<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599</id><updated>2012-01-04T18:51:38.701+07:00</updated><category term='Lais'/><category term='Solo'/><category term='Bengkulu Utara'/><category term='Taman Nasional'/><category term='telapak'/><category term='Hutan Adat'/><category term='Knasaimos'/><category term='Perjuangan perempuan Molo'/><category term='Hutan Desa Lubuk Beringin'/><category term='lampung'/><category term='Teluk Meranti'/><category term='Citorek'/><category term='UU 32/2009'/><category term='Suku Rejang'/><category term='Rufford'/><category term='Dieng'/><category term='Kasepuhan'/><category term='Sumber Jaya'/><category term='Desa Pekandangan'/><category term='Desa Sukamulya'/><category term='Percaloan CPNS'/><category term='Arga Makmur'/><category term='Semenanjung Kampar'/><category term='Rejang Lebong'/><category term='Gajah Sumatera'/><category term='Imbal Jasa Lingkungan'/><category term='Desa Cibuluh'/><category term='Banten'/><category term='Bersepeda'/><category term='Danau Sentarum'/><category term='sorong'/><category term='Mentangai'/><category term='Orang Rimba'/><category term='Kelapa sawit'/><category term='Gempa Bengkulu'/><category term='Nicky Saputra'/><category term='Lembaga Ekolabel Indonesia'/><category term='Bagansiapiapi'/><category term='Cibeduk'/><category term='Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro'/><category term='Penerimaan PNS'/><category term='Vidoe partisipatori'/><category term='Suku Bathin IX'/><category term='Kampung Dukuh'/><category term='Refleksi akhir tahun'/><category term='PT Ledo Lestari'/><category term='Mama Aleta'/><category term='Hutan Desa Segamai'/><category term='Riau'/><category term='Wisata kuliner'/><category term='Freedom Film Festival'/><category term='Sira'/><category term='sidang adat'/><category term='Perlindungan Lingkungan Hidup'/><category term='Gekko Studio'/><category term='Semunying Jaya'/><category term='Pantai Panjang'/><category term='DAS Air Bengkulu'/><category term='Jambi'/><category term='Climate Defender Camp'/><category term='Land clearing'/><category term='SGP PTF'/><category term='Kuala Tungkal'/><category term='Garut'/><category term='Gajah BEngkulu'/><category term='Tahura wan abdul rachman'/><category term='Dwi Lesmana'/><category term='Kampung Topos'/><category term='PLG Seblat'/><category term='Soe Hok Gie'/><category term='cv putra langit'/><category term='Kearifan lokal'/><category term='Simpang Hulu'/><category term='Manggroholo'/><category term='Lumpur Lapindo'/><category term='Sorong Selatan'/><category term='Serawak'/><category term='Tour Java'/><category term='Perkebunan Sawit'/><category term='Harimau sumatera'/><category term='Duta Palma Group'/><category term='penipu dari bandung'/><category term='Sinar Mas Group'/><category term='Brebes'/><category term='Hutan sertifikasi'/><category term='KFCP'/><category term='Pulau Timor'/><category term='COP 16 Cancun'/><category term='Konversi Sawit'/><category term='Lubuk Besar'/><category term='Suku Anak Dalam'/><category term='Batam'/><category term='Ngata Toro'/><category term='Bengkulu'/><category term='Hutan larangan'/><title type='text'>Berang Berang Blog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>56</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-5134266534775110330</id><published>2011-12-14T09:16:00.000+07:00</published><updated>2011-12-14T09:19:35.369+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semenanjung Kampar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hutan Desa Segamai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riau'/><title type='text'>Menyelamatkan Hutan Terakhir di Riau</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Tak ada yang menyangkal bahwa Provinsi Riau adalah salah satu provinsi terkaya di negara ini. Didalam tanah dan diatas tanahnya terhampar kekayaan alam yang tak terhitung nilainya. Minyak bumi, batubara, timah dan berbagai bahan tambang lainnya terpendam didalam tanah Riau. Sementara diatasnya membentang hutan rawa gambut dengan segala potensi kayu yang sangat banyak dan berbagai biodiversity lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Semua mata pelaku industri melirik Riau. Tak sedikit pelaku industri kelas dunia hijrah ke Riau untuk mengeruk semua kekayaan yang ada di provinsi kaya ini. Pipa-pipa besar mengurai disepanjang jalan utama Kota Siak, Bengkalis, Dumai, dan Rokan Hilir. Di Kota Palalawan dan Indragiri Hilir setiap saat truk-truk raksasa mengangkut kayu alam. Mulai dari yang kecil sampai yang berdiameter diatas 60 sentimeter berlalu lalang disepanjang jalan selama 24 jam. Hampir diseluruh kabupaten yang ada di Riau juga membentang luas perkebunan kelapa sawit.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Kawasan hutan yang luas di Riau bagaikan ATM bagi banyak kalangan. Pejabat, aparat, pebisnis dan pembalak seakan berlomba-lomba ingin memasukkan kartu ATM-nya dan mengambil seluruh uang yang ada didalam mesin ATM tersebut. Buruknya sistem pengelolaan kawasan hutan di Riau. Korupsi dan serakahnya para pengusaha membuat kawasan hutan di Riau hilang tak berbekas.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Tingkat deforestasi atau kerusakan hutan di Riau adalah yang tertinggi di Indonesia. Sekitar 160 ribu ha per tahun hutan di Riau hilang. Kini hutan alam yang tersisa di Riau tinggal 1,2 juta hektar. Pada tahun 1982 kawasan hutan alam di Riau seluas 6,4 juta hektar.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Keberadaan dua perusahaan raksasa kertas Asia Tenggara adalah penyebab tingginya laju deforestasi dan kerusakan hutan alam di Riau. Dua pertiga hutan di Riau dikuasai oleh Asia Pulp &amp;amp; Paper (APP) dari Sinar Mas Group yang bermarkas di Shanghai, China, dan Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) dari Royal Golden Eagle Group, yang bermarkas di Singapura.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Walaupun banyak kalangan yang mempertanyakan izin-izin konsesi yang dikeluarkan kepada APP dan APRIL karena sebagian besar konsesi mereka dikawasan gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter, kedua perusahaan ini masih dengan sangat leluasa menumbangkan pohon-pohon yang selama ini menyelamatkan kawasan gambut dari kebakaran. Berdasarkan Kepres No 32 Tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan Peraturan Pemerintah No 47 tahun 1997, bahwa area gambut yang memiliki kedalaman lebih dari 3 meter harus diperuntukkan bagi daerah lindung.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;strong&gt;Kawasan Gambut Terluas di Sumatera&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Semenajung Kampar adalah salah satu dari 4 blok hutan rawa gambut yang ada di Riau yang masih tersisa. Luas kawasan gambut Semenanjung Kampar diperkirakan sekitar 700.000 hektar. Semenanjung Kampar merupakan hamparan hutan rawa gambut yang terluas di Sumatera yang memiliki kedalaman mencapai 15 meter. Di lahan gambut ini mengandung lebih dari 2 milyar ton karbon. Berbagai kekayaan flora dan fauna serta tipologi lahan yang unik menjadikan Semenanjung Kampar menjadi penting untuk iklim dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Namun saat ini, kawasan Semenanjung Kampar dalam kondisi kritis. Konversi besar-besaran dan alih fungsi lahan membuat kawasan gambut ini berubah wajah. Kering dan rentan kebakaran. Kanal-kanal raksasa merobek kawasan gambut yang selama ini indah membentang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan, SK 327/Menhut-II/2009 tanggal 12 Juni 2009, Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) memperoleh hak konsesi HTI seluas 350.165 hektar di Kabupaten Siak, Pelalawan, Kampar, Kuantan Sengingi dan Bengkalis. Pada November 2009, akibat banyaknya aksi protes para pemerhati lingkungan mengenai pembukaan hutan di Semenanjung Kampar, Menteri Kehutanan sempat mencabut sementara izin pengelolaan hutan gambut RAPP di Semenanjung Kampar. Namun pada bulan April 2010 RAPP diizinkan beroperasi kembali di Semenanjung Kampar. Pada tahun 2006 tercatat bahwa APP dan APRIL beserta mitranya telah mengusai tanah di Riau seluas 1,8 juta hektar atau 21% dari total luas daratan Provinsi Riau (8,6 juta hektar).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Kedua industri pulp and paper ini sampai dengan sekarang masih berlomba-lomba meningkatkan kapasitas industri mereka. Kapasitas Group Sinar Mas (PT Indah Kiat Pulp &amp;amp; Paper Tbk dan PT Lontar papyrus) berdasarkan data Kementerian Perindustrian adalah sebesar 2,68 juta ton per tahun atau 42% dari total kapasitas nasional. PT RAPP memiliki kapasitas produksi 2,21 juta ton per tahun atau 35% dari total kapasitas nasional. Terdapat 80 produsen pulp dan kertas di Indonesia dengan kapasitas produksi 6,29 juta ton per tahun. Kebutuhan kertas dunia pada tahun 2011 ditaksir mencapai 350 juta ton dan pulp 200 juta ton.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;strong&gt;Berharap dari Hutan Desa&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Minimnya akses masyarakat disekitar kawasan hutan terhadap hutan mereka dan tidak berpihaknya pemerintah kepada masyarakat sudah terbukti akan memunculkan sebuah konflik kehutanan. Kemiskinan, intimidasi dan korban jiwa akibat konflik kehutanan sudah sangat sering terjadi diberbagai wilayah di Indonesia. Masyarakat adat ataupun masyarakat lokal yang berada disekitar kawasan hutan merasa punya hak terhadap kawasan hutan mereka. Konsesi yang sudah diberikan pemerintah kepada perusahaan menjadi alat pembenaran untuk mengusir dan menggusur tanah rakyat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Melihat kondisi hutan Semenanjung Kampar yang secara perlahan-lahan dihancurkan oleh perusahaan untuk dijadikan HTI, masyarakat Desa Segamai, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Palalawan berusaha menyelamatkan hutan yang tersisa. Sebuah kawasan hutan ex HPH yang dulunya milik PT Agam Sempurna seluas 2.000 hektar mereka usulkan untuk menjadi Hutan Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Hutan Desa adalah hutan negara yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa serta belum dibebani izin/hak. Saat ini masyarakat Desa Segamai masih menunggu SK Penetapan Areal hutan Desa dari Menteri Kehutanan. Masyarakat desa diberi hak kelola selama 35 tahun dan hak kelola tersebut dapat diperpanjang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Walaupun akses menuju hutan desa ini jauh dari kampung, masyarakat Desa Segamai tetap berusaha menyelamatkan hutan terakhir yang ada di wilayah desa mereka. Dibutuhkan waktu sekitar 2 jam dengan menggunakan pompong (perahu dengan mesin tempel) untuk mencapai lokasi calon hutan desa tersebut. Posisi calon hutan desa ini berada ditengah-tengah konsesi HTI Group Sinar Mas dan RAPP.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Eddy Silatonga, salah satu tokoh pemuda Desa Segamai menyatakan bahwa masyarakat Desa Segamai selama ini tidak pernah tahu mengenai hutan semenanjung kampar. Ketika beberapa lembaga swadaya masyarakat masuk ke Desa Segamai, barulah mereka mengetahui apa itu hutan semenajung kampar dan mengapa semenanjng kampar penting untuk diselamatkan. Dia juga menyatakan selama ini masyarakat Desa Segamai tidak pernah masuk kedalam kawasan hutan calon hutan desa tersebut. Baik itu untuk mengambil kayunya ataupun mengolah hasil non kayu. Selama ini masyarakatnya hanya bertani disekitar kampung. Berbagai macam tanaman seperti kelapa, nanas, karet dan kelapa sawit adalah sumber ekonomi mereka. Kebutuhan kayu untuk rumah mereka masih menambil di kawasan hutan di sekitar kampung. Jarak yang jauh dan harus melewati konsesi perusahaan juga merupakan salah satu alasan kenapa mereka tidak pernah ke lokasi hutan calon hutan desa tersebut. “Kami mengajukan skema hutan desa itu semata-mata hanya ingin menyelamatkan hutan terakhir yang ada di semenanjung kampar. Daripada nanti diambil perusahaan lagi dan ditanami akasia, lebih baik kami jadikan saja hutan desa. Siapa tahu nanti generasi kami berikutnya membutuhkan kayu. Dan juga mereka masih bisa mengenal jenis-jenis kayu yang ada di desa ini” ungkapnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Masyarakat Desa Segamai yang berjumlah 268 KK ini mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Kelapa merupakan tanaman andalan masyarakat Desa Segamai. Hampir diseluruh kampung mereka ditumbuhi oleh tanaman kelapa. “Kelapa disini kami jual 700 rupiah per buah. Sekali panen dalam satu pohon bisa mencapai 20 buah. Kami panen kelapa setiap tiga bulan sekali. Rata-rata setiap KK memiliki 200-300 pohon kelapa. Klo sudah masuk musim tanam jagung, kami akan menanam jagung. Desa Segamai juga salah satu desa penghasil jagung terbesar di Riau” ucap Eddy bangga.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Walaupun keberpihakan kepada masyarakat masih kecil terhadap sebuah kawasan hutan dan juga skema ini masih jauh dari ideal, skema hutan desa saat ini adalah salah satu cara masyarakat untuk merebut hak kelola sebuah kawasan hutan secara legal. Masyarakat harus berlomba-lomba dengan perusahaan-perusahaan rakus untuk mendapatkan hak kelola. Masyarakat juga harus bisa menunjukkan bahwa mereka mampu mengelola kawasan hutan mereka secara baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Skema hutan desa satu-satunya harapan bagi masyarakat yang tinggal disepanjang semenanjung kampar. Zainuri Hasyim dari Yayasan Mitra Insani yang selama ini mendampingi beberapa desa yang ada di semenanjung kampar menyatakan bahwa dengan diberikannya hak kelola kepada masyarakat desa di semenanjung kampar berarti pemerintah bisa menunjukkan keberpihakannya kepada masyarakat. “kami seperti berlomba-lomba dengan perusahaan untuk mendapatkan hak kelola kawasan hutan yang ada di semenanjung kampar ini” ungkap Zain. Walaupun salah satu mantan Bupati Palalawan pernah menolak surat permohonan rekomendasi hutan desa di Teluk Binjai dengan alasan masyarakat belum bisa mengelola hutan dan kawasan yang diusulkan masyarakat Desa Teluk Binjai telah diusulkan oleh RAPP, Zainuri bersama-sama masyarakat desa yang ada di semenanjung kampar akan tetap berjuang untuk menyelamatkan hutan terakhir.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-wXPYP2Xh0uU/TugGHm28l4I/AAAAAAAAAio/NZi899NCyTI/s1600/_MG_6284.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://3.bp.blogspot.com/-wXPYP2Xh0uU/TugGHm28l4I/AAAAAAAAAio/NZi899NCyTI/s400/_MG_6284.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Masyarakat Desa Segamai diatas pompong menyebrangi sungai kampar menuju lokasi hutan desa&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diolah dari berbagai sumber setelah berkunjung ke Desa Segamai)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-5134266534775110330?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/5134266534775110330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/12/menyelamatkan-hutan-terakhir-di-riau.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/5134266534775110330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/5134266534775110330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/12/menyelamatkan-hutan-terakhir-di-riau.html' title='Menyelamatkan Hutan Terakhir di Riau'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-wXPYP2Xh0uU/TugGHm28l4I/AAAAAAAAAio/NZi899NCyTI/s72-c/_MG_6284.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-6994970276256652558</id><published>2011-11-30T17:01:00.001+07:00</published><updated>2011-12-06T23:45:39.912+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hutan Adat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sira'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sorong Selatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manggroholo'/><title type='text'>Jangan Hancurkan Hutan Papua</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;“Kami yang di kampung ini sangat butuh hutan. Hutan adalah sumber penghidupan kami. Perusahaan ataupun pemerintah tidak boleh tebang pohon-pohon yang ada dikampung ini”. Itulah salah satu kalimat yang disampaikan Alfred Kladit, salah satu tokoh masyarakat Kampung Sira, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Kampung Sira adalah salah satu kampung yang terdapat di Distrik Saifi. Seluruh masyarakat yang ada di Kampung Sira adalah warga suku knasaimos. Sebelumnya kampung ini masih tergabung didalam Distrik Seremuk. Jumlah penduduk dikampung ini hanya 178 jiwa dengan total kepala keluarga sebanyak 38 KK.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Diwilayah ini masih menghampar luas hutan tropis dengan tajuk yang rapat. Pohon merbau (Instia bijuga), matoa, eboni, lenggua dan damar merah sangat mudah untuk ditemui. Semua jenis-jenis kayu keras ini memang sangat menggiurkan jika dilihat oleh para mafia hutan ataupun pengusaha kayu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;“Pohon merbau ini usianya mungkin sudah ratusan tahun. Diameter pohon mungkin sudah mencapai 1 meter. Tinggi bebas cabang sekitar 25 meter. Tingginya keselurahan mungkin sekitar 50 meter. Ada banyak disini kayu yang besar-besar seperti ini”. Ucap Alfred sambil menunjuk salah satu pohon yang ada dibelakangnya. Saat itu saya seharian masuk didalam hutan adat mereka untuk melihat dan mendokumentasikan kondisi hutan adatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Di Kampung Sira dan Kampung Manggroholo merupakan sebuah kampung yang masih mempertahankan hutan-hutan adat mereka. Hutan adat ini berada dibawah marga atau sering disebut hutan marga. Di kampung ini terdapat beberapa marga, diantaranya adalah marga kladit, seremere, sesa, serefle, wagarefe, sagisolo dan kolinggia.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Sudah dipastikan kawasan hutan kampung ini dan beberapa kampung lainnya akan selalu menjadi incaran para pelaku industri yang ingin mengambil kayunya. Aktivitas illegal loging memang sempat menghancurkan sebuah kawasan hutan yang ada di Kampung Melaswat. Para cukong kayu memanfaatkan hutan adat mereka dengan menerapkan sistem Koperasi Masyarakat (Kopermas) untuk menebang pohon-pohon yang ada dikawasan hutan tersebut. Namun sejak dilakukan operasi hutan lestari pada tahun 2005, aktivitas illegal loging ini berhenti.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Beberapa tahun yang lalu, untuk menuju kampung ini jalur pertama yang harus dilalui adalah jalur darat dari Sorong-Teminabuan dengan waktu tempuh kurang lebih 7 jam. Dari Teminabuan dilanjutkan dengan speedboat menuju distrik Seremuk selama kurang lebih 4 jam. Dari Distrik Seremuk berjalan kaki selama kurang lebih 3 jam menuju Kampung Manggorholo. Saat ini untuk menuju Kampung Manggoroholo dan Sira sudah bisa ditembus dengan kendaraan four wheel drive dari Sorong. Jarak tempuh Sorong-Manggoroholo jika kondisi jalan kering (tidak berlumpur) kurang lebih sekitar 5 jam.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Di sini kita bisa melihat bagaimana sebuah kearifan masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan hasil hutan. Sehari-harinya masyarakat mengkonsumsi sagu dan talas sebagai sumber pangan utama. Untuk memenuhi kebutuhan protein dan nabati, mereka akan berburu satwa yang ada didalam hutan dan mencari ikan. Pohon-pohon sagu yang masih tersebar diseputaran kampung merupakan aset yang sangat berharga bagi masyarkat Kampung Sira dan Kampung Manggoroholo. Mereka tidak bisa dilepaskan dari pohon sagu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Dengan segala keterbatasan akses, baik itu akses pendidikan, transportasi dan kesehatan mereka mencoba bertahan. Mensyukuri kekayaan alam yang mereka miliki, walau terkadang ada rasa ketidakadilan yang diberikan oleh pemerintah kepada orang-orang papua.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-uocnZCxuLeE/TtX_JgloytI/AAAAAAAAAhE/bva6oE4LfbI/s1600/IMG_7687.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-uocnZCxuLeE/TtX_JgloytI/AAAAAAAAAhE/bva6oE4LfbI/s400/IMG_7687.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Kampung Manggroholo dengan tutupan hutan yang masih rapat dan dikelilingi pohon sagu&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-wrA3GehV-Q8/TtX_egbfDuI/AAAAAAAAAhM/0_p9u8_SrCo/s1600/IMG_8306.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-wrA3GehV-Q8/TtX_egbfDuI/AAAAAAAAAhM/0_p9u8_SrCo/s400/IMG_8306.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Pohon merbau dengan akar banir yang lebar dan diameter pohon mencapai 1 meter lebih&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-UIbVwB0BngE/TtYBl8mR4jI/AAAAAAAAAig/qSWVdOgZt6Q/s1600/IMG_8248.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-UIbVwB0BngE/TtYBl8mR4jI/AAAAAAAAAig/qSWVdOgZt6Q/s400/IMG_8248.jpg" width="225" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Pohon merbau yang memiliki diameter kurang lebih 80 cm&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-NaS7kbuR1sE/TtYAC_teCVI/AAAAAAAAAhY/LmGsOxbajUk/s1600/IMG_8352.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-NaS7kbuR1sE/TtYAC_teCVI/AAAAAAAAAhY/LmGsOxbajUk/s400/IMG_8352.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Berburu adalah salah satu kegiatan yang dilakukan masyarakat di Kampung Sira&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-50KIEP-Q5zk/TtYASnAK6ZI/AAAAAAAAAhk/nVlUuxMwQ_U/s1600/IMG_7893.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-50KIEP-Q5zk/TtYASnAK6ZI/AAAAAAAAAhk/nVlUuxMwQ_U/s400/IMG_7893.jpg" width="267" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Sagu merupakan sumber makanan utama masyarakat di Kampung Sira dan Manggroholo&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-y00uw4NXtMM/TtYAhz0p7rI/AAAAAAAAAhw/dUJCMpENtk0/s1600/IMG_8457.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-y00uw4NXtMM/TtYAhz0p7rI/AAAAAAAAAhw/dUJCMpENtk0/s400/IMG_8457.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Membuat anyaman dari kulit pohon dan daun pandan adalah salah satu kearifan masyarakat dalam memanfaatkan hasil hutan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-XIg75yrjJJw/TtYAyzR4k7I/AAAAAAAAAh8/Ov8kjhyj70U/s1600/IMG_7776.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://4.bp.blogspot.com/-XIg75yrjJJw/TtYAyzR4k7I/AAAAAAAAAh8/Ov8kjhyj70U/s400/IMG_7776.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Anak-anak di Kampung Sira dan Manggroholo sekolah dengan segala keterbatasan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-VPEc9Oh--x0/TtYBFXlfoDI/AAAAAAAAAiI/K0a4TlZtHxk/s1600/IMG_7736.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-VPEc9Oh--x0/TtYBFXlfoDI/AAAAAAAAAiI/K0a4TlZtHxk/s400/IMG_7736.jpg" width="266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Anak-anak di Kampung Sira yang akan berangkat sekolah&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Ts3S3GPfZc4/TtYBRoyvSNI/AAAAAAAAAiU/xtx-4P383iw/s1600/IMG_7715.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ts3S3GPfZc4/TtYBRoyvSNI/AAAAAAAAAiU/xtx-4P383iw/s400/IMG_7715.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Banyak anak-anak di Kampung Sira dan Manggoroholo yang menderita penyakit kulit&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Teks dan Foto&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Een Irawan Putra&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Beberapa foto lainnya bisa lihat disini:&amp;nbsp;http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150424794289570.380750.593394569&amp;amp;type=1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-6994970276256652558?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/6994970276256652558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/11/jangan-hancurkan-hutan-papua.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/6994970276256652558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/6994970276256652558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/11/jangan-hancurkan-hutan-papua.html' title='Jangan Hancurkan Hutan Papua'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-uocnZCxuLeE/TtX_JgloytI/AAAAAAAAAhE/bva6oE4LfbI/s72-c/IMG_7687.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-2887351833432219008</id><published>2011-11-13T10:33:00.001+07:00</published><updated>2011-11-30T17:17:48.277+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-KQycjUZtrpQ/Tr85cBleD-I/AAAAAAAAAgY/3Tpv013eQoI/s1600/DSC06702.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-KQycjUZtrpQ/Tr85cBleD-I/AAAAAAAAAgY/3Tpv013eQoI/s320/DSC06702.jpg" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sale atau pisang olahan pada umumnya dikenal sebagai makanan cemilan khas Jawa Barat. Jika kita berkunjung ke Bandung atau Ciamis, biasanya selalu membawa pisang sale sebagai oleh-oleh untuk kerabat dan keluarga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Tapi siapa menyangka jika disebuah desa di Kabupaten Lombok Utara juga terdapat jenis makan ini. Diolah dengan acara sederhana. Tanpa banyak campuran rasa seperti yang ada di Jawa Barat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Di Desa Santong, Kecamatan Kayangan, Ibu Reihan (55 tahun) dan anak perempuannya Mulhayati (35 tahun) adalah salah satu pioner pembuat cemilan pisang sale. Melimpahnya buah pisang di desa ini memang salah satu usaha yang pas untuk mengolah buah pisang tersebut menjadi makanan siap saji dan bernilai ekonomis.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Ibu Reihan mulai belajar membuat pisang sale pada tahun 1997 dengan adanya pelatihan dari Dinas Sosial. Saat itu dibentuk kelompok yang beranggotakan 12 orang untuk diajarkan membuat pisang sale. Namun setelah beberapa tahun berjalan hanya Ibu Reihan yang bertahan sampai dengan sekarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Yang menarik dari sosok Ibu Reihan dan Mulhayati adalah sebuah keteguhan dan pola pikir yang sederhana dalam membuat sebuah pisang sale. Walaupun teman-temannya sudah tidak ada yang mau lagi membuat pisang sale pada saat itu, mereka tetap bertahan. Keteguhan hati mereka dalam membuat pisang sale saat ini sudah membuahkan hasil. Banyak orang yang memesan pisang sale buatan Ibu Reihan. Tidak hanya orang-orang dari Mataram yang memesan salenya, tapi juga beberapa tamu dari Jepang, Australia dan Jerman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Ketika orang sudah ramai memesan pisang sale Ibu Reihan, banyak tetangga mereka yang mulai ikut membuat pisang sale. Banyaknya saingan yang membuat pisang sale di desanya membuat Ibu Reihan dan Mulhayati tidak khawatir. Mereka percaya bahwa rezeki itu sudah ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Pisang sale yang diberi label “Nasel” tetap laris dan banyak yang memesan. Para pembeli senang dengan pisang sale buatan Ibu Reihan karena gurih dan manis. Apalagi jika dimakan dalam kondisi yang masih hangat setelah digoreng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;“Biasanya jika tamu yang baru pertama kali membeli, kami minta mereka untuk mencobanya terlebih dahulu. Jika enak silahkan dibeli. Kami tidak mau memaksa mereka untuk membeli keripik pisang sale buatan kami ini” ungkap Mulhayati ketika saya berkunjung ke rumahnya untuk melihat proses pembuatan pisang sale mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Ingin yang alami dan menerima cemoohan orang lain&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Dalam membuat pisang sale, Ibu Reihan dan Mulhayati tidak pernah berpikir berdagang dengan tujuan utama mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Sale yang mereka buat selalu dipertahankan proses pembuatan yang alami dan rasa salenya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Proses pengeringan pisang yang telah diiris  dikeringkan dengan bantuan sinar matahari. Ketika hari diperkirakan akan panas atau terik, mereka akan buru-buru untuk mengiris pisang dan menjemurnya. Mereka percaya bahwa matahari adalah alat pengering yang sangat baik. Disaat musim penghujan mereka memang tidak bisa berbuat banyak, terkadang mereka sama sekali tidak memproduksi pisang sale selama beberapa hari. Pada saat proses penggorengan pisang sale, Ibu Reihan dan Mulhayati menggunakan kayu bakar. Mereka tidak mau menggunakan kompor minyak tanah ataupun gas karena mereka mengganggap panas dari kayu api dengan kompor  berbeda. “Kami lebih mempertahankan rasa. Kami tidak mau sale kami dikembalikan oleh pembeli karena rasanya tidak enak” ucap Mulhayati. Dia menceritakan bahwa ada sale yang buatan orang lain pernah dikembalikan oleh pembelinya karena rasanya tidak enak. Mereka melakukan pengeringan dengan menggunakan oven.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Harga pisang sale buatan Ibu Reihan dan Mulhayati bisa dikatakan sangat murah. Hanya 25 ribu per kilo. Banyak para pembeli yang menyampaikan bahwa harga ini terlalu murah. Tapi mereka tidak mau menaikkan harga pisang salenya. Bagi mereka harga ini terjangkau bagi para pembeli di desa. Mereka tidak mempermasalahkan dengan para pembeli yang menjual kembali salenya dengan harga yang lebih tinggi. Karena mereka percaya bahwa rezeki sepenuhnya sudah diatur oleh Tuhan. Mulhayati mengatakan itu hak mereka jika mereka menaikkan harga ketika mereka menjual kembali pisang sale yang mereka bikin. Bagi mereka keuntungan dari harga itu sudah cukup untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Mulai banyaknya para pembuat sale di desanya di Lombok Utara, membuat persaingan dalam membuka sebuah usaha. Tak jarang persaingan secara tidak sehat dilakukan oleh para pembuat sale yang lain. Banyak orang-orang menyampaikan kepada Ibu Reihan bahwa dalam membuat sale seharusnya memakai telur ayam, margarin dan memakai tepung buatan sebuah pabrik ternama di Indonesia. Tapi Ibu Reihan dan Mulhayati tetap dengan cara mereka sendiri, memakai cara sederhana dengan menggunakan tepung beras yang ditumbuk sendiri. “Mereka menyarankan kami seperti itu mungkin agar sale yang kami buat rasanya berubah. Pernah juga diisukan sale buatan kami rasanya aneh dan busuk” ungkap Mulhayati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Beberapa kali pisang sale mereka dibeli untuk pameran di beberapa tempat di Mataram. Tapi ketika dipamerkan, label mereka yaitu “Nasel” diganti oleh label milik orang lain. Seorang pembeli yang sudah kenal dengan rasa sale Ibu Reihan menyampaikan kasus ini kepada Ibu Reihan dan Mulhayati, tapi mereka tidak mau meributkan urusan seperti ini. “Malu ngeributin hal-hal seperti itu. Biarkan saja mereka berbuat demikian, toh orang tetap datang dan pesan kepada kami” ungkapnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Rata-rata per minggu Ibu Reihan dan Mulhayati hanya mampu membuat pisang sale sebanyak 50 kg. Jumlah ini akan berkurang jika dalam beberapa bulan masuk musim penghujan. Setiap irisan pisangnya dibutuhkan waktu selama 3 hari untuk menjemur. Beberapa kali pisang yang sudah mereka iris terpaksa dibuang karena gagal dalam proses penjemuran. Irisan pisang yang gagal dalam proses penjemuran akan berwarna hitam. Mereka tidak akan mau menggoreng pisang yang sudah berwarna hitam walaupun dari segi rasa sebenarnya tidak berubah. Mereka akan menggoreng pisang yang sukses dalam penjemuran yaitu irisan pisang yang berwarna kecoklatan atau cokelat tua. Dalam menyajikan makanan dan berdagang mereka tetap memegang sebuah pripsip. Untuk setiap manusia rezeki itu sudah diatur. Jujur adalah sebuah pedoman dalam berusaha.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Terima kasih sudah memberi sebuah pembelajaran dalam menjalani sebuah kehidupan Ibu Reihan. Semoga usahanya semakin lancar. Para pencinta sale akan selalu menunggu sale buatan Ibu Reihan. Termasuk saya sendiri. (EN)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-sUSp80lDSVA/Tr851EexRCI/AAAAAAAAAgk/qm9HnGbAXAg/s1600/DSC06678.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="268" src="http://3.bp.blogspot.com/-sUSp80lDSVA/Tr851EexRCI/AAAAAAAAAgk/qm9HnGbAXAg/s400/DSC06678.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Proses penggorengan yang masih menggunakan kayu bakar. Penggorengan pisang sale harus dilakukan 2 orang&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-0DA4JsGTCZc/Tr857z9bL5I/AAAAAAAAAgw/N9aNdVxSB7k/s1600/DSC06710.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="268" src="http://4.bp.blogspot.com/-0DA4JsGTCZc/Tr857z9bL5I/AAAAAAAAAgw/N9aNdVxSB7k/s400/DSC06710.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Packing pisang sale juga dengan metode sederhana. Perekat plastik masih menggunakan api pada lampu teplok&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-bLlDnAa4dIE/Tr86FCNgPoI/AAAAAAAAAg8/DVl1Sf6FpR4/s1600/DSC06715.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="268" src="http://2.bp.blogspot.com/-bLlDnAa4dIE/Tr86FCNgPoI/AAAAAAAAAg8/DVl1Sf6FpR4/s400/DSC06715.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Keripik sale yang siap dijual dengan merk Nasel. Nasel adalah nama dari dua cucu Ibu Reihan yaitu Nanang dan Seli&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-2887351833432219008?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/2887351833432219008/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/11/sale-atau-pisang-olahan-pada-umumnya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2887351833432219008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2887351833432219008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/11/sale-atau-pisang-olahan-pada-umumnya.html' title=''/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-KQycjUZtrpQ/Tr85cBleD-I/AAAAAAAAAgY/3Tpv013eQoI/s72-c/DSC06702.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-3637722148077002420</id><published>2011-07-13T10:05:00.004+07:00</published><updated>2011-07-13T10:12:18.165+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Rimba'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><title type='text'>Bagaimana Kami Bisa Bertahan</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;Bagaimana dia mengobati anaknya sakit? tubuhnya panas dan kulitnya mulai menguning?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa mereka lakukan untuk mencari penghidupan (makan) jika memang harus tinggal ditegakan akasia yang luasnya puluhan ribu hektar ini? Benarkah dia akan memakan seekor katak yang sudah mati dan tubuhnya sudah mulai mengering itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah aku akan mengeksplotasi mereka dengan kamera yang aku pegang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahim…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu niatku ya Tuhan, menyampaikan apa yang aku lihat dan aku dengar disini. Bagaimana kejamnya negara ini memberlakukan warganya. Bagaimana busuknya politik negeri ini. Seolah-olah mereka tidak memandang bahwa orang rimba adalah saudaranya. Manusia yang punya hak hidup layak. Butuh hutan untuk untuk bernaung dan mengajarkan anak-anaknya bagaimana nikmatnya hidup harmonis bersama alam. Berburu di lebatnya hutan rimba. Memakan buah di pohon-pohon liar yang tumbuh di alam. Mencari ikan di riak airnya yang tak pernah padam. Seperti jauh dulu yang mereka rasakan…&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-BkeJVj_gilU/Th0L0d2t9II/AAAAAAAAAfQ/g9gHN_I2fUM/s1600/IMG_2697.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-BkeJVj_gilU/Th0L0d2t9II/AAAAAAAAAfQ/g9gHN_I2fUM/s400/IMG_2697.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628668105278223490" /&gt;&lt;/a&gt;Kalimat-kalimat seperti inilah yang selalu menyelimuti perasaan saya ketika saya berhasil menemukan mereka. Menemukan salah satu kelompok Orang Rimba (OR) yang bertahan hidup dibawah tegakan akasia (Acacia sp.). Sebuah hutan monokultur atau yang sering disebut dengan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang ditanam untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kertas. Tanaman akasia jenis &lt;i&gt;Acacia auriculiformis&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Acacia mangium&lt;/i&gt;-lah yang sekarang menghijaukan daratan Provinsi Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan RTRWP Provinsi Jambi, luas kawasan hutan di jambi adalah 2,1 juta hektar dari 5 juta hektar luas Provinsi Jambi. Dari 2,1 juta hektar kawasan hutan tersebut terbagi menjadi kawasan konservasi, kawasan lindung, dan kawasan produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas kawasan hutan produksi di Jambi adalah sekitar 1,2 juta hektar. 50% atau sekitar 600 ribu hektar kawasan hutan produksi ini sudah diberikan izin oleh pemerintah kita kepada Sinar Mas Group melalui berbagai macam anak perusahaannya. Izin ini diberikan hanya untuk Hutan Tanaman Industri (HTI). Jika izin HTI yang diperoleh ini digabungkan dengan izin-izin untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara, entah berapa luas daratan Jambi yang sudah dikuasai oleh Sinar Mas Group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman di Jambi pernah menunjukkan sebuah peta rencana perluasan HTI milik Sinar Mas Group kepada saya. Mereka menargetkan luas konsesi mereka seluas kurang lebih 1 juta hektar pada tahun 2020. Fantastis bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Rimba adalah salah satu suku asli Jambi yang hidupnya&lt;i&gt; semi nomadic&lt;/i&gt;. Hidup berpindah-pindah didalam kawasan hutan. Bertahan hidup dengan berkebun dan berburu. Dari sejak awal hidup di dunia ini, Orang Rimba tinggal didalam kawasan hutan. Mereka sudah menandakan sebuah kawasan hutan yang merupakan wilayah jelajahan mereka. Orang Rimba sangat bergantung dengan kawasan hutan untuk tempat tinggal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Orang Rimba, jika ada anak yang lahir, kedua orang tuanya akan menanamkan ari-ari anaknya di pohon tertentu. Pohon itulah nanti yang akan melambangkan kehidupan sang anak tersebut. Pohon yang menjadi saksi pertumbuhan sang anak tersebut harus dijaga agar kehidupan sang anak juga nantinya terjaga dengan baik. Orang Rimba tidak akan meninggalkan kawasan tempat lahir mereka. Sejauh apapun mereka pergi, mereka pasti akan kembali. Selain pohon sebagai lambang kelahiran, yang mengikat mereka dengan kawasan tertentu adalah kuburan tempat keluarga mereka yang dimakamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini hutan alam di Jambi sudah dalam kategori sangat kritis. Yang tersisa hanya kawasan-kawasan konservasi didalam taman nasional. Itupun tak luput dari pencurian kayu dan perambahan. Hilangnya kawasan hutan jelas menjadi ancaman bagi Orang Rimba. Hutan yang mereka jaga dan menjadi tempat tinggal yang nyaman selama ini sudah berubah menjadi pohon-pohon akasia. Jenis pepohonan yang sama sekali yang tidak bersahabat untuk Orang Rimba. Tidak ada buah-buahan. Tidak ada satwa buruan. Anak-anak sungai yang ada mengering dan juga teracuni oleh ganasnya pupuk-pupuk yang digunakan perusahaan untuk menggenjot pertumbuhan akasia yang mereka tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serakahnya para pejabat di negara ini dan rakusnya perusahaan terhadap kawasan hutan jelas-jelas menenggelamkan kehidupan Orang Rimba. Membunuh kebudayaan dan kearifan lokal yang sudah lama mereka pegang. Dampak yang paling buruk adalah membunuh sebuah etnis di Jambi. Etnosida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata sayu. Anak-anak yang kelaparan adalah pemandangan pertama yang saya liat ketika saya menjumpai mereka. Biskuit yang sengaja saya bawa untuk mereka habis dalam seketika. Seorang ibu yang dituakan membagikannya kepada anak-anaknya yang duduk dibawah pohon-pohon akasia yang belum terlalu besar. Seorang ibu muda yang sedang menggendong anaknya yang baru berumur 3 bulan bercerita kepada saya bahwa anaknya sudah 2 minggu panas dan selalu menangis. Dengan telapak tangan yang gemetar saya mencoba memegang kepala sang bayi yang tubuhnya mulai berwarna kuning itu. “Oh Tuhan, haruskah Kau biarkan mereka yang tertindas ini” teriakku dalam hati ketika memegang tubuh sang bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak berani lama berada disekitar mereka. Selain saya tidak kuat melihat kenyataan ini, saya juga khawatir orang-orang perusahaan akan tahu klo saya masuk kedalam konsesi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu pesan yang saya ingat sampai sekarang dari Ketua Kelompok mereka yaitu Pak Selamat. “Tolong sampaikan kepada orang-orang yang ada di Jakarta. Jangan dibuka lagi hutan kami. Kami tidak punya tempat tinggal lagi jika semua hutan sudah habis. Kami bertahan di kebun akasia ini karena dari dulu ini memang tempat tinggal kami. Hutan kami”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-eqxL727Vckc/Th0MJyWvg3I/AAAAAAAAAfY/aXf4rC659cE/s1600/IMG_2672.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-eqxL727Vckc/Th0MJyWvg3I/AAAAAAAAAfY/aXf4rC659cE/s400/IMG_2672.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628668471558505330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-0px5j090uqA/Th0MZ_DpRQI/AAAAAAAAAfg/g5ACZZT5Vro/s1600/IMG_2590.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-0px5j090uqA/Th0MZ_DpRQI/AAAAAAAAAfg/g5ACZZT5Vro/s400/IMG_2590.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628668749845972226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-cj4ubf0h2FY/Th0MlgUKZMI/AAAAAAAAAfo/Bi0qYe4r2iY/s1600/IMG_2744.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-cj4ubf0h2FY/Th0MlgUKZMI/AAAAAAAAAfo/Bi0qYe4r2iY/s400/IMG_2744.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628668947752182978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-YESCgIqK5qk/Th0MwcYGoeI/AAAAAAAAAfw/spdJ-bNl1mw/s1600/IMG_2713.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-YESCgIqK5qk/Th0MwcYGoeI/AAAAAAAAAfw/spdJ-bNl1mw/s400/IMG_2713.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628669135673532898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-3637722148077002420?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/3637722148077002420/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/07/bagaimana-kami-bisa-bertahan.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/3637722148077002420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/3637722148077002420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/07/bagaimana-kami-bisa-bertahan.html' title='Bagaimana Kami Bisa Bertahan'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-BkeJVj_gilU/Th0L0d2t9II/AAAAAAAAAfQ/g9gHN_I2fUM/s72-c/IMG_2697.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-4584244145116896502</id><published>2011-07-08T19:37:00.004+07:00</published><updated>2011-07-08T19:40:51.089+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harimau sumatera'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riau'/><title type='text'>Kami tak sanggup memandang matahari</title><content type='html'>Dalam tiga tahun terakhir kasus-kasus konflik harimau sumatera dengan manusia semakin meningkat. Konflik ini terjadi secara merata mulai dari Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Jambi dan Bengkulu. Di tahun 2011 hampir setiap bulannya terdapat berita-berita mengenai kematian harimau sumatera maupun korban jiwa akibat diserang oleh harimau sumatera sang raja hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bulan Juni-Juli 2011 sudah 2 ekor harimau sumatera yang mati. Kasus pertama terjadi di Provinsi Bengkulu. Seorang oknum polisi diduga menembak mati harimau sumatera yang berada disekitar kampung. Saat ini kasusnya belum terungkap apa motif sang oknum tersebut menembak harimau sumatera. Kasus kedua terjadi di Provinsi Riau. Seekor harimau sumatera usia 1,5 tahun mati terjerat didalam konsesi perkebunan hutan tanaman industri milik sinar mas group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya tingkat kematian harimau sumatera di Indonesia jelas sangat mengancam keberadaan harimau sumatera. Jumlah populasi satwa yang menjadi salah satu satwa primadona di Indonesia ini dikabarkan hanya berkisar 400 ekor. Departemen Kehutanan menginformasikan bahwa dalam kurun 25 terakhir jumlah harimau sumatera menyusut sampai 25%. Di Provinsi Riau saja harimau sumatera diperkirakan hanya tinggal 30 ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harimau sumatera menyerang manusia? Mengapa konflik harimau sumatera dengan manusia cenderung meningkat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencari jawaban dari pertanyaan inilah saya melakukan perjalanan ke Pekanbaru, Riau. Desa yang saya tuju adalah Desa Jumrah, Kecamatan Rimba Melintang, Kabupaten Rokan Hilir. Di desa ini sudah terjadi 4 kali kasus harimau menyerang manusia. Sebanyak 2 orang masyarakat Desa Jumrah meninggal dunia akibat diserang oleh harimau sumatera. Dalam kunjungan ini, saya hanya ingin mengetahui seperti apa jawaban masyarakat desa terkait dengan pertanyaan yang saya sebutkan diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Ji4IDudFl6I/Thb6QRLo8nI/AAAAAAAAAew/IDmPVEhPLZY/s1600/IMG_2431.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ji4IDudFl6I/Thb6QRLo8nI/AAAAAAAAAew/IDmPVEhPLZY/s320/IMG_2431.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626959941843087986" /&gt;&lt;/a&gt;“Harimau menyerang kami, sudah jelas karena tempat tinggal mereka tidak ada lagi pak. Hutan mereka habis dibabat oleh perusahaan. Yang tertinggal hanya pohon-pohon akasia milik PT Arara Abadi, Group Sinar Mas. Apa yang mereka mau makan disana? Monyet saja tidak mau tinggal di pohon akasia itu” ungkap Sukardi Ahmad, Kepala Desa Jumrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukardi juga menjelaskan bahwa harimau ini awalnya tersebar di daerah Dumai. Tetapi karena hutan di Dumai sudah habis dikonversi menjadi perkebunan skala besar, harimau tersebut bergerak ke arah Desa Jumrah yang hutannya relatif masih bagus. Tetapi dalam setahun belakangan hutan di Desa Jumrah juga sudah dikonversi oleh PT Rimba Utama Jaya (PT RUJ) milik Sinar Mas Group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua pohon-pohon yang ada di desa kami habis dicabut oleh alat-alat berat milik perusahaan. Yang tersisa hanya daun-daun kering saja. Daunnya pun menjadi bencana buat kami karena rawan terbakar karena tanahnya tanah gambut. Ketika gambut terbakar, masyarakat yang disalahkan oleh pemerintah” jelas Sukardi yang baru menjabat kepala desa selama 4 bulan ini. Masuknya konsesi milik PT RUJ diwilayah Desa Jumrah juga tanpa ada proses sosialisasi. PT RUJ datang dan langsung mencabut semua pohon-pohon alam yang ada di wilayah desa untuk kebutuhan bahan baku pulp and paper milik Sinar Mas Group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakusnya perusahaan milik Sinar Mas Group membuat masyarakat khawatir. Sudah beberapa kali masyarakat mengadukan kasus ini ke kecamatan dan dinas-dinas di kabupaten. Pertemuan demi pertemuan juga sudah dilakukan oleh masyarakat Desa Jumrah untuk menanyakan status perusahaan yang masuk ke wilayah desa. “Kami seperti tak berdaya menghentikan alat berat yang menghancurkan hutan kami. Mereka seperti tak bisa melihat hutan yang masih bagus dan alami. Pasti langsung ditebang dan dihancurkan. Alasan mereka sudah mendapat izin dari menteri kehutanan. Kami tak sanggup memandang matahari” keluh Sukardi mengumpamakan masyarakatnya jika berhadapan dengan para pejabat negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil kesepakatan pertemuan pada awal tahun lalu bahwa akan dilakukannya pemetaan terhadap wilayah desa yang menjadi areal konsesi perusahaan. Masyarakat Desa Jumrah berharap ketika masih menunggu proses pemetaan wilayah desa, perusahaan tidak melakukan aktivitas penebangan. Tapi yang terjadi saat ini adalah proses penebangan terus berjalan dan sudah ribuan hektar wilayah desa yang mengering dan terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT RUJ juga sudah membuat kanal yang lebarya mencapai 6 meter. Kanal ini dibuat selain untuk mengeringkan lahan gambut juga untuk sarana transportasi untuk mengeluarkan kayu-kayu hasil tebangan. Keberadaan kanal berdampak terhadap pertanian masyarakat. Ketika musim hujan, air kanal meluap dan masuk keperkebunan masyarakat. “Jadi kami ini sekarang serba salah pak. Musim kering kebakaran. Klo musim hujan kami kebanjiran. Tanaman sawit saya yang masih kecil mati akibat terendam banjir. Sekitar 5 hektar kebun saya rusak akibat banjir dari kanal yang dibuat perusahaan tersebut” Ungkap Sukardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini masyarakat Desa Jumrah yang berjumlah sekitar 3000 jiwa masih bisa bersabar menunggu tindakan kongkrit pemerintah daerah dan departemen kehutanan untuk meninjau kembali konsesi perusahaan yang masuk ke wilayah desa mereka. Mereka khawatir harimau sumatera akan kembali ke desa dan menyerang masyarakat yang sedang berladang. Bukan tidak mungkin jika sebuah kesabaran sudah habis akan terjadi lagi konflik kehutanan di wilayah Riau. Keberadaan harimau sumatera dan masyarakat sama-sama menjadi terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-htNLWIVM9R8/Thb6a4CQm5I/AAAAAAAAAe4/jtvaI_AIDuU/s1600/IMG_2425.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-htNLWIVM9R8/Thb6a4CQm5I/AAAAAAAAAe4/jtvaI_AIDuU/s400/IMG_2425.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626960124071418770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-jrE8kxaO5_c/Thb6jEbNndI/AAAAAAAAAfA/t4DiTShd3Ao/s1600/IMG_2413.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-jrE8kxaO5_c/Thb6jEbNndI/AAAAAAAAAfA/t4DiTShd3Ao/s400/IMG_2413.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626960264836259282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-UTfa1jyaO0s/Thb6p017quI/AAAAAAAAAfI/zlmuM7Efvqk/s1600/IMG_2469.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-UTfa1jyaO0s/Thb6p017quI/AAAAAAAAAfI/zlmuM7Efvqk/s400/IMG_2469.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626960380912446178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-4584244145116896502?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/4584244145116896502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/07/kami-tak-sanggup-memandang-matahari.