama di Indonesia. Tapi Ibu Reihan dan Mulhayati tetap dengan cara mereka sendiri, memakai cara sederhana dengan menggunakan tepung beras yang ditumbuk sendiri. “Mereka menyarankan kami seperti itu mungkin agar sale yang kami buat rasanya berubah. Pernah juga diisukan sale buatan kami rasanya aneh dan busuk” ungkap Mulhayati.


Beberapa kali pisang sale mereka dibeli untuk pameran di beberapa tempat di Mataram. Tapi ketika dipamerkan, label mereka yaitu “Nasel” diganti oleh label milik orang lain. Seorang pembeli yang sudah kenal dengan rasa sale Ibu Reihan menyampaikan kasus ini kepada Ibu Reihan dan Mulhayati, tapi mereka tidak mau meributkan urusan seperti ini. “Malu ngeributin hal-hal seperti itu. Biarkan saja mereka berbuat demikian, toh orang tetap datang dan pesan kepada kami” ungkapnya.


Rata-rata per minggu Ibu Reihan dan Mulhayati hanya mampu membuat pisang sale sebanyak 50 kg. Jumlah ini akan berkurang jika dalam beberapa bulan masuk musim penghujan. Setiap irisan pisangnya dibutuhkan waktu selama 3 hari untuk menjemur. Beberapa kali pisang yang sudah mereka iris terpaksa dibuang karena gagal dalam proses penjemuran. Irisan pisang yang gagal dalam proses penjemuran akan berwarna hitam. Mereka tidak akan mau menggoreng pisang yang sudah berwarna hitam walaupun dari segi rasa sebenarnya tidak berubah. Mereka akan menggoreng pisang yang sukses dalam penjemuran yaitu irisan pisang yang berwarna kecoklatan atau cokelat tua. Dalam menyajikan makanan dan berdagang mereka tetap memegang sebuah pripsip. Untuk setiap manusia rezeki itu sudah diatur. Jujur adalah sebuah pedoman dalam berusaha.


Terima kasih sudah memberi sebuah pembelajaran dalam menjalani sebuah kehidupan Ibu Reihan. Semoga usahanya semakin lancar. Para pencinta sale akan selalu menunggu sale buatan Ibu Reihan. Termasuk saya sendiri. (EN)

Proses penggorengan yang masih menggunakan kayu bakar. Penggorengan pisang sale harus dilakukan 2 orang

Packing pisang sale juga dengan metode sederhana. Perekat plastik masih menggunakan api pada lampu teplok

Keripik sale yang siap dijual dengan merk Nasel. Nasel adalah nama dari dua cucu Ibu Reihan yaitu Nanang dan Seli