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/4584244145116896502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/4584244145116896502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/07/kami-tak-sanggup-memandang-matahari.html' title='Kami tak sanggup memandang matahari'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Ji4IDudFl6I/Thb6QRLo8nI/AAAAAAAAAew/IDmPVEhPLZY/s72-c/IMG_2431.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-5746663096273121242</id><published>2011-05-12T09:21:00.000+07:00</published><updated>2011-05-14T03:40:40.856+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pancasila'/><title type='text'>Nilai-nilai Pancasila tidak lagi menjadi landasan</title><content type='html'>&lt;meta charset="utf-8"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: 18px; "&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Membaca berita di harian KOMPAS pagi ini tentang Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tidak lagi berlandaskan nilai-nilai Pancasila membuat saya berner-bener sedih melihat kondisi negara ini. Saya sejak beberapa minggu yang lalu memang selalu membaca dan mecoba memahami pemberitaan di KOMPAS yang beberapa hari belakangan mengangkat isu ini. Entah kenapa pagi ini, setelah membaca berita di KOMPAS tersebut  saya bener-bener geram dan emosi melihat tingkat laku pejabat negara kita.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;&lt;em&gt;“Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi acuan berpaham pasar bebas atau kapitalisme. Nilai-nilai Pancasila tidak lagi menjadi landasan. Artinya memang sejak awal pemerintah berniat melepaskan tanggung jawab pendidikan pada mekanisme pasar. Yang terjadi tidak akan ada lagi keadilan dan pemerataan pendidikan. Akses pendidikan pendidikan terbuka luas hanya bagi masyarakat kaya.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div id="attachment_108845" class="wp-caption alignleft" style="font-size: 14px; border-top-width: 1px; border-right-width: 1px; border-bottom-width: 1px; border-left-width: 1px; border-top-style: solid; border-right-style: solid; border-bottom-style: solid; border-left-style: solid; border-top-color: rgb(221, 221, 221); border-right-color: rgb(221, 221, 221); border-bottom-color: rgb(221, 221, 221); border-left-color: rgb(221, 221, 221); text-align: center; background-color: rgb(243, 243, 243); padding-top: 4px; margin-top: 10px; margin-right: 10px; margin-bottom: 10px; margin-left: 10px; border-top-left-radius: 3px 3px; border-top-right-radius: 3px 3px; border-bottom-right-radius: 3px 3px; border-bottom-left-radius: 3px 3px; float: left; width: 310px; "&gt;&lt;img class="alignleft size-medium wp-image-108845" title="13051666292016809131" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/05/13051666292016809131_300x300.png" alt="13051666292016809131" width="300" height="300" style="float: left; margin-top: 0px; margin-right: 7px; margin-bottom: 2px; margin-left: 0px; padding-top: 4px; padding-right: 4px; padding-bottom: 4px; padding-left: 4px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-top-style: none; border-right-style: none; border-bottom-style: none; border-left-style: none; border-color: initial; display: inline; " /&gt;&lt;p class="wp-caption-text" style="font-size: 11px; line-height: 17px; padding-top: 0px; padding-right: 4px; padding-bottom: 5px; padding-left: 4px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;Garuda Pancasila&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Menyedihkan melihat kondisi negara kita saat ini. Pemerintah seperti menghianati ideologi sebuah bangsa yang bermartabat. Mebiarkan ketidakadilan terjadi dan miningginya kecemburuan sosial. Hilang budaya gotong royong, musyarawah untuk mufakat dan jiwa patriotisme pada seseorang.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Terlebih-lebih semakin banyaknya kasus-kasus pemiskinan masyarakat di desa-desa, di dusun sampai di pedalaman nusantara. Semakin banyaknya kasus-kasus korupsi yang berakhir dengan adu testimoni dan adu pengacara. Seorang Jaksa pun lupa memberikan tuntutan kepada salah satu terdakwa kasus korupsi disaat proses persidangan kemaren siang. Entah apa yang ada dipikiran seorang jaksa tersebut disaat akan membacakan sebuah tuntutan. Biasanya seorang terdakwa (biasanya penajabat negara) yang menghabisi uang negara yang jumlahnya puluhan miliar rupiah hanya divonis penjara 1-4 tahun. Itupun akan berlaku berbagai macam remisi setiap tahunnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Semakin ngerinya melihat tawuran antar pelajar, antar komplek, antar kelurahan dan antar supporter sepak bola. Setiap lima tahun, yaitu pilkada diberbagai daerah seperti ajang untuk unjuk kekuatan. Klo kalah dalam pilkada bukan tidak mungkin akan mengerahkan keluarga, sanak famili, kerabat dan juga orang-orang bayaran untuk menyerang kantor-kantor pemerintahan, menghancurkan fasilitas-fasilitas negara. Bahkan terkadang rumah, toko-toko dan warung milik warga yang tidak tahu apa-apa ikut musnah.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Kita yang sehari-hari hanya menjadi pekerja biasa, pegawai/karyawan biasa ataupun punya usaha sendiri mungkin tidak terlalu mau ambil pusing dengan urusan negara. Tapi ketika sebuah ideologi negara yang sudah dibuat secara baik, penuh perjuangan dan pemikiran para era Soekarno itu akan dihilangkan dari negara ini membuat saya bener-bener merasa terusik. Bisa dibayangkan akan seperti apa jadinya negara ini ketika anak-anak yang sekarang masih didalam masa pendidikan akan mengganti generasi-generasi yang sudah ada saat ini. Pejabat negara, pengusaha, dan para penguasa diberbagai daerah sekarang ini sudah sangat memprihatinkan pemikiran dan prilakunya. Apalagi mereka sekarang ini, dimana mereka tidak lagi mendapat pelajaran dan pemahaman mengenai landasan dan acuan seseorang warga negara. Dimana semua harus berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Akan seperti apa negara ini nantinya. Mungkinkah akan semakin baik?&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Sewaktu masih di sekolah dasar sampai dengan sma saya sangat senang pelajaran-pelajaran mengenai sebuah jiwa patriotisme. Menyanyikan lagu ‘aku seorang kapiten’. Memahami apa itu &lt;a href="http://berangberangblog.blogspot.com/" target="_blank" style="color: rgb(17, 112, 160); text-decoration: none; "&gt;Pancasila&lt;/a&gt;. Menghafalkan &lt;a href="http://berangberangblog.blogspot.com/" style="color: rgb(17, 112, 160); text-decoration: none; "&gt;butir-butir Pancasila&lt;/a&gt; dan Undang-Undang Dasar 45.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Sekarang mungkin dijiwa anak-anak yang mulai tumbuh dan berkembang tidak memiliki lagi jiwa-jiwa yang berlandaskan Pancasila. Lupa klo Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika ada idiologi sebuah bangsa.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Melihat keadaan yang seperti ini saya berduka untuk bangsa terlebih dahulu. Mepersiapkan diri untuk beberapa puluh tahun yang akan datang agar tidak &lt;em&gt;shock&lt;/em&gt; disaat apa yang saya bayangkan saat ini terjadi. Itupun klo saya masih diberi kesempatan untuk menyaksikannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Salam,&lt;br /&gt;Een Irawan Putra&lt;br /&gt;—————&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong style="font-size: 14px; "&gt;Nilai-nilai Pancasila tidak lagi menjadi landasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;UU Sisdiknas Berpaham Pasar Bebas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 12 Mei 2011&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Jakarta, Kompas - Bukan sesuatu yang aneh jika pendidikan Pancasila tidak lagi diajarkan di semua jenjang pendidikan di Indonesia. Ini disebabkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi acuan berpaham pasar bebas atau kapitalisme.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Paham kapitalisme dan privatisasi sangat terlihat jelas dalam pasal-pasal UU Sisdiknas, seperti adanya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan pasal Badan Hukum Pendidikan (BHP), yang akhirnya dibatalkan Mahkamah Konstitusi. Dalam paham kapitalisme, tidak ada tempat bagi keadilan sosial karena kesempatan terbuka lebar bagi pemilik modal atau kelompok kaya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Demikian pendapat Guru Besar (emeritus) Pancasila Universitas Nusa Cendana Kupang Mesakh Taopan (74), Koordinator Koalisi Pendidikan Lody Paat, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Bahtiar Effendy, dan sejumlah praktisi pendidikan lainnya, Rabu (11/5).&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Direktur Eksekutif Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen mengatakan, landasan pendidikan kita memang sangat kacau. ”Perlu reformasi gradual dan fundamental,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Lody Paat mengatakan, UU BHP memang dihapuskan Mahkamah Konstitusi. Namun, pasal BHP di UU Sisdiknas tidak dihapuskan.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;”Artinya memang sejak awal pemerintah berniat melepaskan tanggung jawab pendidikan pada mekanisme pasar. Pemerintah hanya akan menanggung pendidikan dasar saja,” kata Lody Paat.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Padahal, pendidikan jika dilepaskan pada mekanisme pasar, yang terjadi tidak akan ada lagi keadilan dan pemerataan pendidikan. Akses pendidikan pendidikan terbuka luas hanya bagi masyarakat kaya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;”Padahal di negara-negara liberal pun, persoalan pendidikan menjadi tanggung jawab negara,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Sementara Bahtiar Effendy menambahkan, jika semua pihak serius ingin mempraktikkan Pancasila, maka harus dibuat mekanismenya agar kebijakan publik yang disusun memiliki perspektif Pancasila.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;”Kita hanya memiliki Mahkamah Konstitusi yang bertugas mencocokkan peraturan yang ada dengan UUD 1945. Iran dan Turki memiliki komisi ideologi,” kata Bahtiar.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;&lt;strong&gt;Musyawarah hilang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Mantan anggota DPR, Ferry Mursyidan Baldan, menambahkan, bukan cuma mata pelajaran Pancasila yang hilang, nilai-nilai Pancasila pun sudah mulai ditinggalkan dalam kehidupan berpolitik.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Musyawarah untuk mufakat yang menampung semua aspirasi, termasuk kelompok minoritas, kini ditinggalkan dan diganti menjadi suara terbanyak dalam pengambilan keputusan.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;”Politik menjadi kehilangan seninya. Karena yang ada dalam politik adalah menang atau kalah, tidak lagi memengaruhi,” kata Ferry menambahkan.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Mesakh Taopan mengatakan, rapat senat Universitas Nusa Cendana pada tahun 2004 bersepakat pendidikan Pancasila tetap dipertahankan meski tidak tercantum dalam kurikulum Sisdiknas.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;”Kini mungkin Universitas Nusa Cendana satu-satunya perguruan tinggi yang masih mempertahankan pendidikan Pancasila,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;(ELN/LUK/NOW/ANS/KOR)&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 14px; "&gt;Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/05/12/05260459/uu.sisdiknas.berpaham.pasar.bebas&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-5746663096273121242?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/5746663096273121242/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/05/nilai-nilai-pancasila-tidak-lagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/5746663096273121242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/5746663096273121242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/05/nilai-nilai-pancasila-tidak-lagi.html' title='Nilai-nilai Pancasila tidak lagi menjadi landasan'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-6709797375658135764</id><published>2011-05-12T09:04:00.000+07:00</published><updated>2011-05-14T03:40:40.485+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pancasila'/><title type='text'>Pancasila ideologi negara</title><content type='html'>Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sansekerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945.&lt;br /&gt;Butir-butir pengamalan Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya merumuskan Pancasila sebagai dasar negara yang resmi, terdapat usulan-usulan pribadi yang dikemukakan dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Lima Dasar oleh Muhammad Yamin, yang berpidato pada tanggal 29 Mei 1945. Yamin merumuskan lima dasar sebagai berikut: Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat. Dia menyatakan bahwa kelima sila yang dirumuskan itu berakar pada sejarah, peradaban, agama, dan hidup ketatanegaraan yang telah lama berkembang di Indonesia. Mohammad Hatta dalam memoarnya meragukan pidato Yamin tersebut.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Panca Sila oleh Soekarno yang dikemukakan pada tanggal 1 Juni 1945. Sukarno mengemukakan dasar-dasar sebagai berikut: Kebangsaan; Internasionalisme; Mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan; Kesejahteraan; Ketuhanan. Nama Pancasila itu diucapkan oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni itu, katanya: &lt;i&gt;Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa - namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Setelah Rumusan Pancasila diterima sebagai dasar negara secara resmi beberapa dokumen penetapannya ialah :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Rumusan Pertama : Piagam Jakarta (Jakarta Charter) - tanggal 22 Juni 1945&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rumusan Kedua : Pembukaan Undang-undang Dasar - tanggal 18 Agustus 1945&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rumusan Ketiga : Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat - tanggal 27 Desember 1949&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rumusan Keempat : Mukaddimah Undang-undang Dasar Sementara - tanggal 15 Agustus 1950&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rumusan Kelima : Rumusan Kedua yang dijiwai oleh Rumusan Pertama (merujuk Dekrit Presiden 5 Juli 1959)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Butir-butir pengamalan Pancasila &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Ketuhanan Yang Maha Esa &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;(1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;(2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.&lt;br /&gt;(3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;(4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;(5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang&lt;br /&gt;menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;(6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.&lt;br /&gt;(7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;(1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;(2) Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.&lt;br /&gt;(3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.&lt;br /&gt;(4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.&lt;br /&gt;(5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.&lt;br /&gt;(6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;(7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.&lt;br /&gt;(8) Berani membela kebenaran dan keadilan.&lt;br /&gt;(9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.&lt;br /&gt;(10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Persatuan Indonesia&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;(1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.&lt;br /&gt;(2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.&lt;br /&gt;(3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.&lt;br /&gt;(4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.&lt;br /&gt;(5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.&lt;br /&gt;(6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.&lt;br /&gt;(7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;(1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.&lt;br /&gt;(2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.&lt;br /&gt;(3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.&lt;br /&gt;(4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.&lt;br /&gt;(5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.&lt;br /&gt;(6) Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.&lt;br /&gt;(7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.&lt;br /&gt;(8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.&lt;br /&gt;(9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.&lt;br /&gt;(10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;(1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.&lt;br /&gt;(2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.&lt;br /&gt;(3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.&lt;br /&gt;(4) Menghormati hak orang lain.&lt;br /&gt;(5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.&lt;br /&gt;(6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.&lt;br /&gt;(7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.&lt;br /&gt;(8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.&lt;br /&gt;(9) Suka bekerja keras.&lt;br /&gt;(10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.&lt;br /&gt;(11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-6709797375658135764?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/6709797375658135764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/05/pancasila-ideologi-negara.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/6709797375658135764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/6709797375658135764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/05/pancasila-ideologi-negara.html' title='Pancasila ideologi negara'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-2527555834909396590</id><published>2011-04-17T23:01:00.003+07:00</published><updated>2011-04-17T23:07:08.526+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suku Bathin IX'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><title type='text'>Bathin IX mencari kemerdekaan (2)</title><content type='html'>Setelah mengunjungi masyarakat adat Bathin IX yang berada di Desa Singoan, keesokan paginya saya diajak Pak Abunyani mengunjungi Dusun Tanah Menang, Desa Bungku, di Kecamatan Bajubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah dusun kecil yang terletak didalam kawasan pekebunan kelapa sawit milik PT Asiatic Persada (Wilmar Group). Di rumah kecil yang terbuat dari papan saya diterima oleh beberapa warga. Rumah yang berada dipinggir jalan perkebunan kelapa sawit yang berhadapan langsung dengan tanaman-tanaman kelapa sawit milik perusahaan. Jika dimusim hujan jalan-jalan ini berlumpur dan tidak bisa dilalui mobil-mobil kecil yang bukan &lt;i&gt;four-wheel drive&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-xm2pysWekvM/TasPQY0xxqI/AAAAAAAAAeY/v9Bp86ovUWc/s1600/DSC_2234.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-xm2pysWekvM/TasPQY0xxqI/AAAAAAAAAeY/v9Bp86ovUWc/s320/DSC_2234.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5596583736154113698" /&gt;&lt;/a&gt;Kutar. Seorang laki-laki berperawakan tegap dan bersuara lantang, adalah pria yang saya temui di dusun ini. Kami berkunjung ketika dia sedang memperbaiki rumah kecilnya. Laki-laki yang sekarang ditunjuk menjadi ketua RT di lingkungannya ini banyak menjelaskan bagaimana konflik antara masyarakatnya dengan perusahaan perkebebunan kelapa sawit yang saat ini berada di wilayah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa sumber informasi dan penjelasan dari Kutar, tidak terlalu jauh dari wilayahnya terdapat 2 dusun lagi yang kawasannya diklaim oleh perusahaan sebagai wilayah perkebunan. Dua dusun tersebut adalah Dusun Pinang Tinggi dan Dusun Padang Salak. Luas lahan yang diklaim oleh perusahaan yang termasuk didalam HGU perusahaan di 3 dusun ini adalah 3.614 ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah Dusun Padang Salak terdapat beberapa anak sungai yaitu Sungai Suban, Sungai Cermin, Sungai Padang Salak, Sungai laman Minang, Sungai Suban Ayomati, Sungai bayan Temen, Sungai Durian makan Mangku, Sungai Lubuk Burung, dan Sungai Ulu Suban Ayomati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah Dusun Pinang Tinggi terdapat beberapa sungai seperti Sungai Tunggul Udang, Sungai Durian Dibalai, Sungai Empang Rambai, Sungai Nuaran Banyak, Sungai Pematang Tapus, Sungai Nyalim, Sungai Jalan Kudo, Sungai Durian Diguguk, Sungai Patah Bubung, Sungai Durian Diriring, Sungai Bayan Kralis, Sungai Durian pangulatan, Sungai Durian nenek Perda, Sungai Durian Tunggul Meranti, Sungai Mantilingan, Sungai lais, Sungai Sangkrubung, Sungai Durian Jerjak Ui, Sungai Tunggul Meranti, dan Sungai Tunggul Enaw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Dusun Tanah Menang terdapat beberapa sungai yaitu Sungai Limus, Sungai Dahan Petaling, Sungai Langgar Tuan, Sungai Pagar, Sungai Klutum, Sungai Lesung Tigo, Sungai Lamban Bemban, Sungai Tertap, Sungai Nyalim, Sungai Temidai, Sungai Sialang Meranti, Sungai Dahan Setungau, Sungai Ulu Kelabau, Sungai Marung Tengah, SungaiBindu, Sungai Nuaran Banyak, Sungai Semio, Sungai Klabau, dan Sungai Arang paro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan anak-anak sungai inilah yang menjadi batas-batas wilayah dan sumbermata pencaharian masyarakat. Beberapa anak sungai ini sekarang kondisinya sudah berubah karena ditanami kelapa sawit dan ada yang ditimbun oleh perusahaan untuk areal perkebunan. Sungai yang tersisa juga rusak oleh limbah-limbah pabrik penggilingan kelapa sawit. Masyarakat suku Bathin IX masih bisa mengingatnya dengan baik keberadaan sungai-sungai yang ada di wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1987 adalah awal dari semua permasalahan. Sebuah HGU seluas 20.000 ha diterbitkan oleh BPN Kabupaten Batanghari untuk PT Bangun Desa Utama (PT BDU) untuk dibangun perkebunan kelapa sawit dan cokelat. Dua tahun setelah penerbitan HGU terjadi penggusuran masyarakat di 3 dusun, yaitu Dusun Tanah Menang, Dusun Pinang Tinggi dan Dusun Padang Salak. Penggusuran yang dilakukan perusahaan bersama aparat kepolisian dan tentara membuat masyarakat di 3 dusun berpencar. Beberapa masyarakat memilih meninggalkan rumahnya karena takut dengan intimidasi yang dilakukan pada saat proses penggusuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2001-2002 setelah pergantian manajemen perusahaan, kembali terjadi penggusurun lahan warga. Tanaman cokelat yang sudah ditanam oleh perusahaan diganti menjadi kelapa sawit. Perusahaan mengklaim bahwa lahan yang ditempati masyarakat berada di kawasan HGU perusahaan. Tanaman-tanaman keras masyarakat seperti durian, digusur dan dibersihkan. Makam-makam masyarakat pun ikut tergusur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari penggusuran paksa yang menggunakan aparat militer dan kepolisian yang menggunakan kekerasan dan intimidasi pada saat itu bukan saja berdampak pada hilangnya tanah dan tanaman masyarakat, tetapi juga dampak psikologis terhadap beberapa orang dewasa dan anak-anak. Jay (24 tahun) yang dulu sewaktu penggusuran masih anak-anak, sampai dengan sekarang masih trauma melihat orang-orang yang berpakaian militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutar juga menceritakan pada saat itu dia juga pernah diusir dari rumahnya. Diseret ke mobil polisi dan dibawa ke kantor polisi karena dianggap melawan. Merasa tidak bersalah dan harus mempertahankan hak atas tanahnya, Kutar tidak gentar menghadapi para anggota kepolisian. “&lt;i&gt;Pada tahun 86-87 tentara langsung masuk rumah. Menodong senjata dan mengusir kami. Andalan perusahaan itu adalah Kapolres Batang Hari dan Kapolsek Bajubang. Yang saya tanyakan sekarang, mereka ini polisi perusahaan atau masyarakat?&lt;/i&gt;” ucap Kutar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Kutar dan beberapa rekannya yang masih bertahan di tanah mereka. Walaupun sering menerima intimidasi dan ancaman mereka tidak akan menyerahkan tanah yang sudah dimiliki dari nenek moyang mereka. Karena takut dengan ancaman-ancaman yang diberikan perusahaan, beberapa masyarakat di Dusun Padang Salak dan Dusun Pinang Tinggi sudah meninggalkan tanah mereka. Untuk menghilangkan bukti-bukti bahwa lahan tersebut adalah milik masyarakat Suku Bathin IX, perusahaan membunuh semua tanaman-tanaman keras milik masyarakat dengan cara diracun. Cara-cara inilah yang membuat Kutar dan masyarakat yang masih bertahan di Dusun Tanah Menang berang. “&lt;i&gt;Negara ini kalau tidak salah berlaku undang-undang dan pancasila. Kalau tidak berlaku lagi undang-undang dan hukum ini, mungkin seperti inilah pak. Apakah bapak mau, klo istri bapak adalah istri kami? Harta bapak, harta kami?. Kami mengambil buah sawit satu biji ditangkap, karena dianggap pencuri. Perusahaan mengambil tanah kami tidak ditangkap&lt;/i&gt;” jawab Kutar ketika diintrogasi oleh polisi dan dituduh mengambil tanah perusahaan yang masuk kedalam wilayah HGU perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutar menjelaskan, klo memang perusahaan itu merasa membeli tanah-tanah mereka, ia ingin mengetahui kepada siapa perusahaan itu membeli. Karena mereka merasa tidak pernah merasa menjual atau menyerahkan tanah yang sudah ditempati oleh mereka selama beberapa generasi kepada perusahaan untuk perkebunan kelapa sawit. Masyarakat yang dulu hidup harmonis dengan alam, berladang, berkebun karet dan berburu ini sekarang seperti orang tersesat. Berjalan tak tentu arah. “&lt;i&gt;Sebelum tahun 1986 buah-buahan melimpah disini, sampai tidak habis kami memakannya. Kami berikan buah-buahan itu kepada masyarakat luar (orang-orang trasnmigrasi) karena saking banyaknya. Tanaman jerenang banyak di hutan. Sekarang susah. Perusahaan pernah bilang ke kami, katanya makin ramai makin aman. Tentram. Tapi kenyataannya makin susah hidup kami. Inilah resiko kami bermain dengan orang pintar&lt;/i&gt;” keluh Kutar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tak mampu beli durian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-2lnp7nsQ4Pc/TasPZ1VFZpI/AAAAAAAAAeg/eIlnTyhzkRE/s1600/DSC_2273.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-2lnp7nsQ4Pc/TasPZ1VFZpI/AAAAAAAAAeg/eIlnTyhzkRE/s320/DSC_2273.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5596583898424632978" /&gt;&lt;/a&gt;“&lt;i&gt;Tadi ada keluarga yang memberi uang sebesar Rp 50.000. Ketika saya pegang uang itu, cucu saya ingin sekali makan buah durian. Terpaksalah saya membeli durian yang harganya sekarang masih Rp 30.000/buah. Sekarang pak, kami tidak bisa lagi menikmati buah durian.&lt;/i&gt;” Ucap Harun C kepada saya ketika kami mengunjungi beberapa orang Bathin IX di Desa Nyogan. Harun C dulunya berasal dari Dusun Padang Salak, Desa Bungku. Dia dan sekeluarga terpaksa meninggalkan rumah dan tanahnya karena takut akan intimidasi para perusahaan dan militer. Tanah Harun C yang ditinggalkan di Dusun Padang Salak kurang lebih 200 X 900 depo. 1 depo sama dengan 1,5 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usup Bengking sekarang tinggal di Dusun Segandik, Desa Nyogan. Sama dengan Harun C, Usup juga meninggalkan rumah dan tanahnya yang berada di Dusun Pinang Tinggi. Dia dan beberapa rekan-rekannya sekarang tinggal di rumah yang sangat sederhana atas batuan Dinas Sosial sewaktu gencarnya konflik dan penggusuran tanah dan ladang mereka. Di Desa Nyogan sekitar 75% adalah masyarakat Suku Bathin IX. Sebanyak 60 orang mempunyai hak atas tanah di perkebunan PT Asiatic Persada. Mata pencaharian mereka saat ini sudah tidak menentu. Ada yang mencari ikan, berkebun dan buruh perkebunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Harapan kami, kami ingin tanah kami kembali. Tidak ada negosiasi lain. Saya ini sudah tua, umur kami sudah tidak lama lagi. Sudah puluhan tahun kami hidup mengungsi seperti ini. Anak cucu saya tidak punya tanah, tidak punya kebun. Mau bertani tidak bisa. Bagaimana mereka mau menjalani kehidupan ini?&lt;/i&gt;” ungkap Harun C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tidak mau sekolah gara-gara sandal jepit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derita dan kesedihan bukan hanya dirasakan oleh satu generasi. Tapi mungkin akan berlanjut ke generasi berikutnya. Para orang tua mungkin merasakan sakit dan pedih karena tergusurnya tanah mereka. Sulitnya sumber mata pencaharian untuk penghidupan. Kemiskinan ini juga berdampak pada anak-anak mereka. Karena berasal dari keluarga yang tidak mampu, anak-anak Suku Bathin IX terpaksa sekolah dengan menggunakan baju sekolah seadanya dan menggunakan sandal jepit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supri salah satu anak Suku Bathin IX yang tinggal di Dusun Tanah Menang yang bersekolah di salah satu sekolah dasar yang ada di Pasar Kecamatan Bajubang. Pada tahun 2003 Supri duduk di bangku kelas 2. Masih ingat betul diingatan Supri pada saat itu dia dimarahin oleh seorang guru ketika ia dan seorang temannya yang juga berasal dari Suku Bathin IX berangkat sekolah menggunakan sadal jepit. Saat itu sang guru menanyakan kepada mereka kenapa mereka sekolah menggunakan sandal. Supri hanya bisa menjawab bahwa orang tuanya tidak mampu membeli sepatu. Supri juga sudah menejelaskan klo tanah mereka sudah habis diambil oleh perusahaan kelapa sawit. Orang tuanya tidak ada uang untuk membelikan sepatu untuk ke sekolah. Setelah menjawab pertanyaan sang guru, guru tersebut meminta Supri dan temannya untuk menggantungkan sandal mereka di leher dan berjemur di halaman sekolah. Setelah kejadian tersebut mereka tidak mau lagi ke sekolah karena malu dengan murid-murid lain yang mayoritas adalah orang-orang transmigrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutar menyampaikan bahwa tanah yang dibangun untuk sekolah dahulunya adalah tanah wakaf dari orang tuanya. Sekolah yang dibangun oleh PT Asiatic Persada awalnya adalah untuk anak-anak Suku Anak Dalam (SAD) bersekolah. Memperoleh pendidikan. Mengerti baca tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Sampai dengan sekarang saya masih ingat nama dan wajah seorang guru yang menghukum saya disaat sekolah ketikasaya memakai sandal jepit&lt;/i&gt;” ungkap Supri. Tak urung Supri yang sekarang mulai tumbuh dewasa menyimpan dendam kepada sang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini jumlah anak-anak usia sekolah di Dusun Tanah Menang sekitar 200 anak. Yang bisa mengenyam sekolah seekitar 20 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang beberapa hari tinggal bersama orang-orang Suku Bathin IX menjadi tahu kenapa Pak Abunyani dan bersama dengan rekan-rekannya dari Suku Bathin IX berusaha membangun kekuatan untuk berjuang mencari sebuah kemerdekaan. Merdeka seutuhnya. Merdeka diatas tanah mereka sendiri. Selama 24 tahun mereka harus hidup berjuang mempertahankan tanah warisan dari para leluhur mereka. Seperti pepatah lama orang-orang Suku Bathin IX “&lt;i&gt;Biarlah orang mendapat asal kito tidak kehilangan&lt;/i&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-2527555834909396590?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/2527555834909396590/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/04/bathin-ix-mencari-kemerdekaan-2.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2527555834909396590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2527555834909396590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/04/bathin-ix-mencari-kemerdekaan-2.html' title='Bathin IX mencari kemerdekaan (2)'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-xm2pysWekvM/TasPQY0xxqI/AAAAAAAAAeY/v9Bp86ovUWc/s72-c/DSC_2234.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-4755633538254195014</id><published>2011-04-13T16:25:00.003+07:00</published><updated>2011-04-13T16:30:13.983+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suku Bathin IX'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><title type='text'>Bathin IX Mencari Kemerdekaan (1)</title><content type='html'>Murid sekolah dasar. Atupun mungkin murid sekolah dari taman kanak-kanak sudah tahu negara ini merdeka dari tahun 45. Semua rakyat Indonesia pun tahu itu. Tapi seperti apakah hakekat sebuah kemerdekaan? Benarkah bagi orang-orang yang ada di negeri ini merasakan merdeka? Mungkin belum semua lapisan masyarakat yang ada di negeri ini merasakan merdeka seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saya tulis berikut ini adalah, penglihatan saya dan pendengaran saya mengenai masyarakat yang belum merdeka seutuhnya. Memang kita sudah merdeka dari jajahan negara asing yang frontal. Tapi merdeka dari penindasan, pembodohan dan pemiskinan? Saya berani mengatakan mereka belum merdeka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal tulisan dari Irma Tambunan mengenai Suku Bathin IX di Jambi pada harian KOMPAS di kolom SOSOK sebulan yang lalu, saya nekad mencari informasi sebanyak-banyak mengenai suku ini dan juga mengenai sosok yang ditulis oleh Irma. Semua kontak yang ada di Jambi saya hubungi untuk melacak siapa orang yang ada dimaksud didalam harian KOMPAS. Benarkan Suku Bathin IX ini ada di Jambi dan kondisinya ‘tenggelam’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi awal yang ingin saya dapatkan akhirnya terkumpul. Melalui media komunikasi telpon saya berhasil mengumpulkan beberapa informasi awal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-SP6B1H0UmFc/TaVsxRP5qDI/AAAAAAAAAeQ/oYjt_0PmL_M/s1600/13025788811083162751_300x201.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 201px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-SP6B1H0UmFc/TaVsxRP5qDI/AAAAAAAAAeQ/oYjt_0PmL_M/s320/13025788811083162751_300x201.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594997705777195058" /&gt;&lt;/a&gt;14 Maret 2011 saya langsung terbang ke Jambi. Setelah empat hari mengunjungi beberapa teman di Jambi saya langsung memutuskan untuk tinggal dirumah Pak Abunyani di Desa Kilangan, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari. Sosok yang ada dituliskan di harian KOMPAS tersebut. Di rumahnya yang sederhana saya mendapatkan banyak informasi mengenai Suku Bathin IX. Saya juga menjadi mengerti kenapa beliau bersikukuh untuk mengangkat kasus-kasus yang terjadi di komunitasnya. Karena saya tidak puas hanya mendengar cerita dari beliau. Saya minta beliau mengantarkan saya ke lokasi-lokasi konflik tersebut. Lokasi dimana masih ada masyarakat adat suku Bathin IX yang tetap mempertahankan tanah ulayatnya walaupun harus menghadapi berbagai macam kecaman dan intimidasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan cerita sejarah, Suku Bathin IX adalah komunitas pertama penghuni Jambi dan memiliki sebagian hutan adat di Jambi. Komunitas adat ini awalnya menempati sepanjang sembilan anak sungai yaitu Sungai Semak (saat ini leih dikenal dengan Sungai Bulian), Sungai Bahar, Sungai Singoan, Sungai Jebak, Sungai Jangga, Sungai Telisak, Sungai Sekamis, Sungai Semusir, dan Sungai Burung Hantu. Semua sungai ini bermuara ke Sungai Batang Hari. Sejak lama pemerintah menggabungkan Komunitas Suku Bathin IX ini dengan Orang Rimba menjadi satu istilah yaitu Suku Anak Dalam (SAD). Pemerintan menganggap mereka sama, padahal mereka berbeda komunitas dan beda adat istiadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok paginya sekitar jam delapan pagi Pak Abunyani mengajak saya ke Sialang Pugug, Desa Singoan. Disana saya bertemu dengan beberapa masyarakat Bathin IX yang konflik dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Induk Kebun Unggul (PT IKU). Pada tahun 1995 tanah masyarakat dijadikan perkebunan kelapa sawit dimana sebelumnya dijanjikan akan bagi hasil jika nanti perkebunan tersebut menghasilkan. Pola kemitraan ini dulunya dipimpin oleh seorang cukong yaitu Tanoto Ayong-sebagai bapak angkat. Mereka bekerjasama dengan KUD Sinar tani. Kemitraan Masyarakat dan KUD ini dilakukan melalui pola Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA) dengan cara pembagian 70% untuk petani dan 30% untuk perusahaan yaitu PT IKU. Direktur Utama PT IKU adalah Tanoto Ayong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak ditandatangani kesepakatan pola kemitraan dengan PT IKU, sekitar 2300 ha hutan adat milik masyarakat Suku Bathin IX dibabat habis oleh perusahaan. Kawasan hutan yang tergabung didalam 4 desa yaitu Desa Olak, Aro, Ma Singoan dan Desa Sungai Baung. Kayu-kayu yang sudah ditebang tersebut dikuasai oleh perusahaan PT IKU. Berdasarkan surat kesepakatan dan perjanjian dengan PT IKU, perusahaan akan membiayai kebutuhan hidup masyarakat yang tanahnya sudah dikonversi untuk perkebunan kelapa sawit selama 48 bulan (sampai perkebunan kelapa sawit tersebut menghasilkan buah). Tentu saja dengan harapan besar pola kemitraan ini, mereka rela melepaskan tanah-tanah mereka untuk ditanami kelapa sawit, agar bisa meningkatkan pendapatan dan taraf hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi janji, harapan besar dan mimpi indah itu tiba-tiba menjadi hilang dan menjadi sebuah mimpi buruk bagi mereka. Menjadi sumber malapetaka dan bencana. Pemiskinan secara terang-terang yang direstui oleh pemerintah. Setelah hutan habis ditebang dan kayu-kayunya sudah diangkut oleh perusahaan, lahan yang ditanami kelapa sawit hanya 663 ha. Biaya hidup yang dijanjikan selama 48 bulan hanya terlaksana beberapa bulan saja. Bibit kelapa sawit yang ditanami oleh perusahaan PT IKU dilahan tersebut juga tidak dapat dipertanggung jawabkan kualitasnya. Belakangan diketahui bahwa Tanoto Ayong sengaja mentelantarkan perkebunan sawit yang sudah disepakati karena sudah mendapat keuntungan dari hasil penjualan kayu-kayu disaat melakukan&lt;i&gt; land clearing&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanoto Ayong selaku Direktur Utama PT IKU dikabarkan menghilang dari Jambi. Diketahui juga Tanoto Ayong terlibat banyak kasus di Jambi. Sampai dengan sekarang tidak peduli dengan nasib masyarakat yang ada di Desa Singoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini posisi masyarakat menjadi terjepit dan tidak ada pilihan yang menguntungkan. Dilanggarkan semua perjanjian dan kesepakatan yang dibuat berarti sama saja membunuh sumber matapencaharian dan harapan. Karena himpitan ekonomi dan untuk memenuhi kebutuhan hidup, pada bulan Desember tahun 2007 masyarakat Suku Bathin IX didamping pengacaranya yaitu Mangara Siagian, SH dan kawan-kawan mencoba menghubungi beberapa aparat pemerintah diantaranya Kaporles Batanghari dan Kasat Brimobda Jambi untuk meminta izin untuk melakukan pemanenan kelapa sawit yang sudah ditanam. Hasil pertemuan itu disepakati boleh dilakukan pemanen secara bersama dan didampingi oleh aparat keamanan dari Brimob dan pihak tim pengacara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 20 Januari 2008 proses pemanenan bersama dilakukan. Proses pemanenan ini dilakukan oleh masyarakat didamping Brimob dan tim pengacara. Tapi apa yang terjadi? Ketika proses pemanenan dilakukan, sekelompok aparat dari Polres Batang Hari datang ke lokasi kebun. Proses panen dihentikan dan mereka yang lagi panen buah sawit langsung dibawa ke Polres Batang Hari dan ditahan. Mereka didakwa melakukan pencurian buah sawit milik perusahaan. Polres Batang Hari juga menangkap pengacara Mangara Siagian, SH dengan tuduhan sebagai otak pelaku pencurian buah sawit. Dari 60 orang yang melakukan panen bersama, sebanyak 16 orang masyarakat yang melakukan panen tersebut ditahan selama 7 bulan kurungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah nasib rakyat yang belum merdeka seutuhnya. Nasib orang kecil, lemah dan tidak mempunyai sebuah kekuatan untuk meruntuhkan sebuah tembok yang ada didepannya ketika tembok tersebut menghalangi jalan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah ulayat yang sudah terlanjur mereka sepakati untuk menjadi perkebunan kelapa sawit membawa derita. Ketika memanen tanaman yang ada ditanah sendiripun menjadi masalah. “&lt;i&gt;Sebelum ada perusahaan masuk, kami ini aman. Buahan-buahan, tumbuh-tumbuhan banyak. Durian, cempedak, semua ada. Sekarang ini klo tidak beli buah-buahan diluar, kami tidak akan pernah bisa mencicipi rasa buah-buahan tersebut. Sejak perusahaan masuk, kami kesusahan sekali. Tanah kami digarap oleh perusahaan sawit, ternyata hasilnya tidak diberikan kepada kami. Jika kami olah tanah yang belum tertanam kelapa sawit, polisi datang dan dipenjara. Sedangkan kami merasa tanah ini adalah warisan dari nenek-nenek kami&lt;/i&gt;”. Keluh Pak Zainudin yang saat ini menjadi Ketua RT di Dusun Sialang Pugug.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-UmScpXFhJVQ/TaVslGNjDeI/AAAAAAAAAeI/sUy2Bae6PHU/s1600/1302578976530771916_300x201.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 201px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-UmScpXFhJVQ/TaVslGNjDeI/AAAAAAAAAeI/sUy2Bae6PHU/s320/1302578976530771916_300x201.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594997496656104930" /&gt;&lt;/a&gt;Zainudin juga menjelaskan bahwa pada bulan September tahun 2010, ketika mereka mengolah tanah mereka. Semua orang yang mengolah tanah mereka dikirimin surat dari Polres Batang Hari. Mereka dianggap melakukan perkara tindak pidana penggelapan hak atas barang tidak bergerak (Pasal 385 KHUP). Surat resmi yang dipojok kiri atas tertulis dengan huruf kapital “DEMI KEADILAN” terebut ditandatangani oleh Kasat Reskrim selaku penyidik, yaitu Prasetiyo Adhi Wibowo, SIK. “&lt;i&gt;Katanya klo 3 kali dipanggil kami tidak hadir, kami dianggap menentang hukum. Hukum apa yang saya tentang?&lt;/i&gt;” lanjut Zainudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-4755633538254195014?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/4755633538254195014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/04/bathin-ix-mencari-kemerdekaan-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/4755633538254195014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/4755633538254195014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/04/bathin-ix-mencari-kemerdekaan-1.html' title='Bathin IX Mencari Kemerdekaan (1)'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-SP6B1H0UmFc/TaVsxRP5qDI/AAAAAAAAAeQ/oYjt_0PmL_M/s72-c/13025788811083162751_300x201.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-3007906296454367338</id><published>2011-04-07T10:29:00.005+07:00</published><updated>2011-04-07T10:38:29.256+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hutan Desa Lubuk Beringin'/><title type='text'>Hutan Desa Lubuk Beringin: Berpijak dari kearifan lokal</title><content type='html'>Seminggu yang lalu saya memiliki kesempatan untuk berkunjung ke lokasi hutan desa di Kabupaten Muaro Bungo, Jambi. Awalnya tujuan perjalanan saya ke Jambi adalah untuk mendokumentasikan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang ada di Jambi dan mendokumentasikan beberapa kelompok Suku Bathin IX dan Suku Anak Dalam (SAD) yang sering disebut orang rimba yang tergusur dari kawasan hutan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena jadwal untuk masuk ke kelompok orang rimba masih bentrok dengan kegiatan lembaga pendampingnya, akhirnya saya diajak oleh seorang teman di Jambi untuk melihat lokasi hutan desa. Berhubung saya belum tahu banyak seperti apa pengelolaan hutan desa dan bagaimana mekanisme hak kelolanya, saya memutuskan menerima tawaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan desa adalah hutan negara yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa serta belum dibebani izin/hak. Izin kelola kepada masyarakat merupakan amanat dari ketentuan UU No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan dan Permenhut P.49/2008 Tentang Hutan Desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan izin pengelolaan hutan desa, harus melalui beberapa tahapan sampai dengan terbitnya SK Penetapan Areal Hutan Desa. Tahapan pertama dimulai dari permohonan usulan dari masyarakat kepada Menteri Kehutanan melalui Bupati setempat. Kemudian Bupati mewakili pemerintah daerah mengeluarkan surat rekomendasi dan dilanjutkan dengan usulan penetapan areal kerja hutan desa ke Menteri Kehutanan. Menteri Kehutanan atas dasar surat Bupati akan menurunkan tim verifikasi. Setelah dilakukan verifikasi, maka Menhut akan menerbitkan SK Penetapan kawasan hutan sebagai Areal Kerja Hutan Desa berdasarkan luas yang diusulkan dengan jangka waktu hak kelola biasanya selama 35 tahun dan dapat di perpanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_H3eRn_w1Fk/TZ0wLpHOL4I/AAAAAAAAAdw/bgJ4T8nExNk/s1600/DSC_2433.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-_H3eRn_w1Fk/TZ0wLpHOL4I/AAAAAAAAAdw/bgJ4T8nExNk/s320/DSC_2433.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592679288836861826" /&gt;&lt;/a&gt;Hutan desa yang saya kunjungi di Muaro Bungo adalah Hutan Desa Lubuk Beringin. Hutan desa ini kabarnya merupakan hutan desa pertama yang ada di Indonesia. Sebuah dusun kecil yang berada di kawasan hutan lindung Bukit Panjang Rantau Bayur. Hulu Sungai Buat. Jumlah penduduk di dusun ini sekitar 331 jiwa atau sekitar 86 KK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dusun ini perlahan mulai terkenal sejak seorang menteri kehutanan pada tahun 2009 datang langsung ke dusun ini dan memberikan hak kelola kepada masyarakat melalui SK Menteri Kehutanan RI tentang Pencadangan areal Kerja Hutan Desa Dusun Lubuk Beringin dengan luas 2.356 ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat berada di dusun ini saya benar-benar merasakan sebuah kedamaian dan keharmonisan masyarakat yang tinggal disebuah kampung dengan kekayaan sumberdaya alamnya. Sumber ekonomi yang cukup. Tidak pernah merasakan kekurangan bahan pangan karena produksi padi yang selalu ada setiap tahunnya. Sumber air yang melimpah dan jernih. Sebuah sungai besar yang jernih dan bersih mengalir disepanjang dusun ini membuat keharmonisan itu semakin nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi masyarakat dusun lubuk beringin berangkat menyadap karet sebagai mata pencaharian mereka. Sebagian keluarga, setelah menyadap karet mereka langsung menuju sawahnya yang sudah mereka tanami padi. Membersihkan tanaman-tanaman padi dari rumput-rumput atau sekedar mengecek aliran air klo-klo ada yang tersumbat untuk menuju sawahnya. Anak-anak muda terkadang secara berkelompok berlari menuju sungai dengan membawa senjata terbuat dari kayu-kayu bekas dan karet ban dalam sepeda motor untuk menembak ikan didalam sungai. Mata tembak terbuat dari jari-jari sepeda atau besi-besi kecil dari payung bekas. Kacamata selamnya pun buatan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan desa bagi mereka adalah sumber mata pencaharian dan juga sekaligus penyelamat alam dan lingkungan. Dengan adanya hutan desa mereka bisa sedikit tenang karena kawasan tersebut sudah diberi hak kelolanya oleh pemerintah kepada masyarakat desa. Tidak lagi khawatir pemerintah dalam waktu dekat bisa saja memberikan izin-izin konsesi kepada perusahaan untuk perkebunan kelapa sawit ataupun hutan tanaman industri (HTI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa manfaat yang mereka dapatkan dari hutan ini adalah sumber mata air yang melimpah. Di sawah-sawah mereka selalu mengalir air-air jernih. Begitu juga tanaman-tanaman lainnya yang ada diladang-ladang mereka. Air yang mengalir di sungai juga mereka manfaatkan untuk sumber energi listik dengan menggunakan kincir air. Kepala Desa Lubuk Beringin yang sering disebut ‘Rio’ yaitu Hadirin menyampaikan bahwa energi listrik yang ada di desanya dibangun secara swadaya masyarakat dan gotong-royong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Sebelum adanya hutan desa ini, memang kami sudah lama menjaga hutan yang ada di desa kami. Masyarakat sangat menyadari pentingnya hutan bagi mereka. Dari dulu kami juga sudah ada aturan adat dan juga sekarang juga dituangkan menjadi Peraturan Desa (Perdes). Klo menebang 1 pohon harus menanam 10 pohon. Kami juga akan memberikan sanksi sosial bagi yang melanggar. Misalnya klo dia mengadakan acara pernikahan ataupun syukuran (seperti khitanan) kami tidak akan menghadirinya&lt;/i&gt;” ungkap Hadirin. Masyarakat Dusun lubuk Beringin sudah mengetahui aturan-aturan adat dan aturan desa. Mereka tidak mau diasingkan oleh kelompok masyarakat yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rio juga berharap kedepannya akan semakin banyak masyarakat yang datang berkunjung ke dusun mereka. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Karena sudah banyak yang berkunjung ke dusun Lubuk Beringin. Melihat keramahan masyarakat dan potensi-potensi sumberdaya alam yang mereka miliki. Saat ini mereka sudah melakukan survey dibeberapa tempat untuk lokasi ekowisata. &lt;i&gt;Camping ground&lt;/i&gt;, areal &lt;i&gt;tracking&lt;/i&gt;, dan pemandian di sungai yang jernih dan bersih sudah disiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika selesai melakukan interiview dengan Rio, saya diajak mandi di sungai. Kebetulan sudah lama sekali saya tidak mandi di sungai besar yang bersih dan jernih yang berada di hulu daerah aliran sungai. Saya mandi di sungai seperti ini mungkin tahun lalu ketika saya pulang kampung. Sangkin hebohnya dan benar-benar menikmati mandi di air yang jernih, 3 jam berlalu tanpa terasa didalam sungai dengan berenang-renang kecil dan duduk-duduk disekitar sungai. Benar-benar menikmati indahnya sungai yang ada di depan mata. Beberapa hari setelahnya punggung saya kulitnya mengelupas semua karena terbakar oleh sinar matahari. Sampai sekarang masih berbekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kenikmatan yang jarang saya rasakan dalam banyak perjalanan saya. Menikmati keindahan alam dan kekayaan alam Indonesia. Keharmonisan masyarakat lokal dan masyarakat adat yang tinggal disekitar kawasan hutan. Beberapa tahun ini perjalanan saya banyak mengunjungi daerah-daerah konflik antar masyarakat lokal/adat dengan perusahaan perkebunan dan perusahaan kehutanan, konflik dengan pemerintah lokal, dan kawasan hutan yang sudah hancur berantakan. Melihat puing-puing keharmonisan. Meratap, merekam dan menyaksikan jeritan-jeritan mereka.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Ok_DvkR2i0E/TZ0xnAFYOPI/AAAAAAAAAeA/V0jcr1HogVk/s1600/DSC_2677.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Ok_DvkR2i0E/TZ0xnAFYOPI/AAAAAAAAAeA/V0jcr1HogVk/s320/DSC_2677.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592680858371242226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat video singkat Hutan Desa Lubuk Beringin silahkan lihat &lt;a href="http://vimeo.com/22022896"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-3007906296454367338?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/3007906296454367338/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/04/hutan-desa-lubuk-beringin-berpijak-dari.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/3007906296454367338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/3007906296454367338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/04/hutan-desa-lubuk-beringin-berpijak-dari.html' title='Hutan Desa Lubuk Beringin: Berpijak dari kearifan lokal'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-_H3eRn_w1Fk/TZ0wLpHOL4I/AAAAAAAAAdw/bgJ4T8nExNk/s72-c/DSC_2433.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-5486008500888820627</id><published>2011-03-02T17:11:00.005+07:00</published><updated>2011-03-02T17:27:16.514+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Taman Nasional'/><title type='text'>Pengelolaan Taman Nasional Berbasis Resort. Benarkah bisa diterapkan?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-sMD-XyMNnkk/TW4bRaeB3NI/AAAAAAAAAdo/IAJVSZGc014/s1600/DSC_1369.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-sMD-XyMNnkk/TW4bRaeB3NI/AAAAAAAAAdo/IAJVSZGc014/s200/DSC_1369.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5579426974335622354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Taman nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai fungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang dikelola dengan sistem zonasi, yang terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan, dan zona laoin sesuai keperluan (Undang-undang No.5 Tahun 1990). Pembentukan sebuah taman nasional di Indonesia dilatarbelakangi oleh beberapa alasan, diantaranya untuk penyelamatan sebuah kawasan yang didalamnya terdapat flora dan fauna endemik/langka, menyelamatkan budaya dan tentu saja untuk menyelamatkan kawasan hutan tropis yang masih tersisa. Di Indonesia saat ini terdapat 50 buah taman nasional yang tersebar dari pulau sumatera sampai dengan papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resort merupakan jabatan non struktural yang dibentuk dengan keputusan Kepala Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional (Pasal 31 P.03/Menhut-II/2007). Didalam sebuah taman nasional terdapat beberbagai struktur yang diduduki oleh berbagai tingkatan jabatan sampai dengan staf dilapangan. Resort merupakan garda terdepan dalam sebuah pengelolaan taman nasional. Atasan langsung dari resort adalah Kepala Seksi. Orang-orang yang berada di resort harus berhubungan langsung dengan masyarakat, baik itu masyarakat yang tinggal didalam atau disekitar taman nasional, maupun masyarakat yang melakukan kegiatan-kegiatan illegal didalam sebuah kawasan taman nasional, seperti berburu satwa, illegal loging, perambahan dan pencurian tumbuh-tumbuhan langka yang dilindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat pentingnya dan besarnya sebuah tanggung jawab orang di resort, maka sudah seharusnya orang-orang yang berada di garda terdepan ini memiliki kemampuan yang mumpuni. Bisa diandalkan. Mampu menganalisis masalah dengan cepat, bisa berkomunikasi dengan masyarakat dan berbaur dengan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir satu bulan ini  saya melihat serta mendokumentasikan sebuah pendidikan dan pelatihan tentang manajemen kolaborasi di taman nasional. Dari sini saya melihat berapa rumit dan kompleksnya sebuah manajemen di taman nasional. Bagaimana sebuah kebijakan seolah-oleh saling menunggu. Kebijakan dalam sebuah taman nasional tergantung oleh Kepala Balai dan seorang Menteri Kehutanan. Seorang Kepala Seksi dan Kepala Resort serta staf-nya tidak bisa berbuat apa-apa jika sang pimpinan tidak memberikan instruksi. Banyak program dan dana yang terkadang tersedot di Jakarta dan ditingkat Balai, sehingga membuat orang-orang  tingkat seksi dan resort tidak bisa berbuat banyak dalam hal pengamanan kawasan yang menjadi tanggung jawab mereka. Anggaran tahunan yang cenderung disamaratakan disetiap taman nasional membuat sebuah anggaran tersebut tidak cukup jika operasional di taman nasional tersebut membutuhkan biaya operasional yang besar, misalnya dalam hal transportasi. Wilayah Kalimantan dan Papua, biaya transportasi yang menggunakan boat lebih mahal dibandingkan dengan biaya perjalanan darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu merupakan salah satu masalah yang ada didalam tubuh organisasi yang mengelola taman nasional. Manajemen yang masih jauh dari kata sempurna dan ideal. Belum lagi permasalahan luasnya kawasan yang mereka kelola. Mengelola ratusan ribu hingga jutaan hektar sebuah kawasan hutan bukan sebuah perkara yang bisa dianggap enteng. Permasalahan menjadi semakin rumit jika didalam taman nasional terdapat kelompok masyarakat yang tinggal dan beranak pinak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahunnya permasalahan atau konflik yang terjadi antara masyarakat dan pengelola taman nasional masih sering terjadi dan terus meningkat. Beberpa konflik yang sering terjadi adalah konflik batas hutan dan taman nasional, kepentingan dalam penggunaan ruang atau penetapan zonasi, pemanfaatan lahan dan akses terhadap pemanfaatan sumberdaya alam di taman nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan sebuah solusi yang cepat dalam pengelolaan taman nasional. Tingginya konflik di taman nasional dan masih sering terjadinya kegiatan-kegiatan illegal disebuah taman nasional membuat beberapa kalangan tidak mempercayai sistem taman nasional dalam upaya penyelamatan sebuah kawasan hutan. Manajemen kolaborasi dan pelibatan masyarakat didalam dan disekitar taman nasional harus diterapkan. Bagaimana masyarakat bisa hidup selaras dan serasi dengan kawasan hutan. Menikmati tinggal dikawasan hutan dan menjaga tempat tinggalnya dari kerusakan. Resort harus dilibatkan secara penuh dalam sebuah perencanaan, pelaksanaan dan monitoring sebuah kegiatan/program di taman nasional. Beri kepercayaan dan ruang gerak yang bebas untuk resort. Bagi seorang Kepala Seksi dan Kepala Balai, buang jauh-jauh pemikiran tentang resort adalah sekelompok orang bawahan atau anak buah yang bisa selalu diperintah dan harus mengikuti perintah atasan. Jangan pernah beranggapan orang-orang di resort adalah sekelompok anak muda yang baru lulus dan tidak tahu apa-apa. Berbaur dan bergabung dengan bawahan adalah penting. Bagi orang lapangan team work adalah harga mati. Permasalahan utama taman nasional ada dilapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seksi dan Resort adalah ujung tombak didalam sebuah taman nasional. Biarkan mereka membuat program dan mengelola program tersebut. Baik program dari anggaran pemerintah maupun sumber dana yang lainnya. Karena mereka yang tahu situasi dan kondisi dilapangan. Kenapa disebuah taman nasional dibentuk seksi dan resort? Karena kepala balai tidak akan sanggup mengurusi semuanya. Seksi dan resort merupakan perpanjangan tangan kepala balai. Ngapain kepala balai megang semua kegiatan atau proyek?. Kepala balai cukup mengevaluasi saja pekerjaan-pekerjaan mereka” ungkap Waldemar Hasiholan yang pernah menjadi Kepala Balai Taman Nasional dibeberapa taman nasional ketika kami melakukan praktek lapangan bersama di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. “Di Kementerian Kehutanan ini aneh, semua pegawainya numpuk di Jakarta. Semua berlomba-lomba ingin pindah ke Manggala. &lt;i&gt;Wong&lt;/i&gt; permasalahannya ada dilapangan kok. &lt;i&gt;Ngga&lt;/i&gt; bisa menyelesaikan masalah hanya melalui telpon dan email. Hadapi langsung dilapangan. Sudah tinggal di Jakarta, semua proyek juga mereka pegang, bagaimana urusan bisa selesai?” lanjutnya. Menurut Waldemar, semua program atau proyek harus langsung diberikan kepada kepala seksi dan resort biar semua orang mau kerja dilapangan. Orang-orang yang duduk di Jakarta tidak perlu diberikan proyek atau kegiatan yang berhubungan dengan  urusan teknis pengelolaan sebuah taman nasional. Waldemar juga menyayangkan kurangnya waktu seorang kepala balai untuk turun ke lapangan dan berbaur dengan bawahan. “Kepala Balai Taman Nasional itu 3-4 kali dalam sebulan pasti dipanggil ke Jakarta. Itu resmi panggilan dinas. Belum lagi jatah libur bertemu dengan keluarga setiap bulannya. Klo rumahnya di Jakarta, sudah pasti dia pulang ke Jakarta. Jadi kapan dia bisa ke lapangan bertemu masyarakat dan berbaur dengan anak buahnya?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saut Manalu, seorang Kepala Seksi Taman Nasional Tanjung Puting menyampaikan didalam sebuah pertemuan tingkat kepala seksi di Sukabumi bahwa permasalahan utama didalam taman nasional adalah dimanajemen taman nasional. “Taman Nasional itu rusak ya karena kita orang balai. Manajemen kita ngga bagus. Bukan karena masyarakat. Jangan kita selalu mengkambinghitamkan masyarakat” ungkapnya pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-7kjaiRDHFcI/TW4ack7QaFI/AAAAAAAAAdg/gP34dQ86bvQ/s1600/DSC_8325.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-7kjaiRDHFcI/TW4ack7QaFI/AAAAAAAAAdg/gP34dQ86bvQ/s320/DSC_8325.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5579426066609498194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selama proses pendidikan dan pelatihan ini banyak pengalaman dan pengetahuan yang mereka dapatkan. Sharing informasi antar taman nasional menjadi perlu untuk mendapatkan metode yang pas dalam pengelolaan taman nasional berdasarkan karakteristik wilayah dan masyarakatnya. Dalam Diklat ini juga dibuat sebuah rencana aksi untuk mencoba menerapkan pembelajaran-pembelajaran yang didapat selama pendidikan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;Semoga ada perubahan kebijakan yang mendasar dalam pengelolaan sebuah taman  nasional. Keberadaan taman nasional yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia ini bisa menjadi kebanggaan rakyatnya, tidak lagi menjadi sumber masalah bagi masyarakat. Transparansi dan kebijakan yang dibuat oleh seorang Kepala Kalai maupun Menteri Kehutanan memang berdasarkan kebutuhan masyarakat luas bukan pesanan sekelompok orang ataupun oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Saya ingin memotret wajah-wajah masyarakat adat dan masyarakat lokal yang tinggal didalam kawasan taman nasional maupun disekitar taman nasional tersenyum sumeringah karena bangga dan bahagia tinggal di taman nasional.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-5486008500888820627?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/5486008500888820627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/03/pengelolaan-taman-nasional-berbasis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/5486008500888820627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/5486008500888820627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/03/pengelolaan-taman-nasional-berbasis.html' title='Pengelolaan Taman Nasional Berbasis Resort. Benarkah bisa diterapkan?'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-sMD-XyMNnkk/TW4bRaeB3NI/AAAAAAAAAdo/IAJVSZGc014/s72-c/DSC_1369.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-4284067788924152720</id><published>2011-02-18T15:46:00.033+07:00</published><updated>2011-02-21T09:23:46.592+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Percaloan CPNS'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penerimaan PNS'/><title type='text'>Ketidakberadayaan Putra Daerah</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Setelah turun dari bus yang membawa saya dari sebuah kota di Jawa Barat, saya mencari angkutan umum menuju sebuah terminal dan mencari angkutan umum lainnya yang bisa mengantarkan saya ke kota kelahiran saya. Tempat dimana orang tua saya tinggal. Ramai. Ramai karena para calo sibuk menanyai kemana tujuan sang penumpang. Ramai karena semua kaca depan dan belakang mobil-mobil angkutan umum itu ditempel dengan dua nama orang yang berukuran besar dan mencolok. Penasaran dan heran, nama siapa ini. Orang mana dia. Akhirnya saya menanyakan kepada seseorang yang duduk disebelah saya “nama siapa yang ada di kaca-kaca mobil itu?”. “Itu nama calon bupati dan wakil bupati yang sekarang. Sekarang kan sedang ada pemilihan bupati dan wakil bupati” jawabnya enteng. Saya baru menyadari klo saya sudah tiga tahun meninggalkan kota ini. Tahun ini memang sudah waktunya pemilihan pemimpin daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah duduk disebelah kiri mobil. Dipinggir pintu. Membuka kaca mobil agar bisa menghirup udara diluar. Mobil yang di kaca depan dan belakangnya tertuliskan nama calon bupati dan wakil bupati itu sudah siap berangkat. Dibelakang sopirnya ada tiga baris bangku. Seharusnya satu baris diisi tiga orang penumpang. Karena mengejar setoran maka tak sungkan sang calo dan pemilik mobil memaksakan untuk diisi empat orang penumpang. Untuk bernafas saja cukup sulit, apalagi kita berharap bisa menggerakan kaki atau duduk bersandar. Lama perjalanan jika kondisi jalan bagus sekitar satu jam. Tapi akan berbeda jika kondisi jalan berlubang dan bergelombang karena banyak kendaraan besar truk-truk batu bara yang lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya dirumah saya langsung linglung dan bingung. Rumah tua yang dulu kecil dan berwarna kusam sudah tidak ada. Sekarang sudah berubah menjadi sebuah rumah yang lebih bagus dan berwarna cerah. “Kenapa kau bingung?” tanya emak kepada saya. “Iya, setelah kamu dan kakakmu lulus kuliah, bapak meminjam bank untuk terakhir kalinya sebelum pensiun untuk membangun rumah”. Mata saya terpejam mendengar ucapan polos itu. Seakan berdosa karena selama ini saya seolah menghambat mereka membangun sebuah rumah yang layak untuk mereka tempati dengan nyaman untuk tempat tinggal. Tetangga kiri dan kanan yang baru datang membangun rumah lebih bagus dan warnanyapun lebih cerah. Ya, disaat saya dan kakak saya kuliah semua pendapatan orangtua saya harus disisihkan untuk biaya kami kuliah di Bogor. Bukan hanya pendapatan, tapi juga harus meminjam bank dengan menggadaikan surat-surat berharga untuk membiaya kami berdua masuk kuliah dan membayar uang semester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam harinya disaat sedang berkumpul bersama dengan adik-adik saya. Saya bertanya kepada sang bapak “sedang ada pemilihan bupati ya pak?”. “Iya, sedang ramai dibicarakan sekarang”. “Orang mana saja calonnya dan darimana mereka” saya lanjut bertanya. “Sekarang putra daerah yang kita jagokan”. “Dia orang kita, dari suku kita. Rejang” si emak menimpali. “Semoga nanti disaat dia terpilih lebih memperhatikan orang-orang kita. Baru sekali ini orang kita, putra daerah bisa jadi bupati. Bapak ingin lihat seperti apa kepemimpinannya” bapak melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu selain bercerita tentang harapan orang tua terhadap calon bupati yang dijagokan juga bercerita tentang Calon Gubernur yang akan maju juga putra daerah. Masih muda dan katanya pengusaha. Mereka berharap ada perubahan-perubahan yang dilakukan oleh putra daerah di era otonomi daerah ini. Saya yang mendengarkan hanya menganggukan kepala yang berarti mengiyakan dan berharap hal yang sama. Mungkin harapan yang sama seperti yang ada dihati masyarakat diseluruh daerah dimana sedang ada pilkada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-geJrTescmOA/TWHMTzvZy9I/AAAAAAAAAdQ/YzwfB_ZEvMI/s1600/%2540_DSC1349.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-geJrTescmOA/TWHMTzvZy9I/AAAAAAAAAdQ/YzwfB_ZEvMI/s320/%2540_DSC1349.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575962454339996626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Beberapa minggu yang lalu.&lt;br /&gt;Setelah mengikuti beberapa prosesi acara pernikahan saya di dua tempat, yaitu di kota kelahiran istri saya di Sumsel dan di kota kelahiran saya sendiri. Malam terakhir sebelum keesokan harinya kami harus pulang ke Bogor, saya dan istri saya berkumpul dengan orang tua saya di rumah. Malam itu, emak menyampaikan keinginan sang adik perempuan saya klo dia ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Beberapa tahun ini dia hanya sebagai pegawai honorer. Meminta emak untuk menjual tanah yang dimiliki untuk membayar orang-orang yang bisa membantu proses penerimaan pegawai negeri. Jumlah yang dibutuhkan jika orang tersebut lulusan sarjana adalah kurang lebih Rp 150 juta. Emak meminta pendapat saya pada malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selama ini hanya mendengar kasus-kasus penyuapan dalam proses penerimaan PNS yang dilakukan oleh beberapa orang dibeberapa daerah. Selama ini saya hanya tersenyum jika mendengar cerita teman-teman mengenai diterimanya seseorang menjadi PNS karena membayar para makelar dan pejabat-pejabat daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, saya dihadapkan langsung dengan kasus seperti ini. Ahhh.. apa yang saya khawatirkan selama ini terjadi juga. Saat itu saya bingung menjawabnya. Takut menyinggung perasaan sang orang tua dan adik saya. Saya takut dianggap orang yang sombong. Malam itu saya hanya menyampaikan, klo saya secara pribadi dan dari hati yang paling dalam saya tidak setuju dengan mekanisme seperti itu. Saya tidak rela tabungan yang disimpan sejak lama dan susah payah harus diberikan kepada para makelar dan pejabat-pejabat itu. Lebih baik uang yang senilai ratusan juta itu dinikmati sendiri. Membangun rumah yang besar atau membuka kebun yang luas. Toh sang suami juga sudah berstatus kerja sebagai pegawai negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya memberi beberapa perumpamaan kepada orang tua saya. Berapa pendapatan PNS perbulan. Butuh berapa tahun harus mengembalikan uang sebesar itu jika sudah menjadi PNS? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun?. Klo membangung rumah, sudah nyaman sekali untuk menjadi tempat tinggal selama puluhan tahun. Klo membuat kebun, sepuluh tahun mungkin sudah menikmati hasil-hasil kebun. Apalagi jika dengan kondisi harga komoditi karet saat ini sangat tinggi. Klo sekedar untuk makan sekeluarga saya pikir pendapatan suaminya sudah lebih dari cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Latah menjadi PNS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disetiap daerah. Disetiap tahunnya masyarakat seakan selalu latah untuk menjadi pegawai negeri sipil. Hal ini menurut saya sudah menjadi seperti sebuah kompetisi tahunan. Saya menjadi curiga sebuah kabupaten baru bermunculan beberapa tahun ini hanya untuk membuat peserta kompetisi ini semakin banyak. Bukan karena untuk pemerataan pembangunan, apalagi untuk mensejahterakan rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emakku, adikku, dan teman-temanku semuanya. Bukan maksud saya menyalahkan kalian. Bukan maksud saya untuk memojokkan posisi kalian. Tidak sama sekali. Kalian hanya korban. Yang saya salahkan dan sesalkan adalah sistem ini. Bagaimana, dan sejak kapan sistem ini dilahirkan. Sistem yang sangat bobrok yang ada di pemerintah daerah. Yang saya salahkan adalah rakusnya para pejabat daerah dan makelar CPNS ini. Pejabat daerah bukannya memikirkan rakyatnya. Memikirkan sumber-sumber pendapatan tambahan rakyatnya, alternatif pendapatan dan kestabilan sumber pendapatan tersebut. Mereka masih menjabat dengan gaya-gaya lama. Pemikiran sempit dan memanfaatkan posisi dengan ilmu terapan “aji mumpung”. Mumpung menjadi pejabat, mumpung memiliki kesempatan dan mumpung masih banyak yang latah untuk menjadi pegawai negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih teringat lima yang tahun yang lalu. Melihat istri saya mencari pekerjaan disaat dia lulus dari kuliahnya. Waktu itu kami belum menikah. Pada malam hari, ketika orang-orang ditempat saya bekerja sudah pulang kami mencetak beberapa surat lamaran kerja dan curiculum vitae. Keesokan harinya kami kirim ke beberapa lembaga, perusahaan dan institusi. Disaat harus mengikuti berbagai macam ujian tertulis dan interview di Jakarta, saya harus menemaninya ke Jakarta. Biaya yang kami keluarkan saat itu hanya ongkos kereta, ojeg dan makan siang di warteg. Tidak ada biaya selain itu. Alhamdulillah sudah sejak mengikuti berbagai macam ujian pada saat itu dia diterima dan sudah berkerja disalah satu bank swasta secara permanen. Alhamdulillah juga, teman-teman kuliah saya masih bisa lulus murni di beberapa kementerian dan di Pemda di Kabupaten tempat mereka tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman ini saya melihat, seseorang bekerja seharusnya bekerja memang karena spirit-nya untuk bekerja. Bukan hanya untuk membuang waktu luang lalu mendapatkan penghasilan perbulan. Inilah perbedaan yang saya rasakan dengan para orang-orang yang latah menjadi PNS. Bekerja hanya untuk membuang kebuntuan dalam pikirannya. Orang tua yang bosan sekaligus frustasi melihat anaknya menganggur. Walaupun harus membuang uang sedemikian besar nominalnya. Tidak menyadari lagi klo yang dilakukan pada dasarnya adalah salah. Mendukung meningkatnya kasus-kasus penyuapan setiap tahunnya. Membiarkan para pejabat daerah dan makelar PNS melakukan perbuatan yang melanggar konstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun selalu muncul pemberitaan bahwa Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi akan menyelidiki dan menindak para pejabat daerah yang terlibat dengan percaloan CPNS di berbagai daerah, kasus ini masih saja terjadi. Beberapa minggu yang lalu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menargetkan akan mengkaji praktik suap yang terjadi dalam penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di sejumlah kementerian dan institusi pemerintah Pusat dan Daerah. Tetapi klo melihat kondisi negara yang penuh dengan sandiwara ini saya menjadi pesimis kasus-kasus ini bisa berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu saya masih mahasiswa, saya percaya bahwa untuk mendapatkan pekerjaan tergantung dari diri kita sendiri. Bagaimana kita pandai membangun komunkasi yang baik dengan orang lain. Mempunyai kemampuang berpikir dan kemampuan diri (keahlian). Tidak ada sama sekali niat yang saya tanam didalam hati, klo nanti setelah lulus kuliah saya harus menyiapkan uang agar saya bisa diterima disebuah lembaga, sebuah perusahaan ataupun institusi pemerintah. Walaupun sudah beberapa kali orang tua saya meminta saya pulang untuk menjadi PNS setelah saya lulus kuliah pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, bekerja adalah urusan hati nurani. Bekerja adalah sebuah kebanggaan. Hidup harus dijalani seimbang dan percaya manusia dilahirkan memang sudah dibuatkan jalannya oleh sang penciptanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-4284067788924152720?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/4284067788924152720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/02/sekitar-enam-tahun-yang-lalu-saya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/4284067788924152720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/4284067788924152720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2011/02/sekitar-enam-tahun-yang-lalu-saya.html' title='Ketidakberadayaan Putra Daerah'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-geJrTescmOA/TWHMTzvZy9I/AAAAAAAAAdQ/YzwfB_ZEvMI/s72-c/%2540_DSC1349.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-8686770501580233064</id><published>2010-12-30T17:28:00.008+07:00</published><updated>2011-01-05T08:46:28.071+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi akhir tahun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soe Hok Gie'/><title type='text'>Soe Hok Gie; dalam sebuah surat</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Karena tulisan ini sangat menarik bagi saya. Bisa menjadi bahan renungan saya kita sebelum tidur dimalam hari. Mengingat kembali apa yang sudah saya lakukan untuk keluarga, kerabat, dan orang lain yang tersebar diseluruh nusantara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih kepada yang menulis. Mohon maaf saya copy dan saya taroh disini.&lt;br /&gt;Gie.. memang sebuah nama yang besar..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saya masih bisa melangkah didunia ini dengan sebuah idialisme yang saya miliki. Melangkahkan kaki di negara yang memang sudah hancur. Kacau. Kejam. Ibarat sebuah kendaraan, negara ini sudah tidak tahu lagi mau pergi kemana. Mau diarahkan kemana. Semua dijalankan oleh sopirnya semau-maunya sendiri. Sesuka-suka sopirnya. Tidak peduli penumpangnya resah karena tidak sesuai dengan tujuan yang dia inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tahun baru 2011.&lt;br /&gt;Semoga kita bisa berbuat dan bersikap sesuai dengan idealisme kita. Tidak dibuat-buat. Tidak mengada-ada. Jujur dan punya integritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 30 Desember 2010&lt;br /&gt;Een Irawan Putra&lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soe Hok Gie ; dalam sebuah surat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Pers Mahasiswa Indonesia&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhan, apa kabar Indonesia kini? Ramai kukira, kudengar sedang ramai bicara&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;kerbau. Kenapa memangnya? Sudah lama saya tidak mendengar tanah kelahiran saya. Ah ya, kemarin saya bertemu dengan Gus Dur, orang baik, ia menyenangkan, aku dan Ahmad Wahib ketawa terpingkal dibuatnya. Ah jika aku bertemu dengannya sejak lama mungkin aku tobat jadi atheis. Hehehehe tapi aku tau kau takan percaya. Gus ini anak kyai rupanya, banyak ia bercerita tentang islam dan yang bukan islam. Rupa-rupanya ia tahu aku gak percaya tuhan barangkali. Aku sebenarnya iri melihat dia. Dia telah tenang dalam Tuhannya. Dia sudah bersatu dengan Tuhannya. Katanya ia pernah jadi presiden, 2 tahun lantas ia bosan lalu diberhentikan. Oleh DPR katanya, yang ia tuduh mirip Taman Kanak-Kanak. Aku dan Wahib sekali lagi keras tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa presiden kita kali ini Dhan? Militer lagi ataukah sudah teknokrat? Aku&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;ingin suatu saat Indonesia dipimpin oleh Filsuf atau Budayawan. Biar ia bijak, atau setidaknya ia mungkin bisa berpikir secara lebih baik, bukan lagi tentang untung rugi, tapi baik buruk. Jangan lagi presiden dari golongan kyai atau pastur, mereka suruh perbaiki umat saja, jangan ikut berpolitik. Dulu ada Buya H.A.M.K.A, orang hebat dan baik ia Dhan. Berani ia kritik Soekarno, kudengar ia&lt;br /&gt;sahabat Hatta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhani masihkah kau suka membaca? Aku ada buku bagus, buku lama tapi semoga kau&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;suka. Dr. Zhivago judulnya, Pasternak yang menulis. Boris Pasternak, ah si manusia itu yang sampai akhir hayatnya menolak berkompromi dengan sesama manusia, sampai saat ini tak sempat aku menulis tentangnya Dhan. Kapan-kapan kau tulis tentangnya, nanti kubaca. Jangan pacaran terus, ya aku tahu, kau sedang dekat dengan seorang gadis padang. Kawanmu Rasul bercerita, ia tiba lebih dahulu sebelum Gus Dur. Aktifis ia Dhan? Katanya dari LPM Keadilan. UII Jogja, anak sebaik dan secemerlang itu. Sayang sekali, kenapa pemuda hebat selalu cepat kesini. Sedangkan para pemabuk dan penggila pesta selalu berhayat panjang. Tapi yah, beruntunglah mereka yang mati muda, dan yang tak pernah dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kau jadi anggota Tegalboto? Nama yang aneh brick field? Hahaha jangan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;marah Dhan, apapun namanya jika ia berguna tak apalah. What is a name kata Shakespeare. Sebagai wartawan kau musti tau tugas pers. Jangan kau ikuti kata presiden Soekarno dulu saat ia buka jurusan jurnalistik di pada masaku. Ia bilang tugas pers adalah menggambarkan cita-cita muluk kepada rakyat supaya nafsu yang baik dari rakyat berkobar kembali. Seolah hendak dikatakan presiden, tugas pers ialah meninabobokan rakyat. Bukan inilah tugas pers melainkan menggambarkan kebenaran pada pembaca. kalau pemberitaan itu merugikan kelompok tertentu maka berita itu harus disiarkan. Kita sering dininabobokan bahwa produksi padi naik, produksi kain maju, gerombolan dikalahkan dan seterusnya&lt;br /&gt;beginilah kemerdekaan pers di indonesia potonglah kaki tangan seseorang lalu masukan ditempat 2x3 meter dan berilah kebebasan padanya. inilah kebebabasan pers di indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan Ubermensh Dhan, kadang saya lelah bergulat dengan pemikiran saya&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;sendiri. Memikirkan tentang rakyat, bangsa dan kemanusiaan. Tapi apapun yang terjadi saya menolak untuk berkompromi dengan penindasan. Lebih baik mati diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Dan sekarang makin saya geli melihat kawan-kawanmu, generasi mahasiswa kala ini sedang galau. Sibuk mencari eksistensinya sendiri. Kulihat kau pun demikian, lebih sering update status Facebook daripada ibadahmu. Generasi Facebook, menyedihkan dan jika kau kemudian ikut arus di dalamnya. Dan kupikir kamu akan terjebak dalam identitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun. Kau tak percaya? Lihat saja demonstrasi mahasiswa saat ini, norak, kampungan! Dulu aku benci sekali dengan mahasiswa oportunis yang sok-sokan menjadi bagian dari sebuah sistem parlemen. Sistem itu busuk Dhan, tapi melihat mahasiswa demonstrasi dengan membawa batu, parang, kayu dan bensin. Mereka mau menjalankan demokrasi atau sekedar sok jagoan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi. Busuk bukan? Ya, yah aku ingat kau dulu pernah bercerita tentang kawan-kawan ekstramu yang kau bilang busuk itu. Tapi kita harus adil Dhan, Seorang intelektual harus adil sejak dalam pikiran dan perbuatan. Pram bilang begitu, oh ya dia titip salam. Lama ia tak baca lagi tulisanmu, mandul kau katanya? Ayo menulis Dhan, ajak teman-temanmu sekalian. Jangan mau jadi renik dalam sejarah yang hanya numpang kuliah tanpa bisa memberi jejak dalam sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?. Karena kau tau Dhan? Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis. Aku muak dengan FPI Dhan, memangnya agamamu memerintahkan umatnya  membawa parang kemana-mana lalu menghancurkan tempat yang dituduh maksiat? Beruntunglah aku yang tak beragama ini jika demikian. Agama harusnya membawa kedamaian Dhan, jika pun Tuhan memang ada tak mungkin ia menyuruh umatnya membacok sesamanya hanya karena berebut lahan parkir atau karena tak dapat jatah uang keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kau lulus Dhan? Jangan lulus dulu, tuntaskan dulu tanggung jawabmu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;sebagai intelektuil, bukan aku menyuruhmu malas. Tapi sesuaikan dengan tanggung jawabmu sebagai Agent of enlighment. Bidang seorang sarjana adalah berpikir dan mencipta yang baru. Mereka harus bisa bebas disegala arus-arus masyarakat yang kacau, seharusnya mereka bisa berpikir tenang karena predikat kesarjanannya. Lalu hiduplah dengan keyakinan teguh. Karena kau tau, saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin. Karena saya tak mau diam melihat penindasan. Dan saya lebih tak suka melihat orang-orang munafik Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tentu ingat puisiku Dhan, Puisi yang kubuat saat sedang galau. Yah pasti kau&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;lupa, tak suka aku dengan tabiatmu ini. Baiklah kutulis ulang untukmu Dhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mimpi tentang sebuah dunia,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di mana ulama - buruh dan pemuda, Bangkit dan berkata - Stop semua kemunafikan, Stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Dan para politisi di PBB, Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras, Buat anak-anak yang lapar di tiga benua,Dan lupa akan diplomasi. Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, Agama apa pun, ras apa pun, dan bangsa apa pun, Dan melupakan perang dan kebencian, Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik. Tuhan – Saya mimpi tentang dunia tadi, Yang tak pernah akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadapilah cita-cita ini Dhan, karena buat apa menghindar? Cepat atau lambat,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;suka atau tidak, perubahan hanya soal waktu. Semua boleh berubah, semua boleh baru, tapi satu yang harus dipegang; kepercayaan. Karena kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras ... diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil ... orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur. Bergeraklah Dhan, tubuhmu terlalu gemuk, terlalu banyak makan junkfood. Jangan kau bilang peduli rakyat, jika makanmu masih seperti priyayi. Bergeraklah Dhan, ayo didik masyarakatmu dengan kata-kata dan buku. Karena kau tahu, percuma hidup jika kau tak dapat berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu gerakan hanya mungkin berhasil bila dasar-dasar dari gerakan tersebut&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;mempunyai akar-akarnya di bumi tempat ia tumbuh. Ide yang jatuh dari langit tidak mungkin subur tumbuhnya, hanya ide yang berakar ke bumi yang mungkin tumbuh dengan baik. Berakar menghujam seperti beringin. Maka jika kau lihat mengapa Orde Baru kuat mengakar, ya mungkin karena lambang partainya adalah beringin. Akan lain cerita jika lambangnya adalah pohon toge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau tak sanggup menjadi beringin yang tegak dipuncak bukit, Jadilah saja&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;belukar. Tapi belukar terbaik yang tumbuh ditepi danau. Kalau kau tak sanggupmenjadi belukar, jadilah saja rumput. Tapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Tidak semua jadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya. Karena bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Tetapi jadilah saja dirimu, sebaik-baiknya dirimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhan, aku mau kau dan generasimu mengerti. Bahwa pendidikan adalah satu-satunya&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;alat menuju kondisi yang lebih baik. Ayo bangkit Dhan, jangan malas, jangan hanya bisa nonton sinetron. Tak malu kau pada kami? Aku dah Ahmad Wahib, Munir, kau tau Munir kan? Orang cemerlang itu, yang selalu datang dengan sepeda motor tuanya? Ia hebat karena mau belajar, sekolah dan membaca, pejuang ia Dhan. Tak mau kau seperti ia? Bukan sebagai superhero macam Superman, itu Cuma dagelan. Jadilah hebat karena kau peduli dan jujur. Atau seperti Marsinah, ya Marsinah wanita besi itu datang dengan berbagai persoalannya, tapi ia lega Dhan, selama hidup ia sudah jujur, jujur untuk melawan kesewenangan, ayo lah Dhan. Tak perlu dengan agitasi turun ke Jalan, bisa kau bikin macam Si Rendra, berpuisi. Jangan diam Dhan, diam hanya macam orang kejam. Karena diam dan kasihan adalah laknat kutukan pada hati manusia. Ingatlah Dhan, apatisme lahir karena dua hal, kau terlalu bodoh untuk berpikir atau terlalu egois untuk perduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabatmu, Gie.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;N.B : aku baca tulisanmu, jelek! Macam tukang kutip saja, perbaiki Dhan. Kutunggu kau untuk jadi Martir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Ditulis ulang untuk mengenang Soe Hok Gie, ditulis dengan campuran berbagai&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;kutipan catatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-8686770501580233064?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/8686770501580233064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/12/soe-hok-gie-dalam-sebuah-surat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/8686770501580233064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/8686770501580233064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/12/soe-hok-gie-dalam-sebuah-surat.html' title='Soe Hok Gie; dalam sebuah surat'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-1159827958034004583</id><published>2010-12-03T20:56:00.005+07:00</published><updated>2010-12-04T06:27:12.986+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hutan Adat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lubuk Besar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='COP 16 Cancun'/><title type='text'>Antara Lubuk Besar dan Cancun</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/TPj3jrrvhQI/AAAAAAAAAco/3uzJ2xAU6ug/s1600/%25402.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 203px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/TPj3jrrvhQI/AAAAAAAAAco/3uzJ2xAU6ug/s320/%25402.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5546455133500441858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam beberapa tahun terakhir saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi beberapa kawasan hutan adat yang masih terjaga dengan baik dan dikelola secara lestari oleh masyarakat adat yang memiliki kawasan hutan tersebut. Beberapa diantaranya yang sudah saya kunjungi adalah Sei Utik, di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat; Dusun Pendaun, di Ketapang, Kalimantan Barat; dan Ngata Toro, Melawi di Sulawesi Tengah. Pada tanggal 15-20 November 2010 saya memiliki kesempatan untuk melihat satu lagi  kawasan hutan adat, yaitu di Dusun Lubuk Besar, Sei Sintang Kecamatan Kayan Hilir, Sintang, Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuju lokasi Lubuk Besar dibutuhkan jarak tempuh sekitar 14 jam dari Kota Pontianak menggunakan jalur darat. Dari Kota Sintang, ada dua jalur darat untuk menuju Dusun Lubuk Besar. Pertama, dari Kota Sintang langsung menuju Desa Merampit. Dari Desa Merampit kita harus menggunakan mobil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;four wheel drive&lt;/span&gt; menuju Desa Sungai Buaya. Kedua, Melewati jalan perusahaan loging milik PT. KRBB dan perkebunan kelapa sawit. Dari jalur Bukit Kelam jalan terus ke arah Simpang Silat-Simpang Nanga Ngeri. Setelah itu baru masuk ke Dusun Lubuk Besar. Kendaraan yang dibutuhkan juga kendaraan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;four wheel drive&lt;/span&gt; atau menggunakan sepeda motor. Tapi jalur ini lebih jauh dari jalur yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dusun Lubuk Besar merupakan salah satu dusun yang terdapat di Desa Sei Sintang. Sebelumnya Desa Sei Sintang ini masih menyatu dengan Desa Sungai Buaya. Masyarakat di Desa Sei Sintang adalah Masyarakat Dayak Inggar Silat, berjumlah kurang lebih 150 KK dengan mata percaharian petani, yaitu petani karet dan petani ladang. Kawasan hutan adat yang mereka miliki adalah bernama Bukit Ibun. Kawasan Bukit Ibun memiliki permasalah yang sama dengan permasalahan yang ada di kawasan hutan adat lainnya di Indonesia yang pernah saya kunjungi. Ancaman adanya rencana masuknya perkebunan kelapa sawit skala besar dan juga izin-izin konsesi HPH membuat masyarakat menjadi khawatir hutan mereka tidak bisa bertahan lama keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Dayak Inggar Silat setiap tahunnya mengadakan ritual adat di kawasan Bukit Imbun yaitu dalam bahasa lokalnya disebut Nampuk Bukit Imbun. Ritual adat ini dilakukan pada saat menjelang panen atau pada saat padi mulai menguning. Masyarakat Dayak Inggar Silat mendaki bukit untuk menyampaikan niat dan doa atas hasil pertanian yang sudah didapat. Ritual Nampuk Bukit Imbun bukan hanya dilaksanakan pada saat padi mulai menguning saja, tapi ritual juga dilakukan pada saat ingin menyampaikan doa atau sering juga disebut berniat. Ritual ini kabarnya sudah dilakukan semenjak pertama kali manusia di Lubuk Besar tinggal disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke hutan Bukit Imbun dari Dusun Lubuk Besar dibutuhkan waktu sekitar 4 jam dengan berjalan kaki.  Selama perjalanan kita akan melewati beberapa ladang masyarakat dan menyeberangi sungai inggar beserta anak-anak sungai. Perjalanan menjadi lambat karena hampir sepanjang perjalanan selalu menanjak dan banyak menyeberangi sungai. Karena banyak sekali  menyeberangi sungai akhirnya saya sampai menghitung berapa kali menyeberangi sungai selama perjalanan. Sungai yang harus diseberangi sebanyak 11 kali. 5 kali menyebrangi sungai inggar dan 6 kali anak sungai yang bermuara ke sungai inggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati ladang masyarakat, kita akan melewati beberapa tembawang atau bekas kampung. Beberapa tembawang yang akan dilewati adalah Tembawang Radin dan tembawang  Niur. Tembawang ini ditandai dengan adanya tanaman-tanaman keras seperti durian, kelapa, duku dan tanaman buah-buahan lainnya. Didalam hutan Bukit Imbun kita bisa melihat beberapa pohon kelas satu sampai dengan kelas dua.  Beberapa diantaranya; Belian atau Ulin, Meranti, Benua, Keladan, Mungkuyung dan Gaharu. Diameter pohon yang kita jumpai juga beragam, mulai dari 50 cm sampai dengan 2 meter. Dengan tinggi bebas cabang bisa mencapai 20-30 meter. Sore itu saya meminta orang-orang kampung yang menemani saya untuk memeluk sebuah pohon yang ada disana. Dibutuhkan 6 orang untuk dapat memeluk satu pohon tersebut. Masyarakat Dayak Inggar tidak pernah menebang pohon yang ada di hutan mereka kecuali hanya untuk ramuan rumah dan untuk kepentingan umum seperti pembangunan gereja, jembatan dan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat awalnya saya ingin masuk kedalam hutan adat mereka dan ingin mendokumentasikan bagaimana kondisi hutan adat mereka saat ini. Selain itu juga saya ingin melihat tutupan hutan Bukit Imbun dari ketinggian (dari puncak Bukit Imbun). Namun ketika sudah sampai dipertengahan bukit, kami harus menginap karena sore itu sudah mulai gelap. Pagi harinya niat untuk melihat tutupan hutan dari puncak Bukit Imbun tidak tercapai karena pada pagi harinya saya terserang gejala malaria. Dari pagi sampai dengan sore hari sakit di kepala saya sangat hebat. Badan saya meriang dan air liur di lidah mulai terasa pahit. Padahal untuk mencapai pucak hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 90 menit berjalan kaki dan menanjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah pukul empat sore saat itu. Dari pagi sakit kepala saya  belum juga hilang. Panas ditubuh saya juga masih belum turun. Sementara cuaca saat itu dari pagi hari sampai dengan sore hari hujan terus menerus. Mengingat waktu saya sangat terbatas dan lusanya saya harus sudah ada di Pontianak, maka sore itu saya memaksakan diri untuk turun ke kampung. Perjalanan terasa sangat berat. Dengan kaki yang sudah mulai gemetar karena tidak sanggup menopang  tubuh saya menuruni bukit. Saya harus mampu tiba di kampung dan istirahat satu malam disana. Perjalanan turun ke kampung yang normalnya hanya 3 jam, saat itu saya tempuh sekitar 4 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak sampai ke puncak Bukit Imbun dan melihat langusng seperti apa kondisi diatas sana dimana tempat diadakannya ritual adat. Maka saya mencoba menggali informasi dengan mewawancara beberapa orang kampung untuk mendapatkan penjelasan seperti apa kondisi di Puncak Bukit Imbun. Berdasarkan informasi yang saya dapat, diatas sana kita bisa melihat empat buah tempat yang unik dan  menarik untuk melihat tutupan hutan adat Lubuk Besar. Diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;          &lt;style&gt;@font-face {   font-family: "Cambria"; }p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal { margin: 0cm 0cm 0.0001pt; font-size: 12pt; font-family: "Times New Roman"; }p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph { margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: "Times New Roman"; }p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst { margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: "Times New Roman"; }p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle { margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: "Times New Roman"; }p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast { margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; font-size: 12pt; font-family: "Times New Roman"; }div.Section1 { page: Section1; }ol { margin-bottom: 0cm; }ul { margin-bottom: 0cm; }&lt;/style&gt;     &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Batu Sandang Beliung; Tempat ini adalah sebuah batu tempat masyarakat adat Inggar Silat melakukan ritual. Tempat memberikan sesajian berupa uang logam setelah mengajukan permintaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lubang Angin; Posisi lubang angin ini dekat dengan batu sandang beliung. Dinamakan lubang angin karena ada sebuah lubang di tanah yang berdiameter kurang lebih 70 cm yang selalu mengeluarkan angin. Angin yang dikeluarkan dari lubang ini cukup kuat. Terbukti dengan jika daun-daun dijatuhkan kearah lobang angin tersebut, daun-daun tersebut akan berterbangan. Angin yang keluar dari lubang tanah tersebut juga tidak pernah hilang atau berhenti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Semantau; Arti semantau adalah melihat atau memantau. Posisinya kurang lebih 300 meter dari batu sandang beliung. Setelah melakukan ritual biasanya orang-orang akan duduk di semantau. Di semantau kita bisa melihat bentangan hutan adat bukit imbun dan juga perkampungan yang ada dibawahnya. Orang-orang yang duduk disini biasanya akan betah duduk berjam-jam lamanya karena menyajikan pemandangan yang sangat indah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lebung Bandung; adalah sebuah danau kecil yang pasang surut. Jika musim hujan danau ini bisa mencapai 20 menter dengan kedalaman 1,5 meter. Selain itu juga di kawasan bukit imbun terdapat puluhan air terjun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jauh dari Bukit Imbun juga terdapat Bukit Nagam. Bukit Imbun dan Bukit Nagam memiliki puncak yang berbeda. Bukit Nagam menjadi terkenal karena pada zaman penjajahan Belanda bukit ini menjadi tempat persembunyian pahlawan dari Kabupaten Sintang yaitu Apang Semangai. Apang Semangai pada saat itu banyak membunuh orang-orang Belanda. Karena itulah para penjajah Belanda berusaha menangkap Apang Semangai. Masyarakat Lubuk Besar pada saat itu selalu mengantar makanan untuk Apang Semangai di Bukit Nagam. Persembunyian Apang Semangai di Bukit Nagam tidak berlangsung lama, yaitu sekitar 2 bulan. Pada saat itu Belanda mengancam akan membawa istri beserta anaknya ke Nanga Pino jika tidak segera keluar dari persembunyiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan adat Bukit Imbun bagi masyarkat Lubuk Besar masih menyimpan sebuah misteri. Dipercaya oleh masyarakat bahwa Bukit Imbun berkeramat. Pada tahun 2007 masyarakat Dayak Inggar Silat melakuka sebuah sumpah pocong di puncak Bukit Imbun. Sumpah ini dilakukan karena perusahaan PT. KRBB (PT. Karya Rekanan Bina Bersama) yang dimiliki oleh AM. Nasir  (sekarang menjabat Bupati Kapuas Hulu) tetap ingin membabat hutan di kawasan Bukit Imbun. Sumpah masyarakat Dayak Inggar Silat saat itu adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Siapa yang menghabiskan rimba bukit imbun, minta dia dihabiskan oleh penunggu bukit imbun”&lt;/span&gt;. Tidak lama setelah dilakukan sumpah itu 7 orang  pekerja PT KRBB meninggal dunia termasuk orang kampung yang berkhianat kepada masyarakat Dayak Inggar Silat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya melihat dan mendengar cerita-cerita masyarakat kampung ini mengenai hutan adat Bukit Imbun saya merasa bersyukur. Diberi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah masyarakat adat menjaga hutan adatnya. Bagaimana sebuah kawasan hutan itu dihormati keberadaannya. Sebuah cerita yang berbeda yang saya dapatkan ketika saya berada di Bogor ataupun berada dibeberapa kota lainnya. Dimana Pemerintah Indonesia, perusahaan, NGO dan lembaga lainnya selalu mengklaim bisa menjaga hutan. Saat ini juga sedang hangat lobby-lobby politik dan hiruk pikuk Konferensi Para Pihat (COP) ke-16 di Cancun, Meksiko. Membicarakan sebuah dampak perubahan iklim dan mencoba mencari kesepakatan bersama untuk sebuah solusinya. Semua berusaha bicara. Semua melakukan interupsi dan menentang setiap solusi yang tawarkan. Tapi tidak ada sebuah tindakan nyata seperti masyararakat di kampung yang keberadaannya sangat jauh dari kota Pontianak ataupun dari Jakarta. Kenapa orang-orang Indonesia ini musti pergi jauh ke Meksiko jika ingin mencari sebuah solusi dalam upaya penyelamatan hutan? Disini, mereka sudah terbukti puluhan tahun atau mungkin juga sudah ratusan tahun menjaga hutan secara baik. Mereka menjaga dan melindungi hutan tidak perlu dengan iming-imingan sebuah konpensasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-1159827958034004583?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/1159827958034004583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/12/antara-lubuk-besar-dan-cancun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/1159827958034004583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/1159827958034004583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/12/antara-lubuk-besar-dan-cancun.html' title='Antara Lubuk Besar dan Cancun'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/TPj3jrrvhQI/AAAAAAAAAco/3uzJ2xAU6ug/s72-c/%25402.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-4796848623988218931</id><published>2010-10-05T09:25:00.005+07:00</published><updated>2010-10-05T09:42:28.726+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ngata Toro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kearifan lokal'/><title type='text'>Sebuah Pengakuan untuk Ngata Toro</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/TKqMzksBGII/AAAAAAAAAcE/nEy6AY6ISUw/s1600/Tondo-Ngata.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/TKqMzksBGII/AAAAAAAAAcE/nEy6AY6ISUw/s320/Tondo-Ngata.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5524382710572849282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di Indonesia banyak sekali sebuah desa yang berada didalam sebuah kawasan Taman Nasional. Tidak sedikit keberadaan mereka dianggap sebagai sebuah permasalahan yang akan mengancam keberadaan sebuah kawasan konservasi. Pernyataan seperti itu tidak semuanya benar. Masih ada masyarakat-masyarakat adat yang masih memegang teguh aturan-aturan adatnya dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di kampung mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat adat Toro adalah salah satu masyarakat yang memiliki aturan adat seperti yang saya sebutkan diatas. Pada tanggal 19-24 September 2010 saya berkesempatan mengunjungi kampung ini. Perjalanan ke kampung ini memerlukan waktu sekitar 3 jam dari Kota Palu, Sulawesi Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toro adalah nama sebuah desa (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ngata&lt;/span&gt;) di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Palu. Secara administratif, desa ini berada di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Luas wilayah desa ini sekitar 22.950 ha. Desa ini dikelilingi oleh pegunungan  yang sebagian besar adalah kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Selama saya tinggal disana saya bisa merasakan betapa damainya tinggal di kampung ini. Hamparan padi yang menguning terbentang luas dibelakang rumah-rumah mereka. Disaat pagi, kabut masih menyelimuti kampung sehingga gunung-gunung yang ada disekeliling kampung tidak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Adat Toro percaya bahwa mereka dari generasi ke generasi sudah melindungi alam dan sumberdaya alam yang mereka miliki. Pembagian wilayah dan lahan garapan sudah mereka bikin melalui aturan adat. Mereka masih yakin dan percaya dengan aturan-aturan adat peninggalan nenek moyang mereka. Aturan-aturan adat ini sampai dengan sekarang masih menjadi acuan hidup seluruh masyarakat adat disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh aktivitas kemasyarakatan dan pranata sosial budaya, termasuk dalam hal pengelolaan sumberdaya alam, berporos pada pandangan budaya mengenai dua nilai utama, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hintuwu &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;katuwua&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hintuwu&lt;/span&gt; adalah nilai ideal dalam relasi antar sesama manusia yang dilandaskan atas prinsip –prinsip penghargaan, solidaritas, dan musyawarah. Sedangkan katuwua adalah nilai ideal dalam relasi antara manusia dengan lingkungan hidupnya yang dilandasi oleh sikap kearifan dan keselarasan dengan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat adat Toro memiliki kelembagaan sendiri dalam menjalani kehidupan di kampungnya. Peran dan wewenang kelembagaan adat di Ngata Toro diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Maradika, berperan mengatur hubungan ngata dengan ngata yang lain, menentukan peran dengan ngata lain, tempat keputusan apabila ada masyarakat yang membuat pelanggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Totua Ngata, berperan mengawasi aturan adat yang disepakati dalam musyawarah, menyelesaikan perselisihan, melaksanakan dan mengatur pelaksanaan perkawinan adat, menentukan besar kecilnya sanksi adat atas pelanggaran, mengubah dan membuat aturan adat yang baru, memimpin dan melaksanakan setiap upacara adat, memilih pemuda sebagai tondo ngata untuk dipersiapkan untuk prajurit perang dan pengawasan wilayah adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tina Ngata, berwenang merancang pekerjaan dalam pertanian terutama karena merekalah yang mengetahui dengan teliti ilmu perbintangan untuk dijadikan pedoman dalam bercocok tanam, mendinginkan konflik dalam ngata, serta mengatur kerja-kerja pengelolaan sawah dan ladang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kepemilikan lahan, masyarakat adat Toro mengenal enam tata guna lahan secara tradisional. Pertama, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wana Ngkiki&lt;/span&gt;, yaitu zona hutan di puncak gunung yang didominasi oleh rerumputan, lumut dan perdu. Meskipun zona ini tidak dijamah aktivitas manusia, kawasan ini dianggap sebagai sumber udara segar, sehingga kedudukannya sangat penting. Hak kepemilikan individu tidak diakui di zona ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wana&lt;/span&gt;, yaitu hutan primer yang menjadi habitat hewan, tumbuhan langka, dan zona tangkapan air. Di zona ini setiap orang dilarang membuka lahan pertanian. Wana hanya boleh dimanfaatkan untuk kegiatan berburu dan mengambil getah damar, bahan wewangian dan obat-obatan serta rotan. Seluruh sumberdaya alam di zona ini dikuasai secara kolektif sebagai bagian dari ruang hidup dan wilayah kelola tradisional masyarakat. Kepemilikan pribadi di dalam zona ini hanya berlaku pada pohon damar yang biasanya diberikan kepada orang yang pertama mengambil atau mengolah getah damar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pangale&lt;/span&gt;, yaitu zona hutan semi-primer bekas yang pernah diolah menjadi kebun namun telah ditinggalkan selama puluhan tahun sehingga telah menghutan kembali. Zona ini biasanya dalam jangka panjang dipersiapkan untuk dikembangkan menjadi lahan kebun dan persawahan. Zona pangale biasanya juga dimanfaatkan untuk mengambil rotan dan kayu untuk bahan bagunan dan keperluan tumah tangga, pandan hutan untuk membuat tikar dan bakul, bahan obat-obatan, getah damar dan wewangian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pahawa Pongko&lt;/span&gt;, yaitu campuran hutan semi-primer dan sekunder, merupakan hutan bekas kebun yang telah ditinggalkan selama 25 tahun keatas sehingga kondisinya sudah menyerupai pangale. Pepohonan di zona ini biasanya besar-besar. Seperti halnya pangale, zona ini tidak mengenal hak kepemilikan pribadi kecuali pohon damar yang ada didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oma&lt;/span&gt;, yaitu hutan belukar yang berbentuk dari bekas kebun yang sengaja dibiarkan untuk diolah lagi dalam jangka waktu tertentu menurut masa rotasi dalam sistem perladangan bergulir. Di zona inilah hak kepemilikan pribadi atas lahan diakui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Balingkea&lt;/span&gt;, yaitu bekas kebun yang sudah berkurang kesuburannya dan sudah harus diistirahatkan. Meskipun begitu, lahan ini biasanya masih bisa diolah untuk budidaya palawija seperti jagung, ubi kayu, kacang-kacangan, cabe dan sayuran. Lahan ini sudah termasuk hak kepemilikan pribadi. Di zona inilah biasanya masyarakat adat Toro bertani sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain adanya pembagian-pembagian wilayah hutan dan lahan. Masyarakat adat Toro juga memiliki aturan-aturan adat yang sangat ketat. Aturan-aturan adat ini mencakupi aturan dalam kehidupan sehari-hari, aturan pembukaan lahan dan hutan, pengambilan kayu dan kasus-kasus pencurian. Jika ada yang melakukan penebangan kayu tanpa izin lembaga adat maka akan dikenakan denda adat yaitu Hampole hangu , yaitu berupa 1 ekor kerbau, 10 dulang dan 1 lembar mbesa. Saat ini juga sedang berlaku aturan adat untuk tidak mengambil rotan (untuk dijual) selama satu tahun, atau istilah adatnya di Ombo. Aturan ini dikeluarkan oleh lembaga adat karena melihat ketersediaan rotan di dalam hutan sudah semakin berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Butuh Pengakuan dan jangan diabaikan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dari sejarah dan perilaku masyarakat adat Toro dalam menjalani kehidupan di kampungnya, tidak ada alasan bagi Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat dan Taman Nasional untuk tidak mengakui kearifan mereka dan juga peranan mereka dalam sebuah upaya konservasi. Pola pikir yang sederhana dari mereka janganlah dibuat rumit dengan aturan-aturan yang berlaku diskala nasional ataupun internasional. Membenturkan kearifan lokal mereka dengan kemodernan yang ada terkadang akan membuat adat istiadat yang mereka pegang selama ini akan pudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan yang berubah-ubah seiring dengan bergantinya Kepala Balai Taman Nasioanl Lore Lindu menunjukkan tidak konsistennya para pejabat dan tidak ada koordinasi yang baik antara pejabat yang lama dengan pejabat yang baru. Kebijakan dibuat semau-maunya dan seperti ingin menunjukkan eksistensi si pejabat tersebut yang justru bisa berdampak negatif bagi masyarakat adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dingatan saya, ketika 3 tahun yang lalu saya bertemu dengan Pak Banjar Julianto Laban di Bogor. Beliau bercerita banyak mengenai pengalamannya ketika menjabat sebagai Kepala Taman Nasional Lore Lindu. Dengan tegas beliau mengatakan TNLL tidak bisa dipisahkan keberadaannya dengan masyarakat Ngata Toro. Koordinasi antara pihak taman nasional dan masyarakat adat dalam menjaga keberadaan hutan terjalin dengan baik. Pak Banjar dan masyarakat adat Toro saat itu saling menghargai dan mengakui peranan di masing-masing pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harmonisasi antara pihak TNLL dan masyarakat adat Toro saat ini tidak lagi terjalin dengan baik. Banyak masyarakat adat Toro yang menceritakan kepada saya bagaimana hubungan yang dulu harmonis sekarang mulai pudar dan mungkin sudah pudar. Pihak TNLL tidak pernah lagi melakukan koordinasi dalam menjaga keberadaan kawasan hutan Lore Lindu. Sebuah undangan resmi untuk kepala balai yang diberikan oleh lembaga adat Toro juga tidak pernah dihadiri oleh kepala balai yang sekarang. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mana berani dia (kepala balai) datang kemari lagi, sudah beberapa kali ingkar janji dengan kami. Datang ke kampung tetangga saja dia bawa Polhut dengan bersenjata lengkap&lt;/span&gt;” ucap salah satu masyarakat adat Toro ketika saya mendokumentasikan pertemuan di Ngata Toro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain permasalahan dengan TNLL, perbedaan persepsi antara masyarakat adat Toro juga terjadi akibat adanya proyek pembangunan tempat pariwisata yang dibangun di Ngata Toro. Proyek ambisius dari Dinas Pariwisata Provinsi Sulteng ini menimbulkan sebuah konflik baru didalam masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat situasi ini, saya secara pribadi sangat menyesalkan adanya proyek ini. Sebuah proyek yang tidak dikaji terlebih dahulu apa manfaat dan dampak yang bisa terjadi dengan dijalankannya sebuah proyek. Pembangunan proyek seharusnya bisa mengikuti aturan adat Toro yang sudah ada. Salah satu permasalahan yang terjadi saat ini adalah, beberapa masyarakat meyakini bahwa bangunan adat (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lobo&lt;/span&gt;) dipercaya hanya ada satu di Ngata Toro. Dinas Pariwisata sepertinya tidak melihat kepercayaan ini. Dinas Pariwisata Sulteng membangunan 1 bangunan yang sama persis dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lobo&lt;/span&gt; yang sudah ada yang lokasinya tidak jauh dari bangunan adat yang selama ini ada. Selain itu juga 3 bangunan lainnya  dibangun yang tujuannya untuk wisatawan yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan sarana parawisata ini sudah menimbulkan perbedaan pandangan antara masyarkat Toro sendiri. Saya tidak tahu bagaimana dampak lainnya seandainya banyak wisatawan yang datang dan masyarakatnya belum siap menghadapi kunjungan wisatawan yang berbagai macam latar belakang dan berbagai macam prilaku. Jangan sampai pelaksanaan proyek ini hanya untuk menjalankan tender saja dan sebenarnya tidak tahu apa manfaat dari proyek tersebut. Bangunan selesai dibangun, keuntungan dari proses tender sudah diraih. Masa bodoh dengan kelanjutannya. Tidak peduli kalau masyarakatnya berantem sesamanya akibat sebuah proyek yang ada. Tidak peduli bahwa mereka sebenarnya menghancurkan kebudayaan yang sudah ada, bukan mempertahankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar seperti apa yang disampaikan oleh  budayawan Ajip Rosidi. Sejak merdeka pemerintah tidak pernah peduli terhadap kebudayaan. Kebudayaan dianggap bukan hal penting. Kebudayaan ditempatkan pada Departemen Pariwisata dimana pola yang dilakukan adalah menjual ‘kebudayaan’ kepada wisatawan dalam rangka mengumpulkan dolar. Mereka tidak mengerti bahwa kebudayaan itu merupakan inti hakiki dari pendidikan, karena pendidikan itu sendiri tidak lain dari usaha melestarikan kebudayaan dengan mewariskan kepada generasi yang lebih kemudian. Pendidikan kita sejak merdeka sampai sekarang tak pernah disadari sebagai usaha pewarisan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-4796848623988218931?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/4796848623988218931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/10/sebuah-pengakuan-untuk-ngata-toro.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/4796848623988218931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/4796848623988218931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/10/sebuah-pengakuan-untuk-ngata-toro.html' title='Sebuah Pengakuan untuk Ngata Toro'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/TKqMzksBGII/AAAAAAAAAcE/nEy6AY6ISUw/s72-c/Tondo-Ngata.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-8279844688600556959</id><published>2010-07-15T18:01:00.006+07:00</published><updated>2010-07-26T16:04:08.166+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KFCP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mentangai'/><title type='text'>Buaian Proyek KFCP</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mungkin tidak banyak orang yang tahu apa itu KFCP. KFCP adalah sebuah kependekan dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalimantan Forests and Climate Partnership&lt;/span&gt;. Sebuah mega proyek yang disepakati antara Pemerintah Australia dengan Pemerintah Indonesia. Kesepakatan kerjasama ini ditandatangani oleh Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd pada tanggal 13 Juni 2008. Pemerintah Australia memberikan bantuan dana sebesar AUD 30 juta. Sebuah kesepakatan yang dibentuk pasca COP 13 UNFCCC (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;United nations Framework Convention on Climate Change&lt;/span&gt;) di Bali pada tahun 2007 yaitu untuk melakukan REDD demonstration activities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek ini bertujuan untuk mendukung pencapaian pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di Indonesia secara signifikan dan efektif melalui pengurangan deforestasi, mendorong reforestasi dan meningkatkan pengelolaan hutan secara lestari. Proyek ini akan berlangsung sampai dengan tahun 2012. Lokasi yang dipilih untuk proyek percobaan ini adalah ex PLG (Pengembangan Lahan Gambut), di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengan bulan juni 2010 saya mempunyai kesempatan untuk melihat secara langsung seperti apa proyek ini dan seperti apa pula kondisi kawasan Ex PLG. Selama ini saya hanya mendengar melalui berita saja mengenai kegagalan mega proyek pada era Presiden Soeharto tersebut. Dimana  1,4 juta ha lahan gambut terbengkalai dan dalam keadaan kritis setelah proyek tersebut gagal. Setiap tahun sudah bisa dipastikan kawasan gambut yang kritis ini terbakar dan menimbulkan asap tebal. Menghantui seluruh masyarakat Kalimantan Tengah, bahkan juga negara tetangga. Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu mengembalikan ekosistem lahan gambut tersebut seperti semula. Berhutan dan tidak pernah terjadi kebakaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ramainya negara berkembang dan negara maju berdebat tentang REDD (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Reducing Emissions from Deforestration and Degradation&lt;/span&gt;) diberbagai pertemuan internasional untuk diterapkan pasca tahun 2012, Indonesia mencoba melakukan sebuah proyek percontohan REDD untuk bisa terapkan nantinya jika REDD disetujui diterapkan di negara berkembang. Lahan ex-PLG seluas 100.000 ha menjadi salah satu lahan percontohan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;REDD demonstration activities&lt;/span&gt; di Indonesia untuk lahan gambut. Lahan gambut dipercaya bisa menyimpan stok karbon yang sangat besar. Proyek ini juga mengacu kepada Intruksi Presiden No.2/2007 Tentang Rehabilitasi Lahan ex-PLG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat lokasi ex-PLG dan lokasi proyek KFCP, dari Palangkaraya harus melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Kapuas (2 jam perjalanan darat). Dari Kapuas, melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Mentangai, kurang lebih 3 jam dari Kapuas. Setelah tiba di ibu kota kecamatan Mentangai, kita harus melanjutkan perjalanan ke lokasi dengan menggunakan speed boat. Dari Mentangai tergantung dengan kita sendiri, desa mana yang ingin kita kunjungi. Karena di lokasi ex-PLG cukup banyak desa yang berada disepanjang kawasan ex-PLG. Hampir semua desa ataupun dusun berada di sepanjang sungai Kapuas dan anak sungai Kapuas. Ketika saya berada disana, saya mengunjungi desa Tumbang Mangkutup, Desa Muroi, Dusun Tuanan, Dusun Tanjung Kelanis, dan Camp penelitian orang utan di Tuanan. Untuk melakukan perjalanan dibeberapa tempat ini saya harus menyewa speed boat selama 4 hari. Kita juga bisa menggunakan perahu klotok dengan biaya yang lebih murah, tapi konskuensinya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan sebuah perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/TD7q0nge9JI/AAAAAAAAAb0/XHYbjBkOilo/s1600/DSC_6848.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/TD7q0nge9JI/AAAAAAAAAb0/XHYbjBkOilo/s320/DSC_6848.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5494086785117910162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Disini saya melihat proses sosialisasi mengenai KFCP di dua tempat dan dihari yang berbeda. Walapun proses sosialisasi menggunakan bahasa lokal yaitu bahasa Dayak Ngaju, tidak mudah membuat masyarakat desa mengerti mengenai REDD, perubahan iklim, perdagangan karbon ataupun emisi karbon. Mungkin dibutuhkan waktu yang lama ataupun sosialisasi yang berulang-ulang untuk membuat mereka mengerti. Saya sendiri yang melihat proses sosialisasi ini merasa prihatin dengan batas pengetahuan mereka tentang proyek yang di-sah-kan oleh negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhananya proyek KFCP ini mengajak masyarakat lokal untuk merehabilitasi kembali lahan gambut yang sudah rusak dan menjaga lahan gambut yang ada diwilayah mereka dari kerusakan seperti illegal loging, kebakaran, dan pembuatan-pembuatan kanal yang bisa mengeringkan lahan gambut tersebut. Dari kegiatan-kegiatan tersebut masyarakat akan menerima konpensasi, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Secara langsung, masyarakat akan dibayar atas pasrtisipasinya dalam sebuah kegiatan (uang jasa). Secara tidak langsung, masyarakat disebuah wilayah atau desa akan mendapatkan uang atas pembayaran stok karbon yang mampu diserap oleh sebuah wilayah tersebut. Tentunya akan ada mekanisme penghitungan stok karbon yang tersimpan dan berapa uang yang harus diterima oleh suatu wilayah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan sebuah tantangan yang besar untuk melibatkan 14 desa yang ada di lokasi KFCP. Kurang lebih 10 ribu orang yang menempati 14 desa tersebut. Ketika saya berada disana, kegiatan dilapangan baru sebatas sosialisasi. Belum ada kesepakatan seperti apa pelibatan masyarakat lokal didalam proyek tersebut. Seperti apa keuntungan yang akan diperoleh masyarakat lokal juga belum diketahui. Pihak KFCP mengklaim, dari 2008-2010 mereka baru sebatas negosiasi, mendesain, dan study persiapan proyek. Pertengahan tahun 2010 baru melakukan sosialisasi proyek. Belum bisa dipastikan kapan implementasi proyek akan dilakukan. Waktu yang tersisa hanya  dua tahun. Banyak pihak yang meragukan proyek ini akan berhasil pada tahun 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa masalah yang dihadapi dalam proyek KFCP yang bisa saya lihat dari perjalanan saya kesana. Diantaranya adalah status kawasan lokasi proyek. Sampai dengan saat ini RTRW Propinsi (Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi) untuk kawasan ex PLG belum selesai. Kabarnya dari tahun 1998  sampai dengan sekarang RTRW untuk kawasan ex PLG tidak pernah selesai direalisasikan. Mungkin terlalu banyak kepentingan dan intervensi terhadap kawasan tersebut. Belum lagi mengenai tanah masyarakat yang terkena proyek tersebut. Seperti apa negosiasinya belum diketahui. Mekanisme pembayaran yang akan diterima masyarakat juga masih tanda tanya besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari proses sosialisai yang saya lihat, masyarakat yang ada di desa-desa memang cukup terbuai dengan janji dan harapan yang diberikan oleh KFCP. Harapan besar akan menerima sebuah konpensasi atau bayaran dalam melakukan sebuah kegiatan. Hal ini terbukti ketika saya melakukan wawancara dengan beberapa masyarakat yang mengikuti proses sosialisasi KFCP. Hampir semua orang yang saya wawancarai menyambut baik dan senang dengan adanya proyek ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya ada beberapa masyarakat yang kritis dan bisa memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam proses sosialisasi, mungkin kegiatan sosialisasi tidak berjalan satu arah. Sebenarnya ada banyak pertanyaan besar yang bisa disampaikan kepada pihak KFCP. Diantaranya adalah sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah proses sosialisasi, seperti apa kesepakatan yang akan dibuat antara masyarakat dengan pihak KFCP. Dimana kesepakatan ini diakui dan disetujui oleh seluruh masyarakat desa, bukan segelintir orang ataupun aparat desa. Hal ini mengacu kepada FPIC (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Free Prior and Informed Consent&lt;/span&gt;), Prinsip Persetujuan Tanpa Paksaan atas dasar Informasi Awal.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Bagaimana dengan safe guard atau jaminan keamanan bagi masyarakat. Seandainya nanti setelah kesepakan dibuat, ada permasalahan-permasalahan yang timbul. Bagaimana penyelesaiannya, baik itu permasalahan status tanah maupun pembayaran. Siapa yang akan menyelesaikan permasalahan ini, kepada siapa masyarakat akan mengadu.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagaimana dengan mekanisme proyek tersebut. Apakah dalam desain awal proyek ini ada pelibatan masyarakat lokal? Sehingga ada perwakilan masyarakat lokal untuk menyampaikan aspirasinya. Atau proyek ini hanya didesain oleh para aparat negara dan segelintir orang entah darimana yang terkadang mengkesampingkan kepentingan masyarakat lokal.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagaimana dengan teknis proyek KFCP?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Apakah nanti jika REDD diimplementasikan pasca tahun 2012, apakah ini nantinya layak menjadi contoh untuk diterapkan di Indonesia? Apakah contoh ini layak dipelajari oleh masyarakat adat lainnya yang ada di Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagaimana caranya bisa mensejahterakan masyarakat. Jika proyek ini mengklaim bisa mensejahterakan masyarakat. Seperti apa realnya? Waktu sudah terbuang selama 2 tahun. Tahun 2012 sudah tidak lama lagi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagaimana pemerintah Australia bisa menjamin proyek ini menjamin hak-hak masyarakat adat? Pemerintah Australia sendiri sudah ikut menandatangani UNRIP (United Nations Right of Indigenous People), pengakuan terhadap hak-hak masyarakat adat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah beberapa pertanyaan yang perlu dijawab oleh KFCP dan juga pemerintah Indonesia. Jangan sampai proyek ini hanya sebuah ‘proyek’. Sama seperti proyek pembangunan ataupun proyek konservasi yang sering dilakukan di Indonesia. Tidak pernah menghasilkan apa-apa. Tidak pernah menguntungkan masyarakat desa dan masyarakat yang ada di kampung-kampung. Proyek berdana besar tersebut hanya sekedar lewat. Hanya membuat tebal kantong para pelaksana proyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Klo ini sampai terjadi. Ini merupakan sebuah kelalaian yang sangat besar yang harus dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah Australia. Uang publik Australia menguap tanpa bekas dan sia-sia” tegas Abdon Nababan, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) disaat saya meminta tanggapan beliau terhadap proyek ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-8279844688600556959?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/8279844688600556959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/07/buaian-proyek-kfcp.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/8279844688600556959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/8279844688600556959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/07/buaian-proyek-kfcp.html' title='Buaian Proyek KFCP'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/TD7q0nge9JI/AAAAAAAAAb0/XHYbjBkOilo/s72-c/DSC_6848.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-4282686474281600544</id><published>2010-05-27T01:00:00.011+07:00</published><updated>2010-12-04T06:39:59.980+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cv putra langit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penipu dari bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nicky Saputra'/><title type='text'>Wajah penipu dari Bandung</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kali ini terpaksa saya menulis di blog saya ini yang bukan cerita tentang perjalanan saya mengunjungi daerah-daerah yang ada di nusantara. Cerita ini saya tulis untuk mengeluarkan rasa dongkol dan sakit hati yang saya derita selama beberapa bulan ini atas penipuan yang terjadi terhadap saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini adalah pengalaman kasus penipuan yang menimpa diri saya. Posisi sang penipu ini ada di Bandung, Jawa Barat. Saya harap teman-teman yang lainnya tidak mengalami hal yang serupa seperti yang saya alami ketika mengetahui siapa orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kronologis atas penipuan yang saya alami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Februari yang lalu tepatnya tanggal 23 Februari 2010, saya melakukan perjalanan ke sebuah kota di Sumatera dan satu kendaraan dengan orang ini. Setelah berkenalan dan cerita-cerita sepanjang perjalanan akhirnya saya mengetahui namanya adalan Nicky Saputra (29), tinggal di Bandung, punya istri dan anak 2. Dia mengaku memiliki sebuah perusahaan bernama CV. Putra Langit yang bergerak di IT dan membangun jaringan internet, khususnya untuk warnet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan monitor saya rusak dan berencana ingin ganti monitor, akhirnya saya iseng menanyakan apakah ada monitor bekas (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;second&lt;/span&gt;) yang kondisinya masih bagus. Dengan penuh percaya diri dan banyak bercerita untuk meyakinkan saya bahwa dia mempunyai beberapa barang termasuk monitor. Karena cukup meyakinkan akhirnya saya memesan 1 buah monitor, jika ada barangnya tolong kabari saya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pulang ke Bogor, pada tanggal 1 Maret 2010 saya menerima sebuah pesan singkat di handphone saya yang ternyata dari Nicky Saputra yang mengatakan bahwa barangnya ada dan kondisi masih 80%. Dia juga menyebutkan merk serta warna monitor yang dia punya. Setelah saya&lt;span style="font-style: italic;"&gt; cross chek&lt;/span&gt; bentuk barangnya di internet dan menanyakan kepada teman yang lain atas harga yang dia tawarkan, akhirnya saya memutuskan untuk membeli barang yang dia tawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena awalnya cukup meyakinkan dan saya juga mengenal beberapa orang yang ada disekitar dia (termasuk adiknya) maka pada tanggal 2 Maret 2010 saya menuju sebuah bank dan mentransfer uang sejumlah Rp 960.000 ke rekening BCA atas nama Febby Ayu. Belakangan saya mengetahui bahwa ini adalah rekening istrinya. Setelah mentransfer uang yang dia minta, saya meminta barangnya diantarkan ke rumah keluarga saya yang ada di Bandung karena 2 minggu lagi saya memang ada rencana ke Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu setelah saya mentransfer uang tersebut, jumat sore tanggal 12 Maret 2010 saya ke Bandung. Setiba di rumah saya menanyakan apakah ada orang yang bernama Nicky mengantar monitor ke rumah. Saya sangat terkejut disaat mendengar jawaban bahwa tidak ada barang yang diantarkan kesini. Saat itu juga saya langsung sms dan juga telpon Nicky. Karena jengkel telpon dan sms saya tidak dijawab akhirnya saya meminta adiknya untuk menelpon. Ketika adiknya yang telpon, baru dia menjawab dan menyampaikan ke adiknya bahwa barangnya ada dan nanti aka diantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali mengirim sms ke handphone Nicky untuk memastikan monitor yang saya pesan diantar ke rumah sebelum minggu siang, karena saya harus kembali ke Bogor. Sampai dengan minggu siang monitor yang saya pesan tidak juga diantarkan. Saya kembali sms dan telpon, tapi tidak dijawab. Selang beberapa menit Nicky baru menelpon saya dan menyatakan bahwa barangnya ada di showroom dan terkunci. Kuncinya dibawa teman-temannya ke Jakarta. Dia menawarkan barang akan diantar ke Bogor pada senin pagi dengan alasan akan ke Kalibata, Jakarta pada hari senin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah beberapa kali ingkar janji dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;feelings&lt;/span&gt; saya tidak enak, dan juga senin pagi saya musti berangkat ke Medan, akhirnya saya membatalkan membeli monitor tersebut dan saya meminta uang saya kembali saat itu juga. Saya sampaikan juga bahwa saya akan membeli monitor yang baru di Bandung sebelum saya pulang ke Bogor. Emosi saya semakin memuncak ketika kembali dia berkelit dan memberi alasan bahwa tidak pegang uang cash dan uangnya sudah dibelikan barang. Saya sempat membentak kembalikan saat ini juga uang saya dan saya tidak peduli bagaimana caranya. Dia kembali berkelit dan beralasan bla…bla…bla..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya tidak punya cukup waktu untuk mencari orang tersebut ke rumahnya ataupun dilokasi tempat dia bekerja. Saya harus kembali ke Bogor. Saya meminta adiknya dan keluarga yang di Bandung untuk mengambil kembali uang saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah empat hari di Medan, kembali ke Bogor belum juga ada kejelasan mengenai uang saya. Saya benar-benar emosi terhadap orang ini dan mengancam akan melaporkan kasus penipuan ini jika tidak ada itikad baik untuk mengembalikan uang saya. Sms ancaman dan kecaman caci maki kembali saya lakukan sampai saya mendapat kepastian uang saya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari jumat tanggal 19 Maret 2010, Nicky mengirim sms ke saya “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;uangnya sudah saya transfer lewat ATM, klo sudah keterima kasih kabar ya&lt;/span&gt;”. Tapi setelah saya chek melalui sms banking uang di rekening saya tidak bertambah. Saya kembali menanyakan apakah benar sudah ditransfer atau kembali berbohong. Dia menjawab “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;wah masa baru 5 menit yang lalu saya transfer. Tar saya telp BCA dulu biasanya 1X24 jam sabar aja dulu saya juga pengen cepet beres&lt;/span&gt;”. Membaca sms yang dia kirim saya kembali emosi dan berang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;emangnya kau pikir saya orang bodoh apa? Yang namanya ditransfer lewat ATM dalam hitungan detik uangnya sudah nyampe&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nicky: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ya udah kita liat aja besok sekalian saya kasih buktinya sama D disitu ada tanggal dan jam dsb. Saya ngga suka banyak omong. Trims&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nicky: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang kemaren juga saya terima besoknya. Gini aja coba besok pagi biar ngga bolak balik. Pasti nyampe kok saya juga pengen beres&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kemaren itu saya transfer lewat teller goblok. Tadi kau bilang transfer lewat ATM&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan senin sore uang yang dia bilang sudah ditransfer tidak ada direkening saya, saya sangat yakin kemaren dia hanya membual. Kembali saya telp adiknya dan saya mengirim sms caci maki ke Nicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kau manusia atau bukan sih? Tidak punya rasa malu sama sekali. Bilang uangnya sudah ditransfer, ternyata itu hanya omong kosong. Membuat orang menunggu-nunggu. Tidak malu kau sama adikmu? Bajingan kau… apa perlu saya datangi rumahmu untuk mengambil uang saya yang hanya 960 rb itu&lt;/span&gt;?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 Maret 2010.&lt;br /&gt;Nicky: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;gw belum ketemu dan ngobrol sama si N (adiknya-red). Cuma gw bilang uangnya mau gw transfer klo tu monitor dah laku&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;jadi benarkan kemaren itu kau tidak transfer uangnya dan hanya membual. What fucking happen with you? Niat ngga sih kau balikin uangku?&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nicky: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gw balikin tapi gw perlu waktu monitornya gw jual lagi tunggu. Gw juga tau gw jadi punya hutang tunggu&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nicky: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mau gw bayar tunggu kasih gw waktu… trus jangan bilang kasar lagi ke gw&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nicky: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tunggu pasti gw bayar sebelum akhir bulan tunggu. Bukan gw ngga mau bayar gw butuh waktu. Masa gw bayar pake daun gw pasti kembaliin"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan tanggal 31 Maret 2010 uang saya tidak juga dikembalikan. Kembali saya mencaci maki orang yang bernama Nicky Saputra ini lewat sms. Telpon saya tidak pernah mau diangkat. Saya pun mencoba melacak identitasnya di internet dan juga nomer telpon orang tuanya yang ada di Bandung dan Ciamis. Saya kembali mengancam akan menelpon orang tuanya untuk melaporlan kasus penipuan ini. Tapi sms saya tidak pernah ditanggapi lagi, sementara nomer handphonenya masih aktif. Saya bener-bener emosi dan putus asa untuk mendapatkan uang saya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 April 2010&lt;br /&gt;Nicky: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hoy besok gw transfer sory telat gw baru dapat duitnya&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa menit dia menelpon saya dan menyakinkan kembali uangnya akan ditransfer besok pagi pukul 9.00 WIB. Sayapun hanya menjawab “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ya sudah, buktikan saja… saya chek besok&lt;/span&gt;”. Setelah menerima telpon dari dia kembali saya kirim sms “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya sih sudah pesimis, sudah tidak yakin uang itu anda transfer. Tapi kita buktikan saja&lt;/span&gt;”. Ternyata benar besok paginya sampai dengan sore harinya uang tersebut tidak ada direkening saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan hari ini (saya memposting tulisan ini) uang saya tidak kembali… Berbagai cara saya lakukan untuk mendapatkan uang saya kembali.  Dua minggu yang lalu saya juga mengancam akan menyebarkan kasus penipuan ini di mailist dan jaringan internet lainnya. Tapi kembali tidak ditanggapi. Sayangnya saya belum punya waktu untuk mencari orang ini di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi teman-teman yang ketemu dengan orang ini dan juga  akan bertransaksi untuk membeli sebuah barang atau mungkin juga mau  bekerjasama dengan orang seperti ini  sebaiknya berpikir ulang dan lebih teliti. Jangan sampai mengalami hal yang serupa seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya jumlah nominal yang diambil tidak terlalu besar, tapi yang membuat saya sakit hati dan sangat emosi adalah dia selalu berkelit dan telah mempermainkan saya. Sumpah mati saya sangat jengkel plus dongkol sampai ke ubun-ubun dengan orang yang bernama Nicky Saputra yang mengaku punya CV. Putra Langit dan tinggal di Cigadung, Bandung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah karena terbelit hutang atau pecandu narkoba sehingga bisa menjadi manusia seperti ini. Tanpa punya rasa malu dan tidak bisa berpikir panjang. Sayang sekali wajah tampan anda harus rusak karena prilaku anda sendiri. Sayang sekali bisnis anda harus terpuruk karena ketidakjujuran  anda. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Poor of you…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27 Mei 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat saya menulis pengalaman saya ini di sebuah blog saya pada pada tanggal 20 April 2010, siang harinya Nicky menelpon saya dan marah-marah. Mengancam akan mencari saya klo tulisan saya tidak dicabut. Dia mengaku ribut dengan istrinya gara-gara tulisan saya ini. Saya sedikit heran, yang salah siapa. Yang buat masalah siapa. Kok yang dimarah-marah dan dimaki adalah korban atas perbuatannya sendiri. Saya hanya bilang “itu kesalahan anda sendiri, anda yang membuat masalah. Coba dari dulu-dulu langsung kembalikan uang saya. Kita tidak ada urusan dan permasalahan. kembalikan uang saya. Selesai sudah urusannya”. Saya hanya bilang transfer balik uang saya dan tulisan tersebut akan saya hapus dari blog saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Nicky minta waktu lagi sampai dengan pertengahan mei, sebelum adiknya menikah dia akan mengirim uang saya. Dan minta tulisan saya dicabut dulu. Sayapun meng-iyakan bahwa saya akan menarik kembali tulisan saya sampai dengan pertengahan mei. Saya akan kembali mempublikasikan kasus penipuan ini klo tidak ada niat baik untuk mengembalikan uang saya dan mentransfer balik uang saya dengan segera. Saya kembali berusaha untuk bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sampai dengan sekarang (16 Mei), bertepatan dengan pernikahan adiknya, uang saya tidak kembali. Janji hanya janji. Penipu memang tetap penipu. Sampai sekarang saya tak habis pikir seperti apa jalan pikirannya. Sampai kapanpun, dengan perlakuan yang seperti ini, saya akan tetap menuntut uang saya kembali. Saya tidak rela diperlakukan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 16 Mei, pada malam harinya saya menemui orang tuanya dan menceritakan penipuan yang dilakukan oleh anak sulungnya terhadap saya. Jawaban dan tanggapan orang tuanya sama sekali tidak memuaskan saya. Bicara panjang lebar, pembicaraan yang muter-muter ngga tentu arah, membuat banyak alasan dan menyalahkan seseorang... Cara bicara dan mimik wajah bapaknya sama persis seperti anaknya yang bernama Nicky!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyakini klo anaknya bukanlah penipu. Hanya memang belum bisa mengembalikan uang saya. Saya hanya bilang kepada orang tuanya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Pak, klo memang barangnya tidak ada kenapa dia berani bilang barangnya ada dan silahkan transfer uangnya sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Klo barangnya memang ada, kenapa dia tidak antarkan ke keluarga saya yang ada di Bandung, padahal saya datang ke Bandung itu untuk ambil barangnya 2 minggu setelah uang saya transfer?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Klo dia punya niat baik untuk mengembalikan uang saya, kenapa ketika saya ada di Bandung dan meminta uang saya balik. Kenapa dia tidak mengembalikan uangnya saat itu juga. Klo memang kepake uangnya atau tidak pegang uang cash, kenapa dia tidak menemui saya dan bicarakan baik-baik kepada saya. Minta maaf kepada saya klo uangnya kepake. Ini jangankan menemui saya, kata maaf aja tidak pernah terucap dari mulutnya. Yang ada malah berkelit-kelit dan menipu saya pula sebanyak dua kali, bilang uangnya sudah ditransfer balik. Apakah prilaku seperti itu tidak termasuk kategori penipu?"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapaknya hanya menjawab "&lt;em&gt;Terserah kamu ya, klo kamu menganggapnya penipu. Bagi saya dia tidak menipu&lt;/em&gt;!"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya orang tuanya berjanji setelah pertemuan tersebut mereka akan menemui Nicky dan akan memberikan uang kepada Nicky untuk diberikan kepada saya. Mereka tidak mau memberikan langsung uangnya kepada saya dengan alasan agar Nicky bisa berkomunikasi dengan saya. Mereka ingin Nicky yang mengembalikan uang saya. Tapi yaa mungkin&lt;em&gt; like father like son&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;. Sampai sekarang tidak ada kabar beritanya. Uang saya tetap saja tidak kembali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sungguh menyesal bertemu dengan orang yang bernama Nicky Saputra!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu dengan orang ini sama saja menjadi sebuah musibah besar. Menjadi beban pikiran. Makan hati dan selalu menjadi emosi jika mengingat kelakuan orang ini. Mungkin inilah yang namanya kehidupan bermasyarakat, kita tidak pernah tahu akan bertemu siapa nantinya dan orang tersebut akan berbuat apa terhadap diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini saya update dari tulisan sebelumnya yang saya tulis pada tanggal 20 April 2010)&lt;br /&gt;=======================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah identitas di Facebook Nicky Saputra dan istrinya pemilik rekening BCA atas nama Febby Ayu. Silahkan klik pada gambar untuk ukuran yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S_3SSyujv-I/AAAAAAAAAbU/H97dcHfWlf8/s1600/penipu3copy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 285px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S_3SSyujv-I/AAAAAAAAAbU/H97dcHfWlf8/s400/penipu3copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475763942248923106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S_3R-kVZrQI/AAAAAAAAAbM/cAcYTULCfc4/s1600/penipu2copy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 277px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S_3R-kVZrQI/AAAAAAAAAbM/cAcYTULCfc4/s400/penipu2copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475763594787925250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S_3SejSDNDI/AAAAAAAAAbc/Mk_4_rMBBYc/s1600/penipu1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 275px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S_3SejSDNDI/AAAAAAAAAbc/Mk_4_rMBBYc/s400/penipu1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475764144261248050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S_3SpW8iubI/AAAAAAAAAbk/YzVUYzkTfk8/s1600/febby+ayu1+copy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 293px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S_3SpW8iubI/AAAAAAAAAbk/YzVUYzkTfk8/s400/febby+ayu1+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475764329928374706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S_3S19XcglI/AAAAAAAAAbs/bDzRid6gI_8/s1600/febby+ayu2copy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 284px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S_3S19XcglI/AAAAAAAAAbs/bDzRid6gI_8/s400/febby+ayu2copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475764546400191058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;a&gt;=======================================================&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-4282686474281600544?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/4282686474281600544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/04/wajah-penipu-dari-bandung.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/4282686474281600544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/4282686474281600544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/04/wajah-penipu-dari-bandung.html' title='Wajah penipu dari Bandung'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S_3SSyujv-I/AAAAAAAAAbU/H97dcHfWlf8/s72-c/penipu3copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-2756038523835171401</id><published>2010-05-11T09:21:00.004+07:00</published><updated>2010-05-11T10:32:23.844+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perlindungan Lingkungan Hidup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UU 32/2009'/><title type='text'>Undang Undang No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam sebuah perjalanan saya selama ini, ada banyak informasi yang saya terima dan saya simpan. Salah satunya adalah hasil perjalanan saya ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Disana saya bertemu dengan Kepala Badan Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah yiatu Bapak Drs. Moses Nicodemus, MM. Saya menghadiri sebuah presentasi beliau di kantornya dan juga sempat melakukan wawancara beliau di ruangannya setelah presentasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa informasi yang saya dapatkan dari beliau, mulai dari kegiatan ujicoba skema REDD (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Reducing Emissions from Deforestation and Degradation&lt;/span&gt;) yang ada di Kalimantan Tengah dan ulasan mengenai Undang-undang baru tentang Lingkungan Hidup. Beliau sangat senang sekali diterbitkannya undang-undang ini, sehingga ada payung yang melindungi dan mengawasi para pejabat Lingkungan Hidup dan juga masyarakat umumnya. Permasalahan lingkungan hidup bukan permasalahan spele lagi dan permasalahan yang bisa dipandang sebelah mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah bertahun-tahun permasalahan lingkungan hidup melanda negara kita tanpa penyelesaian. Penyakit yang sudah kronis dan sangat sulit untuk disembuhkan. Perusahaan merajalela menghancurkan hutan dan sumberdaya alam. Merusak lingkungan hidup. Menyengsarakan masyarakat lokal dan masyarakat adat yang ada disekitar perusahaan. Tidak sedikit perusahaan yang berdiri tanpa Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL). Banyak pejabat negara dan pejabat daerah sewenang-wenang menerbitkan izin untuk perusahaan. Lobby-lobby yang menguntungkan pribadi dan golongan marak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo berbicara tentang AMDAL, bisa dichek perusahaan mana yang bener-bener membuat AMDAL dan patuh terhadap standarisasi AMDAL. Jangankan AMDAL, belum memiliki izin HGU saja (hanya mengandalkan izin prinsip dari Gubernur atau Bupati) dan belum punya IPK untuk melakukan landclearing mereka sudah berani meratakan semua pohon yang berdiri kawasan tersebut dan menggantikannya dengan tanaman kelapa sawit. Termasuk hutan adat komunitas dayak iban di Kalbar mereka hancurkan. Seperti yang saya ceritakan mengenai "&lt;a href="http://berangberangblog.blogspot.com/2010/02/derita-desa-semunying-jaya.html"&gt;Derita Desa Semunying Jaya&lt;/a&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang hasil AMDAL juga merupakan hasil lobby-lobby perusahaan dengan para pembuat AMDAL dan pembuat kebijakan. AMDAL seringkali hanya sebuah hasil copy-paste sebuah lembaga pembuat AMDAL. AMDAL hanya sebagai lampiran surat untuk mendapatkan izin eksplorasi atau mendapatkan Hak Guna Usaha (HGU).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu, apakah setelah keluarnya UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, para pembuat AMDAL, perusahaan dan aparat pemerintahan masih berani bermain-main dengan kejahatan yang mereka lakukan. Berikut saya berikan sedikit cuplikan apa saja isi UU tersebut, semoga membantu rekan-rekan dimanapun untuk mengingatkan kembali para perusahaan, aparat pemerintah bahwa sudah ada aturan tegas yang dan sanksi yang tegas jika masih melakukan pengrusakan hutan, sumberdaya alam dan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga informasi ini bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S-jF91Fj_YI/AAAAAAAAAbE/jcF3Zt6gMKs/s1600/UU+32_2009.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 205px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S-jF91Fj_YI/AAAAAAAAAbE/jcF3Zt6gMKs/s400/UU+32_2009.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5469839413454568834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Informasi lengkap tentang Undang-undang 32 Tahun 2009 Tentang Perlingungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup bisa download &lt;a href="http://www.bkprn.org/v2/peraturan/file/UU_32_Tahun_2009.pdf"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-2756038523835171401?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/2756038523835171401/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/05/undang-undang-no-32-tahun-2009-tentang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2756038523835171401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2756038523835171401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/05/undang-undang-no-32-tahun-2009-tentang.html' title='Undang Undang No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S-jF91Fj_YI/AAAAAAAAAbE/jcF3Zt6gMKs/s72-c/UU+32_2009.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-2708536815460109185</id><published>2010-05-03T20:33:00.007+07:00</published><updated>2010-05-03T21:11:24.030+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sinar Mas Group'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Land clearing'/><title type='text'>'Panasnya' Land Clearing Area</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Apakah anda pernah merasakan berdiri dibawah teriknya matahari yang sangat terik dan akhirnya membuat kepala kita pusing? Saya pernah merasakannya. Seminggu yang lalu saya mengunjungi salah satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;land clearing area&lt;/span&gt; milik sebuah perusahaan di Kalimantan Tengah. Panasnya yang begitu dasyat dan tidak ada pohon untuk berlindung tak hayal membuat kepala saya pusing dan  muntah-muntah setelah pulang dari area tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S97UoxkS98I/AAAAAAAAAa8/AEifDaXCcuc/s1600/perluasanlahan-sinarmas-kalteng2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S97UoxkS98I/AAAAAAAAAa8/AEifDaXCcuc/s400/perluasanlahan-sinarmas-kalteng2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467040794639792066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ya… tepatnya pada tanggal 25-27 April 2010 saya melakukan perjalanan ke Kalimantan Tengah, mengunjungi dan mendokumentasikan sebuah areal yang sudah dibabat habis hutannya oleh sebuah perusahaan kelapa sawit. Kurang lebih 3000 ha areal hutan sudah dibabat habis untuk diganti menjadi tanaman kelapa sawit. Total luas kawasan hutan yang akan dibuka berdasarkan izin yang diperoleh mencapai puluhan ribu hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi yang kami kunjungi adalah sebuah desa yang lokasinya cukup jauh dari Kota Palangkaraya. Butuh waktu tempuh kurang lebih 10 jam melalui jalur darat untuk mencapai lokasi tersebut. Desa yang kami kunjungi adalah Desa Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Karena berangkat dari Palangkaraya pada siang hari, maka kami harus bermalam dulu di Desa Kuala Kuayan, sebuah desa yang berada di tepi Sungai Mentaya. Kami tiba di Desa Kuala Kuayan sekitar pukul 7 malam. Masih dibutuhkan waktu sekitar 3 jam lagi untuk mencapai lokasi&lt;span style="font-style: italic;"&gt; land clearing&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berangkat ke Kalteng bersama dengan beberapa teman jurnalis yaitu dari &lt;a href="http://english.aljazeera.net/"&gt;Al-Jazeera&lt;/a&gt;, sebuah televisi berjaringan yang bermarkas di Doha, Qatar. Kami bersama-sama dengan &lt;a href="http://www.greenpeace.org/seasia/id/"&gt;Greenpeace&lt;/a&gt; mencoba mendokumentasikan bagaimana pengrusakan hutan yang terjadi di Kalimantan, tepatnya di Kotim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menginap di sebuah penginapan yang sangat sederhana di Desa Kuala Kuayan, pada pagi harinya sekitar pukul 5 pagi kami mulai bergerak dengan mobil yang kami sewa untuk menuju lokasi yang ingin kami lihat dan dokumentasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena begitu jauh perjalanannya dan sepanjang perjalanan juga dari hari sebelumnya tidak melihat hutan, membuat saya bertanya didalam hati &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“susah sekali melihat hutan disini, baru sekali ini saya berada disebuah daerah di Kalimantan yang benar-benar gersang dan tidak ada hamparan hutan sejak perjalanan dimulai dari Kota Palangkaraya”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan pada pagi hari menuju lokasi land clearing harus melalui jalan-jalan tanah yang berwarna merah. Walaupun kondisi jalan cukup kering karena tidak ada hujan, tetapi tetap saja ada beberapa titik jalan yang berlumpur. Saya pun sempat marah-marah dan jengkel sama sang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;driver&lt;/span&gt; karena tidak berani melewati jalan yang berlumpur tersebut. Butuh waktu sekitar 3 jam untuk memastikan sang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;driver&lt;/span&gt; dan mobil kijang Krista yang kami sewa berani melewati jalan yang kondisinya berlumpur dan berlobang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 11.30 WIB kami tiba dilokasi land clearing yang memang sudah menjadi tujuan awal kami. Lahan-lahan yang topografinya bergelombang dan berbukit ini sekarang sudah diatur sedemikian rupa oleh alat-alat berat milik perusahaan untuk ditanami bibit kelapa sawit. Sejauh mata memandang sudah tidak adalagi satu pohonpun yang berdiri tegak. Semua sudah tumbang. Semua sudah kering kerontang. Apalagi panasnya matahari bersinar tanpa awan membuat seluruh kawasan ini terasa sangat panas. Sisa-sisa pohon hanya terlihat beberapa diperbatasan kawasan hutan yang dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah anak perusahaan milik Sinar Mas yaitu PT Buana Adhitama yang memiliki konsesi untuk perkebunan tersebut. Greenpeace mengklaim perusahaan ini melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;land clearing&lt;/span&gt; secara&lt;span style="font-style: italic;"&gt; illegal&lt;/span&gt; karena mereka tidak memiliki Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) dalam melakukan aktivitas land clearing. Selain itu juga perusahaan ini tidak menaati peraturan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Roundtable on Sustainable Palm Oil&lt;/span&gt; (RSPO), yaitu tidak melakukan aktivitas land clearing diareal yang memiliki nilai konservasi tinggi atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;High Conservation Value Forest &lt;/span&gt;(HVCF) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Assessment&lt;/span&gt;. Bedasarkan informasi dan data research beberapa lembaga, lokasi ini berbatasan langsung dengan habitat orang utan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Greenpeace mencoba menyampaikan kejahatan ini ke beberapa pemegang saham Golden Agri Resources, salah satu perusahaan milik Sinar Mas yang sedang melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Singapura. Informasi tentang kampanye ini bisa lihat &lt;a href="http://www.greenpeace.org/seasia/id/news/sinar-mas-terus-melanggar-komitmen"&gt;disini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga, ternyata perusahaan ini ternyata bermasalah dengan masyarakat lokal yang ada disekitar areal perkebunan. Disaat kami sampai di lokasi areal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;land clearing&lt;/span&gt;, aktivitas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;land clearing&lt;/span&gt; sedang tidak berjalan. Ketika kami tanyakan kenapa tidak ada kativitas disini, sang penunjuk jalan mengatakan kepada kami bahwa satu hari sebelumnya ratusan masyarakat lokal mendatangi lokasi ini dan berdemo. Mereka meminta perusahaan menghentikan aktivitas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;land clearing&lt;/span&gt; dan aktivitas penanaman kelapa sawit karena masyarakat lokal tidak merasa tanah milik mereka dijual ke pihak perusahaan. Mereka mengatakan kepada kami bahwa ada beberapa oknum yang mengatasnamakan masyarakat lokal menjual tanah tersebut ke perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan yang jauh. Pemandangan yang luar biasa dasyat, yaitu pengrusakan hutan yang sangat luas. Menjadikan pengalaman tersendiri disaat saya melakukan trip ini. Apalagi ketika pulang, harus menempuh waktu yang lama untuk sampai langsung ke Kota Palangkaraya. Dari lokasi tersebut sore harinya kami langsung menuju Kota Palangkaraya. Butuh waktu sekitar lebih dari 10 jam untuk tiba di Palangkaraya. 8 jamnya harus melalui jalan tanah dan koral/batu krikil. Kepala saya yang pusing berat karena berjemur dibawah terik matahari pada siang harinya membuat saya tidak bisa menahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam perut alias muntah. Semua makanan dan minuman yang saya makan dan minum dari padi sampai siang keluar saat itu juga. Kondisi jalan yang jelek membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyandarkan kepala dibantalan korsi mobil bagian depan dan berharap bisa cepat sampai ke Kota Palangkaraya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object height="260" width="400"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/4qI7If0dFLw&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/4qI7If0dFLw&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" height="260" width="400"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Foto dicuplik &lt;a href="http://www.greenpeace.org/seasia/id/photosvideos/photos/perluasanlahan-sinarmas-kalteng2"&gt;darisini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-2708536815460109185?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/2708536815460109185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/05/panasnya-land-clearing-area.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2708536815460109185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2708536815460109185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/05/panasnya-land-clearing-area.html' title='&apos;Panasnya&apos; Land Clearing Area'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S97UoxkS98I/AAAAAAAAAa8/AEifDaXCcuc/s72-c/perluasanlahan-sinarmas-kalteng2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-6569203666236641558</id><published>2010-05-02T10:15:00.003+07:00</published><updated>2010-05-02T10:31:00.056+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembaga Ekolabel Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hutan sertifikasi'/><title type='text'>HUTANKU LESTARI, SUNGAI BERSAHABAT, MASYARAKAT SEJAHTERA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bulan lalu (April) saya beberapa kali melakukan trip keluar kota, Medan, Pekanbaru, Palangkaraya dan Jogjakarta. Tidak ada yang bisa saya tuliskan tentang perjalanan saya ke beberapa kota tersebut kecuali perjalanan ke Jogjakarta. Yang lainnya adalah perjalanan untuk melihat sebuah seremonial dan workshop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke Jogjakarta sebenarnya adalah sebuah trip lapangan para jurnalis untuk melihat lebih dekat mengenai hutan bersertifikasi. Perjalanan ini dirancang dan diadakan oleh &lt;a href="http://www.lei.or.id/"&gt;Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI)&lt;/a&gt;, yaitu sebuah organisasi non-profit yang bertujuan mendorong penyelamatan sumberdaya alam yang lestari melalui skema sertifikasi pengelolaan sumberdaya alam yang sukarela transparan dan idependent. Trip jurnalis ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pengalaman kepada jurnalis mengenai praktek pengelolaan hutan lestari yang mendorong pengembangan masyarakat (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;community development&lt;/span&gt;) dan pelestarian lingkungan, memperkenalkan sertifikasi ekolabel standar LEI di hutan rakyat lestari dan produk kayu bersertifikasi LEI, dan mempererat hubungan antara LEI dan jurnalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan hutan rakyat yang lestari merupakan salah satu kegiatan masyarakat yang berdampak positif bagi perbaikan fungsi tutupan lahan, penyelamatan Daerah Aliran Sungai (DAS), dan berkontribusi langsung bagi kesejahteraan masyarakat petani hutan yang mengelola hutan secara lestari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini telah ada 10 (sepuluh) unit manajemen hutan rakyat lestari  (UMHR) yang telah bersertifikat LEI, 5 (lima) diantaranya berada di wilayah kawasan DAS Solo, yaitu Wonogiri, Pacitan, Sukoharjo, Sragen, dan Magetan. Penyiapan menuju sertifikasi LEI sedang dilakukan di DAS Pemali Jratun yang meliputi Batang dan Pekalongan, dan DAS Cimanuk Cisanggarung, termasuk DAS Citanduy meliputi Garut, Sumedang, Majalengka, Brebes, dan Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan 5 UMHR ini merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, mulai dari komitmen masyarakat yang mengelola hutan rakyat, Perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (PERSEPSI) sebagai penjamin dan pendamping, Dinas kehutanan (Dishut) kabupaten sebagai pendamping dan fasilitator, Dishut Provinsi Jawa Timur, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Solo dan Pusat Standardisasi dan Lingkungan (Pustanling) Kementerian Kehutanan, yang membantu dalam bentuk pendanaan maupun dukungan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sertifikasi ekolabel yang dikembangkan oleh LEI dipilih sebagai alat untuk membantu penyelamatan DAS karena standar sertifikasi LEI mendorong pelestarian lingkungan secara berkelanjutan sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat yang telah mengelola hutan secara lestari sehingga meransang pertumbuhan kesejahteraan masyarakat petani hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa desa yang kami kunjungi yang memiliki hutan rakyat yang sudah mendapat serfikasi adalah Desa Selopuro, Kecamatan Batuwarno (Wonogiri), Dusun Ngasem, Desa Tinatar, Kecamatan Punung (Pacitan), Desa Dengok, Kecamatan Playen (Gunung Kidul). Semua kabupaten ini memiliki hutan jati rakyat yang sudah bersertifikasi ekolabel dengan standar LEI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda mengunjungi lokasi ini, anda tidak akan percaya dulunya daerah ini adalah kawasan gersang dan berbatu. Sekarang sudah berubah, seluruh kawasan sudah rimbun dan hijau. Tegakan jati tersusun rapih dengan berbagai ukuran diameter kayu. Disela-sela tegakan jati juga ditanami beberapa jenis tanaman sayuran dan tanaman jangka pendek lainnya. Desa ini sudah lebih sejuk dan tentram. Selain membantu penyelamatan DAS karena kawasan ini berada di hulu, sumber mata air di daerah ini juga tetap terjaga dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai keuntungan sudah mereka terima setelah mereka  mendapatkan sertifikat ekolabel. Dengan persyaratan pola penebangan yang berkelanjutan, hutan tidak dibabat habis untuk keuntungan sesaat. Pola penebangan lebih terencana. Pola tebang butuh sudah mulai diminimalisir dengan terbentuknya koperasi disetiap kelompok tani. Harga kayu yang bersertifikasi juga lebih baik daripada kayu yang tidak bersertifikasi. Proses lacak balak atau asal kayu lebih jelas. Para pembeli tidak khawatir akan asal muasal kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjual kayu yang bersertifikasi, mereka sekarang juga sudah mencoba mengolah limbah-limbah kayu (ranting-ranting kayu) yang tidak terpakai menjadi sebuah hand craft atau asesoris. Sehingga dari satu buah pohon jati sekarang semuanya bernilai. Ada beberapa jenis hand craft yang mereka buat dari kayu-kayu limbah seperti; meja, kursi, tempat pensil, pas bunga dan beberbagai macam pernak pernik lainnya. Semua produk yang mereka bikin ditampung oleh sebuah perusahaan furniture yang juga sudah bersertifikasi ekolabel yaitu PT Jawa Furni Lestari Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT Jawa Furni Lestari mempersiapkan masyarakat lokal untuk membuat sebuah produk setengah jadi. Untuk finishing sebuah produk dan mencari pasarnya akan dilakukan oleh PT Jawa Furni Lestari. Masyarakat lokal mendapat pelatihan bagaimana membuat sebuah produk dari kayu-kayu limbah. PT Jawa Furni Lestari tidak ingin masyarakat lokal hanya menjual bahan baku, mereka harus bisa mengolah bahan baku itu menjadi sebuah produk atau poduk setengah jadi. Keuntungan yang didapat jauh lebih baik jika masyarakat tidak hanya menjual bahan baku, tetapi sudah menjadi sebuah produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua produk yang sudah difinishing dipasarkan untuk ekspor dan sedikit untuk dijual ditingkat lokal. Jika anda mengunjungi Jogjakarta mungkin bisa mampir ke gallery PT Jawa Furni Lestari yang terdapat di Jalan Palagan Tentara Pelajar Km 8,2 Sariharjo, Ngaglik (&lt;a href="http://www.djawaleather.com/"&gt;RUMAH JAWA LESTARI LEATHER FURNITURE&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat konsep sertifikasi dan bagaimana alur perjalanan sebuah pohon jati menjadi sebuah produk yang ada di jawa ini membuat saya tersenyum sendiri. Saya membayangkan coba dari dulu pengelolaan hutan di Indonesia seperti ini, mungkin masyarakat lokal yang tinggal disekitar hutan bisa berharap banyak terhadap keberadaan hutannya. Keberadaan hutan di negara kita masih bisa dinikmati dari generasi ke generasi berikutnya. Pengelolaan hutan kita bisa lebih bijak dan menguntungkan masyarakat lokal. Tetap memperhatikan dan melibatkan masyarakat lokal dalam membuat sebuah kebijakan dan  keputusan. Tidak hanya menguntung segelintir orang penguasa dan pejabat negara ataupun pejabat daerah !!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-6569203666236641558?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/6569203666236641558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/05/hutanku-lestari-sungai-bersahabat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/6569203666236641558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/6569203666236641558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/05/hutanku-lestari-sungai-bersahabat.html' title='HUTANKU LESTARI, SUNGAI BERSAHABAT, MASYARAKAT SEJAHTERA'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-8428207608527221985</id><published>2010-02-22T15:04:00.006+07:00</published><updated>2010-02-22T15:19:45.912+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semunying Jaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PT Ledo Lestari'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Duta Palma Group'/><title type='text'>Derita Desa Semunying Jaya</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada bulan Januari lalu saya mempunyai kesempatan  menemani seorang teman dari Friend of the Earth Austria untuk melihat beberapa lokasi yang mengalami degradasi kawasan hutan di Indonesia. Lokasi yang kami kunjungi adalah Kampung Semunying di Kalimantan Barat dan Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua lokasi ini kami kunjungi karena adanya ekpansi perusahaan perkebunan kelapa sawit yang mengkonversi kawasan hutan dan bermasalah terhadap masyarakat lokal yang berada di sekitar kawasan. Permasalahan yang sebenarnya hampir sama dengan daerah-daerah lain di Indonesia dan permasalahan lama, yaitu tidak jelasnya perizinan dan permasalahan ganti rugi lahan atau konpensasi lahan yang digarap untuk perkebunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua daerah ini, tingkat konflik di Desa Semunying Jaya, Kalimantan Barat memang cukup rumit dan saya pikir sangat menyakitkan masyarakat yang ada di desa tersebut. Disini saya mencoba menceritakan apa yang saya lihat dan apa yang saya dengar selama saya berada di kampung tersebut. Karena di Desa Semunying ini permasalahannya sangat kompleks dan akan berdampak besar terhadap kehidupan mereka dan generasi mereka yang akan datang, maka saya mencoba menuliskan pengalaman saya selama disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat membaca dan semoga permasalahan-permasalahan lahan, hak ulayat masyarakat adat dan juga konversi hutan di Indonesia ini bisa diselesaikan dengan baik. Pemerintah Indonesia ini berani bersikap dan jujur dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Masyarakat adat yang tinggal disekitar hutan juga berani melawan ketidakadilan yang terjadi. Berjuang sampai hak-hak tersebut terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Derita Desa Semunying Jaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S4I67FqTKkI/AAAAAAAAAaM/OEblZTK3QQI/s1600-h/Pak-Jamal.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 244px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S4I67FqTKkI/AAAAAAAAAaM/OEblZTK3QQI/s400/Pak-Jamal.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5440976086623267394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Foto: Jamaluddin sedang menatapi hutan adat Desa Semunying yang sudah dibakar oleh PT. Ledo Lestari. Silahkan klik bagian gambar untuk diperbesar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Semunying Jaya adalah sebuah desa yang terdapat di Kecamatan Jagoi, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Desa yang berjumlah 90 KK ini terbagi dalam tiga dusun, yaitu Dusun Semunying Bungkan, Dusun Bujuan dan Dusun Pareh.&lt;br /&gt;Desa yang mayoritas masyarakatnya dayak iban ini awal mulanya berasal dari Serawak. Karena adanya konflik di Serawak, akhirnya kelompok mereka migrasi ke Indonesia untuk tinggal di Indonesia. Pada waktu itu mereka meminta izin kepada pemerintahan Soekarno untuk tinggal di Indonesia dan menetap di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mungkin sudah tahu bahwa dahulu kala hutan di Kalimantan masih bagus dan masih perawan. Semua areal di Kalimantan berhutan lebat dan masih terkesan angker. Begitu juga sewaktu pertama kali masyarakat semunying ini mulai membuka kawasan untuk tempat tinggal. Belum ada masyarakat yang berani membuka hutan di perbatasan Serawak dan Indonesia. Masyarakat melayu pun hanya tinggal di kampung-kampung yang sudah ramai penduduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1979 kondisi hutan di kawasan ini masih bagus dan masih tetap terjaga dengan baik. Karena masyarakat dayak iban sangat tergantung dengan keberadaan hutan untuk kehidupan sehari-harinya, maka sangat tidak mungkin mereka akan merusak hutan-hutan yang ada. Berburu, mencari ikan dan bercocok tanam adalah pola kehidupan sederhana masyarakat disana yang sampai dengan saat ini masih berlaku. Hidup harmonis bersama alam adalah sebuah kepercayaan yang tidak bisa dihilangkan. Mereka bahkan sejak lama juga sudah membagi-bagi kawasan hutan yang bisa digarap dan kawasan hutan yang tidak bisa digarap dalam artian bahwa kawasan hutan tersebut perlu dilindungi untuk tempat satwa berkembang biak dan untuk tempat tanaman-tanaman berkembang biak, baik itu untuk tanaman obat tradisional ataupun untuk dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pola dan kepercayaan hidup harmonis bersama hutan ini sekarang telah hilang. Tepatnya dihilangkan. Dihilangkan oleh orang-orang luar yang serakah dan mementingkan diri pribadi. Keharmonisan ini sekarang berubah menjadi sebuah ancaman kelaparan, kemiskinan dan perubahan pola prilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1995 HPH (Hak Pengusahaan Hutan) masuk kedalam kawasan desa. Pohon-pohon di hutan satu persatu tumbang dan diangkut oleh alat-alat berat. Pohon yang selama ini berdiri angkuh dibuat tidak berdaya saat ditebang dan dibawa pergi dari tempat aslinya. Masyarakat desa yang tidak mengetahui tentang mekanisme penebangan ini hanya memandang bingung. Bingung karena kawasan hutan yang mereka jaga ditebang oleh orang lain. Diambil oleh orang lain. Kayu-kayu yang ditebang dijual ke Malaysia. Semua jenis kayu yang terdapat kampung mereka ditebang  dan tumbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan HPH ini hanya bertahan satu tahun, karena masyarakat desa bersama-sama protes dan mengusir keberadaan perusahaan tersebut. Mereka tidak ingin sumber penghidupan mereka yang selama ini ada rusak dan hancur oleh keserakahan perusahaan.&lt;br /&gt;Perginya sebuah perusahaan HPH tidak membuat keberadaan hutan dan kenyamanan masyarakat desa semunying pulih kembali. Berbagai macam perusahaan, berbagai macam izin dan berbagai macam alasan datang setelah itu untuk mengambil kayu-kayu yang ada di desa mereka. Tahun 1997 Perhutani datang ke desa mereka dengan alasan untuk melakukan reiboisasi. Ternyata mereka juga melakukan penebangan liar dan menjual kayu-kayu yang ada. Tahun 1999 banyak masyarakat luar desa yang datang melakukan aktivitas illegal loging. Tahun 2000 masyarakat dari Malaysia juga datang untuk melakukan illegal loging. Tahun 2001 dan 2003 perusahaan perkebunan mencoba masuk. Izinnya adalah membuka perkebunan, tapi aktivitas yang dilakukan adalah illegal loging. Berbagai macam bentuk pengrusakan hutan yang terjadi semuanya tidak berlangsung lama. Masyarakat desa semunying terus menolak dan berjuang mempertahankan keberadaan dan kelestarian hutan yang terdapat di desa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2004 adalah tahun datangnya bencana besar bagi masyarakat Desa Semunying Jaya. Sebuah perusahaan yang dibekingi oleh para petinggi militer datang masuk dan menggusur habis lahan dan hutan adat mereka. Tanpa tegur sapa alat-alat berat menyapu bersih semua jenis tumbuhan yang ada di lahan masyarakat. Perusahaan yang sampai dengan sekarang juga dijaga oleh tentara-tentara perbatasan Indonesia-Malaysia ini tidak ada bisa menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT. Ledo Lestari yang menginduk kepada Duta Palam Group milik Surya Darmadi, sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit ini bagaikan batu karang yang tak tergoyahkan. Masyarakat desa sudah bertahun-tahun mencoba mengadu mengenai prilaku buruk sang perusahaan. Mencuri, merampas lahan dan menghancurkan semua jenis tanaman yang ditaman oleh masyarakat. Menghancurkan hutan adat yang selama ini mereka jaga dan pelihara. Mereka sudah melapor dari kecamatan sampai dengan gubernur. Komnas HAM di Jakarta dan pertemuan RSPO di Singapore dan di Kuala Lumpur juga sudah mereka datangi untuk menyampaikan persoalan mereka dengan perusahaan tersebut. Sampai dengan saat ini tidak ada yang bisa menghentikan aktivitas pengrusakah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi dari beberapa pihak, perusahaan Ledo Lestari sebenarnya bisa dikatakan perusahaan illegal. Perusahaan ini tidak memiliki HGU. Penggusuran dan pembersihan lahan hanya berdasarkan sebuah izin prinsip yang dikeluarkan oleh bupati setempat pada tahun 2004. Pada tahun 2006 izin prinsip tersebut habis masa berlakunya dan diperlukan sebuah izin HGU untuk dapat melakukan pembersihan lahan dan melakukan penanaman. Pemerintah daerah memberikan perpanjangan 1 tahun untuk dapat menyelesaikan HGU. Tapi waktu yang diberikan juga digunakan oleh PT Ledo Lestari secara baik. “Pada waktu memegang izin prinsip pun perusahaan tidak melakukan sosialisasi kepada kami. Jadi mereka itu saat memegang izin prinsip itu sudah melakukan penggusuran dan menebang semua hutan yang ada disini” ucap  Jamaluddin, salah satu tokoh masyarakat di Desa Semunying.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan yang lalu tepatnya pada bulan Desember karena desakan masyarakat adat desa semunying agar pemerintah dapat memberikan pengakuan terhadap hutan adat yang mereka miliki, Bupati Bengkayang memberikan pengukuhan di lokasi hutan adat tersebut. Tapi yang menarik sekaligus memilukan, disaat bupati medatangi lokasi hutan adat dan membubuhi tanda tangan pengukuhan atas hutan adat mereka, ekavator-eskavator milik perusahaan masih menderu dan melenggang seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa. Jarak eskavator dengan acara pengukuhan tersebut mungkin hanya ratusan meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah yang membuat kami heran. Bupati datang dan mengakui keberadaan hutan adat kami, mereka malah tidak peduli. Eskavator jalan terus. Kami sudah desak bupati dan polisi untuk menghentikan aktivitas tersebut. Tapi memang sepertinya pemerintah daerah dan polisi tidak ada taringnya” geram Jamaluddin. “Beberapa minggu setelah pengukuhan itu kami mengadakan gelar kasus di Kapolres. Menghadirkan semua pihak pemerintah daerah, mulai dari dinas kehutanan, dinas perkebunan dan kepolisian. Tapi semua sia-sia. Polisi tidak berani bertindak tegas, mereka bilang tidak mungkin sesama aparat akan bentrok” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dibelakang perusahaan tersebut berdiri para petinggi militer yang ada di Jakarta dan dilokasi juga dijaga oleh tentara perbatasan (Libas). Bukan tidak mungkin seorang Kapolres menjadi kecut dan berani macam-macam. Begitu juga seorang bupati.&lt;br /&gt;Perusahaan tetap berdiri dan melenggang. Mereka tidak pernah mengakui hutan adat. Mereka tidak peduli teriakan dan tangisan masyarakat Desa Semunying. “Kami tidak mengakui hutan adat. Yang ada hutan Negara. Kami sudah membayar kepada Negara” ucap Jamaluddin meniru ucapan salah seorang petinggi perusahaan saat bertemu dengan pihak preusahaan. "Hanya dengan perusahaan inilah kami kehabisan akal bagaimana kami bisa mengusir perusahaan yang menghancurkan hutan kami. Dari puluhan tahun yang lalu kami terus berjuang untuk menjaga keberadaan hutan adat kami. Semua perusahaan yang masuk dulu itu bisa kami usir. Tapi dengan Ledo Lestari? hanya kepada Tuhan lah lagi kami bisa berharap" ungkap Jamaluddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama empat hari saya berada disana, saya melihat sebuah derita yang berkepanjangan terjadi di sebuah desa yang damai yang berada di pinggir Sungai Seluas ini. Hidup yang dulunya damai dan tentram telah terusik oleh orang-orang yang serakah. Sekelompok orang yang ingin berdiri gagah dan menikmati megahnya dunia. Tidak peduli masyarakat Desa Semunying dan beberapa generasi mereka kedepan akan hancur kehidupannya dan masa depan mereka. Itulah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-8428207608527221985?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/8428207608527221985/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/02/derita-desa-semunying-jaya.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/8428207608527221985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/8428207608527221985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2010/02/derita-desa-semunying-jaya.html' title='Derita Desa Semunying Jaya'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/S4I67FqTKkI/AAAAAAAAAaM/OEblZTK3QQI/s72-c/Pak-Jamal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-1526067574274234386</id><published>2009-12-23T22:29:00.010+07:00</published><updated>2009-12-23T22:59:16.376+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Simpang Hulu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hutan larangan'/><title type='text'>Doa Seorang Investor Kalimantan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SzI3p3vz53I/AAAAAAAAAZ0/3yW8HxcF0FQ/s1600-h/%40DSC_1794.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 218px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SzI3p3vz53I/AAAAAAAAAZ0/3yW8HxcF0FQ/s320/%40DSC_1794.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418454494158776178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Bapa kami, Uang, yang ada di bumi, Dimuliakanlah namamu, Perkuatkanlah kerajaanmu.&lt;br /&gt;Engkau yang mengatur raja-raja, Pemerintah-pemerintah, mereka yang harus mengambil keputusan.&lt;br /&gt;Tutup mata dan hati mereka terhadap penderitaan rakyat dan penghancuran lingkungan hidup.&lt;br /&gt;Semoga di bawah bimbinganmu perkebunan sawit dan pertambangan bertambah banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berilah kami cukup orang yang mudah dibutakan,&lt;br /&gt;melihat masa depannya&lt;br /&gt;dengan pengantaraan pemberianmu sendiri.&lt;br /&gt;Berilah kami cukup orang&lt;br /&gt;yang mau bekerja dengan gaji rendah tanpa mengomel.&lt;br /&gt;Aturlah bahwa mereka semua kehilangan tanahnya&lt;br /&gt;dan berhutang kepada kami&lt;br /&gt;agar mereka selama-lamanya terikat.&lt;br /&gt;Jangan membawa kami kepada pertobatan,&lt;br /&gt;tetapi tolonglah agar pemimpin-pemimpin agama-agama,&lt;br /&gt;dan tokoh-tokoh masyarakat tetap bersedia&lt;br /&gt;memberkati atau mendukung usaha-usaha kami&lt;br /&gt;sesudah terima sumbangan secukupnya.&lt;br /&gt;Amien….&lt;br /&gt;PY, 14 November 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa itu saya dapatkan ketika saya berada disebuah kampung kecil di Kalimatan Barat, tepatnya di Desa Pendaun, Kecamatan Simpang Hulu, Ketapang. Pada tanggal 10 Desember 2009 yang lalu saya berangkat ke kampung tersebut untuk melihat sebuah pertemuan adat masyarakat adat dayak disana. Masyarakat adat yang ada disini adalah masyarakat Dayak Kualatn atau sering juga disebut Masyarakat Dayak Simpang. Ada seorang Pastor, yaitu Pastor Yeri dari Menjalin yang menempelkan sebuah kertas bertuliskan "Doa Seorang Investor Kalimantan" di dinding tempat pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat tiba di kampung yang berjumlah 40 KK ini, pemandangan kampungnya hanya biasa-biasa saja. Tapi siapa sangka, kampung ini mempunyai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;story&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; yang sangat menarik dalam hal menjaga hutan adatnya dan menolak beberapa investor yang datang, yaitu perkebunan kelapa sawit, pertambangan bauksit dan emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan penolakan sawit dikampung ini sudah dimulai sejak tahun 80 an, yaitu pada tahun 1988. Pada saat itu beberapa perusahaan sudah ingin membeli tanah mereka untuk ditanami perkebunan kelapa sawit.  Anak-anak muda yang berasal dari kampung tersebut yang masih berada di bangku kuliah mencoba menjelaskan kepada orang-orang tua mereka apa saja dampak yang akan mereka dapatkan jika perkebunan sawit masuk ke kampung mereka. Mendengar penjelasan tersebut, seluruh masyarakat yang ada di kampung bersepakat menolak masuknya perkebunan sawit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tahun ke tahun intervensi masuknya perkebunan kelapa sawit semakin besar. Iming-iming yang diberikan kepada masyarakat cukup banyak. Ada beberapa masyarakat sekitar kampung mereka yang sudah tergiur dengan uang yang akan mereka terima jika mereka menjual tanahnya. Begitu juga akan dibangunnya beberapa fasilitas di kampung seperti jalan, tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat semakin besarnya itervensi yang mereka rasakan dan merasa kawasan dan tanah mereka akan terancam oleh konversi perkebunan kelapa sawit, pada tahun 2007 masyarakat adat pendaun mengadakan ritual khusus untuk melakukan penolakan sawit. Mereka mengadakan ritual untuk memohan doa kepada para pendahul dan leluhur mereka untuk membantu mereka melakukan penolakan konversi sawit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena selalu melakukan penolakan masuknya investasi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan, Desa Pendaun dianggap desa pembangkang oleh pemerintah daerah. Dianggap desa yang tidak mau menerima program pembangunan masyarakat dan pembangunan desa. Dampak yang mereka rasakan sekarang adalah tidak adanya perhatian pemerintah. Pemerintah daerah tidak peduli lagi dengan pembangunan desa tersebut, jalan desa sampai dengan sekarang tidak diperhatikan. Sampai sekarang jalan yang ada dikampung-kampung masih tanah dan berlumpur. Padahal jarak kampung ini dengan jalan raya sekitar 2 km. Sehingga masyarakat desa kesulitan untuk mengangkut hasil-hasil pertanian yang ada diladang mereka. Bukan itu saja, ada beberapa cerita dari masyarakat bahwa pemuda-pemuda desa yang sudah lulus kuliah dan akan ikut PNS tidak pernah diluluskan oleh Pemda setempat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Hutan adat yang dilindungi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan atau ‘&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;torunth&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;’ dalam bahasa lokal di Desa Pendaun adalah pusaka bagi mereka, karena sumberdaya alam yang ada didalamnya tidak sembarangan orang bisa mengambil isi didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kategori hutan yang mereka pahami di kampung ini. Diantaranya adalah:&lt;br /&gt;1. Rimba, yaitu hutan yang tidak terlalu luas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Rimba magong, yaitu kawasan hutan yang luas  yang biasanya dijadikan ‘tona colap’ atau hutan adat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tembawang, yaitu bekas ladang, bekas pemukiman masa lalu yang ditandai dengan tanaman buah-buahan atau tanaman keras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Gupongh, yaitu rimba yang tidak dikerjakan karena  ada kekhususan. Misalnya, untuk menjaga mata air, untuk tanaman buah-buahan atau tanaman yang disayangi/tidak boleh dirusak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga ada sebutan ‘&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;bawas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;’ yaitu lahan bekas ladang. Bawas dikategrikan menjadi dua yaitu bawas muda (1-4 tahun lamanya ditinggal oleh sang pemilik) dan bawas tua atau ‘&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;jamih muntuh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;’ (diatas 5 tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keberadaan hutan mereka semakin terancam, maka mereka akhirnya membuat aturan adat untuk menjadikan sebuah kawasan menjadi kawasan hutan adat atau sering disebut sebagai ‘&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;tona colap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;’, dimana semua orang tidak boleh mengolah kawasan tersebut.  ‘&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Tona&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;’ artinya tanah, ‘&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;colap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;’ artinya dingin. Mereka ingin hutan yang dilindungi itu akan membuat tanah yang ada dibawahnya selalu  dingin. Menjadi hutan seperti apa adanya. Tidak boleh diganggu keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Desa Pendaun juga mempercayai adanya pohon keramat yang ada di kampung mereka yang mereka sebut batu besi, karena pohon itu tumbuh didekat batu yang sangat besar. Jika buah yang ada di pohon tersebut sedikit maka hasil pertanian mereka juga sedikit. Begitupun sebaliknya. Pohon yang buahnya berwarna merah ini kabarnya hanya ada ditempat tersebut. Mereka tidak menemukan pohon yang sama ketika masuk kedalam hutan yang ada di kampung mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam ritual mereka, masyarakat pendaun juga mempunyai upacara khusus untuk melindungi bumi dan beserta isinya. Ada tiga kategori upacara atau ritual yang mereka lakukan dan tingkatan makna yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nukat Bumi : Memperbaiki alam dan bumi yang sudah mulai rusak. Ritual ini mempersembahkan 7 ekor babi dan ayam 14 ekor. Dipimpin oleh 1 Borent khusus (dukun) dan 2 asistennya. Terakhir Nukat Bumi dilakukan pada tahun 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mokantona: Tingkatannya dibawah Nukat Bumi, hanya untuk wilayah tertentu. Seperti satu sungai tidak boleh diambil ikannya oleh siapapun. Bagi siapapun yang melanggar akan terkena sanksinya yaitu berupa sakit ataupun meninggal dunia. Ritual ini mempersembahkan 5 ekor babi dan 7 ekor ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bebantan: Berdoa apa yang diharapkan bisa berhasil. Syaratnya tidak boleh ‘belayu’ atau tidak boleh memotong tanaman atau membunuh hewan  seama 1 hari – 1 bulan. Tergantung dengan borent-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Desa  Pendaun sekarang ini merasakan bumi dan beserta isinya sudah semakin rusak. Mereka sudah mulai memikirkan untuk mengadakan kembali ritual Nukat Bumi untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk memudahkan rezeki dan tidak murka. Mereka juga ingin mengingatkan kembali seluruh masyarakatnya untuk menjaga bumi dan isinya. Hidup bersahabat dengan alam dan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita-cerita mereka saya sangat kagum akan kearifan lokal yang ada. Bagaimana masyarakat adat yang mencoba bertahan untuk hidup sederhana dan melindungi sesama. Berusaha menjaga bumi dan alam ini dengan kepercayaan yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara para kapitalis dan penguasa. Para pejabat di negeri ini, tidak akan peduli tentang itu. Yang mereka cari adalah untung sebesar-besarnya. Mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk istri dan anaknya…. Wallahu’alam…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa berdoa. “Tuhan… Jangan kabulkan Doa para investor itu…Bantulah saudara-saudara saya, keluarga saya yang ada diseluruh pelosok nusantara ini untuk melawan para penjahat hutan, penjilat kekuasan dan para pejabat negara yang haus akan harta ini... Berilah mereka kekuatan untuk melawan. Jangan sampai mereka ditindas oleh orang-orang yang beritelektual tapi serakah ini.. Amien…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SzI539rJKDI/AAAAAAAAAaE/hbAWcF5ed7I/s1600-h/%40DSC_2267.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 268px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SzI539rJKDI/AAAAAAAAAaE/hbAWcF5ed7I/s400/%40DSC_2267.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418456935291234354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-1526067574274234386?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/1526067574274234386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/12/doa-seorang-investor-kalimantan.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/1526067574274234386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/1526067574274234386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/12/doa-seorang-investor-kalimantan.html' title='Doa Seorang Investor Kalimantan'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SzI3p3vz53I/AAAAAAAAAZ0/3yW8HxcF0FQ/s72-c/%40DSC_1794.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-7335520227911560260</id><published>2009-12-08T23:51:00.002+07:00</published><updated>2009-12-09T00:03:18.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teluk Meranti'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Climate Defender Camp'/><title type='text'>Sebuah Catatan di Climate Defender Camp: Susahnya Menjaga Alam dan Hutan Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Sx6EXYyQ6nI/AAAAAAAAAZo/cXT8dGhrvow/s1600-h/Greenpeace-Camp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 268px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Sx6EXYyQ6nI/AAAAAAAAAZo/cXT8dGhrvow/s400/Greenpeace-Camp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412909339471047282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dua minggu yang lalu saya berkesempatan berangkat ke Riau dan bergabung dengan teman-teman activist Greenpeace dan masyarakat lokal yang berada disekitar Desa Teluk Meranti, Palalawan, Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Climate Defender Camp didirikan tepat di salah satu lokasi lahan gambut terluas di Riau, yaitu Semenanjung Kampar. Camp ini didirikan sebagai bentuk protes Greenpeace terhadap salah satu perusahaan pulp and paper terbesar di dunia yaitu RAPP yang membuka konsesi HTI dilahan gambut. Selain itu juga Greenpeace bersama-sama masyarakat lokal mencoba mempertahankan ekosistem lahan gambut yang ada tetap terjaga dengan baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah membangun damm untuk membendung kanal-kanal yang dibuat oleh perusahaan maupun masyarakat yang tujuannya untuk mengeringkan lahan gambut tersebut sebelum diolah menjadi lahan perkebunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di Riau yaitu di Palalawan (Sungai Kampar) dan Perawang (Sungai Siak), saya banyak menyaksikan bagaimana hutan dataran rendah di Riau porak poranda oleh perusahaan-perusahaan rakus akan kayu. Baik itu penebangan yang dilakukan secara legal (mendapat izin resmi) maupun penebangan illegal (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;illegal loging&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain beraktivitas di camp, Greenpeace juga melakukan aksi protes langsung di lokasi lahan milik perusahaan maupun di pelabuhan bongkar muat ekspor produk pulp and paper. Ada dua perusahaan yang diprotes oleh Greenpeace yaitu RAPP dan Indah Kiat Pulp and Paper, Group Sinar Mas. Greenpeace melakukan protes karena kedua perusahaan ini masih menggunakan kayu alam sebagai bahan baku produk yang mereka bikin. Selain itu juga izin konsesi HTI yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan dinilai masih cacat hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyaksikan langsung kedua aksi tersebut, karena saya diminta oleh Greenpeace sebagai videografernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi pertama (12/11) dilakukan di lokasi landclearing milik RAPP di Semenanjung Kampar. Greenpeace memasang spanduk bertuliskan "OBAMA YOU CANT STOP THIS" (Videonya bisa lihat &lt;a href="http://www.greenpeace.org/international/press/video-preview"&gt;disini&lt;/a&gt;). Aksi ini dilakukan karena Greenpeace memprotes izin yang dikeluarkan oleh Dephut untuk konsisi HTI RAPP yang berada dilokasi lahan gambut dalam, bahkan dilahan tersebut ditemukan lahan gambut sedalam 10 meter. Greenpeace meminta para pemimpin negara khusus Presiden SBY dan Obama serius menanggapi perubahan iklim dan pemanasan global dari deforestasi ketika Obama datang ke Singapura beberapa minggu yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir izin ini dibekukan oleh Menteri Kehutanan yang baru karena diindikasikan melanggar UU kehutanan dan akan dikaji lebih dalam. RAPP dihimbau untuk menghentikan aktivitasnya di konsesi yang berada di Semenanjung Kampar. Di Riau, izin ini juga bermasalah, ternyata Bupati Siak dan Palalawan tidak memberikan rekomendasi untuk lokasi konsesi perusahaan tersebut. Kajian AMDAL nya juga berantakan. Gubenur Riau waktu itu langsung saja merekomendasikan ke Menhut (kala itu masih Menhut MS Kaban), dan izinnya pun keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya tinggal di camp milik Greenpeace di Desa Teluk Meranti, Palalawan, Riau. Berbagai cara dan upaya orang-orang perusahaan mencoba menghasut masyarakat lokal untuk mengusir Greenpeace dari sana. Mulai dari memberikan bantuan mie, beras, membooking sebuah penginapan yang ada didesa selama 3 bulan walapun tidak ditempatin (ini untuk menyulitkan ketika tamu Greenpeace ataupun jurnalis datang ke lokasi dan tidak mempunyai lokasi penginapan). Selain masyarakat lokal perusahaan juga mendesak Polres Palalawan untuk menangkap para activist asing termasuk journalis asing dan mendeportasi mereka ke negaranya serta mendesak Greenpeace untuk menutup camp. Masyarakat diintimidasi, siapapun yang mendukung Greenpeace akan diusir dari kampung, bagi PNS ataupun guru, akan dipecat atau dimutasikan. Tapi hebatnya, ketika para activist sudah packing dan menaroh barang ke kapal, sekitar 400 an orang datang dengan menggunakan kapal dan menahan para activist. Masyarakat lokal ingin Greenpeace tetap ada di kampung mereka. Mereka pun berteriak&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Jika ingin Greenpeace pergi, RAPP harus pergi terlebih dahulu dari kampung kami!!"&lt;/span&gt;. Polisi yang sudah menggiring mereka ke kapal tidak bisa berbuat apa-apa ketika seluruh masyarakat lokal tersebut mengangkut kembali barang-barang milik activisit kembali ke camp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi kedua (27/11) dilakukan dilokasi pelabuhan milik Idah Kiat Pulp and Paper, Group Sinar Mas (Videonya bisa lihat &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=hx0OchwANOE&amp;amp;feature=player_embedded"&gt;disini&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsvideo/2009/11/26/94767/Aktivis-Greenpeace-Menyegel-Alat-Berat-PT-Indah-Kiat"&gt;disini&lt;/a&gt;). Greenpeace menaiki 4 buah crane milik perusahaan tersebut untuk meghentikan proses ekspor barang yang dilakukan indah kiat dan memasang spanduk 'CLIMATE CRIME'. Greenpeace memprotes perusahaan tersebut masih menggunakan kayu alam sebagai bahan baku untuk produk yang mereka bikin. Disaat kita mengambil gambar aksi tersebut, dipelabuhan tersebut terdapat puluhan tongkang yang memuat ribuan kubik kayu gelondongan, dan beberapa tongkang tersebut tidak memuat kayu akasia melainkan kayu alam. Beberapa tongkang lainnya memuat kayu akasia tapi ditengah2nya memuat kayu gelondongan yang diameternya kurang lebih 1 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para security berhasil menurunkan para activist di 3 buah crane. Tapi tidak berhasil untuk crane yang satunya, para activist Greenpeace berhasil menguasai crane tersebut selama 26 jam. Mereka tidak berani berlaku kasar karena para journalis terus memantau dari boat apa yang dilakukan oleh perusahaan terhadap para activist. Saya dan beberapa teman media lainnya tidak luput dari intimidasi para security, mulai dari bentakan untuk pergi dan tidak merekam activitas Greenpeace, juga boat kami dikelilingi oleh boat security berkali-kali untuk membuat gelombang sehingga boat kami bergoyang hebat dan proses pengambilan gambar tidak bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat tidak bisa ekspor barang, Sinar Mas mengclaim rugi sebesar 33 milyar. Tapi saya pikir kerugian itu tidak sebanding dengan kerugian yang diterima oleh masyarakat lokal dan masyarakat indonesia lainnya yang hutannya sudah diporak-porandakan oleh Sinar Mas. Mulai dari hutan Sumatera, Kalimantan hingga ke Papua. Beberapa bulan yang lalu saya juga menyaksikan masyarakat di TN Danau Sentarum yang terancam akan kehilangan mata pencaharian sebagai petani madu organik dan nelayan ikan tawar di danau sentarum. Danau sentarum saat ini sudah dikelilingi oleh perkebunan sawit milik Sinar Mas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang menyatakan  bahwa 100% Polisi dan aparat hukum lainnya pasti berkolusi dengan perusahaan APRIL dan Sinar Mas. Saya tidak tahu apakah pernyataan itu benar atau tidak. Tapi yang saya alami selama disana adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di camp, hampir setiap hari polisi datang ke camp, mulai dari Polsek, Polres hingga dari Polda yang datang. Menanyakan Greenpeace itu apa, buat apa datang kesini, bla...bla... hingga berupaya melakukan pengusiran (dengan alasan dievakuasi karena situasinya tidak kondusif, masyarakat tidak setuju dengan adanya Greenpeace). Terakhir melakukan penangkapan para journalis dan mendeportasikannya (Journalist dari India dan Italy). Belakangan seminggu setelah kejadian itu Pak Boediono datang ke Italy, beliau diprotes keras oleh warga Italy dan para activist disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita saya dan beberapa rekan journalist sedang mendokumentasikan aksi para activist Greenpeace yang memanjat crane di pelabuhan milik perusahaan Sinar Mas, para security menintimidasi kami dengan cara mengelilingi boat kami beberapa kali untuk membuat gelombang sehingga boat yang kami tumpangi bergoyang hebat sehingga kami tidak bisa melakukan pengambilan gambar. Kami juga dibentak-bentak dan diusir untuk pergi dari lokasi serta tidak mengambil gambar. Polisi saat itu banyak sekali dilokasi pelabuhan milik Sinar Mas. Mereka &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HANYA&lt;/span&gt; menonton tindakan para security terhadap kami. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TIDAK ADA&lt;/span&gt; tindakan mereka dalam upaya melindungi kami yang merupakan salah satu rakyat sipil dan masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di Kantor POLDA Riau, disaat saya mendokumentasikan para activist asing yang ditangkap. Seorang Perwira di Satuan Intel POLDA memberikan amplop kepada wartawan lokal didalam ruangannya dan saya sempat merekam kegiatan itu karena saya sewaktu itu juga ikut masuk bersama para wartawan tersebut. Sang perwira sempat bertanya kepada saya "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kok direkam?? kamu darimana&lt;/span&gt;" beliau menyamperi saya ketika wartawan lainnya sudah keluar dengan mengantongi amplop tersebut. Beliau bertanya kepada saya "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;darimana? ini buat uang pulsa&lt;/span&gt;" lanjutnya sambil memberikan amplop kearah saya. Dengan senyum manis saya menjawab "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tidak pak, terima kasih, pulsa saya masih ada&lt;/span&gt;". Saya pun ikut keluar dari ruangan tersebut dan tersenyum miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pulang dari POLDA Riau, saya menanyakan kepada salah satu dari mereka klo itu dari siapa dan berapa totalnya didalam amplop tersebut: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kamu tahu sendirilah, apa sih yang ngga bisa dilakukan APRIL dan Sinar Mas di Riau ini. Riau ini milik mereka. Totalnya kurang lebih 1 juta satu amplop&lt;/span&gt;" jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada aksi pertama dan untuk research Greenpeace sempat menyewa helikopter milik POLDA dan Rumah Sakit (tentunya tidak tahu sebelumnya klo Greenpeace yang sewa helicopter tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka mengetahui bahwa Greenpeace yang menyewa helikopter, saya mendapatkan informasi bahwa pilot yang membawa helikopter POLDA ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dihajar&lt;/span&gt;’ oleh Provost dan Helikopter milik rumah sakit tersebut tidak boleh terbang, agent dan pilotnya dimarah-marahin karena membawa Greenpeace terbang. Bukan itu saja, untuk mengantisipasi Greenpeace jika nanti bisa menyewa helikopter dari luar Riau, dalam waktu sekitar 3 hari setelah kejadian itu kabarnya Gubernur Riau mengeluarkan Perda Helikopter komersil tidak boleh terbang diwilayah Riau. Informasi ini saya dapat dari beberapa orang yang berada di Riau, kepastian benar atau tidak memang harus dibuktikan dan dikaji lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya begitulah pemandangan yang akan selalu terlihat jika sebuah perusahaan yang berkorporasi dengan penjabat negara dan pejabat pemerintah. Langkah mereka seakan-akan tidak bisa dihentikan. Sepertinya mimpi kali ya, jika negara kita tercinta ini tercipta sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Good Governance&lt;/span&gt;. Pemerintah yang baik, aparat hukum yang baik, melindungi rakyat dan membela rakyat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menyedihkan lagi bagi saya sekarang adalah Sinar Mas mengadakan acara &lt;a href="http://greenfest2009.com/"&gt;Green Festival&lt;/a&gt; di Senayan, Jakarta. Mengajak masyarakat ikut peduli perubahan iklim dan pemanasan global. Memasang iklan dan berita kegiatannya besar-besaran dalam seminggu ini diharian KOMPAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bingung kok bisa perusahaan perusak alam Indonesia ini bisa mengadakan acara Green Festival dan ‘diamini’ oleh pemerintah kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah tidak ada lembaga lainnya di negara kita ini ataupun perusahaan lain yang lebih bersahabat dengan alam dan lingkungan yang bisa mengadakan acara tersebut? Wallahu’alam…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-7335520227911560260?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/7335520227911560260/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/12/sebuah-catatan-di-climate-defender-camp.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/7335520227911560260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/7335520227911560260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/12/sebuah-catatan-di-climate-defender-camp.html' title='Sebuah Catatan di Climate Defender Camp: Susahnya Menjaga Alam dan Hutan Indonesia'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Sx6EXYyQ6nI/AAAAAAAAAZo/cXT8dGhrvow/s72-c/Greenpeace-Camp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-8751360860627888388</id><published>2009-12-02T06:20:00.004+07:00</published><updated>2009-12-02T06:32:46.797+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imbal Jasa Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumber Jaya'/><title type='text'>Imbal Jasa Lingkungan: Mengubah Lumpur Menjadi Listrik</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SxWk5TkCK_I/AAAAAAAAAZg/PPsDcZetwvk/s1600/DSC_4399.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SxWk5TkCK_I/AAAAAAAAAZg/PPsDcZetwvk/s400/DSC_4399.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410411831766428658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada tanggal 3-7 November 2009 saya berkesempatan kembali lagi ke Sumber Jaya, Lampung Barat. Ini adalah kesempatan yang ketiga kalinya saya mengunjungi daerah tersebut. Daerah yang sejuk dan menyimpan banyak potensi alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan saya yang ketiga ini adalah untuk melihat dan merekam sebuah pertukaran imbal jasa lingkungan antara masyarakat lokal dengan PLTA Way Besai. Imbal jasa ini berikan karena masyarakat disalah satu kampung bersedia untuk menghijaukan kembali lahan mereka dan bersedia untuk mengurangi erosi dan sedimentasi dikawasan hulu sungai agar pasokan air untuk PLTA tetap terjaga dan sedimentasi di bendungan PLTA Way Besai dapat dikurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung yang menerima imbal jasa ini adalah Dusun Buluh Kapur, Pekon Gunung Terang, Kecamatan Way Tenong, Lampung Barat. PLTA Way Besai memberikan sebuah mesin microhydro berkapasitas 5000 Am untuk membantu penerangan sekitar 40 KK di kampung tersebut. Dengan difasilitasi oleh &lt;a href="http://www.worldagroforestry.org/af/index.php"&gt;ICRAF&lt;/a&gt;, kegiatan yang sudah lama direncanakan ini akhirnya bisa direalisasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi ini merupakan sebuah kesepakatan awal yang baik. Dimana masyarakat lokal diajak dan dilibatkan oleh lembaga ataupun perusahaan dalam menjaga lingkungan disekitar mereka. Sehingga hasilnyapun sama-sama menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi PLTA Way Besai, keberadaan sedimentasi menjadi ancaman yang sangat besar terhadap debit air untuk menggerakkan turbin. Akbibat adanya lumpur turbin juga sering tidak beroperasi karena rusak. Tak jarang hanya satu turbin yang dijalankan. Kapasitas PLTA Way Besai saat ini adalah 2 x 45 MW. Biaya yang diperlukan untuk pengerukan lumpur yang ada didalam sungai juga sangat besar. Dulu biasanya pengerukan dilakukan sekali dalam 1 tahun, sekarang harus dilakukan 2-3 kali dalam setahun. Volume endapan lumpur bisa mencapai 2000 meter kubik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petani yang tergabung dalam Kelompok Peduli Sungai yang seluruh anggotanya adalah warga dari Dusun Buluh Kapur, melakukan beberapa metode dan teknik didalam berladang di kawasan hulu sungai. Mulai dari menanam strip rumput yaitu rumput sataria dibawah tajuk-tajuk pohon kopi milik mereka, membuat lobang-lobang angin atau dalam bahasa setempat disebut ‘rorak’, dibeberapa tempat mereka juga membuat guludan agar lapisan tanah bagian atas, lapisan tersubur tidak terbawa air hujan. Tidak lupa mereka juga membangun cek damm di parit pinggir kebun mereka sebagai penahan aliran air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan tentang cara mengurangi laju erosi dengan berbagai teknik konservasi lahan sudah lama diketahui petani Buluh Kapur. Pembuatan cek dam maupun penanaman rumput menjadi lebih intensif ketika mereka membentuk kelompok peduli sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tanam rumput ini selain untuk menangkal erosi juga bisa untuk makan kambing, jadi saya tidak perlu jauh-jauh lagi mencari makanan ternak saya. Tujuan sebenarnya adalah menangkal erosi. Kalau hujan, tanah di kebun tergerus. Barisan rumput ini saya buat  untuk menahan tanah agar tak terbawa air.&lt;/span&gt;” Ungkap Darsono, Ketua Kelompok Petani Peduli Sungai yang saat ini memiliki 21 ekor kambing etawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya punya 21 ekor kambing. Gak perlu cemas mereka kelaparan. Walau seharian ikut royongan di kampung, rumput selalu ada. Mencarinyapun tidak jauh, cukup ke kebun dekat rumah&lt;/span&gt;” lanjutnya senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan luas yang mencapai 44 ribu hektar, DAS Besai memegang peranan penting bagi kehidupan masyarakat Lampung Barat. Dalam kesepakatan, disebutkan bahwa PLTA akan memberikan imbalan apabila target penurunan sedimen dapat tercapai. Salah satu komponen yang penting dalam kesepakatan tersebut adalah monitoring – pemantauan lingkungan. Disepakati anggota kelompok dilibatkan dalam pengambilan sampel air sungai sementara staf hidrologi ICRAF diminta bantuan untuk melakukan penghitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Walaupun hasil tidak mencapai 30%, kami sangat menghargai keseriusan petani dalam melaksanakan perjanjian. Direksi PLN sudah memutuskan untuk tetap memberikan kincir sebagai bentuk penghargaan kami&lt;/span&gt;.” Ungkap Antono, Manajer PLN wilayah SUMBAGSEL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kami membentuk kelompok ini sebagai jawaban atas permintaan kerjasama dengan PLTA Way Besai. PLTA sering mengeluh karena dam penampungan airnya cepat dangkal tertimbun kiriman lumpur dari hulu&lt;/span&gt;.” Jelas Pak Darsono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat mengagumi kekompakkan masyarakat yang ada di Dusun Buluh Kapur ini. Negosiasi yang layak ditiru oleh masyarakat lainnya dalam hal imbal jasa lingkungan. Tentu saja konsepnya tidak harus sama. Yang penting adalah tujuannya sama yaitu sama-sama menjaga lingkungan sekitar dan sama-sama menguntungkan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mutualisme&lt;/span&gt;). Seperti yang terjadi dikampung ini, mereka bisa mengubah lumpur menjadi listrik :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-8751360860627888388?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/8751360860627888388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/12/imbal-jasa-lingkungan-mengubah-lumpur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/8751360860627888388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/8751360860627888388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/12/imbal-jasa-lingkungan-mengubah-lumpur.html' title='Imbal Jasa Lingkungan: Mengubah Lumpur Menjadi Listrik'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SxWk5TkCK_I/AAAAAAAAAZg/PPsDcZetwvk/s72-c/DSC_4399.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-2147080745197872995</id><published>2009-10-28T06:57:00.004+07:00</published><updated>2009-10-28T07:06:44.439+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Brebes'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wisata kuliner'/><title type='text'>Brebes Kota Telor Asin!!</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seminggu yang lalu saya berkesempatan untuk pergi ke Brebes, sebuah kota yang terletak dijalur Pantura. Sebuah kota yang terletak di pesisir pantai, terkenal dengan telor asin dan juga kota penghasil bawang merah. Jika kita akan pergi Jogja, Semarang atau Solo melalui jalur darat kita pasti akan melewati kota ini.&lt;br /&gt;Saya sebenarnya sudah beberapa kali melewati Brebes disaat akan pergi Solo dan ke Semarang. Tapi ya sekedar lewat. Tidak pernah mampir atau melihat lebih jauh seperti apa kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan beberapa teman berangkat ke Brebes menggunakan kereta dari stasiun kereta Gambir, Jakarta. Kebetulan kami mempunyai beberapa pekerjaan disana. Tentunya pekerjaan saya tidak lepas dari predikat kuli. Tepatnya kuli panggul. Tukang mangguli kamera. Sudah lama sekali saya tidak melakukan perjalanan jauh dengan kereta. Terakhir saya naik kereta ketika berangkat ke Surabaya bersama teman-teman kuliah pada tahun 2003. Itupun kereta ekonomi. Anda tentu bisa bayangkan bagaimana rasanya naik kereta ekonomi di negara kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berada di kereta dan duduk dengan nyaman didalam kereta, saya baru bisa merasakan ternyata berpergian dengan kereta itu sangat mengasyikkan dan nyaman. Apakah karena kereta ini kelas ekskutif atau apa ya?. Tapi yang jelas saya sangat menikmati perjalanan ke Brebes selama kurang lebih 5 jam tersebut. Sambil mendengarkan lagu di iPod, saya bisa melihat pemandangan sawah, orang membuat garam, sungai, perkampungan, kebun dan lain-lainnya sepanjang perjalanan. Saya jadi kepikiran untuk mencoba kembali naik kereta ke Surabaya tapi naik kelas ekskutif. Bagaimana rasanya. Apakah sama rasanya seperti dulu ketika saya bersama teman-teman kuliah naik kereta ekonomi ke Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brebes kota yang puanas dan ramai. Puanas mungkin karena berada di pinggir pantai. Ramai mungkin karena berada di jalur lintas, yaitu jalur pantura.  Tapi siapa sangka kota yang hanya dilewati oleh orang yang ingin berpergian ke jawa bagian tengah dan timur ini menyimpan berbagai pesona. Terutama pesona untuk melakukan wisata kuliner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Pak Jhoni Murahman, seorang dokter hewan lulusan FKH IPB angkatan 18 yang menemani saya untuk mencicipi beberapa makanan khas yang ada di Brebes. Senior yang satu ini memang T.O.P B.G.T. Baik banget dan bahkan kelewat baik. Menemani kami setiap kemana saja selama kami berada di Brebes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya terkagum-kagum plus geleng-geleng kepala adalah beliau sampai hafal lokasi-lokasi makanan enak di Brebes. Walaupun lokasinya terkadang tersebunyi dan jauh dari keramaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama ketika kami nyampe kami langsung dibawa ke tempat jual sate blengong dan makan disana. Blengong adalah unggas hasil perkawinan antara itik dengan entok. Nah.. bingungkan sepertia apa bentuknya hehehe… Malamnya kami diajak ke Tegal untuk mencicipi bebek goreng yang terkenal di Tegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam hari keesokan harinya kami diajak untuk mencicipi Bandeng bakar lumpur di Pantai Randusanga, Brebes. Ikan bandeng ini sebelum dibakar seluruh tubuh ikan ditutupi lumpur tambak yang ada disekitar pantai. Saya awalnya sempat kaget, bagaimana makannya klo semuanya dilumuri lumpur. Tapi ketika selesai dibakar, lumpur tersebut akan mengering dan sebelum kita memakan ikannya, kulit ikan tersebut dikelupasi beserta dengan lumpur yang sudah mengering.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “Rasa ikannya lebih original, karena kita tidak memberi bumbu apapun kecuali lumpur ini” &lt;/span&gt;kata yang jualan. Disajikan dengan cah kangkung, hmmm nikmat sekali makan malam dipinggir pantai. Nafsu makan saya pun menjadi bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kedua, disaat makan siang. Beliau mengajak kami untuk mencicipi makanan yang cuma ada di Brebes dan terkenal di Brebes yaitu Blengong goreng di daerah Lembarawa. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Rumah makan ini tidak mengindahankan prinsip marketing. Karena lokasinya tersembunyi dan orang musti berjalan kaki masuk gang sekitar 100 m untuk menuju kesana”&lt;/span&gt; ungkap Pak Jhoni kepada kami. Ketika kami tiba disana, ternyata benar. Lokasinya berada disebuah pemukiman. Kendaraan musti diparkirkan dipinggir jalan dan kami musti berjalan kaki masuk gang kurang lebih 100 meter untuk menuju kesana. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Beneran nih ada tempat makan didalam?” &lt;/span&gt;ungkapku karena masih bingung dan ngga yakin ada tempat makan disana. Lokasinya pun hanya sebuah rumah biasa, yang tidak ada desain sama sekali untuk rumah makan. Hanya satu meja kecil yang terbuat dari kayu dan bangku panjang yang juga terbuat dari kayu, terletak didekat dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata setelah kami tiba disana, sudah banyak yang antri untuk menunggu makan siang. Hampir semuanya berakaian dinas pegawai negeri. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Disini tempat makan favoritnya Pak Bupati. Bupati sering datang disini. Ini banyak ajudan-ajudannya yang makan disini” &lt;/span&gt;cerita Pak Jhoni sambil menunjuk beberapa tamu yang datang dan sambil bercerita menunggu makanan yang kami pesan tiba. Karena tidak ada meja dan kursi untuk menyantap makanan, tamu yang datang hanya duduk di teras rumah. Duduk di lantai kramik tanpa alas. Blengong goreng ini disajikan dengan sambal uleg, lalapan (kacang panjang, mentimun dan daun kemangi) bersama minuman teh poci. Ternyata bener. Makanannya memang enak dan lezat. Inilah mungkin alasannya kenapa banyak yang datang kesini, walaupun lokasinya tersembunyi dan musti jalan kaki menuju lokasinya. Orang yang makan pun hanya duduk diteras rumah sang pemilik tempat makan blengong goreng ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat makan malam, saya diajak untuk mencoba makan malam di alun-alun Kota Brebes. Kami memarkirkan kendaraan kami disebuah rumah makan yang sederhana yang ada disana. Pak Jhoni memasankan kami sebuah makanan yaitu Lengko, sate kambing, hati goreng, telor rebus dan teh poci. Keesokan paginya (hari terakhir kami di Brebes) kami diajak untuk sarapan dengan Bogana (nasi kuning, ayam sayur, tempe bumbon, sambel pete, ikan teri, urap, tumis kacang, telor asin) dan minum teh poci. Lokasi tempat makanan ini juga di sebuah pemukiman dan masuk gang yaitu di daerah Gamprit, Pecinan. Dari luar ataupun orang yang tidak berasal dari sana tidak akan tahu kalo didalam gang tersebut ada yang menjual makanan. Seorang nenek yang sudah berjualan Bogana hampir 50 tahun lebih ini tidak pernah pindah dari lokasi dimana dia berjualan. Hanya di sebuah rumahnya yang kecil dan terkurung oleh beberapa rumah yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya.. itulah keunikan Pak Jhoni. Mencintai makan makanan khas Brebes. Klo ada tamu yang datang beliau selalu mengajak tamunya untuk mencicipi makanan-makanan khas Brebes. Beliau juga mengajak saya untuk melihat batik khas Brebes. Batik buatan tangan ini tidak dijual di pasar-pasar. Sang pemilik hanya menjualnya ditempat tinggalnya. Saya juga diajak untuk beli oleh-oleh telor asin, teh poci dan beberapa jajanan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit sebelum kami naik kereta untuk pulang ke Jakarta, Pak Jhoni tiba-tiba datang dari rumahnya menemui kami di stasiun dan membawakan kami tahu genjrot. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kalian sebelum pulang  harus nyobain tahu getjrot. Enak ini, ngga pake pecin”&lt;/span&gt; ungkap pak Jhoni yang membuat saya kaget dan ngga habis pikir, kok bisa dia datang ke stasiun. Kami sudah mau berangkat ke Jakarta, kereta sebentar lagi sampai. Belum selesai saya berpikir dia sudah menghilang, dan tiba-tiba datang lagi membawakan semangkok sup buah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ini namanya sup buah, musti dicoba juga”&lt;/span&gt; tetap dengan semangatnya memberikannya kepada saya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Walah pak, kok repot-repot begini, keretanya dah mau nyampe”. “Ngga papa, makan aja dulu sampe keretanya nyampe. Tadi saya telp dulu stasiunnya  menanyakan apakah keretanya sudah berangkat atau belum. Karena belum berangkat, ya saya langsung kesini”. “Sampai segitunya pak”&lt;/span&gt; ugkapku sambil menghabisi makanannya dengan terburu-buru. Setelah kereta tiba Pak Jhoni mengantarkan kami naik kereta. Saya hanya bisa menjabat erat tangan beliau dan mengucapkan terima kasih banyak atas perhatian dan kebaikkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang saya masih kangen dengan senyum khasnya Pak Jhoni. Melayani orang dengan setulus hati. Seorang bapak yang sangat-sangat baik dan menjadi suri tauladan. Terima kasih banyak Pak Jhoni atas kebaikannya. Semoga kita masih mempunyai kesempatan untuk bertemu lagi. Klo Bapak ke Bogor, mungkin saya bingung harus mengajak wisata kuliner kemana karena saya tidak terlalu hafal lokasi-lokasi tempat makan makanan enak di Bogor. Mungkin bapak lebih hafal daripada saya karena bapak kan dulu juga pernah tinggal di Bogor walaupun pada tahun 80’an hehehe…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-2147080745197872995?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/2147080745197872995/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/10/brebes-kota-telor-asin.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2147080745197872995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2147080745197872995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/10/brebes-kota-telor-asin.html' title='Brebes Kota Telor Asin!!'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-944046188884019694</id><published>2009-10-22T22:12:00.008+07:00</published><updated>2009-10-23T00:08:34.229+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tour Java'/><title type='text'>Tour Java and First Guiding</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sudah lama sekali tidak update blog perjalanan ini. Bukannya saya tidak melakukan perjalanan dalam sebulan ini tapi dikarenakan sehabis melakukan perjalanan yang satu saya sudah musti siap-siap lagi untuk melanjutkan perjalanan yang lainnya. Gaya banget yak hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya mencoba menceritakan pengalaman saya yang baru pertama kali melakukan perjalanan yang konteknya adalah meng-guide orang luar (bule) untuk mengunjungi beberapa tempat di pulau jawa.  Sempat nervous juga awalnya untuk menerima tawaran ini karena saya tidak punya pengalaman menjadi guiding. Melakukan perjalanan dengan orang luar sih sering, tapi konteknya adalah melakukan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut saya coba  ceritakan pengalaman pertama saya menjadi guiding alias tukang pemandu wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalanya saya mendapat email dari seorang teman yang menceritakan klo temannya dari Belanda bersama keluarganya ingin melakukan perjalanan ke Indonesia. Si bule ini ingin melakukan perjalanan napak tilas keluarga besarnya yang dulu pernah tinggal di Indonesia. Beberapa puluh tahun yang lalu sewaktu jaman penjajahan Belanda. Dua orang adiknya bahkan lahir di  Probolinggo dan Banjarmasin. Ibunya lahir di Solo dan sempat bekerja sebagai suster di Semarang yaitu di rumah sakit Williem Boot. Sejak Indonesia merdeka dan mereka baru berumur sekitar 5 tahun mereka diajak oleh orang tuanya untuk pulang ke Belanda. Nah dari umur lima tahun sampai dengan kemaren itu mereka tidak pernah lagi datang ke Indonesia. Dan mereka juga tidak ingat lagi Indonesia itu seperti apa bentuknya dan bagaimana masyarakat dan budayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan saat libur lebaran kemaren saya tidak mudik, maka saya menerima tawaran tersebut dan hanya bilang “maaf saya belum pernah jadi guide, semoga saya bisa melakukan yang terbaik”. Alhasil berangkatlah saya bersama mereka untuk menemani mereka melakukan perjalanan tour jawa selama 10 hari (18-29 September 2009). Lokasi yang akan kami kunjungi adalah Yogyakarta, Solo, Tawangmangu, Semarang, Surabaya dan Probolinggo. Tiket pesawat saya PP ditanggung dan selama perjalanan melalui darat sudah disiapkan mobil plus drivernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah tamu yang saya temani adalah berjumlah empat orang. 2 orang suami istri yaitu Frederik Van Leeuwen dan Maria Van Leeuwen serta dua orang adik perempuannya yaitu Gezina Vanriemsdijk dan Henriette Vanriemsdjik. Jadi bersama dengan seorang driver kami melakukan tour jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan alasan akan memakan space yang cukup banyak jika saya ceritakan semua dan detail mengenai per-lokasi yang kami kunjungi, maka saya tidak akan menceritakan detail perjalanannnya. Lokasi yang kami kunjungi cukup banyak, jadi saya cukup menceritakan lokasi apa saja yang kami kunjungi disetiap kota yang kami datangi dan dimana kami menginap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang cukup penting dan juga pelajaran yang saya dapatkan dalam perjalanan ini. Yaitu bagaimana memanage suatu perjalanan dan bagaimana bisa meyakinkan sang tamu. Pelajaran ini saya dapatkan dari Fred. Saya berterima kasih sekali ke beliau, beliau mau berbagi ilmu dalam memanagement sebuah kegiatan perjalanan ataupun sebuah aktivitas. Beliau juga mengerti klo saya masih butuh banyak training dan beliau juga memahami klo saya nantinya masih banyak terdapat kekurangan dalam menemani perjalanan-perjalanan mereka. Catatan ini mungkin juga bermanfaat buat teman-teman semua yang ingin menjadi guide dan untuk menetapkan rate disaat anda diminta menjadi guide. Mungkin anda bisa memberikan tawaran kepada mereka seperti yang Fred sampaikan kepada saya sewaktu kami berdiskusi di Jogja untuk membayar fee saya untuk perharinya selama menemani mereka. Lokasi dan tujuan kunjungan bisa dirubah berdasarkan agenda tamu yang akan kalian temani. Berikut adalah catatannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What's in it for me? (for visitor)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Added value o the guide&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To easily (re-)find and visit mother Toet's  places, that we want to see in Solo and Semarang.&lt;br /&gt;*Make sure beforehand that the  driver knows the places and where to find these, or has figured out in advance.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To really get to know the country and it's people; to be led to the real authentic places, instead of doing the standard tourist routine. E.g. if we want to go to an Gamalan performance, we prefer to see one where the locals go.&lt;br /&gt;*To be aware of what this group of travelers would really like.&lt;br /&gt;*To have a general vision on what it is, that make tourists feel they are experiencing the authentic country, culture and people (e.g. Indonesia still being seen as the land of Carbau and ricefield).&lt;br /&gt;*Avoid this becoming a 'performance by locals'.&lt;br /&gt;*To inform yourself in advance for each location, what of such options it might offer.&lt;br /&gt;*Be aware that authentic for ladies often also means 'finding the real nice shop or market and purchases', men might be more interested in sports, armies, politics &amp;amp; history, etc. (Although Fred might like to fine some good quality Java cigars). Both might like experiencing 'how the locals live', in the city and on the countryside. If you get them invited for a Tubruk and a chat: fine.&lt;br /&gt;*To explain options just before arrival, so Fred &amp;amp; ladies can choose and make a plan with you.&lt;br /&gt;*To find out more, once on location.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To be protected against locals trying to sell us things or services against our will.&lt;br /&gt;*To be always at the place where this I likely to happen (front of group),&lt;br /&gt;*To be constantly aware of such locals in the immediate surrounding.&lt;br /&gt;*To be very visible, so such locals will be reluctant to approach the group.&lt;br /&gt;*To inform the group beforehand when entering such an area, e.g. a 'museum' shop and to brief them what to do and what not to do&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To avoid loss of our time by having to search or by having to wait when a time has been agreed.&lt;br /&gt;*Make sure that any information has been gathered before you need it.&lt;br /&gt;*Watch the time, it is always better to be earlier then later (as long as you have the politeness not to intrude on other activities the group might be doing and have the patience to wait for them at a decent distance, so they will not feel rushed).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To organize the things that need to be organized with the driver or car.&lt;br /&gt;*Plan ahead, be pro-active.&lt;br /&gt;*Convince yourself that the driver is doing that as well.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To be able to communicate to locals, where we want to.&lt;br /&gt;*Be alert of where this need arises, or where it could provide a good opportunity for authentic contact.&lt;br /&gt;*Be the middleman and translator.&lt;br /&gt;*Be aware that communication is not only verbal, each culture has different meanings for hand movements, for somefacial expressions, etc.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To go home with nice photographs.&lt;br /&gt;*Be attentive when people want to make photograph.&lt;br /&gt;*Help them especially when you notice they appreciate being on the photograph with the whole group.&lt;br /&gt;*Perhaps even, let them look by themselves while you are making some professional photographs.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To have confidence in guide, he should appear skilled and professional.&lt;br /&gt;*Show self certainty and decisiveness, this is a lot easier when well prepared.&lt;br /&gt;Avoid having to ask others for information (a guide is supposed to know everything). If you really have to, avoid that your group will see it.&lt;br /&gt;*Keep a bit at some distance, while not becoming impersonal (being personal is one of the great Indonesian habits, but it can be too much for some people; always be sensitive to that).&lt;br /&gt;*Read about other cultures so you get to know their habits, (and if possible: travel yourself).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To avoid going where we should not want to be going (unsafe places, or unsafe places after dark).&lt;br /&gt;*To be well-informed about such places and times.&lt;br /&gt;*To take steps if the group seems to be going there.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To relief people of the care for their luggage.&lt;br /&gt;*To assist in loading &amp;amp; unloading luggage, where necessary in getting it to rooms.&lt;br /&gt;*To keep an eye on the luggage, at all times when this is potentially exposed. Or ensure the driver does that.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To keep together the party, making sure no-one stays behind or gets lost.&lt;br /&gt;*To look back over shoulder while guiding, to constantly make sure that everybody is still there and to be able to wait if some-one gets distracted.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To help prevent undesired things, that the tourist may not be aware off.&lt;br /&gt;*E.g., tell him how to cross street, with left-driving traffic, how to be careful with the insects, never walk barefooted outside, or at night in his bedroom (scorpions), or any other danger you as a locals knows of.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To help in cases of emergency or with other unexpected challenges.&lt;br /&gt;*Be aware where to find a doctor rapidly, or how to get a patient quickly to the right hospital.&lt;br /&gt;*Other events, e.g. need medicine, car braking down, road accident, hotel overbooked, flight cancelled.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note: In the end, if you are serious about your ambition to make money out of the tourist industry next to your main job, you should perhaps focus on your unique combination of skills: forestry, photography &amp;amp; documentary making, language skill, being in a network of ecological people, being close to ecological projects or etc.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Nah, itulah kurang lebih hasil training kilat saya dengan Fred disuasana pagi yang cerah di sebuah Hotel di Jogja. Semoga catatan-catatan yang kami bikin ini bisa menjadi referensi teman-teman semua ketika akan melakukan perjalanan yang berhubungan dengan guiding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut nama-nama hotel tempat kita menginap ketika mengunjungi beberapa kota:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yogyakarta&lt;br /&gt;Dusun Jogja Village Inn&lt;br /&gt;Jl. Menukan 5, karankajen, Yogyakarta&lt;br /&gt;Tlp 0274-373031&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Solo/Surakarta&lt;br /&gt;Lor'in&lt;br /&gt;Jl Adisucipto 47, Solo&lt;br /&gt;Tlp 0271-724500&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tawangmangu&lt;br /&gt;Hotel Komajaya Komaratih&lt;br /&gt;Jln Raya Lawu&lt;br /&gt;Tlp 0271-697125&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Semarang&lt;br /&gt;Metro Hotel&lt;br /&gt;Jln Haji Agnus Salim 2-4, Semarang&lt;br /&gt;Tlp 0243-547371&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Surabaya&lt;br /&gt;Equator Hotel&lt;br /&gt;Jln Pakis Argosari 47, Surabaya (Depan Sangrila Hotel, Jalan Mayjen Sungkono)&lt;br /&gt;Tlp 0315-687170&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Probolinggo (Bromo)&lt;br /&gt;Java Banana Bromo Hotel&lt;br /&gt;Jln Raya Bromo/Wonotoro, Sakapura&lt;br /&gt;Tlp 0335-541193&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah selama perjalanan selama 10 hari tersebut perjalanan kami lancar. Perjalanan dimulai dari Yogyakarta (3 malam di Yogyakarta)-Solo (2 malam)-Tawangmangu (1 malam)-Semarang (1 malam)-Surabaya (1 malam)-Probolinggo (1 malam)-Surabaya (1 malam). Tujuan mereka untuk melihat tempat ibunya lahir, bekerja dan juga tempat mereka lahir berhasil kami temui. Catatan lokasi-lokasi yang mereka bawa dari Belanda berdasarkan cerita ibunya berhasil kami temui. Mereka sekeluarga sangat senang bisa menemukan dan melihat tanah kelahiran ibunya dan tanah kelahiran mereka. Banyak pengalaman yang mereka dapatkan. Dan tentu saja lebih banyak lagi pengalaman yang saya dapatkan. Terima kasih kepada semua rekan yang membantu mulai dari persiapan sampai dengan berakhirnya perjalanan saya membawa tamu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Special thanks to Rita Mustika Sari for recomedate person-nya, Suci Ramadhanny atas persetujuaannya tidak lebaran bareng, Guntur Kuriawan (Yogyakarta) atas penujuk jalan di Yogyakarta, Annas R Syarif dan Joko Tool ketika berada di Solo, Mas Supri atas good driver-nya, Amelia Marihesya "Echa" atas penunjuk jalan di Surabaya dan rekomendasi restauran korea, Mas Arif (Luamajang) dan Hari Kikuk (Bogor) atas penunjuk jalan di Probolinggo, Ramadian Bachtiar (Bogor) untuk teman berdiskusi dan sharing, Willis Juharini (Bogor) atas masukan dan rekomendasi kendaraan. Dan semua rekan yang tidak bisa disebutkan satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Special thanks also fo Fred and family.&lt;br /&gt;Thanks for trust me for guide you all. Thanks Bapak.&lt;br /&gt;I have new family in Holland now :)&lt;br /&gt;Hope someday I can go to Holland and meet you there. Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SuCFe2hRh0I/AAAAAAAAAZY/zVD2bvmF4KI/s1600-h/Together.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 244px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SuCFe2hRh0I/AAAAAAAAAZY/zVD2bvmF4KI/s400/Together.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395459118667499330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Another fotos can see this &lt;a href="http://www.facebook.com/inbox/?ref=mb#/album.php?aid=109265&amp;amp;id=593394569"&gt;link&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-944046188884019694?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/944046188884019694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/10/tour-java-and-first-guiding.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/944046188884019694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/944046188884019694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/10/tour-java-and-first-guiding.html' title='Tour Java and First Guiding'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SuCFe2hRh0I/AAAAAAAAAZY/zVD2bvmF4KI/s72-c/Together.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-5844404217135485938</id><published>2009-08-24T10:58:00.004+07:00</published><updated>2009-10-28T07:04:30.127+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wisata kuliner'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Batam'/><title type='text'>WELCOME TO BATAM ISLAND</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Karena cukup disibukkan dengan sebuah kegiatan bersama teman-teman komunitas di Bogor, akhirnya baru hari ini saya bisa mengupdate blog ini. Perjalanan saya beberapa minggu lalu yaitu ke sebuah pulau yang diwaktu saya kecil saya selalu bertanya-tanya “knapa sih orang-orang yang lulus sekolah disini (Arga Makmur-red) pada pergi ke Batam?. Ada apa disana?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang sudah berpuluh-puluh tahun terpendam dihati saya bisa saya temukan jawaban beberapa minggu yang lalu ketika saya terbang ke Batam dan tinggal di Batam dan sekitarnya selama empat hari. Berikut ini sedikit catatan saya mengenai perjalanan ke Batam Island.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SpIQRxJdvhI/AAAAAAAAAYg/KWx81QXwPCI/s1600-h/IMG_0098.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SpIQRxJdvhI/AAAAAAAAAYg/KWx81QXwPCI/s400/IMG_0098.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373375202843278866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Batam awalnya dibangun untuk menyaingi Negara Singapura. Negara yang penuh industri dan geliat ekonomi yang cukup cepat. Selain  itu juga Batam dibangun untuk menjadi tempat transit atau tempat wisata orang-orang Singapura dan negara lainnya. Jadi tidak heran jika anda tiba di Batam yang banyak anda temukan adalah kawasan industri dan tempat-tempat wisata plus tempat shooping. Dengan struktur jalan yang lebar dan mulus, Batam memang ingin menunjukkan klo Batam adalah suatu daerah yang sudah maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batam sekarang masuk kedalam Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Dulunya Batam dikelola secara khusus melalui Otorita Batam. Hampir mirip dengan negara sendiri. Semua yang ada di Batam dikuasai oleh Otorita Batam. Tapi sejak adanya reformasi, Otorita Batam dihilangkan dan menjadi Badan Pengelolaan Kawasan Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa hari di Batam saya mengunjungi beberapa tempat di Batam dan sekitarnya. Tempat-tempat yang saya kunjungi adalah beberapa pelabuhan dan tempat wisata. Karena banyak sekali pintu masuk maupun keluar dari Batam, terutama dijalur laut, maka Batam bisa dikatakan Kota yang paling banyak pintu perlintasan internasionalnya. Beberapa pelabuhan yang saya kunjungi adalah Pelabuhan Harbour Bay, Pelabuhan Batam Centre, Pelabuhan Batam Centre, Pelabuhan Sekupang, Pelabuhan Telaga Pungkur, Pelabuhan Sri Bintan (Tanjung Pinang), Pelabuhan Tanjung Uban dan Pelabuhan di Lagoi. Selain pelabuhan saya juga sempat mengelilingi kota Batam dan melihat icon Batam yaitu Jembatan Barelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Pelabuhan Sri Bintan, Pelabuhan Tanjung Uban dan Lagoi lokasinya berbeda pulau dengan Pulau Batam. Jadi kita musti naik speed (kapal cepat) untuk menuju kesana. Dengan tarif Rp 40.000 dan lama perjalanan sekitar 45 menit kita akan tiba di Tanjung Pinang. Dari Tanjung Pinang ke Tanjung Uban kita juga harus kembali naik speed. Dari Tanjung Uban ke Lagoi, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan jalur darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiba di Lagoi, pemandangan akan sangat berbeda sekali. Lagoi adalah sebuah tempat wisata yang desainnya sangat sempurna. Kawasan wisata bertaraf internasional ini sudah dibangun sejak tahun 1994 dengan luas sekitar 20.000 ha. Kawasan ini dibangun sebagai perwujudan kerjasama ekonomi pertama antara Indonesia-Singapura. Lagoi mempunyai beberapa resort yang loakasinya terpisah antara resort yang satu dengan resort lainnya. Disetiap resort juga terdapat lapangan golf. Pelabuhan di Lagoi juga cukup ramai, setiap 15 menit sekali kapal ferry Lagoi-Singapura datang dan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SpIQjSktGXI/AAAAAAAAAYo/8NtQFBBQkrE/s1600-h/IMG_0135.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SpIQjSktGXI/AAAAAAAAAYo/8NtQFBBQkrE/s400/IMG_0135.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373375503873677682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah mengelilingi beberapa tempat di Batam, saya kembali ke Batam dan mencari penginapan di salah satu pusat kota Batam yaitu di daerah Nagoya. Cukup lelah juga selama tiga hari muter-muter dan bertemu beberapa orang. Sambil merebahkan tubuh saya kembali teringat akan Lagoi. Kapan ya saya bisa menginap disana dan menikmati salah satu tempat favorit orang-orang Singapura. Kita orang Indonesia kok ngga bisa menikmati keindahan alam dan fasilitas yang ada di Indonesia. Terbesit sebuah pertanyaan didalam benak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh daripada saya terus bermimpi dan menghayal akhirnya saya keluar dari hotel pada malam harinya dan mencari tempat yang asyik untuk nongkrong dan makan. Tak jauh dari penginapan saya menemukan sebuah warung tenda yang cukup nyaman dan enak makanannya. Nama tempatnya adalah Lagoon BBQ and Seafood. Lokasinya pas didepan Nagoya Hill, sebuah mall dan tempat shooping terbesar di Nagoya. Mereka memajang ikan-ikan segar diatas sebuah replika kapal nelayan. Kita dipersilahkan memilih ikannya dan akan dimasak seperti apa. Setelah memilih ikan kita juga dipersilahkan memilih sayurannya. Jelas saya sangat semangat memilih sayur yang terpajang dengan rapi disebelah pajangan ikan ditempat yang berbeda. Dibeberapa deretan sayur tersebut terdapat tumpukan terong panjang berwarna ungu. “Saya minta ini saja sayurnya” jelasku sambil menunjuk kangkung dan terong. Setelah sekitar 20 menunggu, mereka menyajikan sebuah ikan bakar (ikan telunjuk), cah kangkung dan terong goreng sambal terasi. Nafsu makan saya bertambah beberapa kali lipat disaat menikmati masakan yang disajikan. Yaaa mungkin makannya dulu yang baru bisa saya nikmati selama di Batam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-5844404217135485938?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/5844404217135485938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/08/welcome-to-batam-island.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/5844404217135485938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/5844404217135485938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/08/welcome-to-batam-island.html' title='WELCOME TO BATAM ISLAND'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SpIQRxJdvhI/AAAAAAAAAYg/KWx81QXwPCI/s72-c/IMG_0098.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-7689952021325754659</id><published>2009-06-30T22:43:00.002+07:00</published><updated>2009-06-30T22:46:42.507+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arga Makmur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bersepeda'/><title type='text'>Indahnya Kampung Halaman</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Beberapa minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman saya. Sebuah kota kecil yang memang selalu saya rindukan. Rindu untuk menemui orang tua dan sanak family. Keluarga besar saya semuanya ada disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota kecil itu adalah Arga Makmur. Dibagian utara Provinsi Bengkulu, sekitar 1 jam perjalanan jika menggunakan kedaraan roda empat ataupun sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepulangan saya kali agak sedikit berbeda. Selain momentnya memang sangat spesial yaitu menghadiri pernikahan adik saya yang perempuan. Saya juga membawa sepeda lipat saya kesana. Kebetulan saya membawa kendaraan sendiri dari Bogor bersama kakak saya dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat untuk mengulang dan mengenang masa kecil dulu yaitu bersepeda mengelilingi kota kecil ini memang sudah muncul dari beberapa tahun yang lalu. Tapi memang waktunya belum pas dan kesempatannya belum ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kecil, mungkin saat itu klo tidak salah masih sekolah TK dan sekolah dasar kelas 1 saya suka sekali bersepeda. Saya dibelikan sebuah sepeda oleh orang tua saya. Sepeda berwarna biru tua dengan roda yang terbuat dari karet padu (tidak memakai ban dalam/angin). Rodanya berwarna putih. Gir dan rantai (pedal) sepedanya tidak bisa dihentikan klo sepedanya sedang jalan, karena memang memakai gir mati. Jadi sangat merepotkan jika menuruni turunan. Kaki harus diangkat karena pedalnya terus berputar mengikuti roda. Jika laju sepeda semakin kencang, semakin cepat juga pedal itu berputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diwaktu kecil saya tidak terlalu peduli dan mengamati ada apa saja di sepanjang jalan disaat saya menaiki sepeda itu. Yang ada saya hanya riang gembira menggoes sepedanya dan keliling kota. Pernah beberapa kali saya jatuh dari sepeda. Sampai sekarangpun masih ada bekas luka karena jatuh dari sepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tubuh saya sudah mulai membesar, saya tidak bisa lagi menaiki sepeda kecil itu. Klo tidak salah ingat sepeda itu diberikan kepada sepupu saya yang lebih kecil. Saya dibelikan sepeda yang ukurannya lebih besar. Sebuah sepeda berwarna merah bermerk “Mustang”. Masa sekolah SMP, saya selalu menggunakan sepeda itu kesekolah. Membuat saya selalu berkeringat setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Skoy4fSX7VI/AAAAAAAAAYQ/kQg2paFu0N0/s1600-h/Sepeda-di-kemumu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Skoy4fSX7VI/AAAAAAAAAYQ/kQg2paFu0N0/s400/Sepeda-di-kemumu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353147053135883602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Keinginan saya untuk merasakan kembali bagaimana rasanya bersepeda di kota kecil kota kelahiran saya ini bisa rasakan beberapa minggu yang lalu. Setelah istirahat satu hari dirumah dan bertemu keluarga, keesokan harinya pada sore hari saya mengambil seli saya dan menggoesnya keliling kota. Jalur yang saya ambil adalah dari rumah yaitu Jalan Padat Karya – Perempatan Fatwati – Kantor Pos Arga Makmur – Telkom – Bundaran – Kemumu. Dari rumah menuju Kemumu kurang lebih menghabiskan waktu satu jam. Tapi pulangnya tidak sampai 7 menit, karena jalannya selalu menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa nikmat dan indahnya bersepeda sore itu. Sore yang cerah dan membuat seluruh tubuh berkeringat. Menikmati kesejukkan udaranya yang masih segar, tidak bising dan damai. Sepanjang jalan orang-orang melihat saya yang bersepeda, membuat saya bertanya-tanya. Apa yang salah? Kok semua pada ngeliatin. Kadang juga membuat saya ke Ge Er-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menyangka ternyata bersepeda di Arga Makmur sangat mengasyikkan. Apalagi disaat kita sudah memasuki daerah Tebing Kaning sampai ke Kemumu. Kita bisa menikmati indahnya areal persawahan penduduk dan sejuknya udara Kemumu. Sepanjang jalan diiringi gemerincik suara air irigasi yang ada disepanjang jalan Kemumu. Disaat menuju ke Kemumu di depan kita juga terdapat sebuah hamparan gunung yang sering disebut bukit barisan yang mengelilingi Kota Arga Makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda sekali rasanya bersepeda disaat kecil dan bersepada sekarang ini. Dulu saya tidak peduli dan tidak tahu apa potensi tanah kelahiran saya ini. Saya menganggap biasa-biasa saja semuanya. Tapi sekarang setelah saya banyak berpergian ke berbagai daerah di nusantara ini dan pernah beberapa kali keluar Indonesia, saya bisa merasakan tanah kelahiran saya juga mempunyai potensi dan kota yang sangat cantik. Sayang saya hanya bisa menikmati selama 3 hari bersepeda disana, setiap pagi dan sore harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun keindahan ini sepertinya secara perlahan akan sama nasibnya dibeberapa kota lainnya yang ada di Indonesia. Lumbung-lumbung padi atau sawah-sawah produktif secara perlahan akan hilang digantikan oleh bangunan-bangunan perumahan dan pemukiman. Sewaktu saya kecil kawasan kemumu seluruhnya adalah areal persawahan. Hamparan tanaman padi menutupi kawasan ini. Namun sekarang, sudah ada beberapa bangunan rumah dan pemukiman. Persawahan ditimbun oleh tanah-tanah merah. Jika pemerintah daerah tidak sigap menanggapi perubahan ini bukan tidak mungkin lahan-lahan sawah produktif disana akan hilang. Keindahan yang saya rasakan sewaktu kecil sampai dengan saat ini nantinya tidak akan bisa dirasakan lagi oleh saya disaat saya sudah berumur 40-an dan mungkin juga anak cucu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya pemerintah daerah mulai peka terhadap perubahan bentang alam yang akan terjadi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Perlu dibuatnya tata kota yang bagus dan terkonsep secara baik. Jangan biarkan kawasan hijau dan lahan-lahan persawahan produktif ini hilang akibat dari bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya pendapatan masyarakat ataupun berubahnya gaya hidup (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;life style&lt;/span&gt;) orang-orang yang ada di Arga Makmur. Jalur Gunung Selan sampai dengan Kemumu sangat bagus sekali jika dibuat jalut hijau dan jalur wisata. Dibuatnya jalur-jalur untuk pejalan kaki ataupun bersepeda bukan tidak mungkin akan membuat daya tarik tersendiri bagi kota ini. Perlu penataan terhadap bangunan-bangunan yang akan menggusur areal persawahan yang ada di Kemumu dan mempercantik tampilan aliran-aliran irigasi yang sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya ini tergantung kepada pemerintahan yang ada. Apakah pemerintah Kota Arga Makmur cukup cerdas berfikir dan bersikap. Mampu melihat peluang dan ancaman yang akan terjadi kedepan. Jika ingin mendapatkan inspirasi... bersepedalah setiap hari...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-7689952021325754659?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/7689952021325754659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/06/indahnya-kampung-halaman.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/7689952021325754659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/7689952021325754659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/06/indahnya-kampung-halaman.html' title='Indahnya Kampung Halaman'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Skoy4fSX7VI/AAAAAAAAAYQ/kQg2paFu0N0/s72-c/Sepeda-di-kemumu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-3065528610284444087</id><published>2009-06-08T22:42:00.001+07:00</published><updated>2009-06-08T22:48:35.143+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kasepuhan'/><title type='text'>Berkunjung ke Kasepuhan Cipta Mulya</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiga hari yang lalu saya dan dua orang teman melakukan perjalanan ke Kasepuhan Cipta Mulya, Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Kami mengunjungi kampung ini untuk melihat peralatan musik tradisional yang mereka miliki dari dulu sampai dengan sekarang. Karena saya kurang memahami dan mendalami tentang dunia permusikan tadisional, akhirnya saya hanya mendokumentasikan saja. Plus jalan-jalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Cipta Mulya terdapat sekitar 60 KK, dimana sekarang ini dipimpin oleh seorang abah yaitu Abah Uum. Nama Lengkap beliau Uum Sukma Wijaya. Beliau memimpin kampung ini sejak tahun 2002. Setelah abah sebelumnya (adik abah Uum) meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Cipta Mulya tidak berbeda jauh dengan kampung kasepuhan lainnya yang ada di Sukabumi dan Banten. Bentuk rumah penduduk yang terbuat dari kayu berdindingkan bambu, beratap ijuk. Terdapat rumah besar tempat tinggal Abah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Imah Gede&lt;/span&gt;), dan juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Leuit&lt;/span&gt; atau tempat penyimpanan gabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercerita tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;leuit&lt;/span&gt; dan gabah, masyarakat adat kasepuhan mempunyai budaya yang sangat unik dan menurut saya sungguh bijaksana. Padi bagi masyarakat kasepuhan adalah sebuah tanaman yang sangat di agungkan. Hampir seluruh masyarakat adat kasepuhan menanam padi di lahannya, baik padi persawahan maupun padi darat. Hasil-hasil panen mereka simpan di sebuah lumbung yang disebut dengan leuit. Padi hasil panen tidak pernah mereka jual kecuali jika memang hasil panennya sangat banyak dan berlebih. Namun, jika padi ini sudah menjadi beras masyarakat adat kasepuhan dilarang menjual beras, menjual nasi ataupun makanan yang terbuat dari beras. Mereka percaya jika mereka menjual beras ataupun nasi, nantinya mereka akan terkena musibah. Saya sangat mengagumi budaya ini. Mereka kaya akan beras, mungkin juga nama lainnya adalah swasembada beras, tapi mereka tidak pernah mau menjualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Si0yTdtAyQI/AAAAAAAAAYI/jzAmJhuIJ_Y/s1600-h/DSC_8264.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 266px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Si0yTdtAyQI/AAAAAAAAAYI/jzAmJhuIJ_Y/s400/DSC_8264.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344983642730973442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Untuk menumbuk padi menjadi beras, mereka juga melakukannya secara tradisional. Menumbuk dengan menggunakan lesung. Jika ada acara-acara tertentu para wanita secara beramai-ramai menumbuk padi dilesung yang panjang. Terdengar bunyi lesung yang berirama dan harmonis. Suasana pagi saat itu masih terasa sangat dingin. Saya langsung mencari sumber bunyi yang sangat mengagumkan. Setelah saya menemui dimana lokasinya, tenyata para ibu-ibu tersebut sedang beramai-ramai menumbuk padi untuk acara pernikahan salah satu warganya. Sungguh damai dan indah kampung ini. Hidup harmonis bersama alam dan kebersamaan yang tetap terjalin dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat saya memasuki&lt;span style="font-style: italic;"&gt; imah gede&lt;/span&gt;, saya melihat para ibu-ibu lainnya sedang ramai di dapur. Dengan senda gurau meraka memasak beberapa jenis makanan untuk sebuah acara nanti malam. Acara disetiap bulan purnama. Malam hiburan dan pentas seni budaya. Dalam hati saya hanya berdecak kagum. Sungguh beruntung mereka tinggal dan hidup di kampung ini. Damai dan tentram. Jauh dari hiruk pikuk orang-orang yang selalu sibuk dengan dirinya masing-masing. Sikut-sikutan dalam dalam persaingan pekerjaan mereka. Jauh dari ramainya orang bicara tentang caleg dan kampanye pemilihan presiden. Seolah-olah mereka tidak peduli siapa presidennya. Yang penting kedamaian dan ketentraman yang ada di kampung mereka tidak terusik. Kekayaan alam dan berlimpahnya hasil panen padi mereka tidak terganggu. Setiap tahun mereka tetap bisa merayakan kebahagiaan hasil panen mereka. Merayakan serean taun. Pesta untuk ucapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas berkat dan rahmad yang diberikan kepada mereka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang jika melihat ketentraman seperti ini, ingin rasanya saya tinggal disini atau disebuah kampung dimana saya bisa merasakan juga betapa damainya tinggal disebuah kampung yang kaya akan sumberdaya alam. Hidup dengan penuh rasa kebersamaan. Jauh dari gangguan orang-orang yang serakah dan selalu mementingkan dirinya sendiri. Tapi apa hendak dikata. Setiap saya membuka mata dipagi hari, saya harus menjalankan garis kehidupan yang sudah ada yang sampai sekarang saya belum mampu membuat garis kehidupan yang baru. Bahkan membayangkan garis-garis baru saja saya belum mampu....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-3065528610284444087?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/3065528610284444087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/06/berkunjung-ke-kasepuhan-cipta-mulya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/3065528610284444087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/3065528610284444087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/06/berkunjung-ke-kasepuhan-cipta-mulya.html' title='Berkunjung ke Kasepuhan Cipta Mulya'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Si0yTdtAyQI/AAAAAAAAAYI/jzAmJhuIJ_Y/s72-c/DSC_8264.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-5763677126537759756</id><published>2009-05-27T09:03:00.007+07:00</published><updated>2009-05-27T09:34:03.674+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bagansiapiapi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riau'/><title type='text'>Sendiri Menyelamatkan Penyu di Pulau Terluar</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Beberapa minggu yang lalu saya berangkat ke Bagansiapiapi, Riau untuk menemui seseorang yang katanya berhasil menyelamatkan populasi penyu hijau (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Chelonia mydas&lt;/span&gt;) di sebuah pulau terluar yaitu Pulau Jemur. Pulau yang berada di Selat Malaka, perbatasan antara Malaysia dan Indonesia. Awalnya dari Bogor saya hanya membaca sebuah profil singkat yang saya terima. Saya belum bisa membayangkan seperti apa bentuk orangnya dan bagaimana orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiba di Riau, kami langsung dijemput oleh sebuah mobil yang memang sudah dipesan untuk langsung membawa kami menuju Bagansiapiapi. Perjalanan menuju Bagansiapiapi sekitar 5-6 jam. Cukup melelahkan memang berjam jam berada didalam mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berangkatnya agak telat, kami tiba di Bagansiapiapi pada waktu malam hari yaitu sekitar pukul 20.00 WIB. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi disaat tiba di Bagansiapapi kecuali mencari penginapan, mandi, makan malam dan langsung tidur karena badan lumayan pegel-pegel setelah beberapa jam berada didalam mobil dan subuh-subuh berangkat ke badara dari Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah jalan-jalan pagi mengelilingi kota bagan dan melihat klenteng tua yang berada ditengah kota bagan, saya dan dua orang teman menemui seseorang yang memang sudah tujuan kami untuk datang ke kota ini. Cerita berikut ini adalah hasil rangkuman dari catatan saya setelah saya memberikan beberapa pertanyan kepada beliau. Semoga bisa menjadi sebuah inspirasi bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Awalnya Hanya Penasaran Ingin Lihat Induk Penyu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Shyf74txaII/AAAAAAAAAXw/ZVODfaJvhNo/s1600-h/DSC_7140.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 266px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Shyf74txaII/AAAAAAAAAXw/ZVODfaJvhNo/s400/DSC_7140.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340319109340031106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sopyan Hadi (34), seorang laki-laki kelahiran Riau ini adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Perindustrian dan Perdagangan di Kabupaten Rokan Hilir. Tak disangka pria yang berpenampilan sederhana ini adalah seseorang yang sudah berhasil menyelamatkan populasi penyu hijau di Pulau Jemur. Setelah banyak mendengar cerita dari beliau ini saya langsung geleng-geleng kepala dan takjub terhadap apa yang sudah dilakukannya untuk melakukan penyelamatan penyu hijau di pulau tersebut. Seorang PNS yang dulunya bekerja di BAPEDA ini masih punya kepedulian terhadap kelestarian alam dan satwa yang terancam punah yang ada di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Awalnya saya hanya ingin melihat seperti apa bentuknya induk penyu. Karena dari dulu penyu ini memang sudah menjadi bahan eksploitasi. Pada saat zaman kerajaan dulu, penyu dan telur penyu itu adalah upeti untuk para raja dan pejabatnya. Nah, sampai dengan sekarang penyu dan telur penyu itu masih diambil dan diperjualbelikan oleh orang-orang yang ada disini. Coba bayangkan bagaimana ngga berkurang dan mungkin habis penyu disini. Dari dulu telur dan induknya diambil terus. Siapa yang tidak sedih, jumlah penyu yang ada di Pulau Jemur saat itu sekitar 30 ekor&lt;/span&gt;” ceritanya disaat memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena rasa penasaran inilah akhirnya Pak Sopyan nekad berangkat sendirian ke Pulau Jemur. Dari Bagan menuju Pulau Jemur dibutuhkan waktu sekitar 7 jam dengan kapal nelayan. Untuk berangkat kesanapun harus melihat kondisi cuaca. Jika kondisi cuaca tidak baik atau angin kencang tidak ada satupun nelayan yang berani menuju kesana. Pulau Jemur sering juga disebut Pulau Arwah karena dulunya gugusan pulau ini adalah tempat pembantaian tahanan disaat perang pasifik. Maka tidak heran di Pulau Jemur ini terdapat bangunan benteng-benteng tua dan sumur-sumur tempat pembuangan mayat. Didalam lautnya juga terdapat kapal-kapal yang tenggelam akibat perang. Kabarnya disekitar pulau ini juga orang-orang yang berperang dulunya membuang senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan saat ini  di pulau tersebut tidak ada penduduk yang tinggal. Hanya ada pos navigasi (mercusuar) dan pos TNI Angkatan Laut. Dulu kabarnya memang banyak masyarakat yang tinggal di pulai ini. Tapi sejak ada isu ganyang malaysia dulunya, masyarakat disana dipindahkan dan di gugusan pulau tersebut menjadi kawasan militer dan pos TNI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/ShyhDODeoGI/AAAAAAAAAYA/pjBqtylwLns/s1600-h/tr_zonasi+jemur_12.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 281px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/ShyhDODeoGI/AAAAAAAAAYA/pjBqtylwLns/s400/tr_zonasi+jemur_12.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340320334838931554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Shygfn-4CoI/AAAAAAAAAX4/KBH-IxtUzO0/s1600-h/CIMG1940.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Shygfn-4CoI/AAAAAAAAAX4/KBH-IxtUzO0/s400/CIMG1940.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340319723323656834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gugusan Pulau Arwah ini terdapat beberapa pulau diantaranya; Pulau Jemur 28,494 ha, Pulau Pertandangan 0, 82 ha, Pulau Sarong Alang 10,365 ha, Pulau Tukong Emas 3,911 ha, Pulau Batu Adang 0,84 ha, Pulau Labuhan Bilik 7,801 ha, Pulau Batu Berlayar 0,238 ha, Pulau Batu Mandi 0,8 ha dan Pulau Tukong 0,30 ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Karena untuk melihat induk penyu naik ke darat hanya pada saat malam hari dan ingin bertelur. Saya harus sabar menunggu pada malam hari dan tinggal di pulau ini. Disaat pertama kali melihat induk penyu naik ke darat, saya kaget karena bentuknya besar sekali seperti raksasa. Saya langsung bersorak riang sendiri. Karena penyunya melihat saya, penyunya langsung balik lagi ke laut dan tidak jadi bertelur hahahaha.... Itu pejalaran  pertama saya. Klo ada penyu yang mau naik ke darat jangan berisik dan sembunyi&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai pada tahun 2002 Sopyan Hadi mulai mencari cara untuk melakukan penangkaran telur-telur penyu yang ada. Tidak mudah bagi Sopyan Hadi untuk bisa dekat dengan para nelayan dan TNI AL dimana mereka adalah  bagian dari oknum yang mengambil dan menjual telur penyu dan induk penyu hijau. Berbekal dengan perlengkapan yang ada di pulau tersebut Sopyan Hadi mencoba membuat penangkaran seadaanya. Mulai dari ember-ember bekas, kaleng cat bekas dan barang-barang yang sudah tidak berguna lagi beliau jadikan peralatan untuk penangkaran penyu. “Ketika sudah sampai di pulau, tidak mungkin saya kembali lagi ke Bagansiapiapi untuk menyiapkan peralatan dan segala macamnya, mendingan manfaatkan apa yang ada” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dengan alat yang sederhana dan uji coba penangkaran secara mandiri berhasil walaupun tidak maksimal. Sopyan Hadi mengajak beberapa nelayan dan anggota TNI AL untuk melihat tukik-tukik yang baru saja menetas. Banyaknya nelayan dan aparat TNI AL yang datang melihat, memegang serta memberi makan tukik-tukik tersebut, timbul rasa kepedulian mereka untuk menyelamatkan keberadaan penyu hijau di pulau tersebut. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mungkin mereka senang lihat tukik-tukik yang lucu-lucu, memberi makan tukik, sehingga mereka sadar apa yang mereka lakukan selama ini salah. Saya menyadarkan mereka melalui tukik itu. Bahwa telur-telur yang mereka ambil selama ini mengakibatkan tukik tidak bisa menetas dan penyu yang ada akan semakin berkurang. Lama sekali saya menyadarkan mereka. Saya tidak pernah banyak bicara, lakukan aja sendiri penangkaran. Trus ajak nelayan dan TNI ngobrol-ngobrol tentang penyu. Prosesnya lama, bertahun-tahun. Saya klo datang ke pulau itu, yang saya bawa adalah kopi, gula dan rokok untuk kumpul-kumpul dan ngariung&lt;/span&gt;” jelas Pak Sopyan kepada saya bagaimana dia melakukan pendekatan dengan nelayan dan aparat TNI AL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil dengan penangkaran metode sederhana, Sopyan Hadi terus mencoba beberapa metoda lainnya. Beliau mulai menjalin hubungan dengan Pemda Rokan Hilir, Universitas Riau (UNRI) dan beberapa pihak lainnya untuk membantu proses penangkaran. UNRI memberikan alat batu penangkaran dari&lt;span style="font-style: italic;"&gt; fiber glass&lt;/span&gt;. Pemda juga membantu beberapa peralatan. Gaung penyelamatan penyu hijau di Pulau Jemur pun semakin meluas. Beberapa tahun yang lalu Gubernur Provinsi Riau dan pejabat-pejabat dari Pemda datang ke pukau tersebut untuk melakukan pelepasan penyu yang sudah ditangkarkan. Upaya penyelamatan penyu di Pulau Jemur sudah sampai ke provinsi. Penyu hijau sekarang juga sudah menjadi icon daerah Bagansiapiapi. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya sudah cukup lega sekarang. Sudah ringan. Penyelamatan penyu yang saya lakukan sekarang sudah terdengar dimana-mana. Kerjanya sudah mulai tampak&lt;/span&gt;.” Perasaan lega dari Pak Sopyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2008 diperkirakan Pak Sopyan Hadi sudah melepaskan sekitar 20.000 ekor tukik ke pantai. Jumlah yang sangat besar dari inisiatif satu orang di sebuah pulau. Namun upaya penangkaran ini agar terus berkelanjutan memang membutuhkan bantuan dari pihak lain. Saat ini Pak Sopyan Hadi dengan segala keterbatasannya mengangkat 2 orang anak remaja yang putus sekolah untuk menjaga dan merawat penangkaran penyu yang ada di pulau tersebut. Pak Sopyan Hadi sampai dengan saat ini terpaksa menyisakan uang pendapatannya untuk dua orang yang diangkatnya untuk ditempatkan di Pulau Jemur. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Klo mau jujur pak ya, sekarang ini saya sudah punya keluarga. Berat saya harus membiayai dua orang itu dan membiayai terus menerus penangkaran penyu yang ada. Bantuan dari Pemda juga tidak rutin. Saya menyiasatinya ya dari tamu-tamu yang mau datang ke Pulau Jemur. Saya bilang klo mau menyisakan uang untuk mereka dan penangkaran ya silahkan. Seharusnya ini menjadi kewajiban pemerintah atau BKSDA. Tapi ya beginilah, sampai sekarang tidak ada pemerintah yang mau turun langsung untuk menyelamatkan penyu itu. Karena saya sudah terlanjur cinta terhadap penyu tersebut, yaa saya aja yang bertindak. Bersedekah untuk alam dan lingkungan. Lakukan semampu saya dan apa yang saya bisa lakukan untuk menyelamatkan penyu yang ada di Pulau Jemur&lt;/span&gt;” Keluh beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan  Pak Sopyan Hadi memang membuat saya terkagum-kagum. Senang sekali bisa bertemu orang hebat seperti beliau. Tak banyak orang seperti beliau. Seandainya di beberapa pulau di Indonesia ini ada orang seperti beliau mungkin negara kita ini bisa dijadikan negara sejuta penyu. Dimana-mana ada tukik yang lucu. Ada penyu yang lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mimpi dan harapan saya, semoga saya diberi umur panjang. 30 tahun lagi saya bisa kembali ke Pulau Jemur dan bisa melihat 30 ribu ekor penyu yang saya lepaskan balik ke Pulau Jemur untuk bertelur. Karena penyu hijau baru bisa bertelur sekitar umur 3o an tahun. Penyu akan ingat dimana tempat pertama kali ia dilepaskan. Pasti dia akan kembali...&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga mimpi dan harapannya bisa terwujud pak. Semoga nanti saya juga bisa datang ke Pulau Jemur. Amien...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-5763677126537759756?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/5763677126537759756/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/05/sendiri-menyelamatkan-penyu-di-pulau.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/5763677126537759756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/5763677126537759756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/05/sendiri-menyelamatkan-penyu-di-pulau.html' title='Sendiri Menyelamatkan Penyu di Pulau Terluar'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Shyf74txaII/AAAAAAAAAXw/ZVODfaJvhNo/s72-c/DSC_7140.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-7934728301345310995</id><published>2009-05-11T20:16:00.013+07:00</published><updated>2009-05-11T23:30:03.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelapa sawit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Danau Sentarum'/><title type='text'>Danau Sentarum dan Perbatasan Serawak</title><content type='html'>&lt;a style="" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SggqQU6zWMI/AAAAAAAAAXY/ZEsLV73czhg/s1600-h/3232_1166910452695_1225948648_30462883_1114877_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 247px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SggqQU6zWMI/AAAAAAAAAXY/ZEsLV73czhg/s320/3232_1166910452695_1225948648_30462883_1114877_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334560218601969858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah dua hari berada di Sui Utik (26-28/04) melihat dan mendokumetasikan sidang masyarakat adat dayak Se-Jalai Lintang saya melanjutkan perjalanan ke Lanjak, Badau (Perbatasan Serawak dengan Kalbar) dan Danau Sentarum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berada di Sui Utik untuk yang ketiga kalinya, hati saya sangat bahagia karena bisa berkunjung lagi ke kampung yang sangat saya kagumi dan yang selalu saya rindukan. Ternyata orang-orang yang tinggal di rumah panjang (rumah betang) masih ingat akan diriku. Mereka datang menghampiri dan menanyakan kabar. Sudah menikah apa belum dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Ahh.. mungkin hampir dua tahun lebih terakhir saya datang kesini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai sidang adat, malamnya kami kumpul bersama-sama, maen musik tradisional (alat musiknya nggerumo, gendang, tawak-tawak dan bebendai) sambil menari khas dayak. Mereka berdiri dan maju, trus menari secara bergantian. Kami hanya menonton, sesekali bertepuk tangan sambil menikmati tuak yang dituangkan digelas kami. Betapa indahnya malam itu. Berkumpul diteras rumah panjang yang panjangnya sekitar 180 m dengan penuh canda tawa dan tukar cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melepas rindu di Sui Utik, saya dan beberapa teman menikmati tuak yang dibuat oleh mereka. Setelah beberapa jam bernyanyi dan menari saya sudah tidak sadar diri. Ketika sadar pada pagi harinya, saya ternyata dengan beberapa teman tertidur di teras tersebut.&lt;br /&gt;Pada tanggal 29 Mei 2009, saya melanjutkan perjalanan ke Lanjak. Sekitar 2 jam dari Sui Utik. Disana saya juga mencoba mendokumentasikan pertemuan tahunan masyarakat sekitar  danau sentarum. Pertemuan tahunan ini dilakukan untuk membahas apa dan bagaimana perkembangan masyarakat yang ada di danau sentarum. Tema dari pertemuan tahunan yang ke empat ini adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;“Menuju Danau Sentarum Impian 2014”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antara Mimpi dan Kenyataan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selama dua hari acara pertemuan tahunan masyarakat danau sentarum, banyak sekali harapan-harapan dan mimpi mereka terhadap keberadaan danau sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu. Mereka berharap potensi-potensi yang ada di danau seperti ikan, madu dan keindahan yang dimiliki oleh danau sentarum bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Bisa menyekolahkan anak-anak mereka dan bisa menikmati potensi yang ada di danau sentarum tanpa merusak ekosistem yang ada di Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Sggm_raLLNI/AAAAAAAAAXA/hgtrtKRg3E8/s1600-h/konversi-lahan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 268px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Sggm_raLLNI/AAAAAAAAAXA/hgtrtKRg3E8/s400/konversi-lahan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334556634046475474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Namun, dalam beberapa tahun terakhir masyarakat di sekitar danau sentarum mulai resah. Khawatir dan bingung. Puluhan izin pembukaan lahan di sekeliling danau sentarum untuk perkebunan kelapa sawit skala besar sudah berikan oleh Pemerintah Daerah Kapuas Hulu kepada beberapa perusahaan besar.  Hasil penilitian &lt;a href="http://www.cifor.cgiar.org/"&gt;CIFOR&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.riakbumi.or.id/"&gt;Riak Bumi&lt;/a&gt; (2008) memperkirakan sekitar 141.290 hektar kawasan hutan primer dan sekunder telah ditebang dan dialihfungsikan menjadi kebun kelapa sawit. Sayang saya lupa mengcopy peta persebarannya. Klo anda bertanya dimana saja posisi perkebunan tersebut? Jawabannya adalah persis mengelilingi seluruh kawasan TN Danau Sentarum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah kenyataan yang akan diterima masyarakat disekitar danau sentarum nantinya. Hilangnya kekayaan alam yang selama ini sudah ada, seperti ratusan jenis ikan, puluhan ton madu setiap tahunnya dan tercemarnya kualitas air danau. Sampai dengan saat ini saya tidak habis pikir apa yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kapuas Hulu. Sudah jelas sekali bahwa masyarakat disekitar danau sentaraum sangat tergantung dengan keberadaan danau sentarum. Potensi disekitar kawasan ini adalah ikan, madu dan keindahan alam danau sentarum. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian nelayan dan bertani. Tapi yang dilakukan adalah memberikan izin untuk membuka perkebunan kelapa sawit. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;I don’t know what local goverment think about this. Is crazy option I guess&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;.... Anda tahu? Beberapa tahun yang lalu Pemerintah Kapuas Hulu ini menyatakan diri sebagai Kabupaten Konservasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;See&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang hampir diseluruh propinsi dan kabupaten, pemerintahnya kadang tidak mau berkaca. Berkaca dalam artian kebijakan yang dikeluarkan terkadang tidak sesuai dengan potensi alam yang dimiliki dan apa yang masyarakatnya inginkan. Sering sekali saya menjumpai hal-hal seperti ini disetiap daerah yang saya kunjungi. Untuk di daerah danau sentarum, memang ada beberapa desa saja yang menerima kebijakan pembukaan perkebunan sawit. Hal ini jika ditelusuri, mereka mendukung karena tidak ada pilihan. Mereka ingin mendapatkan uang secara instan, yaitu menjual tanah yang mereka miliki ke perusahaan perkebunan. Serta berharap bisa mendapatkan pekerjaan disana. Alasan klasik memang yaitu karena desakan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya yang saya kwatirkan adalah mereka mendukung bukan sekedar alasan diatas semata.  Tapi lebih terhadap iming-iming atau mimpi-mimpi mereka akan sejahteranya hidup mereka jika perkebunan kelapa sawit dibuka disekitar kampung mereka. Seandainya saja mereka bisa mengerti dan tahu bahwa dimana-mana, ya seorang petani itu akan sejahtera bekerja di tanah dan ladang mereka sendiri. Bukan menjadi buruh di perkebunan atau ditanah orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SggnhzqoraI/AAAAAAAAAXI/7H0rCn24Vcw/s1600-h/ibu-menanam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SggnhzqoraI/AAAAAAAAAXI/7H0rCn24Vcw/s400/ibu-menanam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334557220378553762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sewaktu saya berada disebuah lokasi pembibitan disebuah perkebunan kelapa sawit yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Badau, saya menanyakan beberapa hal kepada seorang ibu yang sedang menanam bibit kelapa sawit dilahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;“Maaf ibu, ibu dari mana dan sudah berapa lama bekerja disini?”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;“Saya dari Martinus, belum sampai satu bulan saya bekerja disini. Awalnya kami diajak bekerja disini sebagai orang yang mengisi tanah di polibek untuk ditanam bibit. Tapi nyatanya setelah datang kesini kami disuruh menanam bibit kelapa sawit ini. Ini bukan pekerjaan seorang perempuan”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;“Memangnya bagaimana sistem kerjanya bu, kotrak atau bagaimana?”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;“Pokoknya 1 pohonnya seribu dibilangnya. Tau sendirilah beratnya bibit kelapa sawit ini. Kami berkelompok, satu kelompok itu 6 orang. Satu hari kami paling bisa menanam hanya 100-200 pohon. Bayangkanlah 100 ribu dibagi 6, ngga nyampe 10 ribu kami mendapatkan uang perharinya. Kerjanya dari jam  4.30 sampai jam  6 sore”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;“Ibu bolak-balik kerjanya setiap hari dan apakah makannya dikasih?”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;“Nggalah, mana cukup ongkosnya. Kami tidur disini. Makan ya masak sendiri. Kami kesini aja minjem dulu uang tetangga untuk ongkos dan makan selama disini”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin anda bisa membayangkan dari sepenggal percakapan saya dengan seorang ibu tersebut.  Bagaimana kondisi mereka yang bekerja disana. Mendengar pernyataan-pernyataan yang keluar dari sang ibu terkadang membuat saya ingin mendamprat dan mencaci maki habis-habisan pemerintahnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pulau Majang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah melihat dan berkeliling disekitar perbatasan Kalbar dan Serawak. Melihat bagaimana gencarnya ekspansi perkebunan kelapa sawit di perbatasan. Saya dan beberapa teman berangkat menuju Pulau Majang. Sebuah desa yang berada di  Danau Sentarum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuju ke Pulau Majang, ada beberapa pilihan jalur yang bisa digunakan. Bisa menggunakan boat melewati danau atau pakai kendaraan bermotor. Kami menuju kesana dengan menggunakan sepeda motor dari Lanjak. Dari Lanjak, pertama kami menuju ke Badau lama perjalanan sekitar dua jam. Dari Badau lanjut ke Empaik lama perjalanan sekitar dua jam. Jalan menuju Desa Empaik adalah jalan tanah dan jika hujan jalannya sangat licin dan berlumpur. Dari Empaik baru kita pakai long boat menuju ke Pulau Majang, lama perjalanan sekitar 20 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan saya mengendarai sepeda motor disana sungguh mengasyikan. Dibelakang membonceng teman berseta barang-barang, didepan saya juga ada barang. Sudah tidak peduli lagi debu-debu yang menempel di muka dan terbakarnya kulit selama membawa sepeda motor. Kami menyewa motornya “komeng” disana selama beberapa hari. Untungnya jembatan-jembatan yang kami lewati tidak ambruk gara-gara membawa motor ini hehehe....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SggodudM-lI/AAAAAAAAAXQ/1gvYC2Lvofg/s1600-h/pulau-majang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 268px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SggodudM-lI/AAAAAAAAAXQ/1gvYC2Lvofg/s400/pulau-majang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334558249772186194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SghESZr1aHI/AAAAAAAAAXg/o2lac2yfr5Q/s1600-h/pulau-majang1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SghESZr1aHI/AAAAAAAAAXg/o2lac2yfr5Q/s400/pulau-majang1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334588841543428210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setibanya di Pulau Majang, hati saya berdesir dan kagum. Betapa cantiknya kampung ini. Damai berada ditengah danau. Kampung yang jumlah penduduknya sekitar 900 jiwa ini adalah sebuah kampung tua di danau sentarum. Masyarakatnya percaya sebelum kemerdekaan Indonesia kampung ini sudah ada. Hampir seluruh penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan. Nelayan di danau sentarum, bukan nelayan di laut ya. Tapi lucunya mereka menyebutkan danau ini laut. “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Pak inikan danau, bukan laut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;” ucapku disaat mereka menyebutkan laut didalam percakapan mereka. Mereka semua tertawa dan bilang “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Yaa kami menyebutnya laut...”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh rumah-rumah yang ada di Desa Pulau Majang adalah rumah panggung. Jalan-jalan yang ada disepanjang kampung inipun diatas air. Semuanya terbuat dari kayu. Saya sangat senang berada di kampung ini karena tidak perlu lagi menggunakan sandal kemana-mana. Jalannya bersih karena berada diatas, seperti melewati jembatan-jembatan kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sungai yang ada di hulu semuanya bermuara di Pulau Majang. Jadi disaat musim kemarau, danau ini kering dan yang tersisa hanya hamparan tanah yang kering yang luas dan aliran anak-anak sungai saja. Tapi sudah dua tahun ini air di danau ini tidak pernah kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diberikannya izin kepada beberapa perusahaan kelapa sawit disekitar kawasan danau sentarum tentu saja membuat masyarakat di Pulau Majang cemas dan khawatir. Mereka khawatir dengan jarak antara danau dan perkebunan yang sangat dekat (sekitar 3-5 km), akan mempengaruhi kualitas air danau dan juga kualitas air sungai jika musim kering. Keberadaan beberapa jenis ikan diperkirakan akan berkurang dan mungkin juga punah. Hasil penelitian CIFOR dan Riak Bumi (2008) memprediksikan minimal 49,92% jenis ikan akan punah dari TNDS karena pencemaran dan perubahan fungsi hidrologi. Industri arwana senilai Rp 70-140 milyar per tahun terancam keracunan pestisida dan penurunan kualitas air. Sekitar 93,68% masyarakat yang penghidupannya dari perikanan di TNDS dengan nilai Rp 34,7 milyar per tahun akan kehilangan mata pencaharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ikan, masyarakat Pulau Majang juga cemas akan dicabutnya sertifikat organik (&lt;a href="http://www.biocert.or.id/"&gt;BioCert&lt;/a&gt;) yang telah diterima oleh petani madu di danau sentarum. Sertifikat ini diberikan kepada APDS-Asosiasi Madu Hutan Indonesia, karena memanen madu secara organik, lestari, pemulihan habitat lebah dan melakukan pengolahan hutan. Dampak dari dicabutnya sertifikat ini adalah hilangnya para pembeli tetap madu danau sentarum dengan harga tinggi. Tahun lalu total madu danau sentarum yang dipanen dan terjual sebanyak kurang lebih 17 ton dengan harga Rp 45.000/kg ditingkat asosiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Mau bercerita kepada siapa lagi kami bang. Mau mengeluh dan protes kepada siapa lagi kami ini. Pemerintah tidak pernah mau mendengar kekhawatiran kami&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;” cetus Pak Aswan, Kepala Desa Pulau majang kepadaku disaat kami berkunjung kerumahnya. “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Keuntungannya bagi kami yang dipulau ini, didanau ini, pastinya tidak ada. Tapi dampaknya kecil atau besar pasti ada jika perkebunan sawit dibuka disekeliling danau sentarum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aahh... saya yang hanya bisa mendengar dan mencoba mendokumentasikan keadaan danau sentarum dan masyarakatnya hanya bisa tersenyum miris. Untuk kesekian kalinya saya melihat masyarakat di negara tercinta ini seperti putus asa dan tidak ada harapan hidup tenang dan damai bersama kekayaan alam yang mereka miliki. Selalu saja terusik. Keputusan dan kebijakan pemerintah daerah terkadang terlalu cepat, terlalu memaksakan kehendak dan bertentangan dengan keinginan masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Kami bercerita tentang Pulau Majang ini sudah sangat sering. Bahkan beberapa puluh tahun yang lalu. Jadi kami ini seolah-olah meratap saja. Tidak ada perubahan. Jangan-jangan kalian nanti datang lagi, cerita yang sama yang akan kami ceritakan. Tidak ada perubahan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;” ucap Pak Aswan lagi kepada ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kata yang bisa saya ucapkan lagi kepada Pak Aswan disaat beliau menyampaikan kata-kata itu. Dalam hati saya hanya berharap dan berdoa. Semoga negara kita yang kaya akan sumberdaya alam ini, kaya budaya dan masyarakat yang berbagai macam suku bisa hidup damai dan sejahtera. Dipimpin oleh pemimpin yang cerdas dan punya ahlak. Anak-anak bisa tersenyum riang menatap masa depannya. Amien....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber foto : Rizaldi Siagian, Greenpeace/Edy Purnomo, Riak Bumi/Jem Sammi&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-7934728301345310995?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/7934728301345310995/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/05/danau-sentarum-dan-perbatasan-serawak.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/7934728301345310995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/7934728301345310995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/05/danau-sentarum-dan-perbatasan-serawak.html' title='Danau Sentarum dan Perbatasan Serawak'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SggqQU6zWMI/AAAAAAAAAXY/ZEsLV73czhg/s72-c/3232_1166910452695_1225948648_30462883_1114877_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-5960811908837820893</id><published>2009-04-14T06:44:00.014+07:00</published><updated>2009-04-14T11:58:56.310+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuala Tungkal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><title type='text'>Libur Pemilu</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="font-family: verdana;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SePPHEoJrjI/AAAAAAAAAV4/wfUEkkOT7MM/s1600-h/IMG_0251.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 220px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SePPHEoJrjI/AAAAAAAAAV4/wfUEkkOT7MM/s320/IMG_0251.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324326904890240562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Perjalanan saya kali ini adalah perjalanan untuk menikmati liburan, yaitu libur pemilu untuk legeslatif dan libur paskah. Lumayan bisa libur kerja selama empat hari. Mulai dari tanggal 9-12 April 2009. Karena dari dulu saya tidak tertarik dengan kampanye parpol dan pemilihan untuk legeslatif, ya saya memilih abstein dan menikmati liburannya saja :)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Perjalanan untuk berlibur memang sangat berbeda rasanya dengan perjalanan yang memang sudah menjadi kewajiban alias memang sudah kerjaan sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya dan my special one Sucie Ramadhanny (Uchie) menikmati liburan ini untuk mengunjungi kedua orang tuanya di Kuala Tungkal, Jambi. Sudah setahun lebih kedua orang tuanya dipindahtugaskan kesana. Karena Uchie belum pernah datang ke Jambi, maka kami merencanakan liburan kesana mumpung orang tuanya masih tinggal disana dan sebelum dipindahkan lagi ke daerah lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Perjalanan ke Jambi sebenarnya tidak direncanakan jauh-jauh hari karena Uchie memang masih belum pasti apakah tempat dia bekerja akan libur pada tanggal tersebut atau tetap masuk kerja. Beberapa hari sebelum berangkat baru bisa dipastikan kalo kantornya ternyata juga libur. Terpaksa saya buru-buru menelpon seseorang teman untuk memesankan tiket kami berdua pulang pergi ke Jambi. Thanks ya Funny for the ticket...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Kuala Tungkal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-family: verdana;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SePPeEZCuxI/AAAAAAAAAWA/SeOS4YWbPOA/s1600-h/IMG_0497.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SePPeEZCuxI/AAAAAAAAAWA/SeOS4YWbPOA/s320/IMG_0497.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324327299963861778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya memang sudah pernah ke Jambi sebelumnya yaitu tahun 2008. Tapi memang perjalanan saya waktu itu hanya sebatas Jambi, Sorolangun dan Muaro Bungo. Saya belum pernah ke Kuala Tungkal. Karena belum pernah ke Kuala Tungkal, saya sangat setuju jika liburan pemilu ini dihabiskan disana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Setibanya di Bandara Sultan Thaha, Jambi kami berdua ternyata sudah dijemput oleh kedua orang tuanya  Uchie. Kedua orang tuanya sudah tiba lebih dulu di bandara bersama dengan Ida, anak tetangga di Kuala Tungkal yang diajak ke Jambi. Ida masih sekolah kelas lima SD. Dari wajahnya yang selalu senyum dan ramah ini kelihatan klo dia anak yang rajin dan pintar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Perjalanan dari Jambi ke Kuala Tungkal membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Kuala Tungkal yang termasuk kedalam Kabupaten Tanjung Jabung Barat ini adalah sebuah kota yang berada di sebelah utara Jambi. Kota Kuala Tungkal berbatasan langsung dengan pantai. Kota kecil ini daratannya didominasi oleh rawa-rawa. Jadi tidak heran jika tiba di Kuala Tungkal, rumah-rumah penduduknya berada diatas rawa. Dan tidak heran juga jika berada disana kita mencium bau khas daerah yang berawa dan dekat dengan pantai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Perjalanan menuju Kuala Tungkal menjadi lama karena kondisi jalan yang kecil dan banyak bagian-bagian jalan yang berlubang. Ketika akan memasuki kotanya, pas di gerbang selamat datang kita disuguhi kondisi jalan yang berlubang, lumpur dan becek kurang lebih sepanjang 50 meter. Benar-benar sambutan yang membuat kita yang pertama kali mengunjungi kota ini menjadi pesimis akan kota tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kuala Tungkal adalah sebuah kota yang kecil dan unik. Unik karena hampir semuanya rawa dan kotanya hanya terpusat di satu tempat. Karena bentuk kotanya yang kotak-kotak maka tidak heran banyak sekali perempatan jalan dan gang-gang (mereka menyebutnya lorong) kecil di tengah kota ini. Bangunan yang dominan di Kota Kuala Tungkal adalah ruko-ruko untuk sarang burung walet. Jika kita perhatikan, bangunan rumah disini sepertinya sangat sederhana. Tapi jangan salah, membangun rumah disini tidaklah gampang. Membutuhkan banyak kayu untuk mendirikan rumah diatas rawa. Jika ingin menimbun semua rawa ini, dibutuhkan biaya yang sangat besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selama empat hari tiga malam disana saya cukup puas mengelilingi kota Kuala Tungkal. Pagi harinya sekiar jam setengah enam saya bersama dengan Uchie dan bapak jalan kaki  mengelilingi kota. Pada pagi hari, suasana kota sudah ramai dengan orang-orang yang berjualan dan suara burung walet yang berterbangan. Ruko-ruko oleh para pemiliknya hanya ditempati di lantai bawah saja, sisanya yaitu lantai 2,3 dan ke-4 dibuat untuk sarang burung walet. Banyak juga bangunan ruko disini posisinya miring. Mungkin teras atau bangunan dasar ruko tidak kuat menahan bangunan yang bertingkat. Saya terkadang bertanya-tanya dalam hati, apakah orang ini tidak takut dengan kondisi bangunan yang miring seperti itu. Bagaimana jika nanti terjadi gempa seperti yang di Bengkulu, apakah bangunan ini cukup kuat menahan guncangan??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jenis transportasi publik di kota ini adalah becak sepeda. Karena daerahnya dominan rata dan tidak ada tanjakan serta jarak kemana-mana tidak terlalu jauh. Jenis kendaraan roda empat sangat sedikit di kota ini. Lebih banyak sepeda dan motor. Pengemudi motor disini jarang sekali yang memakai helm pengaman. Bagi kita yang membawa kendaraan roda empat (mobil), memasuki kota ini kita tidak bisa menggunakan kecepatan tinggi dikarenakan sangat ramai sepeda dan motor yang lalu lalang. Juga kondisi jalannya yang kecil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Disini kami juga melihat pelabuhan Kuala Tungkal dan Tungkal Ancol Beach. Ternyata di Tungkal juga ada Ancol. Entah mengapa pemerintah atau masyarakatnya menamakan Ancol Beach. Apa karena nge-fans sama keindahan Ancol atau berharap kondisi pantai di Tungkal bisa seperti Ancol. Perlu diketahui, pantai di sekitar pelabuhan Kuala Tungkal selalu berwarna keruh (coklat) dan tidak berpasir alias berlumpur. Apalagi disaat saya mengunjungi pelabuhan ini, kondisi awan mendung dan hitam. Jadi kesan yang saya dapatkan di pelabuhan ini adalah suram hehehe.... Foto yang saya dapatkan seperti foto pantai kematian. Seram :p&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-family: verdana;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SePQB87ac1I/AAAAAAAAAWI/TRwNpmitjXo/s1600-h/IMG_0430.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SePQB87ac1I/AAAAAAAAAWI/TRwNpmitjXo/s320/IMG_0430.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324327916435829586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ketika masuk ke Ancol Beach saya melihat beberapa anak muda sedang berkumpul dan main beberapa permainan. Ada yang main engkrang, bakia dan dagongan. Saya tertarik melihat mereka bermain dagongan. Permainan tradisional yang sangat sederhana. Alat permainannya hanya sebuah batang bambu yang ukurannya cukup besar (kira-kira sebesar kaki). Cara bermainnya, terdapat dua kelompok yang memegangi kedua ujung bambu. Setelah dikasih aba-aba, mereka saling dorong. Mana kelompok yang tidak kuat menahan dan mundur, kelompok itulah yang kalah. Permainan yang seru dan kocak. Anak-anak mudanya bermain dengan penuh canda dan ceria. Permainan ini baru sekali ini saya temui. Mungkin permainan khas Kuala Tungkal ??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada malam kedua, kami diajak oleh Bapak dan Ibu mencoba mencicipi makanan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;sea food&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; yang ada di Kuala Tungkal. Beliau mengajak kami makan di RM Sea Food “Nikmat”. Di rumah makan ini kami menikamati kerang, kepiting, cumi besar dan ikan goreng. Semua ikan, kepiting, cumi dan kerangnya masih segar dan baru. Selama ini saya yang tidak pernah mau makan kerang karena tahu bagaimana kondisi kerang yang ada di Jakarta dan Muara Angke. Disini setelah dipastikan segar, maka saya mencicipi masakan kerangnya. Ternyata enak dan nikmat sekali. Hhhmmm jadi kangen makan kerang disana lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-family: verdana;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SePQX_OP2YI/AAAAAAAAAWQ/1bbKM3l9J2c/s1600-h/Pasar-BJ.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 333px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SePQX_OP2YI/AAAAAAAAAWQ/1bbKM3l9J2c/s400/Pasar-BJ.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324328295008819586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sehari sebelum kami pulang, kami dikunjungi oleh teman lama yaitu Agus Findriawan. Teman kuliah di IPB sewaktu tingkat satu dan teman seangkatan di Lawalata IPB (Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam IPB). Beliau ini hanya satu tahun di IPB. Pada tahun kedua beliau memilih pindah jurusan dan pindah ke Unija,  Jambi. Agus yang bulan depan pindah kerja ke Jakarta ini banyak bercerita tentang Kuala Tungkal dan Jambi. Membuat kami ingin kembali mengelilingi Kuala Tungkal. Bersama dengan beliau kami muter-muter di pasar BJ, sebuah pasar yang menjual barang-barang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;second&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; dari Singapura dan Batam. Sampai sekarang saya tidak tahu kenapa disebut pasar BJ dan barang BJ. Tapi yang jelas dipasar ini banyak sekali barang-barang yang masih bagus yang dijual dengan harga murah. Mulai dari barang-barang elektronic (TV, kipas angin, vakumcleaner, lemari es), sofa, spring bed, pakaian, tas, boneka, alat fitnes, karpet/ambal, meja makan dan meja karja, sepeda dll. “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Cocok nih En klo penganten baru belanja disini. Modal 10 juta saja rumahnya sudah bisa penuh dengan perabotan rumah tangga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;” ucap Agus kepada saya. “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Hahaha... Iya nih, klo kesini lagi musti bawa truck&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;” sayapun menimpalinya dengan tertawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Karena dari beberapa tahun yang lalu saya ingin sekali beli sepeda. Dan tabungan saya masih belum mencukupi untuk beli sepeda. Saat muter-muter di pasar BJ saya melihat tumpukan sepeda bekas. Saya pun iseng masuk dan tanya-tanya kepada sang penjual. Ternyata disini semuanya adalah sepeda-sepeda bekas dari Singapura. Berbagai macam jenis sepeda dijual disini. Mata sayapun tertuju pada sebuah tumpukan sepeda lipat yang ada dipojok toko. Sang penjual hanya mau melepas sepeda ini dengan harga 500 ribu rupiah. Semula harga sepeda ini 800 ribu rupiah. Di Bogor kisaran harga sepeda lipat ini barunya antara 2-3 juta rupiah. Akhirnya saya mengiyakan dan membeli sepeda ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Finally I have a bicyle&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;. Walaupun bekas dan musti bawa dari Jambi. Walaupun pada awalnya saya ingin beli mountain bike bukan lipat bike hehehe...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mengunjungi kota-kota kecil dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt; stay&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; beberapa hari di kota yang kita kunjungi ternyata sangat menyenangkan. Menikmati keunikan-keunikan yang ada di kota tersebut. Menikmati makanan-makanan atau masakan khas dan alami. Tak terasa liburan empat hari disana sudah habis dan musti balik lagi ke Bogor untuk kembali ke rutinitas sehari-hari.  Suasana hati sudah lebih fresh dan pikiran yang sudah kembali fresh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Terima kasih banyak Bapak dan Ibu.  Terima kasih Agus. Semoga kedepan kita diberikan rezeki dan kesempatan untuk mengujungi kota-kota lainnya yang ada di nusantara ini. Amien.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto-foto lainnya bisa liat &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/berangberangfotos/sets/72157616648896047/"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-5960811908837820893?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/5960811908837820893/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/04/libur-pemilu.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/5960811908837820893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/5960811908837820893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/04/libur-pemilu.html' title='Libur Pemilu'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SePPHEoJrjI/AAAAAAAAAV4/wfUEkkOT7MM/s72-c/IMG_0251.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-2082415746897168362</id><published>2009-03-17T15:50:00.011+07:00</published><updated>2009-06-08T22:56:52.402+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Garut'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hutan larangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kampung Dukuh'/><title type='text'>Mendadak ka Garut. Kampung Dukuh</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link style="font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Malam itu ketika sedang nyantai menyantap makan malam di kedai telapak saya diajak ngobrol oleh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Big Boss. The Big Boss meminta saya untuk menemani dua orang tamu dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Scotland&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beserta anaknya yang baru berumur satu tahun mengunjungi sebuah kampung di Garut. Disaat saya menanyakan dimana letak posisi tuh kampung, beliau ini tidak ada yang tahu dimana persisnya kampung tersebut berada. Informasi yang saya terima adalah perjalanan dari Garut ke kampung tersebut adalah sekitar &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span lang="IN"&gt;lima&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt; jam. Semakin bingung dan penasaranlah saya, kampung apa tuh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span lang="IN"&gt;lima&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt; jam dari Garut? Garut-Ciamis saja saja tidak sampai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span lang="IN"&gt;lima&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt; jam perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Akhirnya kamis sore tanggal 12 Maret 2009 bersama dengan mobil taft hiline long sasis saya meluncur menuju Garut. Berangkat dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bogor&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt; mungkin sekitar pukul delapan malam. Malam itu perjalanan dari pintu tol &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bogor&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt; sampai dengan pintu tol Cileunyi cukup sepi dan perjalanan berjalan lancar. Kami tiba disana sekitar pukul 23.30 WIB dan langsung menuju sebuah penginapan di daerah cipanas karena perjalanan menuju kampung tersebut baru akan dilanjutkan paginya setelah bertemu dengan teman-teman dari Garut. Perjalanan ka Garut yang mendadak ini membuat jadwal saya yang rencananya ingin jadi pemulung bersama teman-teman yang ada di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bogor&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt; untuk membersihkan sungai ciliwung tidak jadi. Kemaren setelah tiba di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bogor&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt; dan mendapat cerita bahwa banyak teman-teman yang bergabung menjadi pemulung (sekitar 80 orang) membuat saya iri dan merasa bersalah karena tidak bisa datang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;:(&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Paginya setelah bertemu dengan teman-teman di Universitas Garut, berdiskusi mengenai tujuan kunjungan kami kepada beberapa dosen yang ada di universitas tersebut dan petugas kehutanan (BP DAS) Garut, kami langsung menuju desa yang ingin kami kunjungi. Berdasarkan informasi dari teman-teman di Garut, memang benar bahwa untuk mencapai desa tersebut dibutuhkan waktu sekitar &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span lang="IN"&gt;lima&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt; jam dari Garut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link style="font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kampung Dukuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Sb9launUHvI/AAAAAAAAATw/KwQvERPGSVg/s1600-h/kampung-dukuh1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 246px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Sb9launUHvI/AAAAAAAAATw/KwQvERPGSVg/s320/kampung-dukuh1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5314077595184406258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link style="font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1447312907; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-970580700 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;“Selamat datang di komplek kampung adat DUKUH”. Itulah tulisan yang akan kita baca disebuah plang disaat akan memasuki kampung ini. Plang yang posisinya sudah miring dan banyak ditempel stiker-stiker partai dan para calon legislatif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Perjalanan menuju kampung ini memang cukup jauh. Sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi karena kondisi jalannya yang banyak tikungan dan naik turun menyisiri bukit hingga tembus ke pantai membuat laju kendaraan tidak bisa cepat. Dari Garut kita menuju ke Kecamatan Pamengpeuk trus lanjut menuju Kecamatan Cikelet. Dari Cikelet menuju kampungnya juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Kondisi jalan yang berbatu-batu dan berlobang membuat perjalanan yang jaraknya kurang lebih 7 km ini membutuhkan waktu sekitar satu jam. Mobil-mobil kecil dan rendah tidak akan bisa masuk ke desa ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Ketika saya menginap beberapa hari di Kampung Dukuh, saya melihat kampung ini adalah salah satu kampung kecil yang mencoba mempertahankan adat dan budayanya yang masih tersisa ditengah gencarnya pengaruh kehidupan modern dan kemajuan teknologi. Kampung yang masih asri, damai dan tenang. Bangunan rumah yang semuanya sama yaitu terbuat dari bambu (dinding gedeg), kerangka rumah dari kayu dan atapnya terbuat dari ilalang dan dilapisi ijuk rumbia. Tidak ada penerangan dari listrik dikala malam hari. Kebisingan malam hari hanya karena suara jangkrik dan binatang malam, bukan dari riuhnya sinetron-sinetron yang ada di setiap channel televisi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Kampung Dukuh terletak di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet. Secara adat kampung ini dipimpin oleh Kuncen. Konon dulu kampung ini didirikan oleh Ki Candra Pamulang dari Cidamar, Cidaun, Cianjur Selatan yang kemudian setelah datangnya Syeh Abdul Jalil dari Sumedang, kampung ini diserahkan kepada Syeh Abdul Jalil. Syeh Abdul Jalil dulunya adalah seorang Penghulu Raja di Sumedang dan membuka sebuah pesantren di pinggiran Kota Sumedang. Kuncen yang memimpin sekarang ini adalah generasi yang ke-14 yaitu Ajengen Uluk Lukman Hakim yang lahir pada tanggal 10 September 1957. Kuncen dipangku secara turun temurun berdasarkan keturunan atau hubungan darah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Kampung Dukuh terbagi menjadi dua. Dukuh Dalam dan Dukuh Luar. Yang memisahkan antar perkampungan ini hanya sebuah pagar bambu saja. Perbedaanya hanya pada aturan dan pola kehidupannya masyarakatnya. Di kampung luar sudah boleh ada listrik, warung, bangunan menggunakan semen dan beratap genteng, dll. Sementara di kampung dalam harus mengikuti aturan adat yang sudah ada.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Penuh dengan kesederhanaan dan tradisional sunda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Kampung Dukuh dalam terdapat 99 jiwa dan 30 KK. Sedangkan Dukuh Luar terdapat sekitar 307 jiwa dan 59 KK. Sebuah kampung yang cukup kecil sebenarnya. Luas kampung tesebut hanya sekitar 1,5 ha. Saya tidak tahu berapa luas lahan garapan dan berapa luas totalnya jika digabungkan dengan luas kampung mereka. Kampung Dukuh juga memliki hutan larangan (15 ha) yang tidak boleh dimasukin oleh siapaun juga kecuali untuk berdoa dan upacara adat. Di hutan larangan ini terdapat beberapa makam para tokoh yaitu Makam Syeh Abdul Jalil, Makam anaknya Syeh Abdul Jalil yaitu Hasan Husein, Makam Kuncen yang pertama dan beberapa makam pembantu syeh serta pembantu kuncen. Disana juga terdapat makam orang-orang dari Kampung Dukuh. Setiap hari sabtu banyak tamu yang datang ke kampung ini untuk berziarah. Mulai yang datang dari Jakarta, Bandung, Garut, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya. Tapi uniknya PNS (Pegawai Negeri Sipil) dilarang masuk dan berziarah ke hutan larangan. Selain itu juga dilarang bagi yang non muslim.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Ketika saya berbicara dengan Kuncen, beliau sekarang ini berniat untuk menghijaukan kembalil Kampung Dukuh. Mengajak masyarakatnya menanam kembali lahan-lahan yang sudah gersang dan gundul akibat penebangan. Hanya beliau tidak ingin ada bantuan dari pemerintahan atau sebuah perusahaan perkebunan. Karena akan menambah masalah bagi beliau dan terkadang bantuan yang diharapkan tidak efektif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Klo menurut saya niat Kuncen bukanlah hal yang mustahil bisa terwujud. Karena luas wilayah yang tidak begitu luas dan beliau bisa menggerakkan masyarakatnya. Tinggal bagaimana kita menyampaikan saja ke teman-teman lainnya apakah ada teman kita yang bisa bantu untuk mewujudkan mimpi Kuncen.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Saya membayangkan kampung yang kecil dan penuh kesederhanaan ini bisa rimbun, hijau, banyak pepopohan besar sehingga keasrian, kedamaian, kesejukan yang sudah ada di kampung ini bertambah dan berlipat-lipat. Masyarakatnya bisa menjaga hutannya kembali dan tingkat pendapatan meraka dari sumberdaya alam yang ada semakin baik. Perekonomian mereka semakin baik. Masyarakatnya semakin kompak dan tetap memegang teguh budaya dan adat mereka. Mereka bisa bangga dengan adat dan budaya yang mereka miliki, bukan ikut hanyut dan tenggelam karena derasnya budaya luar yang masuk ke kampung mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Ahh betapa indah dan serasinya suatu kampung jika apa yang saya bayangkan bisa terwujud. Mimpi kuncen bisa terwujud. 10 Pepeling atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nasehat Adat Sunda Parahiyangan ngolah lahan anu arif dan bijaksana. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Lingkungan lestari bisa terwujud&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Berikut 10 Pepeling yang sudah turun temurun yang ada di budaya sunda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;font-family:courier new;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Gunung – Kaian&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;: Gunung-gunung ditanamin kayu-kayu atau pohon&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;font-family:courier new;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Gawir – Awian&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;: Sebuah lerengan ditanamin bambu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;font-family:courier new;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Cinyusu – Rumateun&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: Mata air untuk dirawat atau dijaga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;font-family:courier new;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Sempalan – Kebonan&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Suatu daerah atau kawasan datar ditanamin untuk kebun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;font-family:courier new;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Pasir – Talunan&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;: Bukit ditanamin pohon-pohon keras&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;font-family:courier new;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Dataran – Sawahan&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;: Daerah yang datar dijadikan sawah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;font-family:courier new;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Lebak – Caian&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;: Daearah bawah harus diberi air&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;font-family:courier new;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Legok – Balongan&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;: Kalau lobang dijadikan kolam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;font-family:courier new;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Situ – pulasaraeun &lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;: Danau untuk dipelihara, dijaga dan dikelola&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;font-family:courier new;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Lembur – Uruseun&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;: Kampung untuk dikelola&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:courier new;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Sb9lm9lxxaI/AAAAAAAAAT4/otxLNS5uH9w/s1600-h/kampung-dukuh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 146px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Sb9lm9lxxaI/AAAAAAAAAT4/otxLNS5uH9w/s320/kampung-dukuh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5314077805362922914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Sb9lC7N6pII/AAAAAAAAATo/DFWNRNcWJFc/s1600-h/kampung-dukuh2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 146px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Sb9lC7N6pII/AAAAAAAAATo/DFWNRNcWJFc/s320/kampung-dukuh2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5314077186250679426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-2082415746897168362?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/2082415746897168362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/03/mendadak-ka-garut-kampung-dukuh.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2082415746897168362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2082415746897168362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/03/mendadak-ka-garut-kampung-dukuh.html' title='Mendadak ka Garut. Kampung Dukuh'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Sb9launUHvI/AAAAAAAAATw/KwQvERPGSVg/s72-c/kampung-dukuh1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-2216828175388862035</id><published>2009-03-03T11:48:00.002+07:00</published><updated>2009-03-03T11:58:51.176+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Desa Sukamulya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Desa Cibuluh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Desa Pekandangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro'/><title type='text'>Listrik Tenaga Air</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Say3JZTq3oI/AAAAAAAAATM/4sKY5_w4B_A/s1600-h/SDK1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Say3JZTq3oI/AAAAAAAAATM/4sKY5_w4B_A/s320/SDK1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308819432803065474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Saya sangat senang sekali dalam melakukan perjalanan beberapa bulan belakangan ini (Desember 2008-Februari 2009). Mulai dari perjalanan ke Desa Sukamulya, Kecamatan Tanjung Raja, Lampung Utara. Ke Desa Pekandangan, Kecamatan Pubian, Lampung Tengah. Dan terakhir beberapa minggu yang lalu berkunjung ke Desa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cibuluh, Kecamatan Cidaun, Cianjur Selatan. Saya senang karena saya bisa melihat langsung bagaimana masyarakat desa bisa berinovasi dan kreatif dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. Hemat dan Efisien.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Salah satu inovasi yang mereka lakukan adalah membuat energy listrik dari tenaga air atau yang lebih dikenal dengan Pembangkit Microhydro. Pembangkit listrik tenaga air ini mudah sekali membuatnya. Hanya membutuhkan aliran air yang stabil dan tidak kering disaat musim kemarau. Biaya yang dibutuhkan juga tidak terlalu mahal. Apalagi jika dibuat secara bersama-sama dan secara swadaya. Masyarakat tidak perlu lagi tergantung dengan Listrik dari PLN yang semakin lama semakin krisis keadaannya dan biaya pasang serta tagihannya juga sangat mahal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Disini saya tidak mau membicarakan bagaimana cara membuat Listrik Mikrohydro ini. Karena saya tidak paham mengenai mekanisme detail cara membuatnya. Baik itu yang sederhana (terbuat dari kincir kayu) ataupun yang sudah menggunakan mesin turbin yang menghasilkan energy puluhan ribu watt. Jika ada yang beminat mempelajarinya secara detail silahkan berkunjung ke salah satu desa yang saya sebutkan tadi. Disini saya hanya akan menceritakan apa manfaat energy microhydro ini dari sisi ekonomi dan sisi ekologis dari pengalaman saya berkunjung ke tiga desa tersebut. Bagaimana masyarakat di tiga desa tersebut sudah sadar akan pentingnya kelesatarian hutan bagi desa mereka dan secara bersama-sama membangun desa. Sekarang masyarakat di tiga desa tersebut sudah kompak dalam menjaga kelestarian hutannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Desa Sukamulya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Saya berkunjung ke desa ini pada bulan Desember tahun lalu. Setelah pulang dari Bengkulu saya dan teman-teman dari Depatemen Kehutanan mampir ke desa ini. Niat kami kesini adalah untuk mendokumentasikan kegiatan Hutan Kemasyarakatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang dilakukan oleh beberapa kelompok tani di Desa Sukamulya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Desa Sukamulya cukup jauh lokasinya dari jalan raya (Lintas Sumatera). Untuk menuju kampunnya juga diperlukan mobil yang memiliki double garden. Karena jalan menuju desa masih jalan tanah dan berbatu. Apalagi ketika kami kesana musim hujan. Jalanan penuh lumpur dan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke desa. Ditengah perjalanan mobil kami sempat slip dan tidak bisa melewati tanjakan yang berlumpur. Akhirnya harus menunggu bantuan mobil kampas yang ke empat rodanya sudah dililit rantai untuk menarik mobil-mobil kami. Di tengah malam yang gelap dan hujan kami masih bergelut dengan lumpur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Keadaan desa Sumbermulya masih cukup asri. Dibelakan desa penuh dengan ladang-ladang kopi dan tanaman keras lainnya. Sesuai dengan ketentuan HKM yaitu menanam tanaman berkayu disela-sela tanaman lainnya, didesa ini sudah cukup banyak pohon-pohon keras yang ditanam. Mulai dari Mahoni, Kemiri, Durian, dan tanaman berkayu lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sebelumnya seluruh masyarakat desa ini membuat ladang secara sembunyi-sembunyi diareal hutan lindung. Tapi sekarang setelah mendapat izin kelola selama 35 tahun dari Departemen Kehutanan, masyarakat desa sudah nyaman dan tidak takut lagi membuat ladang disana. Mereka juga sudah sadar, agar tetap diizinkan untuk bercocok tanam diladang mereka harus menjaga kondisi hutannya untuk tetap baik dan menanam tanaman berkayu disela-sela tanaman mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Karena kondisi air sungainya cukup baik dan didesa ini tidak masuk listrik dari PLN. Masyarakat desa berinisiatif membuat kincir-kincir yang menghasilkan energy listrik untuk satu rumah. Karena sudah ada yang berhasil menghasilkan listrik dari aliran air sungai, beberapa masyarakat desa Sukamulya secara swadaya membeli mesin turbin yang cukup besar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yaitu sekitar 5000 watt. Satu turbin 5000 watt bisa menerangi 10-15 rumah. Dan beberapa rumah juga bisa menonton televisi. Listrik selalu menyala selama 24 jam. Terkadang siang haripun dibiarkan menyala. Selagi air sungai ini tidak kering dan mesinnya tidak rusak, listrik akan selalu menyala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sekarang mereka sudah tidak perlu menunggu lagi kehadiran listrik masuk desa dari PLN. Sudah hampir &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;lima&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; tahun PLN yang lalu PLN berjanji untuk menerangi desa mereka. Tapi janji itu tidak pernah ditepati. Sekarang mereka sudah tidak peduli lagi dengan janji-janji PLN.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Karena merasakan langsung manfaat air sungai di desa mereka. Beberapa masyarakat di Desa Sukamulya sudah mulai menjaga agar debit air sungai tetap stabil. Tokoh-tokoh masyarakat dan ketua kelompok tani sudah mengajak anggotanya untuk memperhatikan kondisi hutan dan lingkungan desa. Mereka tidak ingin energy listrik dari pembangkit microhydro ini hilang ataupun rusak. Mereka juga tidak ingin izin kelola yang diberikan oleh pemerintah kepada warga dicabut karena tidak bisa mengelola lahan dan menjaga hutannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Desa Pekandangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ketika sampai disebuah desa yang lokasinya lumayan jauh dari Kota Metro ini, pemandangan dan hawa yang dirasakan sangat berbeda. Serasa berada di daerah Jawa Barat (di seputaran Halimun), bukan di Lampung. Lampung yang terkesan gersang dan panas. Tapi di desa ini, sangat sejuk, sawah menghampar disekeliling desa. Sumber air melimpah dan mengalir jernih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Desa Pekandangan berada di hulu sungai,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yaitu Way Seputih dan Way Sekampung. Masyarakat Desa Pekandangan hampir seluruhnya adalah para migran dari suku sunda dan jawa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dulunya masyarakat ini adalah pekerja di sebuah perusahaan kayu. Namun sekarang perusahaan tersebut telah lama berhenti beroperasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Uniknya setelah mereka melakukan penebangan dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merambah hutan, sekarang mereka malah berbalik untuk menjaga hutannya. Kondisi kampong sudah hijau dan asri kembali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Karena sumber airnya melipah dan belum ada akses listrik yang masuk ke kampung mereka, akhirnya mereka mempunyai inisiatif membangun listrik bertenaga air. Dimualai &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dari sebuah kincir sederhana yang terbuat dari kayu, akhirnya mereka membuat kincir yang permanent dari besi dan plat. Sungguh menarik dan membuat saya kagum atas inisiatif-inisiatif mereka. Kampung mereka tidak gelap lagi disaat malam tiba. Mereka bisa menikmati siaran televisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan anak-anak belajar tidak lagi dengan sebuah lampu templok ataupun lilin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Melalui organisasi masyarakat desa, mereka kini bersemangat untuk menjaga keadaan hutan yang ada dikampung mereka. Menjaga sumber air yang ada. Untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat desa, kini mereka mencoba meningkatkan pembudidayaan tanaman sengon (&lt;i style=""&gt;albasia&lt;/i&gt;) yang ada diladang-ladang masing-masing individu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Desa Cibuluh, Gunung Simpang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kampung yang lokasinya berada di Cianjur Selatan ini memang sedikit tersembunyi. Saya sendiri baru tahu ternyata di Jawa Barat masih ada sebuah desa yang sangat sulit dijangkau oleh kendaraan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Untuk menuju desa ini dibutuhkan kendaraan double gardan. Jalan yang barbatu dan sempit membuat sulit kendaraan menuju desa. Apalagi disaat saya dan teman-teman dari samdhana institute ingin melakukan kunjungan kesana, selama perjalanan dihari itu selalu hujan. Banyak tanah-tanah longsor disepanjang jalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Perjalanan menuju Desa Cibuluh sangat berkesan bagi saya. Baru pertama ini selama di Jawa Barat saya membawa mobil yang kondisi jalannya sedemikian rupa. Berbatu, tikungan yang sangat tajam dan disertai tanjakan-tanjakan yang membuat hati deg-degkan. Selama perjalanan juga banyak turunan yang curam dan kiri kanan jalan jurang. Tambah seru lagi karena perjalanan menuju desa tersebut malam hari. Kami tiba di Desa Cibuluh pada pukul dua dini hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Di desa ini saya kembali melihat pembangkit tenaga listrik dari air. Namun beberbeda dengan dua desa yang saya kunjungi seblumnya, di Desa Cibuluh ini mesin pembangkitnya sudah cukup besar yaitu berkapasitas 18000 watt, yang bisa menerangi sekitar 80 rumah dan sarana public seperti masjid dan balai desa. Dengan adanya bantuan hibah dari lembaga donor yang ada di &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; sekarang ini pembangkit listrik yang ada di Desa Cibulu sudah dikelola secara swadaya oleh masyarakat desa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Cagar Alam Gunung Simpang merupakan kawasan hutan konservasi yang berbatasa langsung dengan Desa Cibuluh. Masyarakat yang ada di desa ini mulai dari yang tua sampai dengan yang muda sudah secara bersama-sama menjaga kondisi hutannya. Disaat saya berkunjung kesana, anak-anak sekolah madrasah yang ada di Desa Cibuluh sedang melakukan penanaman di kawasan hutan desa. Mereka ingin hutan yang ada di desa mereka tetap hijau dan bertambah rimbun. Sebuah lembaga desa yaitu Raksa Bumi menambah semangat dan keyakinan masyarakat untuk menjaga hutan yang ada di desa mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Dengan melihat ketiga desa ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang sudah memiliki pembangkit listrik tenaga air membuat saya bertambah yakin air adalah sebuah sumberdaya alam yang sangat penting bagi manusia dan tidak akan bisa dipisahkan dari kehidupan manusia di bumi ini. Masyarakat desa seharusnya tidak perlu menggantungkan hidupnya kepada PLN untuk mendapatkan listrik. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; sebuah solusi yang lebih tepat, efisien, dan ramah lingkunga. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro solusinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-2216828175388862035?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/2216828175388862035/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/03/listrik-tenaga-air.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2216828175388862035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2216828175388862035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/03/listrik-tenaga-air.html' title='Listrik Tenaga Air'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/Say3JZTq3oI/AAAAAAAAATM/4sKY5_w4B_A/s72-c/SDK1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-3567719117215659603</id><published>2009-02-05T13:35:00.001+07:00</published><updated>2009-02-05T13:39:04.495+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PLG Seblat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konversi Sawit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bengkulu Utara'/><title type='text'>SIAPA YANG SALAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYqJLoYt3gI/AAAAAAAAAS0/tnoXIEXI170/s1600-h/lahan-sawit1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 174px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYqJLoYt3gI/AAAAAAAAAS0/tnoXIEXI170/s320/lahan-sawit1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299198744467463682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Cerita berikut ini adalah sebuah cerita seorang petani sawit yang saya temui beberapa bulan yang lalu (Desember 2008) yang tinggal di perbatasan Pusat Latihan Gajah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; (PLG)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;, Seblat, Bengkulu Utara. Saya menginap di pondok beliau selama lima hari. Disebuah podok yang sangat sederhana yang terbuat dari papan-papan bekas dan bambu. Berdirinya pondok inipun sudah tidak lurus lagi alias hampir roboh karena dimakan usia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Saya mengunjungi keluarga petani sawit ini karena berdasarkan informasi yang saya dapat, hanya beliau inilah yang sampai sekarang masih bertahan di jalan koridor yang membelah kawasan PLG Seblat, Bengkulu Utara. Sebuah jalan yang dibuat oleh perusahaan kelapa sawit (PT Alno) pada tahun 2004 dengan MoU antara PT Alno dan BKSDA Bengkulu yang juga mendapat persetujuan dari pejabat di Manggala Wanabakti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di posting sebelumnya tentang status PLG Seblat, yaitu Hutan Produksi dengan fungsi khusus yang secara prinsip pengelolaannya dibawah Dinas Kehutanan. BKSDA Bengkulu sebenarnya tidak punya wewenang dalam pembuatan dan persetujuan MoU yang telah dibuat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Beberapa bulan sebelum saya datang, disepanjang jalan ini ramai sekali masyarakat yang masuk untuk merambah dan membuat ladang di kawasan PLG Seblat. Sebagian tanaman sawit yang mereka tanam sudah membuahkan hasil. Namun, tak berapa lama setelah itu para perambah ini meninggalkan ladang mereka karena adanya operasi penangkapan oleh Polda Bengkulu terhadap beberapa perambah yang diduga memperjualbelikan tanah kawasan. Hampir seluruh tanaman sawit dan tanaman lainnya yang ada disepanjang jalan poros inipun sudah habis dimakan dan dinjak-injak gajah liar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Nah, dari latar belakang beberapa permasalahan yang terjadi di PLG Seblat ini. Saya mencoba mencari informasi kenapa masyarakat tersebut merambah dan membuka lahan di kawasan PLG Seblat dan mengapa mereka cenderung ingin menanam kelapa sawit di ladang mereka. Informasi ini kami coba gali untuk melanjutkan sebuah film dokumenter yang pernah kami buat mengenai ancaman satwa Gajah Sumatera yang terdapat di Bengkulu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dari cerita yang saya buat ini silahkan menilai sendiri sebenarnya siapa yang salah. Masyarakat (perambah), Dinas Kehutanan, BKSDA Bengkulu, Pemerintah Daerah, Gajah, atau mungkin Tuhan yang salah??!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Lahmudin. Itulah namanya. Umur beliau sudah 65 tahun. Tinggal &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;disebuah pondok &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;bersama seorang istrinya Jarinah (50 th). Disaat pertama kali saya dat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;ang menemui mereka, mereka merasa takut dan bertanya-tanya. Khawatir mereka akan diusir dari ladang mereka yang sudah mereka tempati dari beberapa tahun yang lalu. Mereka menduga saya dari petugas kehutanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Setelah beberapa hari tinggal bersama mereka, Pak Lahmudin baru mau bercerita secara terbuka dan tidak takut lagi terhadap saya. Beliau menceritakan bagaimana kehidupan kerluarganya, latar belakang mereka membuat ladang disini, ketakutan mereka dan harapan mereka terhadap ladang yang sudah mereka buat selama ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pada tahun 2000 karena diajak oleh beberapa teman dan keluarga yang ada di kampung (Dusun Pulau) untuk membuat ladang dihutan, akhirnya Pak Lahmudin ikut membuat ladang. Dulu orang-orang kampung ini membuat ladang jauh dari kampung yaitu disekitar areal PT Maju. Mereka menanam tanaman kopi di ladang mereka. Karena sudah ada akses jalan didaerah PLG Seblat, maka beberapa orang kampung inipun bergerak menuju kawasan PLG Seblat untuk membuat ladang disepanjang jalan poros PT Alno. Sebuah jalan yang memotong kawasan PLG Seblat untuk pengangkutan hasil kelapa sawit ke pabrik. Konon disepanjang jalan ini masih berhutan dan semak belukar yang tidak ada penghuninya. Entah karena mereka tidak tahu kawasan ini adalah kawasan PLG Seblat atau pemerintah daerah serta petugas kehutanan tidak memberi tahu mengenai status kawasan, akhirnya mereka menebang, membersihkan lahan dan menanam disana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Luas lahan yang digarap oleh Pak Lahmudin dan istrinya sekitar 2,5 ha. Beberapa areal sudah ditanam kelapa sawit, dan sebagiannya lagi ditanam tanaman muda, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Seperti para petani lainnya yang ada di Bengkulu. Pada awal membuka lahan, setelah dibersihkan dan dibakar. Mereka akan menugal padi (menanam padi darat). Humus tanah setelah pembakaran sangat baik untuk tanaman padi. Setelah panen padi barulah mereka menanam tanaman keras. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Saya sempat iseng menanyakan kepada Pak Lahmudin. "&lt;i&gt;Mengapa bapak menanam sawit? Apakah tidak ada tanaman lain selain sawit?&lt;/i&gt;". "&lt;i&gt;Pada saat saya membuka ladang ini, perkebunan Alno baru buka. Mereka banyak sekali menanam kelapa sawit. Ketika saya duduk di depan pondok saya, saya melihat aktivitas mereka. Lalu lalang membawa bibit-bibit kelapa sawit. Dari sana saya jadi berfikir. Nanti ketika mereka memanen hasil tanaman sawitnya, saya akan menjadi penonton saja kalo saya tidak ikut menanam sawit. Saya juga harus menanam sawit&lt;/i&gt;." Jawab beliau terhadap pertanyaan saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;"Dulu saya tidak tahu berapa harga buah sawit perkilonya. Yang penting saya ikut menanam saja. Pertama kali panen harganya perkilo klo tidak salah seratus rupiah. Terus naik menjadi 200, naik lagi 300, tahun berikutnya naik 400 rupiah. Baru tahun 2008 ini saya bisa menikmati harganya per kilo sampai 1.400 rupiah" lajutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Disaat melihat aktivitas sehari-hari yang dilakukan Pak Lahmudin, saya menjadi tahu dan bisa merasakan betapa berat menjalani kehidupan disini. Hanya berdua ditempat yang sepi. Disaat malam tiba, daerah ini sangat gelap karena tidak ada penerangan dari lampu-lumpu listrik. Tetanggapun sudah tidak ada karena semua teman-temannya balik ke kampung pasca operasi penangkapan para perambah. Banyak satwa-satwa liar yang ada didalam kawasan, termasuk mamalia terbesar di Indonesia yaitu satwa gajah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pernah ditengah malam sekitar jam 10 malam terdengar suara teriakan gajah liar. Nyaring dan membuat hati kecut. Posisinya tidak jauh dari pondok Pak Lahmudin. Dengan sigap Pak Lahmudin bangun mengambil senter dan membawa kentongan lalu berjalan menuju ke ladang sawitnya. Saya yang saat itu penasaran bagaimana caranya mengusir gajah malam-malam, akhirnya ikut beliau. Malam itu sangat-sangat gelap. Tidak ada cahaya apapun ditengah-tengah ladang sawit kecuali cahaya senter kita berdua. Saya berfikir didalam hati, bagaimana caranya mengusir gajah malam-malam gelap gulita begini yang klo mereka berkelompok sangat banyak jumlahnya. Tubuh gajah sangat besar. Klo tiba-tiba ada dibelakang kita dan mereka menubruk atau menginjak kita?. Wassalam sudah. "&lt;i&gt;Gila ini perjuangannya membuat ladang disini. Udah sepi, banyak gajah liar, gelap pula&lt;/i&gt;" gumamku didalam hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Malam itu Pak Lahmudin memukul-mukul kentongan dan berteriak untuk mengusir gajah agar tidak mendekati ladangnya. Kami berdiri diatas sebuah punggungan di ladang tersebut. Saya sempat kaget dan merinding ketika berjalan menuju punggungan, ada seekor musang yang cukup besar melompat didepan saya. Saya langsung mengarahkan cahaya senter kearah musang tersebut dan akhirnya bisa bernafas lega. Untung musang yang melompat didepan. Klo seandainya harimau sumatera yang datang? Mungkin saya bisa langsung pingsang ditempat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;"&lt;i&gt;Klo gajah ini berkelompok saya masih bisa mengusirnya, karena mereka bersuara. Tapi klo dia datang sendiri, habis sudah tanaman sawit saya. Karena dia datangnya diam dan tidak ada suara&lt;/i&gt;" ucapnya kepada saya ditengah malam itu. Saya merasa prihatin sekali dengan beliau. Dimana umur beliau yang sudah tua ini seharusnya sudah bisa duduk santai dirumah, menggendong cucu yang manis dan lucu serta menikmati hari-hari tuanya. Bukan di tengah-tengah ladang sawit yang gelap dan penuh dengan resiko.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;WILAYAH ABU-ABU&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Mungkin inilah yang disebut dengan wilayah abu-abu. Sebuah lahan atau kawasan yang tidak jelas statusnya. Banyak informasi yang tidak jelas yang diterima oleh Pak Lahmudin dan beberapa masyarakat kampung sekitar mengenai status kawasan yang mereka tempati. Pihak PT Alno mengklaim lahan tersebut adalah lahan perkebunan milik mereka. Sementara pihak PLG sendiri mengklaim lahan tersebut adalah kawasan PLG Seblat. Lahan yang ditempati Pak Lahmudin dan beberapa orang disana posisinya berada di antara Perkebunan Alno dan Kawasan PLG Seblat. Dampak yang jelas terjadi dari ketidakjelasan itu adalah perambahan, jual beli tanah, keributan dan beberapa masyarakat yang dirugikan. Mungkin juga pemerintah daerah yang dirugikan karena harus mengeluarkan anggaran untuk menyelesaikan konflik yang terjadi disana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kenapa bisa tidak jelas statusnya?&lt;br /&gt;Sepulang dari lapangan saya mencari tahu apa penyebabnya. Saya menemui beberapa orang di Bengkulu dan bertanya mengenai sejarah lahan tersebut. Dari jawaban yang didapat, ada beberapa informasi mengatakan bahwa wilayah itu memang sengaja dibuat samar-samar. Dulu saat dilakukan pengukuran oleh klo tidak salah Dinas Kimpraswil, ada beberapa oknum yang sengaja membuat wilayah itu menjadi abu-abu atau tidak masuk dalam tata batas. Kemungkinan oknum tersebut ingin mendapatkan lahan tersebut untuk kepentingan pribadi. Ini sebenarnya yang harus dicek dan ditelusuri kebenarnya. Dicari solusi yang terbaik untuk menyelesaikan masalah yang berlarut-larut ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Bagi Pak Lahmudin lahan itu adalah harta satu-satunya yang ia miliki. Beberapa lahan yang ia miliki didekat kampunya sudah ia berikan kepada anak-anaknya yang sudah berkeluarga. Walau bagaimanapun beliau akan tetap bertahan karena ditempat inilah beliau bisa bertahan hidup dihari tuanya. Besar sekali harapannya terhadap hasil sawit yang ia tanam beberapa tahun yang lalu. Terlebih lagi ketika ditahun 2008 harga tandan sawit per kilo-nya melambung tinggi. Niat untuk menjalankan rukun islam yang kelimapun yaitu naik haji, seakan bisa diwujudkan. Namun, mejelang akhir tahun 2008 harapan itu seakan sirna. Krisis global yang menimpa hampir diseluruh negara didunia ini juga berdampak buruk terhadap seluruh petani sawit yang ada di pelosok-pelosok negeri. Harga sawit terjun bebas seolah tak peduli dengan jeritan para petani. Mereka yang pada tahun itu bermimpi menjadi kaya dan sudah mengkonversi seluruh lahan yang mereka miliki menjadi kebun sawit, hidup seperti tidak punya harapan. Lahan-lahan produktif sudah terlanjur ditanami tanaman kelapa sawit. Bahkan sawah-sawah yang selalu menghasilkan beras beratus-ratus kilo setiap tahunnya diganti dengan tanaman kelapa sawit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sama dengan halnya Pak Lahmudin. Kecewa teramat sangat dengan turunnya harga tandan sawit. Ketidakjelasan status lahan. Harga kelapa sawit yang yang tidak menentu, membuat Pak Lahmudin terkadang termenung kosong memikirkan bagaimana harus menghabisi hari-hari tuanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;"&lt;i&gt;Klo hama gajah, walaupun malam, siang, masih bisa saya menghadapinya. Tapi klo hama PLG (petugas PLG, Polhut-red) yang datang, tidak bisa saya mengatasinya. Itulah hama yang paling sulit diatasi&lt;/i&gt;". &lt;i&gt;Saya akan pergi dari sini jika jalan ini ditutup. Pemerintah atau PLG harus adil. Jangan hanya perusahaan saja yang boleh mengakses jalan ini, sementara kita rakyat kecil di usir" &lt;/i&gt;keluh beliau kepada saya disaat saya mewawancarainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-3567719117215659603?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/3567719117215659603/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/02/siapa-yang-salah.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/3567719117215659603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/3567719117215659603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/02/siapa-yang-salah.html' title='SIAPA YANG SALAH'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYqJLoYt3gI/AAAAAAAAAS0/tnoXIEXI170/s72-c/lahan-sawit1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-2139048659989802877</id><published>2009-02-05T13:30:00.001+07:00</published><updated>2009-02-05T13:34:23.593+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DAS Air Bengkulu'/><title type='text'>The Problems is Simple. Kerjasama.</title><content type='html'>Judul diatas merupakan salah satu kesimpulan saya ketika mencoba mewawancarai beberapa pihak yang berhubungan dengan upaya penyelamatan DAS Air Bengkulu. Baik NGO, Pejabat Kota/Kepala Dinas dan Masyarakat yang berada di hulu dan hilir DAS Air Bengkulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup, sudah dua minggu ini saya dan beberapa teman di NGO Lokal di Bengkulu yaitu Ulayat, mencoba menggali dan mendokumentasikan perkembangan upaya penyelamatan DAS Air Bengkulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAS Air Bengkulu adalah salah satu DAS (Daerah Aliran Sungai) yang terdapat di Provinsi Bengkulu. DAS yang memiliki luas areal sekitar 51.500 ha sampai saat ini banyak sekali dimanfaatkan oleh masyarakat Bengkulu dari hulu sungai hingga hilir atau muara sungai. Namun sangat disayangkan, banyaknya orang yang masih ketergantungan dengan aliran sungai ini tidak diikuti dengan banyaknya orang yang sadar untuk menjaga keberadaan dan kelestarian air yang ada di sungai tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga sub-DAS yang mengalir ke DAS Air Bengkulu, yaitu Sub-DAS Susup seluas 9.890 ha, Sub-DAS Rindu Hati 19.207 ha dan Sub-DAS Air Bengkulu Hilir seluas 22.402 ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu yang lalu saya sempat mencoba menyusuri keberadaan DAS Air Bengkulu ini dari hulu hingga hilir. Salah satu hulu DAS Air Bengkulu yang berada di sebuah desa kecil yang agak menjorok kedalam yang terdapat di Kecamatan Taba Penanjung, Bengkulu Tengah (Beberapa bulan yang lalu masih tergabung didalam Kabupaten Bengkulu Utara) yaitu Desa Rindu Hati. Nama desa yang sangat gampang diingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa ini saya bisa menikmati jernihnya air sungai yang mengalir dengan tenang. Seakan air ini sangat senang berada di desa tersebut. Pagi yang cerah saat itu. Suara burung yang ribut membuat suasana pagi ini serasa lengkap. Masyarakat desa sudah mulai satu persatu berangkat ke ladang dan ke sawah yang berada tak jauh dari desa. Menyebrangi sungai yang ada dibelakang desa. Berjalan kaki tanpa alas kaki mengikuti jalan setapak yang berada disepanjang sungai. Terlihat sekali mereka hidup sangat harmonis dengan air sungai yang ada disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Desa Rindu Hati yang mayoritas penduduknya adalah Suku Rejang ini terdapat 6 anak sungai dan mungkin puluhan atau ratusan mata air. Anak-anak sungai yang ada ini akhir menyatu ke sungai besar yang ada di hulu kampung, yaitu Sungai Bengkulu.&lt;br /&gt;Konon katanya di Desa Rindu Hati ini adalah keturunan para raja dari Raja Sungai Serut. Awal dari semua ini karena Putri Dayang Perindu melarikan diri dari Muara Bengkulu ke Hulu Sungai (yang berada di Desa Rindu Hati saat ini). Sang Putri melarikan diri karena tidak mau dijodohkan dengan para raja yang berasal dari Aceh. Setelah melarikan diri, sang kakak dan beberapa orang kerajaan menyusul keberadaan putri ke hulu sungai. Sebelum menyusul sang putri, sang putri sempat memberikan pesan yaitu “jika ingin menyusulnya, bawalah satu ekor ayam dan satu ekor burung terkukur. Jika ayam dan burung tersebut berbunyi, berhentilah disitu dan buatlah desa. Saya akan tinggal disitu”. Ayam dan burung tersebut berbunyi ketika mereka sampai dilokasi Desa Rindu Hati sekarang. Disitulah mereka membuat desa. Dan Itulah awal mula Desa Rindu Hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada didesa Rindu Hati memang sangat menyenangkan. Selain suasana kampung yang masih asli juga terdapat sawah yang menghijau dengan dilatar belakangi oleh bukit-bukit. Desa ini memang berada di lembah didataran tinggi Bengkulu.&lt;br /&gt;Selama dua malam berada di Desa Rindu Hati membuat saya sedikit paham dan mengetahui permasalahan apa saja yang terjadi di desa ini mengenai upaya untuk penyelamatan hulu sungai. Pertama, sulitnya mengotrol masyarakat pendatang yang berada dihulu untuk tidak merusak keberadaan hutan disepadan sungai dan dihulu. Kedua, pendapatan masyarakat yang hanya mengenal sistem pertanian yang terkadang kurang paham dengan masalah ekologis yang akan ditimbulkan jika membuka sebuah chatment area atau daerah tangkapan air. Tiga, tidak adanya peranan pemerintah untuk mengajak dan mengatur pola perkebunan masyarakat serta mengajak untuk peduli terhadap pentingnya kawasan hulu sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi hulu sungai sangat berbeda dengan kondisi di hilir. Setelah dari hulu saya mencoba mengikuti aliran sungai ini sampai ke hilir, yaitu muara didekat lokasi pantai panjang. Setelah keluar dari Desa Rindu Hati dan di Pasar Taba Penanjung, air sungai ini masih cukup bersih. Tapi kondisi air sangat berbeda setelah berada di sebuah desa, klo tidak salah Desa Kancing. Warna air sudah berwarna cokelat dan butek. Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang menyebabkan kondisi air ini keruh. Apakah benar karena ulah beberapa pertambangan batu bara yang ada di Taba Penanjung, limbah beberapa pabrik karet, atau karena limbah rumah tangga yang berada disepanjang sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya cukup prihatin adalah, air sungai yang butek ini adalah sumber air yang diambil oleh PDAM Bengkulu untuk dialirkan kepada konsumen sebagai sumber air bersih bagi warga kota Bengkulu. Sekitar 30% penduduk Kota Bengkulu menggunakan sumber air yaitu air PDAM. Dulunya mungkin air ini masih jernih dan bersih, itu mangkanya sumber air diambil dari sini. Belanda membangun sumber air disitu sekitar tahun 1928. PDAM hanya mewarisi dan melanjutkan usaha untuk penyaluran sumber air bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya pencemaran yang terjadi disepanjang aliran sungai ini membuat kondisi air PDAM saat ini sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi. Hal inilah yang membuat PDAM membutuhkan biaya produksi yang lebih untuk membersihkan dan menetralkan air yang mereka ambil dari Sungai Air Bengkulu. Inipun kualitas airnya masih belum bagus. Biaya produksi permeter kubiknya dikabarkan sudah jauh diatas biaya jual. PDAM yang seharusnya bisa menjadi salah satu pendapatan daerah sekarang justru tidak berarti apa-apa bagi Pemerintah Provinsi Bengkulu. Sungguh ironis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliran sungai Air Bengkulu sebenarnya tidak terlalu panjang dan peluang untuk melakukan penyelamatan keberadaan sungai ini sangat besar. Hanya dibutuhkan sebuah niat saja. Niat untuk mau bersama-sama menyelamatkan keberadaan DAS Air Bengkulu. Ulayat tidak akan mampu melakukannya sendiri. PDAM tidak akan mampu melakukannya sendiri. Apalagi Bapedal dan dinas-dinas yang ada di provinsi Bengkulu (Pemerintah Bengkulu Kota dan Kabupaten), tidak akan ada harapan mengharapkan merekamelakukan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang limbah pabrik, limbah pertambangan dan limbah lainnya sudah semakin banyak yang masuk kedalam aliran sungai. Air sungai semakin lama semakin tercemar. Konsumen PDAM semakin gundah dan resah akan kondisi air yang mereka terima. &lt;br /&gt;Saya tidak tahu kejadian seperti apa yang bisa membuat aparat Pemerintah Bengkulu ini bisa ngeh dan sadar betapa pentingnya sumber air baku bagi masyarakatnya. Mayarakat Bengkulu ini bisa sadar pentinganya air bagi kehidupan. Mungkin perlu ada kejadian dimana masyarakatnya terserang berbagai penyakit diare dan penyakit lainnya karena kekurangan sumber air bersih dan dilanda banjir atau kekeringan yang sangat hebat. Atau nunggu Gubernur dan Wakil Gubernurnya serta pejabat-pejabat itu sakit diare dulu. Mungkin ngga sih??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal semua tahu mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Mengapa kita harus ada shock terapy dulu baru sadar ya?. Musti ada bencana dulu baru ada tindakan. &lt;br /&gt;Lets do Now!!!. Lakukanlah sekarang sebelum terlambat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Desa Rindu Hati sebenarnya hampir sama dengan masyarakat desa dibanyak tempat di nusantara ini. Jika ada niat baik dari kita untuk memberitahukan peranan penting dalam upaya penyelamatan lingkungan dan adanya peranan aktif dan dukungan dari pemerintah lokal tentu akan membuat masyarakat tersebut senang dan tentu akan membuat usaha untuk menyelamatkan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat akan berjalan baik. Perlu kerjama antara hulu dan hilir DAS Air Bengkulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang menjadi salah satu permasalahan utama betapa sulitnya upaya untuk penyelamatan lingkungan dinegara kita tercinta ini. Tidak adanya kerjasama!!. Semua berjalan sendiri. Sibuk dengan kerjaan masing-masing. Padahal pengetahuan dan kemampuan disetiap orang, disetiap lembaga dan disetiap instansi adalah terbatas. Semua masih sibuk dengan egonya masing-masing. Termasuk kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/599042602661546599-2139048659989802877?l=berangberangblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berangberangblog.blogspot.com/feeds/2139048659989802877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/02/problems-is-simple-kerjasama.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2139048659989802877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/599042602661546599/posts/default/2139048659989802877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berangberangblog.blogspot.com/2009/02/problems-is-simple-kerjasama.html' title='The Problems is Simple. Kerjasama.'/><author><name>Een Irawan Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12291180635595905444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYKX09_ePCI/AAAAAAAAAJc/GAiU-o8gHsM/S220/1_lg.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-599042602661546599.post-362344002866617991</id><published>2009-02-05T13:19:00.001+07:00</published><updated>2009-02-05T13:21:35.966+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bengkulu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pantai Panjang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bersepeda'/><title type='text'>Bersepeda di Pantai Panjang. Segar dan Sehat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYqFFNbUcCI/AAAAAAAAASs/7jSyIyVjgY8/s1600-h/bersepeda.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 211px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ccYyfGaF_bg/SYqFFNbUcCI/AAAAAAAAASs/7jSyIyVjgY8/s320/bersepeda.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299194236104896546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhen
